PUJIAN ALLAH TA’ALA TERHADAP GOLONGAN ASY’ARIYYAH

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Tidaklah al-Qur’an memuji kaum yang salah. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memuji golongan Asy’ariyah dalam sebuah ayat yang mana pada saat ayat tersebut turun, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam memberikan isyaratnya kepada seorang sahabat yaitu Sayyidina Abu Musa al-Asy’ari (kakek dari Imam Abu Hasan al-Asy’ari (pendiri faham Asy’ariyah, aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah) seraya menunjuk kepadanya.

Ayat yang dimaksud terdapat pada (QS. al-Maidah : 54)

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Alloh, yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Alloh Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. al-Maidah : 54)

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang bertugas sebagai mubayyin (penjelas) al-Qur’an telah memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan ”kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya..“, dalam ayat di atas adalah kaum Abu Musa al-Asy’ari berdasarkan hadits shohih berikut…

Dari Iyadh al-Asy’ari r.a dia berkata “Ketika ayat, “Alloh Subhanahu Wa Ta’ala akan mendatangkan satu kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya“, maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Mereka adalah kaummu wahai Abu Musa”. Nabi mengisyaratkan “Mereka adalah kaum ini” dan Nabi mengisyaratkan kepada Abu Musa al-Asy’ari ”

Berkata Imam al-Qusyairi:

“Pengikut madzhab Abu Hasan al-Asy’ari termasuk kaum Abu Musa al-Asy’ari, karena setiap terjadi penisbahan kata kaum terhadap Nabi di dalam al-Qur’an, maka yang dimaksudkan adalah pengikutnya”

Dan telah berkata Imam Baihaqi:

“Demikian itu karena telah nyata ditemukan keutamaan besar dan kedudukan yang sangat mulia pada Imam Abu Hasan al-Asy’ari rodhiyallohu ‘anhu. Beliau adalah dari kaum Abu Musa al-Asy’ari dan termasuk anak turunannya. Mereka-mereka itu telah diberi ilmu rezki kefahaman yang dikhususkan di antara mereka yaitu dengan menguatkan sunnah dan menghancurkan bid’ah dengan menampakan hujjah dan menolak segala syubhat/kekeliruan”

————————-
>> Mengenal lebih dekat sosok Sahabat Abu Musa al-Asy’ari rodhiyallohu ‘anhu <<

Nama asli beliau adalah Abdulloh bin Qois bin Sulaim al-Asy’ari, adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Abu Musa al-Asy’ari berasal dari Yaman (dari kabilah Bani Asy’ari atau Asy’ariyyin), dan masuk Islam di Mekkah sebelum terjadinya Hijrah. Beliau dan dua saudara tuanya Abu Burdah dan Abu Ruhm, beserta 50 orang kaumnya meninggalkan Yaman dan ikut berhijrah ke Habsyah (sekarang Ethiopia) dengan menaiki dua kapal. Abu Musa dan kaum pengikutnya kemudian berhijrah ke Madinah dan menemui Nabi Muhammad setelah Pertempuran Khaibar pada tahun 628 H.

Setelah terlibat dalam Fathu Makkah pada tahun 629, Abu Musa menjadi salah seorang pemimpin pasukan muslim dalam Pertempuran Authos pada tahun 630. Dua tahun kemudian, Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam mengutus Abu Musa dan Mu’adz bin Jabal ke Yaman untuk menjadi pemimpin umat dan menyebarkan ajaran Islam di sana.

Hadits terkenal yang diriwayatkan oleh Abu Burdah, dari ayahnya, dari kakeknya, menyebutkan bahwa Nabi Muhammad berpesan kepada mereka sebelum mereka berangkat: “Hendaklah kalian mudahkan dan jangan persulit, beri kabar gembira dan jangan membuat orang lari, saling patuhlah kalian berdua dan jangan saling bersengketa”.


Masjid al-Asya’ir di kota Zabid, Yaman. Masjid ini pertama kali dibangun oleh salah seorang sahabat Nabi Muhammad yaitu Sayyidina Abu Musa al-Asy’ari ra ketika beliau diutus menyebarkan Islam ke Zabid pada tahun 8 Hijriah. (Sumber: unesco.org)

Abu Musa al-Asy’ari merupakan tipikal sahabat yang lengkap. Seorang yang saleh dan alim, rajin beribadah dan menuntut ilmu ketika sedang mukim (tidak sedang berjihad), dan seorang prajurit yang perkasa, cerdik dan arif ketika sedang terjun dalam berbagai pertempuran, tanpa kehilangan keikhlasannya.

Baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam memberi gambaran tentang mereka, “Kaum Asy’ariyyin ini, bila mereka ditimpa kekurangan makanan dalam pertempuran atau dilanda paceklik, mereka mengumpulkan semua makanan yang tersisa pada selembar kain, lalu mereka membagi rata. Mereka ini termasuk golonganku, dan aku termasuk golongan mereka”

Kaum pengikut Abu Musa (yang dinamakan al-Asy’ariyyin) disebutkan dalam hadits sebagai orang-orang yang senang tolong-menolong dan memiliki kelebihan suara yang merdu dan tajwid dalam membaca al-Qur’an. Abu Musa juga memiliki kelebihan tersebut, sehingga Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam secara khusus pernah memujinya: “Sungguh, engkau telah diberi (suara seperti) seruling dari seruling-seruling keluarga Nabi Daud”.

KESIMPULAN

Kesaksian Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bahwa Alloh Ta’ala mencintai Abu Musa al-Asy’ari dan para pengikutnya, menjelaskan kepada kita bahwa pengikut madzhab al-Asy’ari adalah kaum yang dicintai Alloh dan mereka pun mencintai-Nya. Karena Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan pengikut madzhabnya termasuk kaum atau pengikut Abu Musa al-Asy’ari yang juga merupakan datuk dari Imam Abul Hasan al-Asy’ari.

Dengan demikian, jaminan al-Qur’an dan hadits telah nyata bahwa golongan al-Asy’ariyah adalah golongan Ahlussunnah wal Jama’ah (pengikut al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi), yakni golongan yang selamat (al-Firqoh an-Najiyah). Aamiin fa InsyaAlloh.

Dari Abu Huroiroh r.a ia berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الايمان يمان والحكمة يمانية أتاكم اهل اليمن هم ارق أفئدة والين قلوبا

“Keimanan yang sebenarnya ialah iman penduduk Yaman dan hikmah sebenarnya ialah hikmah penduduk Yaman. Datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka adalah orang-orang yang lembut dan terlebih halus hatinya “ (HR. Bukhori & Muslim)

Wallohu a’lam bishshowaab.

Disarikan oleh RiseTAFDI melalui Asy’ari Research Group

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate