Tragisnya Kematian ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, Lebih Memilih Kawan Ketimbang Iman

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Ayahnya bernama Abu Mu’aith bin Abu Amr bin Umayah bin Abdi Syams, seorang tokoh utama kaum Quraisy di Makkah.

Namun, Uqbah bin Abi Mu’aith lebih suka dipanggil Abul Walid merujuk pada nama anaknya al-Walid bin Uqbah. Uqbah adalah seorang Quraisy yang sangat kaya. Dia adalah pengusaha terkenal.

Ternaknya digembalakan di hampir seluruh jazirah. Pada musim panas, ia akan berdagang ke negara-negara di sebelah utara, yaitu di Syam. Sedangkan, pada musim dingin, ia berdagang di negara-negara selatan, yaitu di Yaman.

Sebagai seorang pengusaha, Uqbah menjalin hubungan yang akrab dengan semua kolega dan relasinya. Untuk itu, ia tak segan-segan untuk mengeluarkan biaya dari sakunya sendiri untuk mentraktir makan teman-temannya atau menjamu mereka dalam sebuah pesta.

Dalam acara tersebut, Uqbah biasanya mengundang para tokoh masyarakat, baik dari kalangan pengusaha maupun tokoh berpengaruh lainnya.

Suatu kali, Uqbah mengundang Rosululloh yang bersedia menghadiri undangan tersebut. Bagi Nabi Muhammad, kesempatan ini bisa dimanfaatkan sebagai waktu yang tepat untuk berdakwah.

Ketika hidangan sudah tersedia, Rosululloh pun berkata, “Wahai Uqbah, saya tidak akan makan hidangan Anda sampai Anda bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh, dan saya adalah Rosul-Nya.”

Secara spontan Uqbah menyanggupinya dan tak lama kemudian ia mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan orang banyak. Uqbah telah masuk Islam.

Sebenarnya, Uqbah sudah lama menaruh simpati dan terpanggil hatinya kepada Islam, hanya saja ia masih merahasiakan suara batinnya itu karena pengaruh sahabat dan kaumnya yang rata-rata membenci ajaran Islam, yang menolak penyembahan terhadap berhala-berhala di Ka’bah.

Ketertarikan tersebut muncul sepulang dirinya dan tokoh pemimpin Quraisy Abu Jahal dari sebuah perjalanan jauh. Ketika itu, dia mendengar Rosululloh yang sedang membaca Alquran. Peristiwa tersebut sedikit memengaruhi hatinya yang terbiasa berbuat jahat.

Uqbah meludahi wajah Rosululloh setelah dia menyatakan keluar dari Islam.

Mengetahui keislaman Uqbah, teman-teman bisnisnya banyak yang terkejut. Salah satu di antaranya adalah Ubay bin Kholaf.

Ubay pun menanyakan langsung kebenaran berita itu. “Kamu sudah rusak, hai Uqbah,” kata Ubay.

Maka, Uqbah membuka rahasia mengapa dia masuk Islam. “Demi Alloh, aku tidak rusak. Aku lakukan hal itu karena pada perjamuan makan itu ada seorang tamu. Ia tidak mau menyentuh makananku sebelum aku bersaksi di hadapannya. Aku malu jika ada tamu yang keluar dari rumahku sementara ia belum memakan hidanganku.”

Ubay kemudian mengancam Uqbah. “Aku tidak rela. Aku tidak ingin melanjutkan hubungan perdagangan ini denganmu sampai kamu menyatakan keluar dari agama Muhammad!”

Dia pun menyuruh Uqbah untuk menyatakan hal tersebut di hadapan Nabi Muhammad langsung. Tak sampai di situ saja, Ubay menyuruh Uqbah untuk mencaci maki Rosululloh di hadapan orang banyak dan meludahi wajahnya.

Sahabat dekatnya yang lain, pemimpin Quraisy yang terkenal kejam Abu Jahal, juga terkejut dengan kabar tersebut. Sekembalinya dari perjalanan, Abu Jahal langsung menemui Uqbah dan mengingatkan kepadanya agar tidak sampai meretakkan tali persahabatan yang telah terjalin.

Bahkan, ia juga menyuruhnya untuk menemui Rosululloh dan meludahinya. “Pilihlah bagimu wahai Uqbah, agamamu atau kaummu, Muhammad atau keluargamu!” ancamnya.

Ubay bin Kholaf dan Abu Jahal menginginkan agar sahabat mereka itu murtad dan kembali kafir. Mendengar ancaman-ancaman tersebut Uqbah galau. Dia tidak ingin kehilangan rekan bisnis dan sahabatnya. Dia tidak ingin keuntungnya berkurang.

Uqbah pun merenung sejenak, membandingkan antara keduanya. Tetap dengan keyakinan barunya Islam ataukah kembali pada kekufuran dan tetap bersahabat dengan Abu Jahal serta mendapatkan kembali rekan bisnisnya.

Setelah menghitung untung-ruginya secara matang, atas desakan Ubay dan Jahal, akhirnya ia menemui Rosululloh. Di hadapan Rosululloh, ia menyatakan keluar dari Islam. Ia pun mencaci-maki dan tak lupa meludahi wajah Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Atas perlakuan ini, Rosululloh bersabda. “Kelak engkau akan keluar dari Makkah dari bukit sebelah itu dan aku akan menyambutmu dari bukit sebelah itu. Pada saat itu engkau menyesali perbuatanmu.”

Kuburan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith di ‘Irqu Adzh-Dzhobyah. Dia dipancung setelah tertawan oleh kaum Muslimin dalam perang Badr

Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa ludah Uqbah yang dilontarkan ke wajah Nabi itu kembali ke wajahnya sendiri dan kemudian membakar pipinya. Luka bakar pipinya itu tak pernah sembuh sampai dibawa ke liang kuburnya.

Allah pun menurunkan Surah al-Furqon ayat 28-29. “Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Alquran ketika Alquran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.”

Setelah itu, Uqbah kembali menjadi dirinya yang dulu. Bersama Abu Jahal dan tokoh Quraisy lainnya dia melakukan sejumlah tindakan yang keji kepada Rosululloh.

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa Uqbah bin Abu Mu’aith pernah mencampakkan kotoran unta dan isi perut domba yang baru disembelih ke tubuh Rosululloh yang sedang sujud di Baitulloh. Beliau pun terus sujud hingga putrinya Fatimah datang membuang kotoran itu sambil menangisi nasib yang menimpa bapaknya.

Uqbah bin Abi Mu’aith juga pernah mencekik leher dan menginjak pundak Rosululloh. Perlakuan kasar kaum Quraisy semakin bertambah setelah paman Nabi Abu Tholib dan isterinya Khodijah meninggal dunia pada tahun ke-10 kerosulan.

Keadaan dan penyiksaan terhadap Rosululloh tersebut terjadi beberapa lama hingga Alloh mengabulkan sabda Rosululloh ketika Uqbah memutuskan untuk mengkhianati keislamannya.

Kesempatan itu datang saat Perang Badar yang diikuti oleh Uqbah bin Abu Mu’aith. Dalam peperangan yang dimenangkan kaum Muslimin itu Uqbah tertawan.

Uqbah melupakan harga dirinya dan menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal atas perlakuannya yang lebih memilih kawannya yang musyrik daripada kawan yang sebenarnya. “Jangan bunuh saya, siapa yang akan menjaga anak-anak saya ya Nabi Alloh?” katanya sambil merengek. Dia terus memohon. Dalam kondisi tangan terbelenggu akhirnya leher Uqbah dipancung.

Wallohu a’lam

RiseTAFDI team

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate