JANGAN SIA-SIAKAN AIR MATAMU

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Foto hanya sebagai ilustrasi

Ga semua memang, tapi kebanyakan wanita diciptakan lebih sensitif menangis dibanding pria. Mudah meneteskan air mata. Jika pria di saat sudah terpojok jurus terakhirnya adalah ngeles, maka senjata terakhir wanita adalah menangis.

Sebagaimana yang dialami Wulan dalam cerpen Zuck-Linn (karya Arizuna Zuckirama) berikut ini…

#AirMataWulan

Sore tadi Wulan mengadakan kunjungan persahabatan ke rumah Linn.

Glotak! Dengan serampangan, Wulan menghempaskan tasnya yang terbuat dari kulit kadal di atas meja. Lalu duduk di samping Linn sambil menggerutu ga jelas. Sementara Linn, masih asik ngupil sejak dua jam tadi.

“Halo Linn. Gue tamu nih, ga dibikinin minuman apa-apa?” sapa Wulan.

Tapi sapaan Wulan ga dapat respon. Linn masih asik ngupil. Jari telunjuknya mengobok-ngobok lubang hidungnya sambil mendesah-desah keenakan.

“Linna! Stress lo ya?!” merasa dicuekbebekin, Wulan terpaksa menghardiknas.

Linn kaget. Menoleh kepada Wulan. “Hai Wulan. Barusan aku kaget lho.”

“Bodo amat!” sahut Wulan keki.

“Muahaha… Pengantin baru kok jutek gitu sih? Kenapa, kenapa?”

Wulan diam. Matanya mulai berkaca-kaca spion, sedetik kemudian air mata itu muncrat kemana-mana.

“Bocor, bocor. Matamu berair, Wul. Kamu nangis, ya?” Linn panik. Nyodorin tisu untuk Wulan.

“Yaiyalah nangis. Lo pikir gue pipis lewat mata?!” Wulan mengusap-usap airmatanya pake tisu, setelah itu tisunya dikembalikan kepada Linn.

“Nangis kenapa sih?”

Wulan justru makin semangat nangisnya. “Anto Linn, Anto. Suami gue. Hiks.”

“Iya, iya. Suami kamu kenapa? Direbut tetangga? Meninggal? Cerita dong,” Linn kuatir.

“Dia… Dia ternyata orangnya ga romantis, Linn, huhuhuu..”

Linn mendengus. “Ya Alloh… Cuma masalah begituan?”

“Itu nyebelin banget tau ga sih Linn? Nyebelin!”

Linn menatap Wulan penuh tanda tanya. “Jadi ceritanya kamu nyesel nikah sama Anto?”

Wulan terdiam cukup lama, “Gue cuma pengen dia romantis dan perhatian ke gue. Masa pendiam banget gitu, ngomong sama gue kalo pas lagi lapar aja. Gue kesepian, Linn. Rumah kami yang megah itu sepinya udah kayak kuburan tua. Mendingan gue tinggal di gubuk derita deh, tapi punya suami yang romantis, suka becanda dan bisa bikin gue nyaman..” cerocos Wulan sambil menatap Linn penuh tanda seru.

Linn termenung tiga jam. “Gimana kalo kamu aja yang memulai keromantisan itu. Kamu coba godai suami kamu. Kamu gombal-gombalin dia. Kalo diem dibales diem ya diem-dieman gitu jadinya ga selese-selese,” Linn memberi saran.

Mata Wulan tiba-tiba berbinar. Tangisnya terhenti. Kemudian tersenyum lebar sampai ke kuping. “Ga nyangka lo punya usul sebriliant ini, Linn. Ga rugi gue punya sahabat kayak elo. Makasih, yah. Muah!” kisbai Wulan, kemudian bergegas pulang.

HIKMAH dan MUHASABAH dari Kejadian yang Dialami Wulan

Terkadang air mata kita mudah jatuh berderai hanya untuk menangisi sesuatu hal yang tidak penting. Jangan sampai air mata yang keluar ini menjadi sia-sia.

Sebagai perbandingan sekaligus pembelajaran, bolehlah sekali-kali kita lihat bagaimana para Anbiya’ (Nabi-Nabi) dan Sholihiin (orang-orang Sholeh) ketika mereka menangis.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab Minhajus Saawi Thoriqoh ‘Alawiyah karya al-‘Allamah al-Habib Zein bin Ibrohim bin Sumaith (semoga Alloh melindungi beliau serta memberikan manfaat untuk kita) [Silahkan lihat dalam FOTO di bawah ini]

> (Paragraf 1): Tangisan Nabi

Dikisahkan, tatkala Nabi Adam ‘Alaihissalam turun ke bumi, maka beliau tinggal di bumi selama 300 tahun tidak mengangkat kepalanya ke langit lantaran malu kepada Alloh (karena telah memakan buah khuldi). Berkata ibn ‘Abbas, “Adam dan Hawa menangis selama 200 tahun atas hilangnya kenikmatan syurga, tidak makan dan minum selama 40 hari, dan keduanya tidak berjumpa selama 100 tahun”

Riwayat ini sekaligus meluruskan kisah ‘israiliyyat’ yang mengatakan bahwa Nabi Adam dan Hawa menangis karena perpisahan. Tidak! Namun mereka menangis lantaran khouf (takut) kepada Alloh Ta’ala.

>> (Paragraf 2): Tangisan Sholihiin

Diriwayatkan oleh (Imam) al-Ashma’i rohimahulloh. Suatu ketika beliau melihat (Sayyidinal Imam) Ali Zainal Abidin bin Husein Rodhiyallohu ‘Anhuma (cicit Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) menangis oleh karena rasa takutnya yang begitu besar kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, maka ia bertanya:

“Wahai Tuanku, mengapakah engkau beribadah sedemikian susah begini? Sedangkan engkau adalah Ahlul Bait (putra Husein, putra Fatimah, putri Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam), bukankah Alloh telah berfirman dalam (QS. Al-Ahzab ayat 33): Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.. ??”

Berkata Imam Ali Zainal Abidin bin Husein, “Wahai Ashma’i, tidak mungkin! Sesungguhnya syurga diciptakan untuk orang-orang yang taat kepada Alloh Ta’ala meskipun ia adalah seorang hamba sahaya Habsyi (yang hitam). Dan sesungguhnya neraka diciptakan untuk orang-orang yang maksiat kepada Alloh Ta’ala, meskipun ia adalah seorang tuan dari kalangan Quraisy.”

>>> (Paragraf 3): KESIMPULAN dan PESAN dari baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam:

”Setiap mata pada hari kiamat nanti pasti akan menangis, kecuali tiga :
1. Mata yang dipejamkan dari larangan Alloh
2. Mata yang dibuat jaga pada perang fii sabilillah
3. Mata yang menangis karena takut kepada Alloh”

Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala merizqikan kita air mata yang selalu diliputi dengan rasa Khouf (takut) dan Khusyu’ (tunduk) kepada-Nya. Aamiin… wa Shollallohu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. wAlhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin.

Wallohu a’lam bishshowaab.

RiseTAFDI team

Ketika Langit Cemburu kepada Bumi

Hikmah Isro dan Mi’roj

[FOTO]: Habib Ali Zainal Abidin al-Jufri sedang menunaikan sholat di bawah batu (shokhroh) tempat Nabi Muhammad SAW “take off” untuk Mi’roj meninggalkan orbit bumi

Kisah berikut ini termasuk dalam kategori Israiliyat (sejenis “legenda”) yang disadur dari Kitab Durrotun Nashihin (karya Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir al-Hubawiy, seorang ulama asal Konstantinopel) halaman 117 dengan sedikit penyesuaian. Kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Namun, cukup bisa dijadikan sebatas pengetahuan dengan tetap tidak menjadikannya sebagai dalil.

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Alkisah, bumi pernah membanggakan dirinya kepada langit, “Aku lebih baik daripada dirimu, karena Alloh menghiasi aku dengan berbagai negeri, lautan, sungai-sungai, pohon-pohon, gunung-gunung dan lain-lainnya.”

Langit berkata kepada bumi, “Justru aku yang lebih baik dari dirimu, Alloh telah menghiasi diriku dengan matahari, bintang-bintang, bulan, cakrawala, planet-planet dan lain sebagainya.”

Bumi berkata lagi, “Padaku terdapat Baitulloh (Ka’bah) yang selalu dikunjungi oleh para Nabi, para Rosul, para wali dan orang-orang mukmin secara umum, dan mereka selalu berthowaf kepadanya!”

Langit tidak mau kalah, ia berkata, “Padaku ada Baitul Makmur, dimana para malaikat selalu berthowaf kepadanya. Padaku juga terdapat surga, yang merupakan tempat ruh para Nabi, ruh para Rosul, ruh para wali dan semua ruh orang-orang yang sholeh!”

Jadi, hakikat sebenarnya dari ‘batu melayang’ adalah shokhroh tersebut. Bukan gambar palsu sebagaimana yang banyak beredar di internet. Apabila kita perhatikan, ternyata di bawahnya tidak mampat, melainkan terdapat ruang kosong yang besarnya seukuran musholla. Sehingga dapat dikatakan seolah-olah batu (shokhroh) tersebut ‘melayang’. Wallohu a’lam

Bumi berkata lagi, “Sesungguhnya pimpinan para rosul dan penutup para nabi, Kekasih Allohu Robbul ‘Aalamiin, seorang rosul yang paling mulia dari segala yang ada, Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, yang semoga salam dan penghormatan selalu terlimpah kepadanya, ia tinggal dan menetap pada diriku, dan ia menjalankan syariatnya di atas punggungku!”

Mendengar perkataan bumi yang membanggakan akan keberadaan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam pada dirinya, langit tidak bisa memberikan argumentasi tandingan yang sepadan.

Langit pun tahu bahwa Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam adalah makhluk termulia dan yang paling dicintai Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, dan faktanya memang tidak pernah sekalipun Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam menjejakkan kaki pada dirinya, apalagi membuat aktivitas-aktivitas yang membekas dan memberi kesan tersendiri pada beliau. Langit hanya terdiam, merasa kalah dan terpojok dengan posisi yang dibandingkan oleh bumi.

Tetapi kemudian langit menghadapkan diri kepada Alloh dan berdo’a, “Ya Alloh, Engkau selalu mengabulkan segala permintaan hamba-hamba-Mu yang dalam keadaan terdesak atau terjepit. Ya Alloh, saat ini aku adalah hamba-Mu yang dalam keadaan terdesak dan tidak dapat memberikan jawaban yang sepadan kepada bumi!”

Alloh Ta’ala memperkenankan doa langit tersebut. Saat itu adalah tanggal 27 Rojab, Alloh berfirman, “Wahai Jibril, hentikan dahulu tasbihmu pada malam ini! Wahai Izroil, pada malam ini janganlah engkau mencabut ruh terlebih dahulu!”

Tampak atas Shokhroh (batu tempat berpijak Nabi saat Mi’roj ke Sidrotul Muntaha). Batu Shokhroh ini berada di Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock), Yerusalem – Palestina

Malaikat Jibril berkata, “Ya Alloh, apakah kiamat telah tiba masanya??”

Memang, Jibril dan malaikat-malaikat lainnya tidak akan pernah berhenti melantunkan tasbih kepada Alloh, apapun keadaannya, kecuali jika hari kiamat telah tiba. Alloh berfirman lagi, “Tidak wahai Jibril, tetapi pergilah engkau ke surga, bawalah salah satu buroq disana dan bawalah Muhammad datang menghadap-Ku malam ini!”

Malaikat Jibril segera memenuhi perintah Alloh, ia datang ke surga dan melihat 40.000 buroq sedang merumput di padang rumput surga, pada kening buroq-buroq itu tertulis nama Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam . Tampak satu buroq menunduk dan air matanya terus mengalir, tidak merumput seperti yang lainnya. Jibril menghampirinya dan berkata, “Apa yang terjadi dengan dirimu, wahai buroq??”

Buroq itu berkata, “Wahai Jibril, sejak 40.000 tahun yang lalu aku mendengar nama Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, dan hatiku terbakar rindu untuk bisa bertemu dengannya. Kerinduan itu begitu meliputiku sehingga aku tidak bisa lagi makan dan minum, kecuali apabila aku telah bertemu dengan beliau (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)”

Malaikat Jibril tersenyum dan berkata, “Aku akan menyampaikan dirimu kepada orang yang selama ini kamu rindukan. Malam ini juga engkau akan bertemu dengan Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam”

Kemudian Jibril memasang pelana dan tali pengikat dari sutera surga pada buroq itu dan membawanya turun ke bumi. Setelah selesainya peristiwa Isro Mi’roj Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, langit pun bisa memberikan argumentasi kepada bumi dan ia merasa bahwa kedudukannya cukup sejajar dengan bumi.

Wallohu a’lam bishshowaab

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shihbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Mau Sedekah Tapi Nggak Punya Uang? Begini Caranya

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Suatu hari orang miskin (kaum dhuafa) datang berbondong-bondong melakukan demonstrasi yang terbilang ‘aneh’ kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Mereka berunjuk-rasa bukan lantaran didorong kekurangan sandang dan pangan. Bukan pula karena tidak kebagian jatah zakat fitrah atau seanting daging qurban. Melainkan khawatir akan kehidupan akhiratnya kelak.

“Ya Rosulalloh.. Menjadi orang kaya itu rasanya senaaang sekali, mereka banyak mendapatkan pahala.

Mereka sholat sebagaimana kami sholat, dan mereka pun berpuasa sebagaimana kami berpuasa.

Akan tetapi, kelebihan orang Kaya adalah mampu bersedekah dengan harta yang mereka miliki, sedangkan kami tak memiliki harta yang dapat disedekahkan 🙁 ”

Demikian keluhan orang miskin mengekspresikan isi hati mereka kepada baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Foto hanya sebagai ilustrasi

Mereka takut bagaimana jadinya apabila kehidupan kelak di ‘seberang’ makam tidak memperoleh pahala sebanding dengan ganjaran yang diterima oleh kaum berada.

Inilah “ghibthoh” (kecemburuan positif), yakni keinginan bersaing dalam hal kebaikan.

Maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam memberi tahu mereka dengan sabdanya, “Laisa qod ja’alallohu lakum ma tashoddaquuna bih?”

Bukankah Alloh telah menganugerahkan kepadamu wahai orang Miskin, yang dengannya kamu diganjar sama dengan bersedekah seperti orang kaya?

Tanya mereka, “Apa itu Ya Rosulalloh??”

Baginda menjawab, “Sesungguhnya setiap kalian mengucapkan tasbih “Subhanalloh” adalah sedekah.

Setiap melafalkan takbir “Allohu Akbar” adalah sedekah juga bagimu.

Sehingga apabila kamu tidak mampu bersedekah dengan harta, maka bersedekahlah dengan DZIKIR! Subhanalloh wal-hamdulillah wa Laa iLaaha iLLaLLohu Allohu Akbar..”

Ketika mendengar hal itu, menjadi giranglah perasaan orang-orang miskin, berbunga-bungalah hati mereka 🙂 <3

Namun disaat yang sama, orang Kaya mengetahui perihal orang miskin yang bisa bersedekah dengan dzikir.

Maka mereka pun tak mau ketinggalan sehingga melakukan hal yang sama, yakni ikut berdzikir juga! 😀

Menanggapi kondisi demikian, lantas orang miskin kembali lapor dan mengajukan ‘protes’ kepada baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Lalu dijawab oleh baginda Nabi dengan sangat bijaksana, “Ini adalah satu bagian nasib yang Alloh sudah tentukan kepada segolongan manusia yang tidak ada pada yang lain”

Kalau semua orang hidup Kaya Raya bergelimang harta, siapa yang mau bekerja??

Kalau semua orang hidup Miskin, lalu siapa yang akan memberi gaji??

Dan kalau tak ada orang Miskin, bagaimana pula orang-orang Kaya bisa memberi sedekah??

Jadi, mestilah ada kelebihan pada segolongan orang, dan kekurangan pada golongan yang lain. Karena hidup ini adalah saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Setuju?

Wallohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Ini Sarungku, Mana Sarungmu?

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Di Indonesia, sarung adalah pakaian yang paling sopan dan terhormat, pakaian yang biasa dipakai juga untuk ibadah sholat.

Pakaian ini tidak mengenal ras dan golongan, kaya maupun miskin. Tua, muda, sampai anak-anak lazim memakainya, seolah-olah sudah menjadi ciri khas umat Islam tanah air Indonesia.

Memang, sarung identik dengan santri, maka ada istilah ‘kaum sarungan’, maksudnya adalah para santri yang sedang aktif (atau setidaknya pernah) belajar di suatu lembaga pendidikan bercorak pesantren.

Kendati demikian, seluruh lapisan masyarakat sudah familiar dan akrab dengan pakaian yang satu ini.

Sarung juga telah menjadi simbol perlawanan. Sebagai sebuah wilayah yang mayoritas beragama Islam, sarung menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda yang terbiasa menggunakan baju modern seperti jas.

Para santri di zaman kolonial Belanda menggunakan sarung sebagai simbol perlawanan terhadap budaya Barat yang dibawa kaum penjajah. Kaum santri merupakan masyarakat yang paling konsisten menggunakan sarung dimana kaum nasionalis abangan telah hampir meninggalkannya.

Ya, pakaian yang sangat simpel dan mudah dipakai, tidak seperti pakaian yang lain. Orang yang terbiasa pakai sarung, terasa sangat enjoy bahkan kalau memakai celana panjang merasa gerah dan pengap.

Timnas Sepakbola Pantai Majelis-TAFDI saat melakukan laga eksebisi di pantai Kidul (03 Juli 2012)

Santri dulu (atau mungkin sampai sekarang) seolah tidak suka pakaian lain, kemana-mana pakai sarung; ke masjid, ke sekolah, main bola, kerja di sawah, bangun gedung, bahkan ke mall sekalipun pakai sarung, tidak ada rasa minder sama sekali. ^_^

Ada juga yang mengatakan bahwa ketika KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada hari-hari pertama pasca pelantikan Presiden RI, saat akan ngantor di Istana Negara pakai sarung. Luar biasa! Tampaknya sarung sudah menyatu dengan hati Gus Dur.

Dr. KH. Manarul Hidayat, pengasuh pondok pesantren Al-Mahbubiyyah pernah berkata bahwa, “Orang yang pakai sarung adalah orang yang sangat demokratis, bisa ke kanan dan bisa juga ke kiri.”

Lain halnya dengan mas Setiawan Budhi. Sebagai pecinta sarung, ia meneliti dengan bertanya kepada 10 orang cowok, “Apakah kalian punya sarung?”

Dan ternyata 10/10 (10 orang dari 10 yang ditanya) menjawab “Ya”. Ini berarti hasilnya mutlak sempurna. Gak seperti di iklan-iklan kosmetik yang cuma 7/10, 8/10, atau 9/10.

Tambahnya lagi, Sarung mempunyai fungsi yang lumayan banyak. Seperti:

1). Perlengkapan Sholat, emang lebih afdhol kalo sholat pake sarung. Hehehe.

2). Pengganti selimut saat tidur. Kalo pake selimut terlalu gerah, maka gunakanlah sarung, niscaya tidur akan terasa lebih pulas (halah).

3). Untuk FASHION. Yup, siapa bilang pake sarung itu gak G403L?? Pake sarung tetap terlihat keren kok. Buktinya presiden Jokowi biar pake jas, tetap sarungan 🙂

4). Sahabat setia para Ronda Rangers. Selain menggunakan kupluk dan membawa senter, yang lagi ngeronda biasanya juga membawa sarung sebagai sahabat setianya.

5). Properti wajib bagi para maling. Biasanya kalo di TV, para maling menggunakan sarung sebagai media penyamaran mereka dalam beraksi (yang ini jangan di tiru yaa..wkwk)

Serta masih banyak lagi manfaat dan fungsi lainnya. Itulah sebabnya mengapa sarung menjadi barang FAVORITE yang wajib dimiliki setiap orang. Dan satu lagi hal yang paling unik dari sarung,

“Bisa bikin adem saat suasana panas, dan bisa bikin anget saat suasana dingin.”

Demikian sekelumit tentang sarung. So, ini sarungku, mana sarungmu? 🙂

Wallohu a’lam bishshowaab

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Doa Unik yang Tahu Arah Jalan ke Langit

Bidadari kecil dari kota Malang ini bernama Azza, sangat ekspresif saat qosidah dilantunkan. Dengan memakai sarung tangan dan duduk paling depan, ia seolah-olah menjadi dirijen bagi jama’ah yang lain untuk semangat bersholawat dan bersalam kepada baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Sesungguhnya para Imam dan Ulama besar mempunyai kisah yang unik, diantaranya Imam Nawawi, Imam Ibnu Katsir, dan semua Imam Ahli Tafsir, Ahli Hadits, Ahli Fiqh, dan Ahli Ushul. Salah satu yang terkenal adalah kisah Imam al-‘Utbi.

#Kisah 1

Kisahnya disebutkan dalam Tafsir QS. an-Nisa ayat 64. Disebutkan bahwa ketika beliau berziarah ke makam Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, beliau duduk di samping seseorang yang datang dari pedalaman.

Orang tersebut berdiri dan mengucapkan salam kepada Rosululloh dan kedua Sahabatnya. Lalu orang itu berkata:

“Yaa Rosulalloh, aku telah mendengar Firman Alloh:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Alloh, dan Rosul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang (QS. an-Nisa: 64)

Kini aku telah datang kepadamu untuk memohon ampun kepada Alloh atas dosaku, maka mohonkanlah ampun untukku Yaa Rosulalloh.”

Tak lama setelah orang Badui itu pergi, Imam ‘Utbi tertidur. Dalam mimpinya Imam ‘Utbi melihat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang kemudian baginda bersabda,

“Wahai ‘Utbi, bangun dan kejarlah orang Badui itu, lalu kabarkan kepadanya bahwa Alloh telah mengampuni dosanya.”

—————————–
#Kisah 2

Sebuah kisah unik lain dari kaum Sholihin saat berziarah ke makam Rosululloh, beliau melihat seseorang dari pedalaman juga (orang Badui) datang dan memberi salam kepada Rosululloh dan kedua sahabatnya, lalu orang itu berdo’a:

“Ya Alloh, Muhammad ini adalah Nabi-Mu. Aku adalah hamba-Mu. Dan syaitan adalah musuh-Mu.

Jika Engkau mengampuni aku, maka Nabi-Mu akan gembira, dan hamba-Mu akan selamat, serta musuh-Mu akan bersedih.

Namun apabila Engkau tak mengampuni aku, maka Nabi-Mu bersedih, hamba-Mu hancur, dan musuh-Mu gembira.

Engkau lebih Dermawan dan lebih Mulia, tidak mungkin Engkau membuat musuh-Mu bahagia dan Nabi-Mu bersedih”


Kemudian setelah itu orang Badui tersebut pulang.

Tak lama, orang Sholihin yang masih berziarah tertidur. Dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu Rosululloh seraya berkata:

“Bangunlah dan kejar orang Badui itu! Katakan bahwa Alloh telah mengampuni segala dosanya sebab doanya yang unik itu.”

—————————–
#Kisah 3

Kisah terakhir ini terjadi tatkala seorang Badui melihat jenazah orang lain di kampungnya. Selesai dimakamkan, pada malam harinya salah satu kerabat mayit bermimpi bertemu si-mayit. Kemudian ia bertanya,

“Bagaimana keadaanmu setelah wafat?”

Maka mayit itu pun berkata, “Alloh mengampuniku berkat doa orang Badui yang unik itu.”

Pagi harinya, kerabat si-mayit bangun dan penasaran, doa apa sih yang disampaikan orang Badui tersebut?

Ketika bertemu, orang Badui itu menjawab, ” Aku ini orang gunung yang tidak tahu apa-apa, ketika aku melihat kalian sholat dan berdoa, aku tidak mengerti doa apa yang kalian panjatkan, maka aku berdoa dengan kalimat ini: Ya Alloh, seandainya ini tamu saya, maka akan saya sembelihkan unta saya untuk menjamunya. Namun saat ini ia adalah tamu-Mu, dan Engkau Maha Dermawan lagi Maha Pemberi”

Maka dengan sebab doa yang unik dari orang Badui itulah menjadikan ampunan Alloh bagi si-mayit.

==================================
Subhanalloh wal-hamdulillah. Sungguh! Betapa hujan rahmat dan anugerah Alloh tercurah dengan lebat kepada semua umat manusia.

Mari kita merayu pada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dan juga Habibiy Muhammad Khoiril Mursaliin:

“Duhai Kanjeng Nabi, Abu Jahal telah melihat wajah engkau. Sedangkan kami belum pernah. Padahal kami tidak lebih buruk darinya yang senantiasa membencimu. Dapatkah kami melihat wajahmu, Ya Rosul?

Duhai Gusti Alloh, jadikanlah kami orang yang senantiasa bersabar atas segala sesuatu yang menimpa kami, sebagaimana kami telah bersabar atas kerinduan dan kecintaan kami kepada beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Telah KAU halangi mata kami dari memandang wajah Nabi kami, akan tetapi kami disabarkan oleh janji beliau, “Bersabarlah kalian sampai kalian menjumpai aku di telaga Haudh” Maka pastikanlah wahai Robbiy, semua wajah kami berjumpa dengan baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam di telaga Haudh. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.”

wAllohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

Disarikan oleh RiseTAFDI team dari taushiyah Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz di ponpes al-Fachriyah pada 30/10/2016 [RBBT, 3 Shofar al-Khoir 1438 H atau 3 Nopember 2016 | 14.03 UTC+7]

Cara Mutusin Pacar Tanpa Menyakiti

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Yang namanya ikatan pacaran itu suatu saat pasti akan putus. Tidak ada sejarahnya aktivis pacaran yang pacarannya bisa awet bertahan lama sampai 47 tahun misalnya. Tidak ada! Suatu saat, yang berpacaran pasti akan putus, entah putus jadi MANTAN, atau putus jadi MANTEN.

Foto hanya sebagai ilustrasi

Jangankan pacaran, setelah dilamar pun, seseorang bisa saja gagal menikah karena satu dan lain sebab. Makanya, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam melarang umatnya mengumumkan lamaran, dan hanya menganjurkan untuk memberitakan pernikahan.

Apalagi mereka yang mengumumkan pacaran di media sosial, betapa menyelisihinya dengan perintah Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Tidak cukupkah kasus-kasus bunuh diri karena diputusin pacar menjadi pelajaran?

Jangankan sekadar lamaran, bahkan yang menikah pun tiada jaminan akan langgeng sampai akhir hayat. Tidak cukupkah kasus-kasus perceraian menjadi pelajaran? Bahwa mengumumkan pernikahan bukan untuk berbangga diri, hanya pemberitahuan agar tidak ada buruk sangka bagi orang yang belum tahu, dan syiar agar banyak orang termotivasi dalam menghidupkan sunnah sang Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Adapun contoh dan cara mutusin pacar tanpa menyakiti, salah satunya adalah dengan alasan “mau MENIKAH” :

“Sayang, kita putus ya?”

“Kenapa?”

“Aku udah bosen jadi pacar kamu. Aku maunya jadi istri kamu aja. Putus maksudnya mari kita putuskan kapan tanggal pernikahan kita.”

Putus model begini, insyaAlloh dijamin 100% tidak akan menyebabkan sakit hati, justru bikin hepi. Kecuali kalau mau menikahnya dengan orang lain. 🙂

HIKMAH dan PESAN MORAL-nya

Pacaran berasal dari kata dasar ACAR

Pacaran adalah kependekan dari kata PEMACARAN, yaitu proses melakukan tindakan untuk membuat jadi ACAR.

Sifat acar adalah asam, asin, manis, dan kadang-kadang sepat.

Maka begitulah dengan tindakan pacaran, kadang terasa manis, kadang asin, kadang asam.

Terjadinya pertengkaran
Terjadinya cakar-cakaran
Terjadinya bubar-bubaran
Κarena adanya pacaran

Baru jadian pacaran bilang AMAZING
Tapi setelah bubaran ngatain A*ZING

Cintailah apa dan siapa saja, tetapi sadarlah, kelak engkau akan berpisah dengannya :'(

Cinta tak perlu setinggi bukit, nanti sakit :-s

Agar tak merana, Cintai dengan sederhana 🙂

Ini dia rumus Cinta agar kita senantiasa bersuka cita, tiada derita dan air mata ^_^

SATU → (SA)yangi (TU)han

DUA → (D)an (U)tusan (A)lloh

TIGA → (T)aati (I)bu dan ju(G)a (A)yah

EMPAT → (E)ngkau (M)enikahlah (P)ada ia yang (A)khlaknya (T)erpuji

LIMA → ojola(LI) li(MA) waktu

***************

Cinta pada Sang Pencipta….

“MENGUBAH DERITA JADI BAHAGIA”

***************

Orang yang paling bahagia adalah orang yang menjadikan puncak dan tujuan utamanya mencintai ALLOH SUBHANAHU WA TA’ALA

***************
Konklusinya…

Harta terbaik adalah yang udah disedekahin.

Ibadah terbaik adalah yang udah diikhlasin.

Ilmu terbaik adalah yang udah diamalin.

Dan PACAR TERBAIK ???
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yang udah dinikahin 🙂

Wallohu a’lam bishshowaab

RiseTAFDI team

Terbukti Ampuh! Beginilah Cara Menggandakan Uang

Gambar hanya sebagai pemanis

Siapa sih yang nggak ingin punya banyak uang? Sebagaimana bang Haji Rhoma Irama dalam senandung lagunya tentang Rupiah, “Tiada orang yang tak suka, pada yang bernama rupiah. Semua orang mencarinya, di mana rupiah berada.

Baiklah, kali ini RiseTAFDI mau berbagi trik menggandakan rupiah. Langsung aja ya. Tidak perlu ke dukun atau paranormal. Sangat mudah dan praktis. Bisa praktekkan sendiri di rumah. Hanya dua cara saja :

Pertama, baca bismillah.

Kedua, letakkan uang Anda di depan cermin berapapun nominalnya.

Sekarang lihat di cermin! Uang Anda sudah bertambah kan? 😀

Semakin banyak Anda meletakkan uang di depan cermin, maka akan semakin berlipat-lipat jumlah uang Anda.

Hehe.. Mohon maaf ya Sobat, itu tadi hanya guyon. Kalau yang ini baru serius, beneran.

MAU PUNYA BANYAK FULUS ???

“Mintalah pada Alloh, walaupun hanya secuil Garam”

Maksudnya, sekecil apapun permintaan, hendaklah berdiri di hadapan “pintu” Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Yang mana apabila seseorang berdiri di hadapan pintu Alloh, maka tidak akan pulang dengan tangan hampa.

(Alkisah) pada masa kholifah Hisyam bin Abdul Malik, tatkala sang kholifah berada di masjid Nabawi, ada seorang ‘Arifin yang sedang i’tikaf. Lalu dihampiri oleh sang kholifah. Kemudian ditanya, “Apakah kamu mempunyai hajat kepada saya?”

Berkata ‘Arifin tersebut, “Saya segan minta kepada Anda, sedangkan saya sendiri berada di rumah Alloh Ta’ala. Di rumah Zat Yang Maha Kaya, saya minta kepada makhluk?, malulah saya kepada-NYA”

Kemudian oleh sang Kholifah ditunggu beberapa saat, hingga akhirnya kholifah pun keluar. Tak lama, orang ‘Arif itu pun ikut keluar.

Didatangi kembali oleh kholifah. Rupanya sang kholifah begitu simpatik pada orang ‘Arif ini.

Ditanya lagi oleh kholifah, “Sekarang kamu sudah berada di luar Rumah Alloh, saya tawarkan sekali lagi akan hajat kamu kepada saya. Mau minta sesuatukah kepada saya?”

Berkatalah orang ‘Arif, “Anda menawarkan saya sebuah permintaan yang nantinya akan Anda penuhi, apakah permintaan itu menyangkut permintaan Akhirat, ataukah permintaan Dunia?”

Jawab kholifah, “Kalau permintaan akhirat, saya tak bisa penuhi karena bukan saya yang punya akhirat. Tapi kalau permintaan dunia, saya bisa penuhi karena saya punya dunia”

Kata orang ‘Arif, “Kalau dalam hal dunia, kepada Yang Menciptakan dunia ini saja saya tak pernah meminta, apatah lagi kepada Anda yang tidak menciptakan dunia.” 🙂

HIKMAH dan PESAN MORAL

MasyaAlloh! Orang ‘Arif tersebut sangat menjaga ‘iffah (kehormatan diri)-nya, sehingga tidak mau minta kepada orang lain, kendati terbuka peluang tersebut untuk meminta. Meski sebagian mereka memerlukan, namun demi menjaga ‘iffahnya, mereka lebih baik diberi tanpa meminta. Selain itu, orang yang selalu menjaga ‘iffahnya, mereka juga tidak mau ‘mengangkat matanya’ untuk mempunyai atau memiliki apapun yang dimiliki oleh orang lain (dalam hal keduniawian).

Ketika baginda Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam ditanya oleh Sahabat, “Ya Rosulalloh, apakah amalan yang apabila saya lakukan, Alloh sayang kepada saya, dan manusia pun akan sayang kepada saya?”

Maka baginda Nabi bersabda, “Izhad fiddun-ya yuhibbukalloh. Wazhad fiimaa ‘indan-naas yuhibbukan-naas”

(Zuhudlah kamu di dunia — yakni merasa cukup dengan apa yang Alloh berikan — maka Alloh akan sayang kepada kamu. Dan zuhudlah kamu dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, — yakni tak merasa dirinya ingin mempunyai apa yang dimiliki orang lain, tidak dengki terhadap kelebihan yang ada pada orang lain, serta tidak ada kepentingan apa-apa (menghendaki sesuatu) ketika bersahabat dengan orang yang lebih Kaya hartanya –, maka manusia pun akan sayang kepadamu).

Wallohu a’lam bishshowab. Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Amiin

Disarikan oleh RiseTAFDI team melalui kalam Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid [RBBT, 06 Februari 2016 | 00:15 UTC+7]

Kisah Preman yang Menampar Waliyullah

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Sayyidina Ibrohim bin Adham ‘alaihi rohmatulloh adalah seorang ‘alim dan juga wali besar. Suatu hari beliau bekerja menjaga kebun milik seseorang.

Kemudian pada saat itu datanglah seorang Samseng (gengster / preman) ke kebun yang dijaga oleh Sayyidina Ibrohim bin Adham dengan maksud untuk meminta buah yang ada di kebun tersebut.

Kata Sayyidina Ibrohim, “Kalau tidak ada izin dari tuan yang punya, aku tidak berhak memberikan satu buah pun, sedangkan aku tidak mendapatkan izin juga.”

Kata si-Preman, “Kamu tidak tahu siapa saya?!” Dengan pongahnya ia menggertak Sayyidina Ibrohim.

Kata Sayyidina Ibrohim, “Maaf saya tidak tahu”

Lalu ditamparlah Sayyidina Ibrohim oleh Preman tersebut.

“Saya tidak akan izinkan kamu mengambil satu buah pun.” Demikian Sayyidina Ibrohim teguh dalam pendirian.

Karena Sayyidina Ibrohim tetap keukeuh pada pendiriannya, maka ditampar lagi untuk kali yang kedua oleh si Preman.

Hingga tiga kali tamparan, sikap premanisme itu tidak digubris sama sekali oleh Sayyidina Ibrohim, maka ditinggalkanlah oleh si Preman.

Foto hanya sebagai ilustrasi

Pada waktu yang bersamaan, kejadian itu dilihat oleh seseorang. Maka preman itu dipanggil, “Hei, apa yang sudah kau perbuat?”

Kata Preman, “Saya hanya minta satu buah tapi tak dibagi sama dia”

“Kamu tahu siapa orang yang baru saja kamu tampar tadi? Itu adalah Ibrohim bin Adham.” Timpal orang tersebut

Rupanya nama Ibrohim bin Adham dikenal dengan baik oleh si Preman. Namun ia belum mengetahui seperti apa wajah Sayyidina Ibrohim bin Adham sebelumnya.

Setelah mengetahui hal demikian, menjadi sangat malulah si Preman karena telah menampar orang besar. Kemudian ia kembali kepada Sayyidina Ibrohim bin Adham untuk memohon kemaafan karena telah memukulnya berkali-kali.

Tapi Sayyidina Ibrohim bin Adham malah berkata, “Saya sudah memaafkan kamu sejak kamu mengangkat tangan dan memukul kepala saya.

Bagaimana saya tidak memaafkan kamu, sedangkan setiap kali kamu angkat tangan memukul saya, Alloh ampunkan dosa saya karena saya bersabar dalam menghadapi sikapmu.

Tak mungkin saya tidak memaafkan kamu sedangkan kamu telah membawa kebaikan untuk saya. Kebaikan yang kamu berikan kepada saya jauh lebih besar daripada kebaikan yang saya berikan untuk kamu”

MasyaAlloh!

Yaa Alloh, anugerahilah kami hati yang syafaqoh sebagaimana telah Engkau karuniakan kepada wali-Mu, Sayyidina Ibrohim bin Adham. Yakni perasaan lembut dan kasih bukan hanya kepada kawan saja, tetapi juga kepada setiap orang yang tidak suka dan mengganggu. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

wAllohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

Disarikan oleh RiseTAFDI team dari mau’idzhoh hasanah Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid (Pengasuh Majlis Ta’lim Darul Murtadza) [13 Shofar al-Khoir atau 13 Nopember 2016 | 22:00 UTC+7]

The True Barrier of Qurush (Koresh)

Between two seas (Black Sea and Caspian Sea) there is the very high Caucasus mountain chain, and there is only one pass that allows people from north to cross to the south. This pass, called “The Pass of Darial” is located between the two cities of Villady and Tiblisi. There is a wall on this pass.

Maulana Izad saw that this wall at the “Darial Pass” was made of stone, which is a different material from that used to build the Wall mentioned in the Quraan which is made of iron and brass/copper/led.

Read this :
The Identification of Dzū al-Qarnayn by Dr. ‘Adnaan ben Ibraaheem

So, Izad immersed himself in the ancient Armenian heritage and with the help of translators found that there was another wall made of iron and copper/led very close to the one of stones called “Bahaat Goree” which mean “Saddu/Wall of Qurush / سد قرش” and “Cabaan Goree” which mean in Armenian: “Pass of Gorash”, which is Dzū al-Qarnayn.

Pictures of Darial Gorge

This is the border of the Republic of Georgia with the Russian Federation at the Georgian Military Highway at the Dariali Gorge in Georgia, 170 kilometers north of Tbilisi. The Dariali Gorge is 13 kilometers long: some are in Georgia and the rest behind this border check point in Russia. Immediately after the check point and on the Russian side is a small and narrow pass. Xasanwali 12 Muharram 1440 Hejree, 27 September 2018 Gregorian.

When you come out of the border control of the Russian Federation and enter the Republic of Georgia the first thing you see is this sign. You see this church, which was built only a couple years ago as the priest in it said to me, behind me on a mountain.

You came from the Russian border control and are now in Georgia: you will see this narrow pass at the end of this picture.

I am standing next to the power station where the Barrier of Dzū al-Qarnayn was located. Behind me is Georgia (this road takes you to Tbilisi through the tunnel behind me), and you see the small pass and am facing Russia.

This is the mountain hovering over the hydraulic power station. On this mountain is one end of the barrier that started, according to my personal eye estimate, about 100 meters above the ground. All the sites coloured in yellow are sections of the barrier that are still standing. Then the barrier will go through the valley and end on top of another mountain. Dzū al-Qarnayn first built two parallel wall of stone and then placed the iron bars and the brass between them and applied fire on them. Each yellow stone, as I saw with my own eyes, is a huge square yellow as big as the stones of the Pyramids of Giza in Cairo Egypt or bigger.

On Thursday 12 Muharram 1440 H (27 September 2018) I returned to the Darial Gorge, this time without an interpreter and took another video and pictures of the location

The Mystery of Wall Gog and Magog in Darial Gorge, Georgia

On Friday I went to the Georgia National Museum looking for the history of the Barrier of Dzū al-Qarnayn from the Georgian perspective. I was told that the man in charge of that file comes to work on Mondays and that I could not be helped and I was advised to go to the University Library.

We went there and were told exactly the same thing: to come back on Monday when that man was working. I gave some money, my telephone and my e-mail address to the taxi driver to go back on Monday and e-mail me the outcome. I departed from Georgia on Saturday. He called me over the phone on Monday and said: “Problem Bibliotek”.

I understood that he could not get any information on the barrier from the libraries. He was a honest young man.

This mountain is one of “The two sides of the Shell/The two steep mountainsides” ( حَتَّىٰ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ ) [Quraan Surah al-Kahfi : 96], the other is located on the other side of the valley that the Quraan called “Until when he reached a valley between two barriers / mountain chains ” ( حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ ) [Quraan Surah al-Kahfi : 93].

The word “Sadaf / صدف” means “One side of the shell than contains for example a perl and “Sadafayne / الصدفين” are the two sides of that shell that come together on the pearl.

The yellow spots on the mountain are the ruins of the two walls between which the iron blocks were placed. They are made of big sqare yellow stones such as those used to build the Pyramid of Giza in Cairo Egypt or bigger. I could not cross the valley to the other side to see the other end of the barrier, for I could find no road or way to take me there and there was heavy work in progress in the valley. The valley is located much lower than the motorway we were travelling by.

This is the side of the shell on the other side of the valley. Here you also see the electricity generating station in the valley.

When I talked to the priest in the church of Darial Gorge I asked him what was the building on top of the mountain on the other side of the valley and he said: “That is a monastery for women. It cannot be reached now because the bridge that was connecting the two sides of the valley has been removed.”

Wallahu a’lam bishshawaab

Published by : RiseTAFDI team

The Identification of Dzū al-Qarnayn by Dr. ‘Adnaan ben Ibraaheem

Al-Shaykh Dr. Aboo Muhammad ‘Adnaan ben Ibraaheem (الشيخ الدكتور أبو محمد عدنان بن إبراهيم) is a Palestinian / Austrian ‘Aalem from Ghazzah (Palestine), with a massive knowledge of Islaam, for he is a haafeth (حافظ), expert in tafseer (التفسير), Hadeeth (الحديث), Seerah (السيرة), history (التاريخ), poetry (الشعر), the Arabic Grammar / Nahw (النحو), the Arabic language, logic (المنطق) and all branch of the religion. He has studied also Medicine. Furthermore he speaks many languages, including Bosnian, German and English. He lives in Vienna, the Republic of Austria.

Dr. Adnan Ibrahim (second from the right) with Syaikh Dr. Said Ramadhan al-Buthi (center)

I know him personally, for when I was the ambassador of the League of Arab States to the UNO in Vienna, he was a young staff member of the embassy. At the same time he was the imam of my masjed in the city. At that time he was about thirty years old, and would be in his early fifties in this year of two thousand and fifteen. He is naturalized Austrian national. He was my respected sheikh for about two years (1992-1994). I understand from his website (www.adnanibrahim.net) that he has his own organization now.

When I was researching for this book, I googled Ya-jooj and Ma-jooj (يأجوج ومأجوج) in Arabic and among other results came two Jumu’ah Khutbahs of his on the issue I was researching for.

Dr. Aboo Muhammad acknowledges in his sermon that the identification of Dzū al-Qarnayn (ذوالقرنين) he was about to make is from the Indian Sheikh Abul Kalam Azad (Abu Al Kalam – which is Pen Name – Muhiyuddin Ahmed Azad, born in Makkah Al Mukarramah on 1888 from an Indian ‘Aalem and author and an Arab woman from Al Madeenah Al Munawwatah, daughter of the scholar and author Sheikh Muhammad Zaaher Watri and passed away in India on 1959.

Azad was a member of the Indian Independence Movement together with Gandhi: see picture below: source of these information is Wikipedia). This sermon of Aboo Muhammad was published on his website on June 26, 2013. Here are some excerpts from his sermon concerning this particular issue.

Azad with Patel and Gandhi at AICC meeting in Bombay, 1940. The picture is from Wikipedia.

“Allaah doesn’t say: “The sun sets in a spring of murky water” but does say that Dzū al-Qarnayn “Found it sets in a spring of murky water”.

The Arabic word used in the original Arabic is “Wajadahaa (وجدها)” which means “Ra-aahaa (رآها) ” which means: “he saw”: so it is Dzū al-Qarnayn who “saw” the sun setting in a spring…”. The earth is round, therefore there is not an absolute east or an absolute west, but all is relative: every person sees the sun setting at his horizon to the west, and disappearing.

The Word “Hame-aten (حمئة) ” in the Aayah: most of the scholars interpret it as “Teen (طين) ” which is soil or dirt or clay.

Dzū al-Qarnayn left for a military campaign and was victorious all the way to the west of his country until he reached the westernmost point of his campaign and could go no further, because there was the Aegean Sea at this point. Dr. ‘Adnaan said:

” آخر مكان بلغه و لم يجاوزه لأن أمامه البحر

These words mean: “This was the last place he reached and did not go beyond it because the sea in front of him stopped him.

This picture is from the book “The Complete Guide to Bible Prophecy” by Stephen M. Miller, published by Barbour, page # Ninety four (94). This maps shows the borders of the empire of Cyrus: the Aegean Sea to the west and the Caspian Sea to the east.

The Aegean Sea has many Gulfs or Fjords that go inside the land of Turkey. One of these Gulfs is the Gulf of Izmir, which goes deep into the land for one hundred eighty kilometers.

There is the river called Gadez river that flows into this Gulf of Izmir, and this river carries a large amount of soil and dirt from the mountains of Anatolia and deposits it in the Gulf. This deposit of soil and dirt filled part of this waterway and converted it into a solid land.

An example of this are the two ancient port cities of Ephesus (The city of the Seven Sleepers) and Meleta that used to be on the Gulf of Izmir and are now so many kilometers away from this Gulf.

In fact the Turkish government is working on a plan to change the course of this rivers to avoid the port of Izmir getting the same fate of Ephesus.

There are high mountains surrounding this waterway, and for a person on the highland the Gulf of Izmir with its deposits of soil and dirt looks like a spring.

Gediz River rises from Murat Mountain and Şaphane Mountain in Kütahya Province and flows through Uşak, Manisa and İzmir Provinces. It joins the sea in the northern section of the Gulf of Izmir, close to the gulf’s mouth, near the village of Maltepe in Menemen district, south of the coastal town of Foça. From Wikipedia

The Gediz River at Izmir, Turkey.

After identifying that the westernmost point Dzū al-Qarnayn had reached was the Izmir Gulf of the Aegean Sea, he gives us his name of “Qurush (قرش) / Gorsh” and that the Greek pronounced it as “Cyrus” and tells us in few words who he was.

Ebnu Hazm Al Thaaheree (ابن حزم الظاهري) may Allaah have mercy on him, said that Qurush was in a boat in the Gulf of Izmir and saw the sun setting down from his boat.

The Greek historian Herods reports in his book “History” that Qurush first went to the west, then to the east, then to the north where he built the Wall of Dzū al-Qarnayn.

In the Book of Daniel in the Old Testament Dzū al-Qarnayn is mentioned only once by the name of “Dzū al-Qarnayn” His journey to the north took Qurush to the Black Sea and to the Caspian Sea.

Between these two seas are two rivers called “Nahru Sayrus” and “Nahru Qurush” in the Armenian language” (Because sometimes in history this region was part of Armenia, then to Azerbaijan, and now is part of Georgia).

Wallahu a’lam bishshawaab

Published by: RiseTAFDI team

Powered by WordPress and MasterTemplate