Yang Tinggal di Istana, Belum Tentu Bisa Merasakan Nikmat Seperti ini

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Dalam sebuah kesempatan, Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid, pengasuh Majlis Ta’lim Darul Murtadza, Kuala Lumpur pernah berkisah.

Bahwa suatu hari di zaman dahulu, ada seorang Raja memperhatikan dengan seksama, tingkah laku dari seorang pemuda yang sedang berbaring di bawah pohon rindang hanya dengan berbantalkan tangan.

Sang Raja memperhatikan pemuda itu bangkit, lalu mengambil sesuatu dari alas tidurnya, yang ternyata adalah sepotong roti kering.

Di depannya mengalir air sungai yang jernih. Oleh si pemuda, roti kering itu dibasahi dengan air sungai, kemudian dimakannya. Selesai makan, air sungai pun diminumnya.

“Alhamdulillaaaaaaaaaaaah 😀 ” begitulah ekspresi penuh ceria sang pemuda.

Raja merasa aneh setelah melihat ekspresi pemuda itu yang begitu puas dengan makanan roti kering dicampur air sungai.

Raja bergumam dalam hati, “nikmat apa yang dia dapat? Sampai-sampai dia punya ekspresi begitu luar biasa seperti itu…”

Lalu sang Raja menitahkan para pengawal untuk memanggil pemuda tersebut ke istana guna mengusir rasa penasarannya itu,

Ketika si pemuda datang menghadap,

Bertanyalah sang raja; “Kamu tak punya rumah, roti kering kamu makan, air minum pun kamu ambil dari sungai, lalu kamu ungkapkan perasaanmu seperti itu. Apa yang ada di fikiranmu sehingga kamu bisa mengekspresikan syukur dalam bentuk seperti itu?.. ”

Pemuda itu berkata; “wahai tuan Raja, kalau tuan Raja makan suatu makanan, dan makanan itu tidak bisa masuk – menyangkut di tenggorokan, kecuali dengan air. Dan air itu tidak bisa didapat kecuali dengan separuh kerajaan yang tuan punya. Apakah tuan Raja akan beli air itu dengan separuh kerajaan tuan? “

“Ya tentu saja, takkan ku biarkan makanan menyangkut disini (*sambil menunjuk tenggorokan)” timpal sang Raja.

Berkata orang itu: “wahai tuan Raja, kalau air yang sudah diminum itu tidak bisa keluar, kecuali dibeli dengan separuh lagi kekayaan kerajaan tuan raja. Adakah tuan raja akan membelinya?”

“Ya tentu saja, siapa yang mampu menahan rasa sakit tidak bisa buang air kecil?” demikian sahut sang Raja.

Jawab pemuda; “Nah, kalau begitu kekayaan tuan raja tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan segelas air dan nikmatnya “buang air”….. Saya mendapatkan tempat berteduh secara cuma-cuma, air pun didapat secara cuma-cuma, punya roti, bukankah itu sebesar-besarnya nikmat yang Alloh berikan?” 🙂

MasyaAlloh! Yang di istana, tidak merasakan betapa nikmat seorang yang hanya makan, minum, dan tidur di bawah pohon.

Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

“Laisal ghina bi-katsrotil ‘arodh, wa lakinnal ghina ghinan-nafs”

(Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kekayaan hati).

(Shohih, di dalam kitab Takhrijul Misykah (16). (Bukhori, 81- Kitab Ar-Riqoqu, 15- Bab Al Ghina Ghinan-nafsi. Muslim, 12- Kitab Az-Zakat, 40- Laisal Ghina ‘an katsrotil ‘arodhi, hadits 120).

CATATAN:

Ini merupakan sifat “bathiniyah”, BUKAN sifat “lahiriyah”. Jadi, jangan menjastifikasi (menghakimi) seseorang yang memiliki banyak kekayaan harta sebagai “kufur” nikmat. Tidak!

Sebab belum tentu demikian. Banyak juga orang kaya dengan harta berlimpah, akan tetapi hati-nya tetap kaya. Sebaliknya, ada juga orang miskin, sudah miskin harta, miskin pula hatinya.

Oleh sebab itu, sifat “dalaman” ini TIDAK BOLEH diukur dengan sesuatu yang dzohir (terlihat).

HIKMAH dan MUHASABAH:

Maksud dari ilustrasi diatas bukanlah menyuruh kita untuk hidup miskin-melarat. Bukan pula memaksa kita agar berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan harta berlimpah. Walaupun ada benarnya juga bahwa umat Islam harus kaya guna menolong ummat, guna membangun madrasah, masjid, dan lain sebagainya.

Namun dari ilustrasi diatas, sesungguhnya ada pelajaran yang lebih penting. Yakni kita dituntut agar senantiasa memiliki “kekayaan hati”, bagaimanapun situasinya.

Sebab, orang miskin apabila ia memiliki “kekayaan hati”, maka sekalipun tinggal di ‘lubang semut’, hidupnya akan terasa lapang, tidak diliputi dengan kedengkian kepada si Kaya, serta senantiasa tidak berputus asa dari rahmat Alloh.

Adapun bagi si-Hartawan, apabila ia memiliki “kekayaan hati”, maka hidupnya akan jauh dari ketamakan, senantiasa berjiwa sosial, kalaupun harta miliknya lenyap dalam seketika, maka tak akan merubah “kekayaan hati”-nya kepada Alloh.

Demikianlah yang dimaksud dengan ghinan-nafs <3

Wallohu a’lam bishshowaab

Allohumma Sholli wa Sallim wa Baarik ‘Alaihi wa ‘Ala Aalih 🙂

RiseTAFDI team

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate