Pengalaman saat Mendapat “Lirikan” dari Rasulullah ﷺ

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Sayyidina ‘Amru bin ‘Ash rodhiyallohu ‘anhu adalah salah seorang sahabat Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang pernah hadir dalam majelisnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Ketua Jam’iyyah Ulama Singapura (MUI Singapura), al-Fadhil Dr. Muhammad Hasbi saat memberikan hadiah berupa silsilah nasab Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz sampai kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam

Pada saat Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam sedang menyampaikan sebagaimana biasa baginda menyampaikan, ‘Amru bin ‘Ash selalu saja dilintasi atau dilihat atau dilirik oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dengan tatapan mata baginda.

Ekspresi wajah dan pandangan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam kepada ‘Amru bin ‘Ash difahami oleh ‘Amru bin ‘Ash sebagai pandangan yang begitu indah dan positif akan dirinya.

‘Amru bin ‘Ash dalam memahami reaksi pandangan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bergumam dalam hati, “Aku sepertinya orang yang paling dicintai oleh Nabi. Aku sepertinya orang yang paling disayangi oleh Nabi. Lihat dari pandangan Nabi, beliau pandang aku dengan senyuman”

Demikian penafsiran ‘Amru bin ‘Ash dalam memahami pandangan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam terhadap dirinya. Ia merasa bahwa dirinyalah yang paling disayangi dan dicintai oleh sang Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Khawatir penafsirannya salah, maka ‘Amru bin ‘Ash bertanya pada Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam (padahal kalau hal seperti itu tak ditanyakan, maka akan jauh lebih baik).

Selesai majelis, ‘Amru bin ‘Ash datang kepada Nabi dan bertanya, “Ya Rosulalloh, manakah yang lebih engkau sukai, aku atau Abu Bakar?”

“Abu Bakar”, Jawab baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Lalu ditanya lagi oleh ‘Amru bin ‘Ash, “Kalau aku dengan Umar?”

kata Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam , “Umar”

Belum puas, ditanya lagi dan lagi oleh ‘Amru bin ‘Ash, “Kalau aku dengan Utsman??”

Jawab beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam , “Utsman”

Yang keempat, ‘Amru bin ‘Ash tak berani tanya lagi kepada baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam 🙂

(Sebab bagi ‘Amru bin ‘Ash sekurang-kurangnya berada pada posisi empat sudahlah cukup. Andai awalnya tadi ia tidak bertanya pada Nabi maka akan lebih baik, karena akan senantiasa merasa dirinya disukai dan disayangi oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam).

Dari kejadian diatas, dapat kita lihat bagaimana Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam saat memberikan nadzroh (lirikan / pandangan mata)-nya kepada segenap yang hadir, maka berbagai macam persepsi positif muncul (didapat) oleh mereka yang dilihat oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Hal tersebut juga merupakan sifat baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang apabila berada di dalam majelis,

يُعْطِي كُلَّ جُلَسَائِهِ بِنَصِيبِهِ

“Yu’thiy kulla julasaa-ihi binashiibihi”

masing-masing orang yang duduk dengannya (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam ), maka akan mendapat bagian yang diinginkan dari baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

*Bagaimana dengan “perasaan” anda wahai saudaraku apabila mendapat pandangan khusus dari sang kekasih pujaan hati? Terlebih lagi kekasih itu adalah kekasih yang dikasihi oleh Yang Maha Pengasih yaitu sayyidina Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam ? 🙂

Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala kelak mengumpulkan kita bersama dengan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam. Allohumma Sholli wa Sallim wa baarik ‘alaihi wa ‘ala aalih. <3

Wallohu a’lam bishshowaab.

Disarikan oleh RiseTAFDI team dari kalam Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate