Merasa Sumpek? Bacalah Quran!

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Al-Habib Alwi bin Abdulloh bin Syihabuddin pernah ditanya; wahai habib, Anda tidak pernah keluar Tarim. Selalu di dalam kota Tarim. Apa tidak sumpek di rumah? Tidak kemana-mana, tidak ada hiburan, apa tidak sumpek?

Lalu dijawab oleh beliau: “Dari mana saya bisa kena stress, sumpek, dan beban fikiran? Kan saya punya al-Quran”

Yang selalu merasa sumpek itu adalah orang yang tidak pernah baca al-Quran. Silahkan cari orang yang baru sumpek, stress, dan tidak tentram batinnya. Bagaimana sikap orang tersebut dengan al-Quran? Gimana nasib al-Quran dengannya? Pasti hidupnya jauh dari al-Quran.


Al-Quran tulisan tangan Ulama Nusantara Syeikh Daud bin Abdullah bin Idris al-Jawi al-Fathoni. Sampul dibuat dari kain sutera warna hitam. Ragam hias dengan menggunakan keelokan bunga mawar dan mawar segala bunga. Ukuran: 19×24 cm, tebal: 7 cm, tahun penulisan: 1251 Hijriyah

Sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan rodhiyallohu ta’ala ‘anhu berkata: “Kalau hati sudah bersih, maka tidak akan merasa kenyang (bosan) dalam membaca al-Quran”

Merasa bosan, jenuh, sumpek, dan ‘kenyang’ dalam membaca al-Quran, pertanda hati belum bersih.

(Sebagai bahan motivasi), dapat kita lihat bagaimana para Salaf begitu gemar dalam membaca al-Quran, diantaranya:

1). Sayyidina Utsman bin ‘Affan

Beliau menutup akhir sholat malamnya dengan 1 roka’at. Dalam satu roka’atnya itu, beliau baca Quran dari awal sampai khotam. Sehingga tiap malam khotam Quran hanya dalam 1 roka’at.

2). Al-Imam al-Habib Hasan bin Sholeh al-Bahr al-Jufri

Beliau menutup akhir sholat malamnya dengan 2 roka’at. Roka’at pertama, beliau baca al-Quran mulai dari awal sampai khotam. Sedang roka’at keduanya, beliau baca surat al-Ikhlas. Tidak banyak, cuma 90.000 kali ๐Ÿ™‚

Sampai-sampai penulis manaqibnya berkata: “Seolah-olah adzan Shubuh menunggu salam-nya al-Habib Hasan bin Sholeh” MasyaAlloh! ๐Ÿ™‚

3). Al-Habib Abdulloh bin Husein bin Thohir

Di luar bulan Romadhon, dalam sehari bisa menyelesaikan 20 Juz al-Quran. Sholat dhuha membaca al-Quran sebanyak 10 Juz, sholat witir baca al-Quran 10 Juz. Jadi, bisa 2 kali khotam dalam waktu 3 hari. Sehingga tiap bulannya, beliau mengkhotamkan al-Quran sebanyak 20 kali.

4). Al-Imam Syafi’i

Apabila sudah Romadhon, bisa khotam al-Quran sampai dua kali. Siang 1 kali khotam, dan malam 1 kali khotam.

5). Al-Imam al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Assegaf

Bahkan beliau bisa 8 kali khotam al-Quran. Siang sebanyak 4 kali khotam, dan malamnya 4 kali khotam.

MasyaAlloh! Demikian berkahnya waktu-waktu tersebut. Yakni waktu yang hari-harinya selalu diisi dengan membaca al-Quran. Lazimkan baca al-Quran. Rutinkan selalu tadarus quran dengan membaca, mengkaji, merenung, dan mentadabburi isinya.

Lalu kenapa harus al-Quran?

Karena al-Quran adalah samudera (lautan) yang luaaas. Adapun kitab-kitab yang lain, ibaratnya sebuah sungai (pecahannya laut). Segalanya ada di dalam al-Quran, sedangkan ilmu-ilmu yang lain, semuanya mengambil (merujuk) pada al-Quran.

Selain itu, merutinkan tadarus al-Quran adalah “iksiir wa syarha li shodri” (ramuan / obat / vitamin untuk hati, dan membuat hati menjadi lapang dan tenteram). Apabila Alloh Ta’ala memberikan hidayah kepada seseorang, maka akan diberikannya “Syarh Shodr” (ketentraman dan kedamaian di dalam hati).

Dikutip oleh RiseTAFDi team dari kajian kitab “Diwan Imam al-Haddad” oleh al-Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan.

Diwan Imam Al-Haddad adalah kumpulan Syair karya Shohibur ratib, al-Imam al-Habib Abdulloh bin Alwi al-Haddad.

Adapun bait-bait yang dijelaskan oleh al-Habib Jindan diantaranya sebagai berikut:

ูˆูŽูˆูŽุงุธูุจู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฏูŽุฑู’ุณู ุงู„ู’ู‚ูุฑูŽุขู†ู ููŽุฅูู†ูŽู‘ ูููŠู’

ุชูู„ุงูŽูˆูŽุชูู‡ู ุงู„ุฅููƒู’ุณููŠู’ุฑูŽ ูˆูŽุงู„ุดูŽู‘ุฑู’ุญูŽ ู„ูู„ุตูŽู‘ุฏู’ุฑู

ุฃูŽู„ุง ุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ุงู„ู’ุจูŽุญู’ุฑู ุงู„ู’ู€ู…ูุญููŠู’ุทู ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู

ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ูƒูุชู’ุจู ุฃูŽู†ู’ู‡ูŽุงุฑูŒ ุชูู…ูŽุฏูู‘ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุญู’ุฑู

Wallohu a’lam

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

5 Keutamaan Romadhon Khusus untuk Ummat Nabi Muhammad ๏ทบ

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Sebagaimana dilansir dari laman web Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz (arsip 25 September 2005), bahwa terdapat 5 hal yang tidak diberikan di bulan Romadhon yang diberikan khusus untuk ummat Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Diberikan untuk ummatku di bulan Romadhon 5 hal yang tidak diberikan pada para Nabi sebelumku, yaitu…

1). Saat malam pertama bulan Romadhon, Alloh memandangi mereka dengan iba dan kasih sayang-Nya, sehingga barangsiapa yang dipandangi Alloh dengan iba dan Kasih Sayang-Nya maka tak akan pernah disiksa selama-selamanya,

2). yang kedua adalah aroma tak sedap dari mulut mereka di sore harinya lebih indah dihadapan Alloh daripada wanginya misik,

(maksudnya, bau mulut ‘tak sedap’ dari orang berpuasa menyebabkan mereka menjadi sulit dan merasa terhina, sehingga orang yang berpuasa secara tidak langsung terselamatkan dari bahaya ghibah, gosip, membicarakan aib orang lain dan sejenisnya. Tentunya hal ini justru sangatlah mulia di sisi Alloh Ta’ala)

3). yang ketiga adalah sungguh para malaikat memohonkan pengampunan dosa bagi mereka sepanjang siang dan malam,

4). yang keempat adalah Alloh memerintah kepada Syurga seraya berfirman: “Bersiaplah engkau (wahai syurga), dan bersoleklah untuk menyambut hamba – hamba Ku, aku iba melihat mereka, barangkali mereka mesti beristirahat karena kepayahan menghadapi kehidupan mereka di dunia untuk menuju Istana – Istana Ku dan Megahnya Kedermawanan-Ku,

5). yang kelima adalah ketika malam terakhir di bulan Romadhon, maka diampunilah bagi mereka seluruhnya, maka bertanyalah seorang sahabat : apakah itu hadiah orang yang mendapatkan Lailatulqodr Wahai Rosulalloh? maka Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Tidak, bukankah bila kau melihat para buruh telah selesai dari pekerjaannya harus segera dilunasi upahnya?”

Berikut adalah teks arab-nya:

ุฃูุนู’ุทููŠูŽุชู’ ุฃูู…ูŽู‘ุชููŠ ูููŠ ุดูŽู‡ู’ุฑู ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุฎูŽู…ู’ุณู‹ุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุนู’ุทูŽู‡ูู†ูŽู‘ ู†ูŽุจููŠูŒู‘ ู‚ูŽุจู’ู„ููŠ ุŒ

 ุฃูŽู…ูŽู‘ุง ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉูŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุดูŽู‡ู’ุฑู ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ

 ู†ูŽุธูŽุฑูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุธูŽุฑูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูุนูŽุฐูู‘ุจู’ู‡ู ุฃูŽุจูŽุฏู‹ุง ุŒ

 ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ุซูŽู‘ุงู†ููŠูŽุฉู ููŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ูู…ู’ ูŠูŽู…ู’ุดููˆู†ูŽ ูˆูŽุฎูู„ููˆูู ุฃูŽูู’ูˆูŽุงู‡ูู‡ูู…ู’ ุฃูŽุทู’ูŠูŽุจู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู†ู’ ุฑููŠุญู ุงู„ู…ูุณู’ูƒู ุŒ

 ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ุซูŽู‘ุงู„ูุซูŽุฉู ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉูŽ ุชูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑู ู„ูŽู‡ูู…ู’ ูููŠ ู„ูŽูŠู’ู„ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู†ูŽู‡ูŽุงุฑูู‡ูู…ู’ ุŒ

 ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ุฑูŽู‘ุงุจูุนูŽุฉู ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูŠูŽุฃู’ู…ูุฑู ุฌูŽู†ูŽู‘ุชูŽู‡ู ุฃูŽู†ู ุงุณู’ุชูŽุนูŽุฏูู‘ูŠ ูˆูŽุชูŽุฒูŽูŠูŽู‘ู†ููŠ ู„ูุนูุจูŽุงุฏููŠ

 ููŽูŠููˆุดููƒู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฐู’ู‡ูŽุจูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ู’ ู†ูŽุตูŽุจู ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุฃูŽุฐูŽุงู‡ูŽุง ูˆูŽูŠูŽุตููŠุฑููˆู†ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูŽุญู’ู…ูŽุชููŠ ูˆูŽูƒูŽุฑูŽุงู…ูŽุชููŠ ุŒ

 ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ุฎูŽุงู…ูุณูŽุฉู ููŽุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุขุฎูุฑู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุบูŽููŽุฑูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง “

 . ู‚ูŽุงู„ูŽ : ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงุฆูู„ูŒ : ู‡ููŠูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู‚ูŽุฏู’ุฑู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุŒ

 ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู„ุง ุŒ ุฃูŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุฑูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุนูู…ูŽู‘ุงู„ู ุฅูุฐูŽุง ููŽุฑูŽุบููˆุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ูู‡ูู…ู’ ูˆูููู‘ูˆุง

(HR Imam Baihaqi)

DOA MENYAMBUT BULAN ROMADHON

Allohumma Sallimnaa Liromadhona wa Sallim Romadhona Lana wa Sallimhu Minna Mutaqobbalan

(Yaa Alloh, berilah keselamatan kepada kami untuk menghadapi Romadhon, dan berilah kesejahteraan Romadhon untuk kami, serta terimalah ibadah Romadhon dari kami )

Wa Shollallohu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi wa Sallam walhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin.

Wallohu a’lam

RiseTAFDI team

Pembantu Paling Beruntung di Dunia

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Sayyidina Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu adalah khodim (pembantu) Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Saat memasuki usia dewasa, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam pernah mendo’akan sayyidina Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu dengan keberkahan harta, keturunan, serta usia.

Sehingga setelah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam wafat, sayyidina Anas dilimpahi kekayaan yang banyak, anak yang banyak, dan usia 100 tahun lebih, hal itu menjadikannya sebagai sahabat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang paling akhir wafatnya (berumur panjang).

Al-‘Allamah Syeikh Muhammad al-Khozroji (kedua dari kiri) adalah keturunan Sahabat Anas bin Malik r.a. Tampak dalam Foto, (Alloh Yarham) Syeikh Muhammad al-Khozroji bersama Ulama besar keturunan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam diantaranya (Alloh Yarham) Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Makki, al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz, dan al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufri

Kisah Pertemuan Sayyidina Anas dengan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam

Sayyidina Anas adalah anak Ummu Sulaim, yaitu wanita pertama yang memeluk Islam dalam kalangan penduduk Madinah sebelum hijrah Rosululloh ke Madinah. Ayahnya bernama Malik ibn Nadr.

Singkat cerita, menjelang kedatangan Rosululloh dalam hijrahnya ke kota Yatsrib (Sebelum menjadi Madinah), seluruh bumi Madinah gelisah. Semua orang menatap penuh harap ke arah jalan menuju kota Makkah. Seperti menunggu satu cahaya dan berharap cahaya ini akan segera datang dan muncul. Rasa cemas terpancar jelas di dalam sorot mata mereka.

Sesaat kemudian, semua orang melompat kegirangan, baik kaum tua, anak muda sampai dengan anak-anak. Semuanya bergembira.

Seorang ibu bergegas membawa putra kecilnya menuju ke arah yang sama. Semua berlomba dan berlari agar mendapat tempat untuk melihat sosok tubuh itu sepuas-puasnya. Tidak terkecuali ibu dan anaknya tadi. Ikut berhimpitan dengan kerumunan orang agar mendapat tempat di bagian depan.

Semua orang lantas berlomba-lomba memberikan hadiah terbaik untuk Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang mulia. Ummu Sulaim yang hidup miskin karena ditinggalkan oleh suaminya sewaktu sayyidina Anas masih kecil ingin sekali memberikan hadiah istimewa untuk Rosululloh. Lantas beliau mendatangi kediaman Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dengan membawa putra satu-satunya.

“Wahai Rosululloh… tidak ada di Madinah ini baik lelaki maupun perempuan kecuali mereka yang memberimu hadiah, dan sungguh aku tidak memiliki apa-apa (kemewahan) yang hendak aku hadiahkan untukmu kecuali putra kecilku ini, bawalah ia agar bisa berkhidmat kepadamu” Ucap Ummu Sulaim dengan linangan air mata bahagia.

Jalan ini disebut Darbu As-Sunnah, melalui jalan ini Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam setiap hari sabtu pergi ke Masjid Quba. Tampak bangunan di sebelah kiri, disitulah dahulunya rumah Sayyidina Anas bin Malik r.a bersama ibundanya Ummu Sulaim. Adapun bangunan sebelah kiri, adalah Masjid al-Jum’ah (yang baru)

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam tersenyum dan mengusap kepala Anas yang masih kecil dan memeluknya erat.

Sejak itu, Sayyidina Anas bin Malik senantiasa bersama Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam setiap waktu dan dimana saja berada. Ketika itu beliau berumur 10 tahun dan saat baginda wafat umurnya baru beranjak 20 tahun. Dalam masa umur 10 hingga 20 tahun tersebut, beliau mendapat tarbiyah secara langsung dari baginda tatkala beliau mengekori kemana saja baginda pergi.

Oleh sebab itu, tidak heran apabila beliau dikenal sebagai seorang sahabat yang amat memahami keadaan Rosululloh, mengerti akan kesusahan Rosululloh, serta ‘arif akan sifat dan tingkah laku Rosululloh.

Pernah suatu ketika Anas kecil lalai dari tugasnya, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam tidak marah. Namun beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam malah tersenyum.

Sayyidina Anas bin Malik berkata, “Rosululloh adalah orang yang paling mulia akhlaknya, paling lapang dadanya, dan paling luas kasih sayangnya, suatu hari aku diutus oleh baginda untuk suatu keperluan, lalu aku berangkat…

Di tengah jalan, aku menemui anak-anak yang sedang bermain. Dan aku pun ikut bermain bersama mereka sehingga aku lalai akan suruhan beliau (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam ). Ketika aku sedang asyik bermain, tanpa sadar ada seseorang berdiri memperhatikanku dan memegang ubun-ubunku.

Aku menoleh ke belakang dan aku lihat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam tersenyum kepadaku lalu berkata, “wahai Unais, apakah engkau telah mengerjakan perintahku?”

Aku bingung dan berkata, “ya, aku akan pergi sekarang ya Rosulalloh!”

Demi Alloh, aku telah melayani beliau selama sepuluh tahun dan beliau tidak pernah berkata kepadaku, “mengapa kau kerjakan ini? Mengapa kau tidak mengerjakannya?”

Lukisan Darbu As-Sunnah di atas pintu “Baabur Rohmah” Masjid Nabawi, Madinah al-Munawwaroh

Unais maksudnya Anas kecil. Nama panggilan Rosululloh kepada Anas. Melihat indahnya akhlak Rosululloh meninggalkan kesan yang mendalam bagi sayyidina Anas bin Malik sehingga beliau diangkat sebagai salah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadist.

Bahkan pengkaji sejarah menyatakan bahwa sayyidina Anas bin Malik telah meriwayatkan sebanyak 1286 hadist sepanjang kehidupannya bersama Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Berikut ini adalah video rambut Nabi yang disimpan oleh Syeikh Muhammad al-Khozroji (keturunan Sayyidina Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu)

Wallohu a’lam

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Nasihat Pre Wedding untuk Para Jomblowers

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Sore semakin habis. Malam mulai menjelang. Zuck dan istrinya sedang menonton TV acara Adzan maghrib untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.

“Mas Zuck, Linn mau nanya dong,,,” tanya Linn.

“Nanya apa, Beb?”

“Teks adzan kalo di layar TV kan Asyhadu An-Laa ilaaha illalloh gitu, ya kan Mas ya? Tapi kok pelafalannya jadi Asyhadu Al-Laa ilaaha illalloh gitu sih? Beda..”

Zuck terdiam cukup lama. Lalu nyengir, “Hehe…”

“Ga tau, ya? Katanya lulusan Aliyah..” sindir Linn.

“Bukan ga tau, Sayang. Cuma sedang mengingat-ingat. Iya gini kalo ilmu jarang diterapkan, jadinya lupa. Bentar, bentar…” Zuck mengetuk-ngetukkan jari ke dengkul, berusaha mengoptimalkan otaknya mengingat ilmu-ilmu agama yang pernah dipelajarinya.

“Gayamu, Mas, Mas,” ledek Linn.

“Aku ingat!” Seru Zuck menghadap istrinya. “Itu karena idghom bilagunnah. Iya idghom bilagunnah. Idghom bilagunnah itu ada dua huruf, ‘lam’ dan ‘ro’. Dua huruf tersebut akan menghilangkan bunyi huruf ‘n’ jika bertemu nun mati, atau semua huruf yang dibaca an, in, un tanwin,” jelas Zuck penuh percaya diri.

“Beneran gitu?” kata Linn dengan tatapan takjub.

“Iya. Contohnya di lafadz adzan tadi, di kalimah syahadat juga. Bunyi huruf ‘nun’ melebur menjadi huruf ‘lam’. Peraturan Idghom bilagunnah adalah 1 harokat pada saat peleburan…”

Linn mesem. “Pinter ya?”

“Ganteng juga…”

Linn memencengin bibir, “Jadi pengen muntah-muntah gini sih, Mas? Padahal belum hamil…”

“Hahaha… Dasar!” Zuck mendekap geram Linn.

Linn meronta. “Jangan kenceng-kenceng gini kenapa sih meluknya. Istrinya kamu jadi ga bisa napas nih. Uff…”

“Tapi aku berharap, hubungan kita bisa seperti idghom bilagunnah itu, Sayang,” bisik Zuck kemudian, perlahan-lahan dan penuh perasaan.

“Maksudnya apa, Mas?” Linn memandang ga ngerti.

Zuck balas memandang Linn. “Idghom Bilagunnah itu selamanya cuma ada lam dan ro’. Begitupun hubungan kita selamanya, cuma aku dan kamu…

“Aduh, Mas…” rintih Linn, mendusel-dusel di dada Zuck.

“Udah ah. Ga usah lebay. Kita maghriban dulu ya?”

“Tapi kan baru wilayah Jakarta, untuk wilayah rumah tangga Zuck Linn belum?”

“Ya kita siap-siap dulu, Sayang. Sholat itu lebih keren kalo dikerjakan tepat waktu,” Zuck berdiri. Siap-siap ke kamar mandi untuk berwudhu.

Linn merentangkan tangan, “Gendong…”

“Ya Alloh. Manja banget sih?” Zuck geleng-geleng.

Linn bales menggeleng-geleng. “Manja sama suami sendiri masa ga boleh? Cuma minta gendong ke kamar mandi ini, bukan minta gendong kemana-mana kayak mbah Surip. Pelit banget…”

“Yaudah, yaudah. Dasar kamu…” Zuck akhirnya ngalah walau rada-rada jengkel.

“Muahaha…” Linn ngakak melihat tampang suaminya yang merengut ikhlas ga ikhlas.

Sampai di kamar mandi, Linn berwudhu duluan. Kemudian menengadahkan tangan membaca doa selesai berwudhu. Zuck hanya memandangi penuh kagum dan bangga wajah istrinya, ketika basah air wudhu begitu, kecantikannya meningkat 15%. Subhanalloh.

“Bangga punya istri kamu, Sayang.” goda Zuck sambil meraba wajah Linn.

“Hah! Kan Linn jadi batal lagi! Sengaja nih pasti. Aaa… Mas jahat!” Linn ngamuk-ngamuk manja. Kakinya menghentak-hentak jalan di tempat ga beraturan.

“Duh, iya, iya. Maap, Sayang, maap. Cepetan wudhu lagi gih.”

“Enggak! Mas aja yang wudhu duluan…”

“Enggak mau. Pasti kamunya nanti mau bales dendam batalin aku kan? Iya kan? Hahaha. Kebaca…”

“Iih… Dasar Masnya mau menang sendiri. Dasar! Dasar!” Linn menciprati Zuck dengan air bertubi-tubi.

Zuck ga terima. Sambil tertawa ia bales menciprati Linn. Akhirnya mereka saling ciprat-cipratan ga penting hingga pakaian keduanya basah. Dan terlanjur basah, yasudah mandi bareng sekalian.

Dan setelah mandi dengan durasi yang ga wajar, adzan maghrib mulai berkumandang dari masjid-masjid di sekitar kediaman mereka. Linn segera mengenakan mukenanya. Zuck menggelar sajadah, satu untuk dirinya, satu istrinya. Lalu tersenyum memandang Linn yang telah lengkap berbusana sholat.

Linn tersipu. “Udah ah, Mas. Ntar ga khusuk lho kita sholatnya?”

Zuck mengucap istighfar dalam hati.

PESAN MORAL

Tarbiyatul Aulaad (Pendidikan Anak-Anak) bukan dimulai saat anak itu lahir. Tetapi pendidikan anak justru bermula dari sebelum kita menikah, sebelum kita memilih calon pendamping hidup, baik laki-laki maupun perempuan. Disitulah awal pendidikan anak itu dimulai.

Foto Akad Nikah Ust. Muhammad Qolby (Munsyid Majelis Rasulullah SAW) oleh Habibana Munzir bin Fuad Al-Musawa

Ulama kharismatik asal Rembang Jawa Tengah, KH. Maimun Zubair (nafa’anallohu bihi wa bi ‘uluumihi fiddaroin, aamiin) memberikan dawuh tentang bagaimana memilih istri yang baik :

“Ketika kamu memilih istri, carilah wanita yang tidak terlalu tahu akan dunia. Karena kesholihan anakmu bergantung pada seberapa sholihah ibunya.

Sahabat Abbas rodhiyallohu ‘anhu mempunyai istri yang tidak suka berhias, sampai membuatnya malu saat keluar dengan istrinya. Tapi beliau mempunyai anak yang sangat alim, yaitu Abdullah ibnu Abbas.

Sayyid Husain cucu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam punya istri dari keturunan Raja Persia. Walaupun berasal dari Putri Raja, setelah menjadi istri Husain menjadi wanita yang tidak mencintai dunia. Maka mempunyai anak Ali Zainal Abidin bin Husain, paling alim dari keturunan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Para Kyai dari Sarang Jawa Tengah bisa menjadi alim seperti itu karena nenek-nenek mereka suka berpuasa.

Syekh Yasin al-Fadani ulama dari Padang yang tinggal di Makkah mempunyai istri yang pandai berdagang, dan punya dua anak. Salah satu anaknya menjadi ahli bangunan dan yang satunya lagi bekerja di bagian transportasi. Kedua anaknya tidak ada yang bisa meneruskan dakwahnya Syekh Yasin.

Di dalam al-Quran disebutkan dalam sebuah ayat:

ู†ูุณูŽุงุคููƒูู…ู’ ุญูŽุฑู’ุซูŒ ู„ูŽูƒูู…ู’

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam.” (QS. Al-Baqoroh: 223)

Istri itu ladang bagi suami. Seberapa bagusnya bibit ketika tanah atau ladangnya tidak bagus, maka tidak bisa menghasilkan padi (panen) yang bagus pula.

Intinya, bisa mempunyai anak yang alim (adalah) ketika istrinya tidak terlalu mengurusi dunia dan sangat taat atau patuh terhadap suaminya.

Ketika kamu lebih memilih istri yang mengurusi dunia, maka kamu yang harus berani riyadhoh (berdoa). Jika tidak berani riyadhoh, maka carilah istri yang suka berdzikir dan kamu yang memikirkan dunia atau kerja.”

Wallohu a’lam

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Maksud Hati Mau Ngetes, Eh Ternyata Malah Beda Kelas

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Pada zaman al-Imam Syafi’i, ada seorang yang bernama Syaiban ar-Ro’i. Beliau pernah ditanya oleh seseorang mengenai beberapa persoalan. Namun yang bertanya ini sebenarnya hanya ingin menguji (nge-test) seberapa dalam pengetahuan Syaiban ar-Ro’i.

Adapun soalan pertama yang ditanyakan orang tersebut kepada Syaiban ar-Ro’i, “Apa hukum orang yang lupa di dalam sholatnya. Sudah 3 roka’at atau 4 roka’at?”

Lalu dijawab oleh Syaiban ar-Ro’i, “aku jawab mengikut madzhab kamu, atau madzhab ku?”

Si-penanya menjadi bingung, ada dua madzhab-kah untuk menjelaskan persoalan sepele seperti ini? Tapi si-Penanya cukup “cerdik” dengan berkata, “silahkan dalam dua madzhab, madzhab kamu dan madzhab saya”

Kata Syaiban, “Dalam madzhab kamu, orang yang lupa roka’at-nya (tiga kah atau empat kah), maka dia meyakini yang sedikit ditambah lagi 1 roka’at, setelah itu sujud sahwi.”

Kata Penanya, “Lalu dalam madzhab kamu bagaimana?”

Jawab Syaiban, “Dalam madzhab saya harus dicambuk! Bagaimana bisa masuk dalam sholat tapi lupa kepada Alloh Ta’ala? Orang yang menghadap Alloh tapi bisa lupa kepada Alloh pantas dihukum, bukan digantikan dengan sujud sahwi”

Kemudian orang ini bertanya lagi tentang hukum Zakat, “Kalau kambing, berapa yang harus kita keluarkan zakatnya?”

Kata Syaiban, “Dengan madzhab saya, apa madzhab kamu?”

Si-Penanya, “Silahkan, dua madzhab”

Dijawab oleh Syaiban, “di madzhab kamu, seseorang yang punya 40 kambing, maka 1 ekor kambing dikeluarkan karena Alloh…

Sedangkan dalam madzhab saya, harta berikut Tuan Empunya harta adalah milik Alloh, maka semuanya untuk Alloh Ta’ala. Jika ada 40 kambing, ya 40 kambing untuk Alloh Ta’ala”

MasyaAlloh! Levelnya berbeda, maka kedudukan masing-masing orang jika diukur dengan kadar makrifahnya kepada Alloh Ta’ala, akan berbeda pula cara amalannya kepada Alloh.

[Foto] Syeikh Muhammad Zahid Sultani (Ulama keturunan Sayyidina Abu Bakar Shiddiq r.a) meletakkan ibu jari di atas kedua matanya saat mendengar nama Nabi besar Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dikumandangkan.

Dalam Kasyf al-Khofaa’ (II/206), adalah sayyidina Abu Bakar Shiddiq r.a saat mendengar orang adzan membaca โ€œASYHADU ANNA MUHAMMADAN ROSUULULLOOHโ€ beliau juga membacanya dan mencium perut kedua ujung jari telunjuk serta diusapkan pada kedua matanya. Wallohu a’lam

Baginda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam berpuasa terus-menerus, hari ini puasa terus sampai besok, dan kalau malam terkadang baginda tidak tidur, sepanjang malam beliau (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) bangun.

Ketika ada sahabat yang ingin meniru Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam untuk berpuasa terus dan qiyamullail terus tidak tidur, baginda berkata: “jangan kamu lakukan!”

Kata sahabat: “Tapi engkau lakukan, ya Rosul? Mengapa engkau melarang satu perbuatan yang engkau sendiri memperbuatnya?”

Jawab Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, “Lastu Ka-hay-atikum” (ู„ุณุช ูƒู‡ูŠุฆุชูƒู…), aku ini tidak sama dengan kalian…

(ุฅู†ูŠ ุฃุจูŠุช ุนู†ุฏ ุฑุจูŠ ูŠุทุนู…ู†ูŠ ูˆูŠุณู‚ูŠู†)
“Inniy abiitun ‘inda robbiy yuth’imuniy wa yusqiin”, Sesungguhnya aku ini setiap malam bersama dengan Alloh. Dia memberi aku makan dan minum.

HIKMAH dan PESAN MORAL

Perbuatan baik yang dilakukan oleh golongan abror (orang-orang baik), bagi golongan muqorrobiin yang derajatnya lebih tinggi (dari abror), akan dipandang sebagai perbuatan dosa.

Sehingga dengan perbedaaan maqom tersebut, maka akan membedakan juga kedudukan cara amalannya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.

Perbedaan kedudukan seseorang di sisi Alloh, akan terlihat pula perbedaan cara amalannya kepada Alloh.

Ulama hikmah mengatakan, barangsiapa yang ingin mengetahui seberapa agung derajatnya di hadapan Alloh, maka hendaklah segala amalannya diperhatikan, seberapa agung kedudukan Alloh di hatinya.

Wallohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

Disarikan oleh RiseTAFDI team melalui kalam Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid

INILAH 10 KAROMAH ORANG YANG BERSHOLAWAT

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Imam Muhammad ibn Sulaiman al-Jazuli adalah seorang ulama yang masyhur di kalangan Ahlussunah Wal Jama’ah, beliau juga merupakan seorang Imam besar Sufi yang berasal dari Maroko. Karya beliau yang sangat fenomenal dan populer adalah kitab sholawat “Dala’ilul Khoirot”.

Dikisahkan asal muasal Imam Jazuli menyusun kitab sholawat dala’ilul khoirot, bahwa suatu ketika tengah berjalan-jalan di padang pasir, saat waktu sholat tiba, beliau berusaha mencari sumber air untuk berwudhu dan melepaskan dahaganya.

Setelah beberapa saat menyusuri padang pasir, beliau menemukan sebuah sumur yang sangat dalam. Sumur itu masih menyimpan air, tapi sayang Imam Jazuli tak menemukan alat untuk mengambil air dari sumur.

Gambar latar adalah Endless Source (sumber air yang tidak ada habisnya) di kompleks makam Imam al-Jazuli (Muhammad ibn Sulayman al-Jazuli).

Ketika beliau tengah kebingungan mencari alat untuk mengambil air, tiba-tiba beliau melihat seorang anak perempuan kecil menghampiri beliau dari tempat ketinggian. Anak kecil itu bertanya, โ€œSiapakah anda tuan, mengapa anda berada di tempat yang sesunyi ini?โ€

Imam Jazuli lantas menjelaskan hal ihwal beliau dan kesulitan yang tengah menimpanya.

โ€œAnda adalah seseorang yang terpuji, yang terkenal karena keshalehan Anda!โ€ seru anak kecil itu.

Anak perempuan kecil itu tampak kebingungan mencarikan alat untuk mengeluarkan air dari dalam sumur. Setelah agak lama mencari namun tak juga menemukan, si anak lalu mendekat ke bibir sumur dan meludah ke dalamnya.

Ajaib, air sumur tiba-tiba meluap sampai ke atas permukaan tanah!

Setelah minum dan merampungkan wudhu’-nya, Imam Jazuli lantas berkata, “Wahai anak kecil, sungguh aku kagum kepadamu! Dengan amal apakah engkau dapat meraih kedudukan setinggi ini?”

Anak perempuan kecil itu menjawab, Dengan memperbanyak membaca sholawat kepada orang yang apabila beliau (Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) berjalan di padang belantara, binatang-binatang buas akan mengibas-ngibaskan ekornya (menjadi jinak).”

Setelah mendengar penuturan anak kecil itu, Imam al-Jazuli lantas bersumpah akan menyusun sebuah kitab yang membahas tentang sholawat untuk Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Kelak, setelah kitab tersebut selesai ditulisnya, kitab itu dinamainya Dala’ilul Khoirot. Sebuah kitab yang masih terus dibaca hingga kini karena keberkahannya yang luar biasa.

Syeikh al-Fasi dalam kitab MATHOLI’UL MASARROT (syarah Dala’ilul Khoirot) menjelaskan tentang 10 karomah orang yang bersholawat kepada baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam (redaksinya dapat dilihat pada FOTO), yaitu sebagai berikut:

1). Mendapat Sholawat dari Malikul Jabbar (Raja Yang Maha Kuat – Alloh Subhanahu Wa Ta’ala)

2). Mendapat Syafa’at dari Nabi al-Mukhtar (Nabi yang terpilih – Sayyidina Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)

3). Menjadi Teladan bagi Malaikat al-Abror (Malaikat yang baik dan mulia)

4). Berbeda (tidak serupa) dengan orang Munafik dan Kuffar

5). Mendapat penghapusan daripada kesalahan dan Auzaar (dosa-dosa)

6). Mendapat pertolongan bagi tersampaikannya segala hajat dan Authoor (keperluan)

7). Bercahaya dan cemerlang Dzhohir (lahiriyah) dan Asror (bathiniyah)-nya

8). Dibebaskan dari huru-hara negeri Darul Bawar (Negeri yang hancur / binasa)

9). Masuk baginya kedalam negeri Darul Qoror (Surga yang terbuat dari emas merah).

10). Mendapat Salam dari Tuhan (Alloh Subhanahu Wa Ta’ala) ar-Rohiim (Maha Penyayang) dan al-Ghoffar (Maha Pengampun).

PESAN MORAL

Ketauhilah! bahwa SAYANG kepada orang yang diSAYANG itu sangat diSAYANGkan bila yang diSAYANGnya itu tidak SAYANG… ๐Ÿ™

Tapi bayangkan, apa yang akan terjadi apabila kita MENCINTAI dan MENYAYANGI Sayyidina Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam (yang pada hakikatnya sama juga dengan mencintai dan menyayangi ROBB-nya)?

Maka setiap yang mencintai-Nya tidaklah akan sia-sia dan kecewa.. Ketahuilah, bahwa Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya pun akan membalas cintanya. ๐Ÿ™‚ <3

Wahai orang-orang yang merindukan (cahaya keindahannya Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)… Bersholawatlah dan berikan salam penghormatan kepadanya (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)…!

“ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMAD, WA AALIHI WA SHOHBIHI WA SALLIM”

Wallohu Ta’ala a’lam.

RiseTAFDI team

Inilah Contoh Murid yang Menjadi Kebanggaan Gurunya

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Syeikh (Guru) itu ada yang benar, dan ada juga yang palsu, begitu juga para murid, ada murid yang benar-benar murid, ada juga murid yang palsu, maka tanyakan kepada diri kita, benarkah kita seorang Tholabul ‘Ilmi? pantaskah kita menyandang sebutan sebagai seorang murid?

Berikut adalah mau’idzhoh hasanah yang disampaikan oleh al-Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan (pengasuh Pondok Pesantren al-Fachriyah Tangerang), semoga bisa menjadi bahan renungan dan teladan bagi kita semua.


FOTO [Atas]: Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid saat bertemu guru beliau, al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz pada acara “Maulid Istimewa” di Majlis Ta’lim Darul Murtadza.
FOTO [Bawah]: Alm. Habibana Munzir bin Fuad al-Musawa ketika bersua dengan guru beliau, al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz saat acara di Majelis Rasulullah SAW.

1). Al-Habib Muhammad al-Haddar

Beliau merupakan guru dari al-Habib Umar bin Hafidz, juga guru dari al-Habib Zain bin Sumaith. Ketika masih menuntut ilmu di Rubath Tarim, beliau selalu menghabiskan setiap malamnya begadang menuntut ilmu, jika kantuk datang maka beliau membasahkan dirinya dengan air hingga hilang kantuknya, bahkan sekali waktu beliau naik ke atap rumahnya untuk menghilangkan kantuknya dan berkata kepada dirinya; “Kalau aku jatuh, maka aku mati”.

Beliau pun tidak mau ada hal yang mengganggunya dalam menuntut ilmu, diceritakan bahwa ketika datang surat dari keluarganya, maka beliau tidak membukanya dan disimpan terus seperti itu hingga selesai masa belajarnya, ketika surat-surat tersebut dibuka, diterangkan si fulan wafat, si fulan lahir, si fulan menikah dan lain sebagainya, beliau berbuat seperti itu karena saking takdzim (hormat)-nya dalam menuntut ilmu.

2). Al-Habib Abdullah bin Abdurrahman bin Syaikh Abubakar bin Salim

Ketika beliau sampai di Tarim, hari pertama langsung sibuk belajar. Zaman dahulu, apabila seseorang pergi belajar maka membawa kasurnya sendiri, beliau tidak pernah sempat membuka kasurnya, beliau selalu tertidur dalam posisi duduk lalu bangun shubuh dan lanjut lagi esok malamnya dengan keadaan yang sama, hal ini selalu dilakukannya terus-menerus hingga 4 tahun, hingga beliau tidak tahu siapa teman di sebelah kamarnya.

3). Al-Habib Abdullah Umar As-Syatiri

Beliau adalah guru dari semua ulama terkenal di zamannya, yang berkata; “Tidak pantas menyebut diri sebagai penuntut ilmu kalau tidak sholat tahajud”, bahkan belum bisa dikatakan belajar Fiqih jika belum hafal Zubad, Nahwu, dan Alfiah. Perbedaan kita dengan mereka bukan lagi seperti langit dengan bumi, tetapi seperti langit dengan sumur.

Diceritakan, bahwa seorang pernah datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal ingin menjadi murid mempelajari ilmu Hadist, maka malamnya disiapkan ember oleh Imam Ahmad, barangkali si calon murid ingin sholat tahajjud.

Esok subuh, Imam Ahmad menghampirinya dan mendapatkan calon murid tersebut baru bangun, sementara air di ember masih penuh, “Kenapa embermu masih penuh? engkau tidak sholat Tahajjud?” calon murid berkata tidak, maka berkata Imam Ahmad; “Jika belum tahajjud belum pantes belajar hadist”.

Harus diperbaiki dulu mental orang tersebut, tuntut ilmu untuk diamalkan bukan sekadar diriwayatkan.

4). Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa

Lihat… Begitu besar cinta Habib Munzir kepada gurunya yaitu al-Habib Umar bin Hafidz, sehingga kalau disuruh lompat terjun pun beliau akan lompat. Bagi Habib Munzir, kalau Habib Umar menyuruh melakukan A ya harus A, bukan a kecil tapi A besar.

Saya buka sedikit, dulu ketika Habib Munzir sering memajang foto Habib Umar beserta dirinya di jalan-jalan, Habib Umar berkata kepada saya untuk menyampaikannya; agar pada kedatangan beliau berikutnya, jangan tempel foto di jalan umum, sekedar pengumuman saja (tanpa foto), biarkan itu milik para orang politik.

Dan hal itu berlaku hingga sekarang. Ini penyerahan seratus persen terhadap gurunya, seperti mayat di hadapan gurunya.

Dulu di awal perjalanan dakwah, Habib Munzir sering keluar kota berhari-hari hingga banyak problem berupa sakit, tumpukan hutang, dll.

Maka datang surat dari Habib Umar melarang keluar kota dan perintah rinci lainnya tidak boleh begini, harus begini, dan lain sebagainya, serta tidak boleh pinjem sama siapapun. Banyak perintah berat dengan adanya surat tersebut, saya tahu isi surat itu karena bacanya bareng di kamar saya. Habib Munzir syok dengan keadaan tersebut, sampai berkata “Kalau ane tahu hati Habib Umar akan seperti ini, ane gak mau jadi ulama mending jadi tukang sate!”.

Sayyidina Umar bin Khoththob pernah berkata, “Andaikata aku tidak pernah dilahirkan ke dunia, andaikata ibuku mandul, andaikata aku dilahirkan sebagai seekor kambing, maka akan lebih ringan. Hanya makan, minum, gemuk, disembelih, dan selesai, tidak harus memikul tanggung jawab besar di hadapan Alloh”.

Saya bilang, “Ya Munzir… mau bagaimanapun berat dan ringannya, Habib Umar adalah guru kita… kita gak faham saat ini, tetapi ke depan bakal faham”

Ternyata betul!… urusan jadi beres, hutang selesai, dakwah hingga jadi seperti sekarang, dan lain sebagainya,

Jikalau bukan karena surat Habib Umar, gak bakal seperti ini. Dan semua itu pun perlu pengorbanan, mau makan pun susah karena sudah gak boleh pinjam, terkadang ke majelis naik taksi, kadang saya yang jemput,

Berkat taat dan kepatuhan, (hasilnya) bukan terlihat dengan banyaknya massa, akan tetapi dengan ridhonya Habib Umar terhadap beliau, simaklah bait-bait syairnya, beliau Habib munzir lakukan dengan penuh pengorbanan.

Intinya, JANGAN pernah melepaskan diri dari syaikh dalam keadaan apapun.

Semoga kita menjadi murid yang membanggakan guru, dan juga menjadi kebanggaan guru kita… Aamiin.

Wallohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Pengalaman saat Mendapat “Lirikan” dari Rasulullah ๏ทบ

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Sayyidina ‘Amru bin ‘Ash rodhiyallohu ‘anhu adalah salah seorang sahabat Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang pernah hadir dalam majelisnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Ketua Jam’iyyah Ulama Singapura (MUI Singapura), al-Fadhil Dr. Muhammad Hasbi saat memberikan hadiah berupa silsilah nasab Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz sampai kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam

Pada saat Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam sedang menyampaikan sebagaimana biasa baginda menyampaikan, ‘Amru bin ‘Ash selalu saja dilintasi atau dilihat atau dilirik oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dengan tatapan mata baginda.

Ekspresi wajah dan pandangan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam kepada ‘Amru bin ‘Ash difahami oleh ‘Amru bin ‘Ash sebagai pandangan yang begitu indah dan positif akan dirinya.

‘Amru bin ‘Ash dalam memahami reaksi pandangan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bergumam dalam hati, “Aku sepertinya orang yang paling dicintai oleh Nabi. Aku sepertinya orang yang paling disayangi oleh Nabi. Lihat dari pandangan Nabi, beliau pandang aku dengan senyuman”

Demikian penafsiran ‘Amru bin ‘Ash dalam memahami pandangan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam terhadap dirinya. Ia merasa bahwa dirinyalah yang paling disayangi dan dicintai oleh sang Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Khawatir penafsirannya salah, maka ‘Amru bin ‘Ash bertanya pada Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam (padahal kalau hal seperti itu tak ditanyakan, maka akan jauh lebih baik).

Selesai majelis, ‘Amru bin ‘Ash datang kepada Nabi dan bertanya, “Ya Rosulalloh, manakah yang lebih engkau sukai, aku atau Abu Bakar?”

“Abu Bakar”, Jawab baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Lalu ditanya lagi oleh ‘Amru bin ‘Ash, “Kalau aku dengan Umar?”

kata Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam , “Umar”

Belum puas, ditanya lagi dan lagi oleh ‘Amru bin ‘Ash, “Kalau aku dengan Utsman??”

Jawab beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam , “Utsman”

Yang keempat, ‘Amru bin ‘Ash tak berani tanya lagi kepada baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam ๐Ÿ™‚

(Sebab bagi ‘Amru bin ‘Ash sekurang-kurangnya berada pada posisi empat sudahlah cukup. Andai awalnya tadi ia tidak bertanya pada Nabi maka akan lebih baik, karena akan senantiasa merasa dirinya disukai dan disayangi oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam).

Dari kejadian diatas, dapat kita lihat bagaimana Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam saat memberikan nadzroh (lirikan / pandangan mata)-nya kepada segenap yang hadir, maka berbagai macam persepsi positif muncul (didapat) oleh mereka yang dilihat oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Hal tersebut juga merupakan sifat baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang apabila berada di dalam majelis,

ูŠูุนู’ุทููŠ ูƒูู„ูŽู‘ ุฌูู„ูŽุณูŽุงุฆูู‡ู ุจูู†ูŽุตููŠุจูู‡ู

“Yu’thiy kulla julasaa-ihi binashiibihi”

masing-masing orang yang duduk dengannya (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam ), maka akan mendapat bagian yang diinginkan dari baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

*Bagaimana dengan “perasaan” anda wahai saudaraku apabila mendapat pandangan khusus dari sang kekasih pujaan hati? Terlebih lagi kekasih itu adalah kekasih yang dikasihi oleh Yang Maha Pengasih yaitu sayyidina Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam ? ๐Ÿ™‚

Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala kelak mengumpulkan kita bersama dengan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam. Allohumma Sholli wa Sallim wa baarik ‘alaihi wa ‘ala aalih. <3

Wallohu a’lam bishshowaab.

Disarikan oleh RiseTAFDI team dari kalam Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid

Yang Tinggal di Istana, Belum Tentu Bisa Merasakan Nikmat Seperti ini

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Dalam sebuah kesempatan, Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid, pengasuh Majlis Ta’lim Darul Murtadza, Kuala Lumpur pernah berkisah.

Bahwa suatu hari di zaman dahulu, ada seorang Raja memperhatikan dengan seksama, tingkah laku dari seorang pemuda yang sedang berbaring di bawah pohon rindang hanya dengan berbantalkan tangan.

Sang Raja memperhatikan pemuda itu bangkit, lalu mengambil sesuatu dari alas tidurnya, yang ternyata adalah sepotong roti kering.

Di depannya mengalir air sungai yang jernih. Oleh si pemuda, roti kering itu dibasahi dengan air sungai, kemudian dimakannya. Selesai makan, air sungai pun diminumnya.

“Alhamdulillaaaaaaaaaaaah ๐Ÿ˜€ ” begitulah ekspresi penuh ceria sang pemuda.

Raja merasa aneh setelah melihat ekspresi pemuda itu yang begitu puas dengan makanan roti kering dicampur air sungai.

Raja bergumam dalam hati, “nikmat apa yang dia dapat? Sampai-sampai dia punya ekspresi begitu luar biasa seperti itu…”

Lalu sang Raja menitahkan para pengawal untuk memanggil pemuda tersebut ke istana guna mengusir rasa penasarannya itu,

Ketika si pemuda datang menghadap,

Bertanyalah sang raja; “Kamu tak punya rumah, roti kering kamu makan, air minum pun kamu ambil dari sungai, lalu kamu ungkapkan perasaanmu seperti itu. Apa yang ada di fikiranmu sehingga kamu bisa mengekspresikan syukur dalam bentuk seperti itu?.. ”

Pemuda itu berkata; “wahai tuan Raja, kalau tuan Raja makan suatu makanan, dan makanan itu tidak bisa masuk – menyangkut di tenggorokan, kecuali dengan air. Dan air itu tidak bisa didapat kecuali dengan separuh kerajaan yang tuan punya. Apakah tuan Raja akan beli air itu dengan separuh kerajaan tuan? “

“Ya tentu saja, takkan ku biarkan makanan menyangkut disini (*sambil menunjuk tenggorokan)” timpal sang Raja.

Berkata orang itu: “wahai tuan Raja, kalau air yang sudah diminum itu tidak bisa keluar, kecuali dibeli dengan separuh lagi kekayaan kerajaan tuan raja. Adakah tuan raja akan membelinya?”

“Ya tentu saja, siapa yang mampu menahan rasa sakit tidak bisa buang air kecil?” demikian sahut sang Raja.

Jawab pemuda; “Nah, kalau begitu kekayaan tuan raja tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan segelas air dan nikmatnya “buang air”….. Saya mendapatkan tempat berteduh secara cuma-cuma, air pun didapat secara cuma-cuma, punya roti, bukankah itu sebesar-besarnya nikmat yang Alloh berikan?” ๐Ÿ™‚

MasyaAlloh! Yang di istana, tidak merasakan betapa nikmat seorang yang hanya makan, minum, dan tidur di bawah pohon.

Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

“Laisal ghina bi-katsrotil ‘arodh, wa lakinnal ghina ghinan-nafs”

(Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kekayaan hati).

(Shohih, di dalam kitab Takhrijul Misykah (16). (Bukhori, 81- Kitab Ar-Riqoqu, 15- Bab Al Ghina Ghinan-nafsi. Muslim, 12- Kitab Az-Zakat, 40- Laisal Ghina ‘an katsrotil ‘arodhi, hadits 120).

CATATAN:

Ini merupakan sifat “bathiniyah”, BUKAN sifat “lahiriyah”. Jadi, jangan menjastifikasi (menghakimi) seseorang yang memiliki banyak kekayaan harta sebagai “kufur” nikmat. Tidak!

Sebab belum tentu demikian. Banyak juga orang kaya dengan harta berlimpah, akan tetapi hati-nya tetap kaya. Sebaliknya, ada juga orang miskin, sudah miskin harta, miskin pula hatinya.

Oleh sebab itu, sifat “dalaman” ini TIDAK BOLEH diukur dengan sesuatu yang dzohir (terlihat).

HIKMAH dan MUHASABAH:

Maksud dari ilustrasi diatas bukanlah menyuruh kita untuk hidup miskin-melarat. Bukan pula memaksa kita agar berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan harta berlimpah. Walaupun ada benarnya juga bahwa umat Islam harus kaya guna menolong ummat, guna membangun madrasah, masjid, dan lain sebagainya.

Namun dari ilustrasi diatas, sesungguhnya ada pelajaran yang lebih penting. Yakni kita dituntut agar senantiasa memiliki “kekayaan hati”, bagaimanapun situasinya.

Sebab, orang miskin apabila ia memiliki “kekayaan hati”, maka sekalipun tinggal di ‘lubang semut’, hidupnya akan terasa lapang, tidak diliputi dengan kedengkian kepada si Kaya, serta senantiasa tidak berputus asa dari rahmat Alloh.

Adapun bagi si-Hartawan, apabila ia memiliki “kekayaan hati”, maka hidupnya akan jauh dari ketamakan, senantiasa berjiwa sosial, kalaupun harta miliknya lenyap dalam seketika, maka tak akan merubah “kekayaan hati”-nya kepada Alloh.

Demikianlah yang dimaksud dengan ghinan-nafs <3

Wallohu a’lam bishshowaab

Allohumma Sholli wa Sallim wa Baarik ‘Alaihi wa ‘Ala Aalih ๐Ÿ™‚

RiseTAFDI team

KIAT-KIAT SUKSES dalam Menghadapi Ujian Sekolah dan Ujian Hidup

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Dewan Guru Majelis Rasulullah SAW, al-Habib Muhammad Bagir bin Alwy bin Yahya di hadapan Civitas Akademika SMK Perguruan Rakyat 2 (12 Jumadil Akhir 1438 H / 11 Maret 2017 M), menyampaikan beberapa kiat sukses dalam menghadapi ujian sekolah maupun ujian hidup. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1). Selain giat belajar, juga harus menjauhi perbuatan DOSA dan MAKSIAT.

Al-Imam al-Habib Abdulloh bin ‘Alwi al-Haddad berkata, “Dosa itu bagaikan racun. Bahkan lebih (bahaya) dari racun. Karena racun hanya menghancurkan fisik, sedangkan dosa dapat mengancurkan hati. Padahal hati adalah tempat Alloh memandang”

Dawuh Baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam;

ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ู„ุง ูŠู†ุธุฑ ุฅู„ู‰ ุตูˆุฑูƒู… ูˆุฃู…ูˆุงู„ูƒู… ูˆู„ูƒู† ูŠู†ุธุฑ ุฅู„ู‰ ู‚ู„ูˆุจูƒู… ูˆุฃุนู…ุงู„ูƒู…

โ€œSesungguhnya Alloh tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Alloh melihat kepada hati dan amal kalianโ€

2). Jangan lepas dari berdzikir kepada Alloh.

Hiasi lisan dengan selalu berdzikir kepada Alloh Ta’ala. Orang yang berdzikir kepada Alloh, senantiasa diliputi dengan ketenangan dan ketentraman. Sebagaimana Firman-Nya dalam Quran Suroh ar-Ro’du ayat 28:

ุฃู„ุง ุจุฐูƒุฑ ุงู„ู„ู‡ ุชุทู…ุฆู† ุงู„ู‚ู„ูˆุจ

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh hati menjadi tenteram”

3). Jauhi makanan yang haram.

Selain menjauhkan diri dari makanan yang harom, sebagai kalangan terpelajar patut juga memiliki sifat malu, yakni dengan menutup AURAT. Ciri wanita yang sholehah adalah malu apabila ia membuka auratnya, dan menangis apabila sampai terlihat auratnya kepada yang bukan muhrim.

4). Jauhi perkumpulan yang buruk.

Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.

Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya.

Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.

Oleh sebab itu, maka perhatikanlah dengan siapa kita bergaul!

Demikian intisari Nasihat yang dapat kami himpun. Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Powered by WordPress and MasterTemplate