KIAT-KIAT SUKSES dalam Menghadapi Ujian Sekolah dan Ujian Hidup

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Dewan Guru Majelis Rasulullah SAW, al-Habib Muhammad Bagir bin Alwy bin Yahya di hadapan Civitas Akademika SMK Perguruan Rakyat 2 (12 Jumadil Akhir 1438 H / 11 Maret 2017 M), menyampaikan beberapa kiat sukses dalam menghadapi ujian sekolah maupun ujian hidup. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1). Selain giat belajar, juga harus menjauhi perbuatan DOSA dan MAKSIAT.

Al-Imam al-Habib Abdulloh bin ‘Alwi al-Haddad berkata, “Dosa itu bagaikan racun. Bahkan lebih (bahaya) dari racun. Karena racun hanya menghancurkan fisik, sedangkan dosa dapat mengancurkan hati. Padahal hati adalah tempat Alloh memandang”

Dawuh Baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam;

إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

“Sesungguhnya Alloh tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Alloh melihat kepada hati dan amal kalian”

2). Jangan lepas dari berdzikir kepada Alloh.

Hiasi lisan dengan selalu berdzikir kepada Alloh Ta’ala. Orang yang berdzikir kepada Alloh, senantiasa diliputi dengan ketenangan dan ketentraman. Sebagaimana Firman-Nya dalam Quran Suroh ar-Ro’du ayat 28:

ألا بذكر الله تطمئن القلوب

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh hati menjadi tenteram”

3). Jauhi makanan yang haram.

Selain menjauhkan diri dari makanan yang harom, sebagai kalangan terpelajar patut juga memiliki sifat malu, yakni dengan menutup AURAT. Ciri wanita yang sholehah adalah malu apabila ia membuka auratnya, dan menangis apabila sampai terlihat auratnya kepada yang bukan muhrim.

4). Jauhi perkumpulan yang buruk.

Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.

Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya.

Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.

Oleh sebab itu, maka perhatikanlah dengan siapa kita bergaul!

Demikian intisari Nasihat yang dapat kami himpun. Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Akibat Tak Mampu Menahan Marah

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Qudwah kita, baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam telah mengajarkan bahwa barangsiapa yang berada dalam keadaan marah, maka hendaklah ia berwudhu. Sebab marah itu datangnya dari syaitan. Dan syaitan dibuat dari api, sehingga tiadalah yang dapat memadamkan api kecuali dengan Air.

Redamlah marah dengan berwudhu, karena tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam keadaan marah, mesti tindakannya SALAH.

Di dalam al-Quran, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memberikan beberapa contoh, dan contoh ini terjadi pada orang-orang hebat. Yang dari contoh itu kita dapat mengambil i’tibar bagaimana marah apabila menguasai seseorang, maka orang tersebut tidak dapat mengontrol tindakannya.

Sebagai contoh, KISAH NABI MUSA ‘ALAIHISSALAM berikut ini..

Nabi Musa ‘alaihishsholaatu wassalam ‘berjumpa’ dengan Alloh Ta’ala selama 40 hari. Setelah berjumpa dengan Alloh, beliau membawa “alwah” atau “lauh-lauh” (Taurat / papan berisi Firman Alloh Ta’ala), berisi pesan dari Alloh, dan firman Alloh yang Mulia berada dalam lauh-lauh tersebut.

Ketika turun dari bukit Thursina, baginda amat terkejut ketika mendapati umatnya. Tampak bani Israil telah menyembah patung lembu yang dibuat oleh Samiri. Melihat perilaku bani Israil yang sedang melakukan perkara syirik kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, menjadi murkalah Nabi Musa.

Altar Bani Israel di dekat Jabal Lawz, Arab Saudi. Tempat umat Nabi Musa (Bani Israel) menyembah patung anak lembu buatan Samiri saat ditinggal oleh Nabi Musa pergi bermunajat kepada Alloh selama 40 hari di bukit Thursina.

Nabi Musa dikenal sebagai orang yang memiliki gairah, yakni perasaan cemburu apabila kehormatan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dinodai. Dalam keadaan Nabi Musa sedang marah, dilemparkan Lauh-Lauh itu dari tangannya.

Bukankah dalam al-Lauh itu terdapat ayat-ayat Alloh???

Setelah itu, baginda pun pergi menemui Nabi Harun, kemudian ditarik olehnya baju Nabi Harun dengan kuat seraya berkata, “aku tinggalkan kamu untuk menjaga bani Israil, tapi mengapa kamu biarkan mereka melakukan perkara yang syirik kepada Allohu Subhanahu Wa Ta’ala?!!”

Lalu Nabi Harun memberi tahu, “wahai saudaraku, kalau saja aku larang mereka, niscaya mereka akan membunuhku. Aku tunaikan amanah engkau, tapi mereka mengancam akan membunuhku”

Setelah mendengar keterangan Nabi Harun, menjadi redalah kemarahan Nabi Musa, diambil kembali Lauh-Lauh yang berserakan, dan kemudian berdo’a kepada Alloh, “Ya Alloh, ampunkan dosa saya dan saudara saya ini”

Padahal sebelumnya tadi, apa yang Nabi Musa perbuat saat sedang Marah?

Baginda mencampakkan Lauh-Lauh yang dibawanya, memarahi Nabi Harun, bahkan menarik baju kakak kandungnya sendiri (riwayat lain mengatakan menarik janggut Nabi Harun. Ada pula yang mengatakan; menampar).

Demikianlah keadaan seseorang apabila marah menguasainya.

PESAN MORAL

Bukan perkara yang aib apabila seseorang memiliki sifat marah, justru yang aib adalah apabila seseorang tidak punya sifat marah. Tapi orang yang istimewa adalah orang yang punya sifat marah, namun mampu ‘mengawal’ (menahan) amarahnya.

Suatu peristiwa terjadi saat sayyidina Abu Bakar Shiddiq rodhiyallohu ‘anhu berada di Masjid Nabi. Ketika itu beliau dimaki oleh seseorang di hadapan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Orang Badui tersebut terus mengeluarkan kata-kata yang tidak karuan. Seketika sayyidina Abu Bakar melihat di hadapannya ada Rosululloh maka beliau pun menahan amarahnya.

Semakin sayyidina Abu Bakar diam, maka semakin tak berhenti pula orang itu memakinya. Lama-lama sayyidina Abu Bakar pun tak tahan, sehingga beliau bangkit dari duduknya dan marah juga pada orang tersebut.

Melihat hal demikian, baginda Nabi bangkit dari duduknya lantas pergi. Dikejarlah oleh sayyidina Abu Bakar, “Ya Rosulalloh, mohon maaf kalau saya tadi telah mengganggu kenyamanan duduk Tuan”

Kata baginda Nabi, “Kamu tadi, saat orang itu memaki, dan kamu tidak melayani marahnya orang itu, aku lihat banyak para malaikat datang mengelilingi kamu. Tapi ketika kamu bangkit dan marah juga, malaikat pergi, syaithon datang, dan aku tidak duduk di tempat yang ada syaithon.”

ShodaqAllohul ‘Adziim, wa Shodaqo Rosuuluhul Kariim, wa Nahnu ‘ala dzalika minas Syaahidiin was Syaakiriin, walhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin. 🙂 <3

Wallohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin

Amalan Agar Tidak Didekati Syaithon

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Sebelum membahas amalan yang dapat dibaca agar tidak didekati syaithon, mari terlebih dahulu baca kisah Poltax berikut ini :

Suatu malam Poltax pulang lembur, di jalan ia bertemu wanita (wn) cantik.

Poltax: “Neng, pulang lembur juga ya?”

Wn: “Enggak. Sok tau deh”

Poltax: “Kalo Neng bukan karyawan, berarti bidadari dong? Abang rela lembur tanpa dibayar asalkan bisa ketemu Neng tiap malam”

Wn: “…..???…..”

Poltax: “Baju kamu putih bersih ya, sama seperti hatiku..”

Wn: “Masa?”

Poltax: “Iya, tidak ada noda satupun yg bisa mengotori hatiku kecuali senyummu..”

Wn: “Gombal aja, pulang sana, kalo rumah Abang kebakaran gimana?”

Poltax: “Gak apa-apa, soalnya kalo ada kamu apinya jadi api asmara, hehe. Abang boleh kenalan ga?”

Wn: “Yakin mau kenalan?”

Poltax: “Yayakinlah. Kalo kamu ga punya nama berarti bener dong kamu bidadari?”

Wn: “ihh lebay deh dari tadi bidadari bidadari mulu, sekali-kali kamu bangga dong bisa kenalan sama KUNTILANAKK hihihihihih… *ngikik horror*

Poltax: “ALAMAKK!” *kabur*

Siapa nih yang “selfie” di belakang?

Besok malamnya Poltax yang baru pulang lembur bertemu wanita cantik lagi. “Wah ada cewek malam-malam begini sendirian! Hmm pasti perempuan tidak bener ini, dasar jablay, aku maki-maki ah.”

Poltax: “Kok disini? Kupu-kupu malam ya?”

Wn: “Jangan sembarangan ngomong kamu!”

Poltax: “Malam-malam sendirian, ngapain lagi kalo bukan nunggu pelanggan?!”

Wn: “Woey jaga mulut lo!”

Poltax: “Udah ngaku aja! Malam-malam pakai daster putih, pasti biar gampang bukanya kan?”

Wn: “Heh Denger ya…! Gue biar kuntilanak juga masih punya harga diri taukk!!!”

Poltax: “Ja.. Ja.. Jadi.. Ayamku.. *mundur merangkak*

——

Besok malamnya lagi, Poltax ketemu wanita cantik lagi dan lagi. Beruntung banget dia. 😀

Poltax: “Adek kok sendirian aja, Abang temenin ya?”

Wn: “Jangan ganggu aku dong Bang!”

Poltax: “Kenapa emang?”

Wn: “Pacar aku galak lho!”

Poltax: “Halah keciil.. Mana pacarmu itu, biar abang kasih pelajaran!”

Wn: “Emang berani?!”

Poltax: “Siapa takut?! Jangankan cuma pacarmu, pocong aja abang libas!”

Wn: “Lho kok tahu sih nama cowokku?”

Poltax: “Cowokmu?! Kayak kuntilanak aja sih pacaran sama pocong?”

Wn: “ih Abang pinter deh, tau namaku juga! Hihihihihi…”

Poltax: *sambil grogi* “Neng, kalo mau lari ke arah mana ya?”

——

Besok malamnya lagi, Poltax baru pulang kantor, di jalan ketemu wanita cantik lagi dan lagi. “Ada cewek malam-malam, jangan-jangan kuntilanak lagi! Hii serem trauma gua!” Batin Poltax.

Wn: “Mau kemana, Bang?”

Poltax: “Hii… Kamu kuntilanak ya?”

Wn: “Enak aja!”

Poltax: “Hufft… Untung ternyata bukan, jadi kamu cewek beneran?”

Wn: “Makanya lihat-lihat dulu jangan main tuduh aja!”

Poltax: “Sorry deh, sorry, hehe..”

Wn: “Lain kali sebelum nuduh perhatiin baek-baek dulu, kuntilanak apa bukan!”

Poltax: “Iya deh, Saya juga ragu masa cewek secantik Neng Kuntilanak. Namanya siapa sih Neng?”

Wn: “ihh malah ngajak kenalan. Serius? Emang udah perhatiin aku baik-baik?”

Poltax: “Ahh bikin penasaran aja si Eneng. Emang kenapa sih Neng?”

Wn: “Lihat nih punggung gue, bolong kan? Itu artinya gue Sundel Bolong! Bukan kuntilanak!”

Poltax: *muntah kembang tujuh rupa*

Malam besoknya, Poltax terpaksa pulang kerja lewat jalan lain. Sayangnya di jalan itu terdapat sebuah Pemakaman Umum. Malam itu pas dia lewat, ada wanita cantik sedang serius melihat-lihat sebuah batu nisan.

Poltax: “Neng papa kamu dukun ya?” *mau ngegombal ceritanya*

Wn: “Ga tau Bang, saya orang baru di sini”

Poltax: “Haduh, harusnya tuh jawab ‘kok tau’ gitu!”

Wn: “Kenapa harus kok tau?”

Poltax: “Soalnya kamu pemberani banget di kuburan sendirian. Emang ga takut hantu?”

Wn: “Enggaklah”

Poltax: “Kalo aku sih takut sama hantu. Tapi aku lebih takut kalo kehilangan kamu..”

Wn: “Eeaa..” *cabut-cabut batu nisan*

Poltax: “Nisannya kenapa dicabutin Neng?! Lebih baik neng nyabutin hatiku aja..”

Wn: “Aku marah Bang! Tanggal matiku salah tulis, padahal baru tadi pagi aku dikubur!” *banting nisan*

Poltax: *lari tanpa permisi*

——

Poltax terus berlari berusaha meninggalkan lokasi pemakaman, tapi tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu, akhirnya sukses tersungkur di tanah. Saat itulah dia melihat seorang perempuan duduk rileks di batu nisan sambil mainin hape.

Poltax: “Neng pinjem hapenya bentar, buat nelpon temen suruh jemput?”

Wn: “ih jangan dong, orang lagi dipake fesbukan. Lagi baca Status Lucu nih!”

Poltax: “Fesbukan kok di atas kuburan. Kamu gila ya?!”

Wn: “Kan sekalian nyari sinyal, Bang. Di dalam sinyalnya lemah, hihihihihiH

Poltax: “Tuluuung..!” *lari lagi*

——-

Di gerbang pemakaman, Poltax berjumpa wanita lagi. Sambil ngos-ngosan senin kamis, Poltax mendekati wanita tsb…

Poltax: “Eh Neng, numpang tanya..”

Wn: “Mau nanya apa, Bang?”

Poltax: “Masak udah dua kali saya ketemu hantu! Emang kuburan ini angker ya?”

Wn: “Kayaknya enggak deh bang, sudah 5 tahun saya dikubur di sini ga pernah ada kejadian apa-apa kok”

Poltax: *pingsan sepingsan pingsannya*


Maaf ya Sobat, kisah di atas hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Adapun kisah riil (nyata), adalah sebagaimana yang dialami oleh Sahabat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, yaitu Sayyidina Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu saat beliau ditugaskan menjaga “baitul maal” oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Pada malam ia berjaga, bertemulah Abu Huroiroh dengan seorang yang mencuri, maka ditangkaplah oleh Abu Huroiroh.

Kata Abu Huroiroh kepada pencuri tersebut, “Aku laporkan kamu kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam “

Orang itu berkata, “Aku miskin, aku tak makan, aku lapar, bla, bla…dst”

Mendengar alasan si Pencuri, menjadi tak tegalah Abu Huroiroh sehingga melepaskannya.

Kemudian pada keesokan harinya Abu Huroiroh berjumpa dengan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan menceritakan hal yang terjadi.

“Ya Aba Huroiroh, apa yang kau perbuat dengan orang yang kau tangkap semalam?”, tanya baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Kata Abu Huroiroh, “Ya Rosulalloh, dia mengaku kelaparan sehingga aku tak tega dan melepaskannya”

Kata baginda Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam , “Malam ini dia akan balik, dan kembali mencuri”

Mendengar dari baginda Nabi bahwa pencuri tersebut akan datang kembali, maka Abu Huroiroh standby (siap siaga) pada malam berikutnya.

Benar saja, untuk kali yang kedua Abu Huroiroh menangkap pencuri yang sama dengan malam sebelumnya.

Ditangkap oleh Abu Huroiroh, “Kali ini benar-benar aku akan laporkan engkau kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam “, demikian ancam Abu Huroiroh.

Si-pencuri mengatakan, “Mohon kasihanilah, aku lapar, keluarga saya tidak makan, bla, bla, (berbagai macam alasan dia kemukakan)”

Abu Huroiroh ini orang miskin, hatinya lembut, dan mudah kasihan pada seseorang. Sehingga untuk kedua kalinya pun akhirnya ia lepaskan pencuri tersebut.

Keesokan harinya berjumpa lagi dengan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan Abu Huroiroh beritahukan pada baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam . Lalu tanya Nabi, “Apa yang engkau perbuat dengan orang yang kau tangkap itu?”

Maka Abu Huroiroh menjelaskan panjang lebar kronologis-nya yang membuat ia tak tega dan terpaksa melepaskan si pencuri.

Kata Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam , “Dia akan kembali malam ini juga untuk mencuri”

Setelah mengetahui bahwa pencuri tak jera, dan dia akan balik untuk yang ketiga kalinya. Maka Abu Huroiroh makin bertambah siap dan siaga. 🙂

Malam itu, datanglah si pencuri dan ditangkap oleh Abu Huroiroh, “Kali ini tidak ada ampun lagi bagimu!” demikian ancam Abu Huroiroh tidak main-main.

Lantas orang itu berkata, “Ya Aba Huroiroh, maukah engkau aku berikan suatu amalan yang apabila engkau amalkan, engkau tidak akan dihampiri (didekati) oleh Syaithon? Tapi dengan syarat, lepaskan aku setelah aku beri tahu.”

Pandangan Abu Huroiroh, selagi ini membawa manfaat dalam hal agama dan akhirat, kenapa tidak? Maka diterima usul dari pencuri tersebut.

Lalu kata orang tersebut, “Kalau kamu mau tidur bacalah AYAT KURSI, maka kamu tidak akan dihampiri oleh Syaithon.”

Esok hari Abu Huroiroh pergi berjumpa dengan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan menceritakan kejadian semalam.

Kata Abu Huroiroh, “Yaa Rosulalloh, dia memberitahukan kepadaku sebuah amalan yang apabila aku lakukan maka tidak akan dihampiri Syaithon. Dan dia juga memberi tahu kalau mau tidur hendaklah membaca AYAT KURSI

Sabda baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam , “Shodaqoka wahuwa kadzuub” (Dalam hal ini apa yang dia sampaikan benar, walaupun dia adalah pendusta).

“Yaa Aba Huroiroh, kamu tahu siapa yang kau tangkap tiga kali ini?” tanya Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Jawab Abu Huroiroh, “Allohu wa Rosuluhu A’lam” (Alloh dan Rosul-NYA yang lebih mengetahui).

Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam memberi tahu, “itu adalah SYAITHON

PESAN MORAL

AYAT KURSI berkhasiat untuk mencegah kita dihampiri oleh syaithon. Selain waktu akan tidur, Ayat Kursi dapat juga dibaca setiap waktu. Baik di pagi hari, maupun di malam hari. Baik sebelum Sholat, maupun sesudah Sholat. Baik saat keluar rumah, maupun masuk rumah. Biasakan membaca Ayat Kursi secara istiqomah, niscaya Alloh akan menjauhkan kita dari Syaithon yang terkutuk.

Wallohu a’lam

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

JANGAN SIA-SIAKAN AIR MATAMU

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Foto hanya sebagai ilustrasi

Ga semua memang, tapi kebanyakan wanita diciptakan lebih sensitif menangis dibanding pria. Mudah meneteskan air mata. Jika pria di saat sudah terpojok jurus terakhirnya adalah ngeles, maka senjata terakhir wanita adalah menangis.

Sebagaimana yang dialami Wulan dalam cerpen Zuck-Linn (karya Arizuna Zuckirama) berikut ini…

#AirMataWulan

Sore tadi Wulan mengadakan kunjungan persahabatan ke rumah Linn.

Glotak! Dengan serampangan, Wulan menghempaskan tasnya yang terbuat dari kulit kadal di atas meja. Lalu duduk di samping Linn sambil menggerutu ga jelas. Sementara Linn, masih asik ngupil sejak dua jam tadi.

“Halo Linn. Gue tamu nih, ga dibikinin minuman apa-apa?” sapa Wulan.

Tapi sapaan Wulan ga dapat respon. Linn masih asik ngupil. Jari telunjuknya mengobok-ngobok lubang hidungnya sambil mendesah-desah keenakan.

“Linna! Stress lo ya?!” merasa dicuekbebekin, Wulan terpaksa menghardiknas.

Linn kaget. Menoleh kepada Wulan. “Hai Wulan. Barusan aku kaget lho.”

“Bodo amat!” sahut Wulan keki.

“Muahaha… Pengantin baru kok jutek gitu sih? Kenapa, kenapa?”

Wulan diam. Matanya mulai berkaca-kaca spion, sedetik kemudian air mata itu muncrat kemana-mana.

“Bocor, bocor. Matamu berair, Wul. Kamu nangis, ya?” Linn panik. Nyodorin tisu untuk Wulan.

“Yaiyalah nangis. Lo pikir gue pipis lewat mata?!” Wulan mengusap-usap airmatanya pake tisu, setelah itu tisunya dikembalikan kepada Linn.

“Nangis kenapa sih?”

Wulan justru makin semangat nangisnya. “Anto Linn, Anto. Suami gue. Hiks.”

“Iya, iya. Suami kamu kenapa? Direbut tetangga? Meninggal? Cerita dong,” Linn kuatir.

“Dia… Dia ternyata orangnya ga romantis, Linn, huhuhuu..”

Linn mendengus. “Ya Alloh… Cuma masalah begituan?”

“Itu nyebelin banget tau ga sih Linn? Nyebelin!”

Linn menatap Wulan penuh tanda tanya. “Jadi ceritanya kamu nyesel nikah sama Anto?”

Wulan terdiam cukup lama, “Gue cuma pengen dia romantis dan perhatian ke gue. Masa pendiam banget gitu, ngomong sama gue kalo pas lagi lapar aja. Gue kesepian, Linn. Rumah kami yang megah itu sepinya udah kayak kuburan tua. Mendingan gue tinggal di gubuk derita deh, tapi punya suami yang romantis, suka becanda dan bisa bikin gue nyaman..” cerocos Wulan sambil menatap Linn penuh tanda seru.

Linn termenung tiga jam. “Gimana kalo kamu aja yang memulai keromantisan itu. Kamu coba godai suami kamu. Kamu gombal-gombalin dia. Kalo diem dibales diem ya diem-dieman gitu jadinya ga selese-selese,” Linn memberi saran.

Mata Wulan tiba-tiba berbinar. Tangisnya terhenti. Kemudian tersenyum lebar sampai ke kuping. “Ga nyangka lo punya usul sebriliant ini, Linn. Ga rugi gue punya sahabat kayak elo. Makasih, yah. Muah!” kisbai Wulan, kemudian bergegas pulang.

HIKMAH dan MUHASABAH dari Kejadian yang Dialami Wulan

Terkadang air mata kita mudah jatuh berderai hanya untuk menangisi sesuatu hal yang tidak penting. Jangan sampai air mata yang keluar ini menjadi sia-sia.

Sebagai perbandingan sekaligus pembelajaran, bolehlah sekali-kali kita lihat bagaimana para Anbiya’ (Nabi-Nabi) dan Sholihiin (orang-orang Sholeh) ketika mereka menangis.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab Minhajus Saawi Thoriqoh ‘Alawiyah karya al-‘Allamah al-Habib Zein bin Ibrohim bin Sumaith (semoga Alloh melindungi beliau serta memberikan manfaat untuk kita) [Silahkan lihat dalam FOTO di bawah ini]

> (Paragraf 1): Tangisan Nabi

Dikisahkan, tatkala Nabi Adam ‘Alaihissalam turun ke bumi, maka beliau tinggal di bumi selama 300 tahun tidak mengangkat kepalanya ke langit lantaran malu kepada Alloh (karena telah memakan buah khuldi). Berkata ibn ‘Abbas, “Adam dan Hawa menangis selama 200 tahun atas hilangnya kenikmatan syurga, tidak makan dan minum selama 40 hari, dan keduanya tidak berjumpa selama 100 tahun”

Riwayat ini sekaligus meluruskan kisah ‘israiliyyat’ yang mengatakan bahwa Nabi Adam dan Hawa menangis karena perpisahan. Tidak! Namun mereka menangis lantaran khouf (takut) kepada Alloh Ta’ala.

>> (Paragraf 2): Tangisan Sholihiin

Diriwayatkan oleh (Imam) al-Ashma’i rohimahulloh. Suatu ketika beliau melihat (Sayyidinal Imam) Ali Zainal Abidin bin Husein Rodhiyallohu ‘Anhuma (cicit Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) menangis oleh karena rasa takutnya yang begitu besar kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, maka ia bertanya:

“Wahai Tuanku, mengapakah engkau beribadah sedemikian susah begini? Sedangkan engkau adalah Ahlul Bait (putra Husein, putra Fatimah, putri Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam), bukankah Alloh telah berfirman dalam (QS. Al-Ahzab ayat 33): Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.. ??”

Berkata Imam Ali Zainal Abidin bin Husein, “Wahai Ashma’i, tidak mungkin! Sesungguhnya syurga diciptakan untuk orang-orang yang taat kepada Alloh Ta’ala meskipun ia adalah seorang hamba sahaya Habsyi (yang hitam). Dan sesungguhnya neraka diciptakan untuk orang-orang yang maksiat kepada Alloh Ta’ala, meskipun ia adalah seorang tuan dari kalangan Quraisy.”

>>> (Paragraf 3): KESIMPULAN dan PESAN dari baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam:

”Setiap mata pada hari kiamat nanti pasti akan menangis, kecuali tiga :
1. Mata yang dipejamkan dari larangan Alloh
2. Mata yang dibuat jaga pada perang fii sabilillah
3. Mata yang menangis karena takut kepada Alloh”

Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala merizqikan kita air mata yang selalu diliputi dengan rasa Khouf (takut) dan Khusyu’ (tunduk) kepada-Nya. Aamiin… wa Shollallohu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. wAlhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin.

Wallohu a’lam bishshowaab.

RiseTAFDI team

Ketika Langit Cemburu kepada Bumi

Hikmah Isro dan Mi’roj

[FOTO]: Habib Ali Zainal Abidin al-Jufri sedang menunaikan sholat di bawah batu (shokhroh) tempat Nabi Muhammad SAW “take off” untuk Mi’roj meninggalkan orbit bumi

Kisah berikut ini termasuk dalam kategori Israiliyat (sejenis “legenda”) yang disadur dari Kitab Durrotun Nashihin (karya Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir al-Hubawiy, seorang ulama asal Konstantinopel) halaman 117 dengan sedikit penyesuaian. Kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Namun, cukup bisa dijadikan sebatas pengetahuan dengan tetap tidak menjadikannya sebagai dalil.

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Alkisah, bumi pernah membanggakan dirinya kepada langit, “Aku lebih baik daripada dirimu, karena Alloh menghiasi aku dengan berbagai negeri, lautan, sungai-sungai, pohon-pohon, gunung-gunung dan lain-lainnya.”

Langit berkata kepada bumi, “Justru aku yang lebih baik dari dirimu, Alloh telah menghiasi diriku dengan matahari, bintang-bintang, bulan, cakrawala, planet-planet dan lain sebagainya.”

Bumi berkata lagi, “Padaku terdapat Baitulloh (Ka’bah) yang selalu dikunjungi oleh para Nabi, para Rosul, para wali dan orang-orang mukmin secara umum, dan mereka selalu berthowaf kepadanya!”

Langit tidak mau kalah, ia berkata, “Padaku ada Baitul Makmur, dimana para malaikat selalu berthowaf kepadanya. Padaku juga terdapat surga, yang merupakan tempat ruh para Nabi, ruh para Rosul, ruh para wali dan semua ruh orang-orang yang sholeh!”

Jadi, hakikat sebenarnya dari ‘batu melayang’ adalah shokhroh tersebut. Bukan gambar palsu sebagaimana yang banyak beredar di internet. Apabila kita perhatikan, ternyata di bawahnya tidak mampat, melainkan terdapat ruang kosong yang besarnya seukuran musholla. Sehingga dapat dikatakan seolah-olah batu (shokhroh) tersebut ‘melayang’. Wallohu a’lam

Bumi berkata lagi, “Sesungguhnya pimpinan para rosul dan penutup para nabi, Kekasih Allohu Robbul ‘Aalamiin, seorang rosul yang paling mulia dari segala yang ada, Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, yang semoga salam dan penghormatan selalu terlimpah kepadanya, ia tinggal dan menetap pada diriku, dan ia menjalankan syariatnya di atas punggungku!”

Mendengar perkataan bumi yang membanggakan akan keberadaan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam pada dirinya, langit tidak bisa memberikan argumentasi tandingan yang sepadan.

Langit pun tahu bahwa Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam adalah makhluk termulia dan yang paling dicintai Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, dan faktanya memang tidak pernah sekalipun Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam menjejakkan kaki pada dirinya, apalagi membuat aktivitas-aktivitas yang membekas dan memberi kesan tersendiri pada beliau. Langit hanya terdiam, merasa kalah dan terpojok dengan posisi yang dibandingkan oleh bumi.

Tetapi kemudian langit menghadapkan diri kepada Alloh dan berdo’a, “Ya Alloh, Engkau selalu mengabulkan segala permintaan hamba-hamba-Mu yang dalam keadaan terdesak atau terjepit. Ya Alloh, saat ini aku adalah hamba-Mu yang dalam keadaan terdesak dan tidak dapat memberikan jawaban yang sepadan kepada bumi!”

Alloh Ta’ala memperkenankan doa langit tersebut. Saat itu adalah tanggal 27 Rojab, Alloh berfirman, “Wahai Jibril, hentikan dahulu tasbihmu pada malam ini! Wahai Izroil, pada malam ini janganlah engkau mencabut ruh terlebih dahulu!”

Tampak atas Shokhroh (batu tempat berpijak Nabi saat Mi’roj ke Sidrotul Muntaha). Batu Shokhroh ini berada di Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock), Yerusalem – Palestina

Malaikat Jibril berkata, “Ya Alloh, apakah kiamat telah tiba masanya??”

Memang, Jibril dan malaikat-malaikat lainnya tidak akan pernah berhenti melantunkan tasbih kepada Alloh, apapun keadaannya, kecuali jika hari kiamat telah tiba. Alloh berfirman lagi, “Tidak wahai Jibril, tetapi pergilah engkau ke surga, bawalah salah satu buroq disana dan bawalah Muhammad datang menghadap-Ku malam ini!”

Malaikat Jibril segera memenuhi perintah Alloh, ia datang ke surga dan melihat 40.000 buroq sedang merumput di padang rumput surga, pada kening buroq-buroq itu tertulis nama Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam . Tampak satu buroq menunduk dan air matanya terus mengalir, tidak merumput seperti yang lainnya. Jibril menghampirinya dan berkata, “Apa yang terjadi dengan dirimu, wahai buroq??”

Buroq itu berkata, “Wahai Jibril, sejak 40.000 tahun yang lalu aku mendengar nama Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, dan hatiku terbakar rindu untuk bisa bertemu dengannya. Kerinduan itu begitu meliputiku sehingga aku tidak bisa lagi makan dan minum, kecuali apabila aku telah bertemu dengan beliau (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)”

Malaikat Jibril tersenyum dan berkata, “Aku akan menyampaikan dirimu kepada orang yang selama ini kamu rindukan. Malam ini juga engkau akan bertemu dengan Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam”

Kemudian Jibril memasang pelana dan tali pengikat dari sutera surga pada buroq itu dan membawanya turun ke bumi. Setelah selesainya peristiwa Isro Mi’roj Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, langit pun bisa memberikan argumentasi kepada bumi dan ia merasa bahwa kedudukannya cukup sejajar dengan bumi.

Wallohu a’lam bishshowaab

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shihbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Mau Sedekah Tapi Nggak Punya Uang? Begini Caranya

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Suatu hari orang miskin (kaum dhuafa) datang berbondong-bondong melakukan demonstrasi yang terbilang ‘aneh’ kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Mereka berunjuk-rasa bukan lantaran didorong kekurangan sandang dan pangan. Bukan pula karena tidak kebagian jatah zakat fitrah atau seanting daging qurban. Melainkan khawatir akan kehidupan akhiratnya kelak.

“Ya Rosulalloh.. Menjadi orang kaya itu rasanya senaaang sekali, mereka banyak mendapatkan pahala.

Mereka sholat sebagaimana kami sholat, dan mereka pun berpuasa sebagaimana kami berpuasa.

Akan tetapi, kelebihan orang Kaya adalah mampu bersedekah dengan harta yang mereka miliki, sedangkan kami tak memiliki harta yang dapat disedekahkan 🙁 ”

Demikian keluhan orang miskin mengekspresikan isi hati mereka kepada baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Foto hanya sebagai ilustrasi

Mereka takut bagaimana jadinya apabila kehidupan kelak di ‘seberang’ makam tidak memperoleh pahala sebanding dengan ganjaran yang diterima oleh kaum berada.

Inilah “ghibthoh” (kecemburuan positif), yakni keinginan bersaing dalam hal kebaikan.

Maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam memberi tahu mereka dengan sabdanya, “Laisa qod ja’alallohu lakum ma tashoddaquuna bih?”

Bukankah Alloh telah menganugerahkan kepadamu wahai orang Miskin, yang dengannya kamu diganjar sama dengan bersedekah seperti orang kaya?

Tanya mereka, “Apa itu Ya Rosulalloh??”

Baginda menjawab, “Sesungguhnya setiap kalian mengucapkan tasbih “Subhanalloh” adalah sedekah.

Setiap melafalkan takbir “Allohu Akbar” adalah sedekah juga bagimu.

Sehingga apabila kamu tidak mampu bersedekah dengan harta, maka bersedekahlah dengan DZIKIR! Subhanalloh wal-hamdulillah wa Laa iLaaha iLLaLLohu Allohu Akbar..”

Ketika mendengar hal itu, menjadi giranglah perasaan orang-orang miskin, berbunga-bungalah hati mereka 🙂 <3

Namun disaat yang sama, orang Kaya mengetahui perihal orang miskin yang bisa bersedekah dengan dzikir.

Maka mereka pun tak mau ketinggalan sehingga melakukan hal yang sama, yakni ikut berdzikir juga! 😀

Menanggapi kondisi demikian, lantas orang miskin kembali lapor dan mengajukan ‘protes’ kepada baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Lalu dijawab oleh baginda Nabi dengan sangat bijaksana, “Ini adalah satu bagian nasib yang Alloh sudah tentukan kepada segolongan manusia yang tidak ada pada yang lain”

Kalau semua orang hidup Kaya Raya bergelimang harta, siapa yang mau bekerja??

Kalau semua orang hidup Miskin, lalu siapa yang akan memberi gaji??

Dan kalau tak ada orang Miskin, bagaimana pula orang-orang Kaya bisa memberi sedekah??

Jadi, mestilah ada kelebihan pada segolongan orang, dan kekurangan pada golongan yang lain. Karena hidup ini adalah saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Setuju?

Wallohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Ini Sarungku, Mana Sarungmu?

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Di Indonesia, sarung adalah pakaian yang paling sopan dan terhormat, pakaian yang biasa dipakai juga untuk ibadah sholat.

Pakaian ini tidak mengenal ras dan golongan, kaya maupun miskin. Tua, muda, sampai anak-anak lazim memakainya, seolah-olah sudah menjadi ciri khas umat Islam tanah air Indonesia.

Memang, sarung identik dengan santri, maka ada istilah ‘kaum sarungan’, maksudnya adalah para santri yang sedang aktif (atau setidaknya pernah) belajar di suatu lembaga pendidikan bercorak pesantren.

Kendati demikian, seluruh lapisan masyarakat sudah familiar dan akrab dengan pakaian yang satu ini.

Sarung juga telah menjadi simbol perlawanan. Sebagai sebuah wilayah yang mayoritas beragama Islam, sarung menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda yang terbiasa menggunakan baju modern seperti jas.

Para santri di zaman kolonial Belanda menggunakan sarung sebagai simbol perlawanan terhadap budaya Barat yang dibawa kaum penjajah. Kaum santri merupakan masyarakat yang paling konsisten menggunakan sarung dimana kaum nasionalis abangan telah hampir meninggalkannya.

Ya, pakaian yang sangat simpel dan mudah dipakai, tidak seperti pakaian yang lain. Orang yang terbiasa pakai sarung, terasa sangat enjoy bahkan kalau memakai celana panjang merasa gerah dan pengap.

Timnas Sepakbola Pantai Majelis-TAFDI saat melakukan laga eksebisi di pantai Kidul (03 Juli 2012)

Santri dulu (atau mungkin sampai sekarang) seolah tidak suka pakaian lain, kemana-mana pakai sarung; ke masjid, ke sekolah, main bola, kerja di sawah, bangun gedung, bahkan ke mall sekalipun pakai sarung, tidak ada rasa minder sama sekali. ^_^

Ada juga yang mengatakan bahwa ketika KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada hari-hari pertama pasca pelantikan Presiden RI, saat akan ngantor di Istana Negara pakai sarung. Luar biasa! Tampaknya sarung sudah menyatu dengan hati Gus Dur.

Dr. KH. Manarul Hidayat, pengasuh pondok pesantren Al-Mahbubiyyah pernah berkata bahwa, “Orang yang pakai sarung adalah orang yang sangat demokratis, bisa ke kanan dan bisa juga ke kiri.”

Lain halnya dengan mas Setiawan Budhi. Sebagai pecinta sarung, ia meneliti dengan bertanya kepada 10 orang cowok, “Apakah kalian punya sarung?”

Dan ternyata 10/10 (10 orang dari 10 yang ditanya) menjawab “Ya”. Ini berarti hasilnya mutlak sempurna. Gak seperti di iklan-iklan kosmetik yang cuma 7/10, 8/10, atau 9/10.

Tambahnya lagi, Sarung mempunyai fungsi yang lumayan banyak. Seperti:

1). Perlengkapan Sholat, emang lebih afdhol kalo sholat pake sarung. Hehehe.

2). Pengganti selimut saat tidur. Kalo pake selimut terlalu gerah, maka gunakanlah sarung, niscaya tidur akan terasa lebih pulas (halah).

3). Untuk FASHION. Yup, siapa bilang pake sarung itu gak G403L?? Pake sarung tetap terlihat keren kok. Buktinya presiden Jokowi biar pake jas, tetap sarungan 🙂

4). Sahabat setia para Ronda Rangers. Selain menggunakan kupluk dan membawa senter, yang lagi ngeronda biasanya juga membawa sarung sebagai sahabat setianya.

5). Properti wajib bagi para maling. Biasanya kalo di TV, para maling menggunakan sarung sebagai media penyamaran mereka dalam beraksi (yang ini jangan di tiru yaa..wkwk)

Serta masih banyak lagi manfaat dan fungsi lainnya. Itulah sebabnya mengapa sarung menjadi barang FAVORITE yang wajib dimiliki setiap orang. Dan satu lagi hal yang paling unik dari sarung,

“Bisa bikin adem saat suasana panas, dan bisa bikin anget saat suasana dingin.”

Demikian sekelumit tentang sarung. So, ini sarungku, mana sarungmu? 🙂

Wallohu a’lam bishshowaab

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Doa Unik yang Tahu Arah Jalan ke Langit

Bidadari kecil dari kota Malang ini bernama Azza, sangat ekspresif saat qosidah dilantunkan. Dengan memakai sarung tangan dan duduk paling depan, ia seolah-olah menjadi dirijen bagi jama’ah yang lain untuk semangat bersholawat dan bersalam kepada baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Sesungguhnya para Imam dan Ulama besar mempunyai kisah yang unik, diantaranya Imam Nawawi, Imam Ibnu Katsir, dan semua Imam Ahli Tafsir, Ahli Hadits, Ahli Fiqh, dan Ahli Ushul. Salah satu yang terkenal adalah kisah Imam al-‘Utbi.

#Kisah 1

Kisahnya disebutkan dalam Tafsir QS. an-Nisa ayat 64. Disebutkan bahwa ketika beliau berziarah ke makam Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, beliau duduk di samping seseorang yang datang dari pedalaman.

Orang tersebut berdiri dan mengucapkan salam kepada Rosululloh dan kedua Sahabatnya. Lalu orang itu berkata:

“Yaa Rosulalloh, aku telah mendengar Firman Alloh:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Alloh, dan Rosul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang (QS. an-Nisa: 64)

Kini aku telah datang kepadamu untuk memohon ampun kepada Alloh atas dosaku, maka mohonkanlah ampun untukku Yaa Rosulalloh.”

Tak lama setelah orang Badui itu pergi, Imam ‘Utbi tertidur. Dalam mimpinya Imam ‘Utbi melihat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang kemudian baginda bersabda,

“Wahai ‘Utbi, bangun dan kejarlah orang Badui itu, lalu kabarkan kepadanya bahwa Alloh telah mengampuni dosanya.”

—————————–
#Kisah 2

Sebuah kisah unik lain dari kaum Sholihin saat berziarah ke makam Rosululloh, beliau melihat seseorang dari pedalaman juga (orang Badui) datang dan memberi salam kepada Rosululloh dan kedua sahabatnya, lalu orang itu berdo’a:

“Ya Alloh, Muhammad ini adalah Nabi-Mu. Aku adalah hamba-Mu. Dan syaitan adalah musuh-Mu.

Jika Engkau mengampuni aku, maka Nabi-Mu akan gembira, dan hamba-Mu akan selamat, serta musuh-Mu akan bersedih.

Namun apabila Engkau tak mengampuni aku, maka Nabi-Mu bersedih, hamba-Mu hancur, dan musuh-Mu gembira.

Engkau lebih Dermawan dan lebih Mulia, tidak mungkin Engkau membuat musuh-Mu bahagia dan Nabi-Mu bersedih”


Kemudian setelah itu orang Badui tersebut pulang.

Tak lama, orang Sholihin yang masih berziarah tertidur. Dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu Rosululloh seraya berkata:

“Bangunlah dan kejar orang Badui itu! Katakan bahwa Alloh telah mengampuni segala dosanya sebab doanya yang unik itu.”

—————————–
#Kisah 3

Kisah terakhir ini terjadi tatkala seorang Badui melihat jenazah orang lain di kampungnya. Selesai dimakamkan, pada malam harinya salah satu kerabat mayit bermimpi bertemu si-mayit. Kemudian ia bertanya,

“Bagaimana keadaanmu setelah wafat?”

Maka mayit itu pun berkata, “Alloh mengampuniku berkat doa orang Badui yang unik itu.”

Pagi harinya, kerabat si-mayit bangun dan penasaran, doa apa sih yang disampaikan orang Badui tersebut?

Ketika bertemu, orang Badui itu menjawab, ” Aku ini orang gunung yang tidak tahu apa-apa, ketika aku melihat kalian sholat dan berdoa, aku tidak mengerti doa apa yang kalian panjatkan, maka aku berdoa dengan kalimat ini: Ya Alloh, seandainya ini tamu saya, maka akan saya sembelihkan unta saya untuk menjamunya. Namun saat ini ia adalah tamu-Mu, dan Engkau Maha Dermawan lagi Maha Pemberi”

Maka dengan sebab doa yang unik dari orang Badui itulah menjadikan ampunan Alloh bagi si-mayit.

==================================
Subhanalloh wal-hamdulillah. Sungguh! Betapa hujan rahmat dan anugerah Alloh tercurah dengan lebat kepada semua umat manusia.

Mari kita merayu pada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dan juga Habibiy Muhammad Khoiril Mursaliin:

“Duhai Kanjeng Nabi, Abu Jahal telah melihat wajah engkau. Sedangkan kami belum pernah. Padahal kami tidak lebih buruk darinya yang senantiasa membencimu. Dapatkah kami melihat wajahmu, Ya Rosul?

Duhai Gusti Alloh, jadikanlah kami orang yang senantiasa bersabar atas segala sesuatu yang menimpa kami, sebagaimana kami telah bersabar atas kerinduan dan kecintaan kami kepada beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Telah KAU halangi mata kami dari memandang wajah Nabi kami, akan tetapi kami disabarkan oleh janji beliau, “Bersabarlah kalian sampai kalian menjumpai aku di telaga Haudh” Maka pastikanlah wahai Robbiy, semua wajah kami berjumpa dengan baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam di telaga Haudh. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.”

wAllohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

Disarikan oleh RiseTAFDI team dari taushiyah Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz di ponpes al-Fachriyah pada 30/10/2016 [RBBT, 3 Shofar al-Khoir 1438 H atau 3 Nopember 2016 | 14.03 UTC+7]

Cara Mutusin Pacar Tanpa Menyakiti

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Yang namanya ikatan pacaran itu suatu saat pasti akan putus. Tidak ada sejarahnya aktivis pacaran yang pacarannya bisa awet bertahan lama sampai 47 tahun misalnya. Tidak ada! Suatu saat, yang berpacaran pasti akan putus, entah putus jadi MANTAN, atau putus jadi MANTEN.

Foto hanya sebagai ilustrasi

Jangankan pacaran, setelah dilamar pun, seseorang bisa saja gagal menikah karena satu dan lain sebab. Makanya, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam melarang umatnya mengumumkan lamaran, dan hanya menganjurkan untuk memberitakan pernikahan.

Apalagi mereka yang mengumumkan pacaran di media sosial, betapa menyelisihinya dengan perintah Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Tidak cukupkah kasus-kasus bunuh diri karena diputusin pacar menjadi pelajaran?

Jangankan sekadar lamaran, bahkan yang menikah pun tiada jaminan akan langgeng sampai akhir hayat. Tidak cukupkah kasus-kasus perceraian menjadi pelajaran? Bahwa mengumumkan pernikahan bukan untuk berbangga diri, hanya pemberitahuan agar tidak ada buruk sangka bagi orang yang belum tahu, dan syiar agar banyak orang termotivasi dalam menghidupkan sunnah sang Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Adapun contoh dan cara mutusin pacar tanpa menyakiti, salah satunya adalah dengan alasan “mau MENIKAH” :

“Sayang, kita putus ya?”

“Kenapa?”

“Aku udah bosen jadi pacar kamu. Aku maunya jadi istri kamu aja. Putus maksudnya mari kita putuskan kapan tanggal pernikahan kita.”

Putus model begini, insyaAlloh dijamin 100% tidak akan menyebabkan sakit hati, justru bikin hepi. Kecuali kalau mau menikahnya dengan orang lain. 🙂

HIKMAH dan PESAN MORAL-nya

Pacaran berasal dari kata dasar ACAR

Pacaran adalah kependekan dari kata PEMACARAN, yaitu proses melakukan tindakan untuk membuat jadi ACAR.

Sifat acar adalah asam, asin, manis, dan kadang-kadang sepat.

Maka begitulah dengan tindakan pacaran, kadang terasa manis, kadang asin, kadang asam.

Terjadinya pertengkaran
Terjadinya cakar-cakaran
Terjadinya bubar-bubaran
Κarena adanya pacaran

Baru jadian pacaran bilang AMAZING
Tapi setelah bubaran ngatain A*ZING

Cintailah apa dan siapa saja, tetapi sadarlah, kelak engkau akan berpisah dengannya :'(

Cinta tak perlu setinggi bukit, nanti sakit :-s

Agar tak merana, Cintai dengan sederhana 🙂

Ini dia rumus Cinta agar kita senantiasa bersuka cita, tiada derita dan air mata ^_^

SATU → (SA)yangi (TU)han

DUA → (D)an (U)tusan (A)lloh

TIGA → (T)aati (I)bu dan ju(G)a (A)yah

EMPAT → (E)ngkau (M)enikahlah (P)ada ia yang (A)khlaknya (T)erpuji

LIMA → ojola(LI) li(MA) waktu

***************

Cinta pada Sang Pencipta….

“MENGUBAH DERITA JADI BAHAGIA”

***************

Orang yang paling bahagia adalah orang yang menjadikan puncak dan tujuan utamanya mencintai ALLOH SUBHANAHU WA TA’ALA

***************
Konklusinya…

Harta terbaik adalah yang udah disedekahin.

Ibadah terbaik adalah yang udah diikhlasin.

Ilmu terbaik adalah yang udah diamalin.

Dan PACAR TERBAIK ???
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yang udah dinikahin 🙂

Wallohu a’lam bishshowaab

RiseTAFDI team

Terbukti Ampuh! Beginilah Cara Menggandakan Uang

Gambar hanya sebagai pemanis

Siapa sih yang nggak ingin punya banyak uang? Sebagaimana bang Haji Rhoma Irama dalam senandung lagunya tentang Rupiah, “Tiada orang yang tak suka, pada yang bernama rupiah. Semua orang mencarinya, di mana rupiah berada.

Baiklah, kali ini RiseTAFDI mau berbagi trik menggandakan rupiah. Langsung aja ya. Tidak perlu ke dukun atau paranormal. Sangat mudah dan praktis. Bisa praktekkan sendiri di rumah. Hanya dua cara saja :

Pertama, baca bismillah.

Kedua, letakkan uang Anda di depan cermin berapapun nominalnya.

Sekarang lihat di cermin! Uang Anda sudah bertambah kan? 😀

Semakin banyak Anda meletakkan uang di depan cermin, maka akan semakin berlipat-lipat jumlah uang Anda.

Hehe.. Mohon maaf ya Sobat, itu tadi hanya guyon. Kalau yang ini baru serius, beneran.

MAU PUNYA BANYAK FULUS ???

“Mintalah pada Alloh, walaupun hanya secuil Garam”

Maksudnya, sekecil apapun permintaan, hendaklah berdiri di hadapan “pintu” Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Yang mana apabila seseorang berdiri di hadapan pintu Alloh, maka tidak akan pulang dengan tangan hampa.

(Alkisah) pada masa kholifah Hisyam bin Abdul Malik, tatkala sang kholifah berada di masjid Nabawi, ada seorang ‘Arifin yang sedang i’tikaf. Lalu dihampiri oleh sang kholifah. Kemudian ditanya, “Apakah kamu mempunyai hajat kepada saya?”

Berkata ‘Arifin tersebut, “Saya segan minta kepada Anda, sedangkan saya sendiri berada di rumah Alloh Ta’ala. Di rumah Zat Yang Maha Kaya, saya minta kepada makhluk?, malulah saya kepada-NYA”

Kemudian oleh sang Kholifah ditunggu beberapa saat, hingga akhirnya kholifah pun keluar. Tak lama, orang ‘Arif itu pun ikut keluar.

Didatangi kembali oleh kholifah. Rupanya sang kholifah begitu simpatik pada orang ‘Arif ini.

Ditanya lagi oleh kholifah, “Sekarang kamu sudah berada di luar Rumah Alloh, saya tawarkan sekali lagi akan hajat kamu kepada saya. Mau minta sesuatukah kepada saya?”

Berkatalah orang ‘Arif, “Anda menawarkan saya sebuah permintaan yang nantinya akan Anda penuhi, apakah permintaan itu menyangkut permintaan Akhirat, ataukah permintaan Dunia?”

Jawab kholifah, “Kalau permintaan akhirat, saya tak bisa penuhi karena bukan saya yang punya akhirat. Tapi kalau permintaan dunia, saya bisa penuhi karena saya punya dunia”

Kata orang ‘Arif, “Kalau dalam hal dunia, kepada Yang Menciptakan dunia ini saja saya tak pernah meminta, apatah lagi kepada Anda yang tidak menciptakan dunia.” 🙂

HIKMAH dan PESAN MORAL

MasyaAlloh! Orang ‘Arif tersebut sangat menjaga ‘iffah (kehormatan diri)-nya, sehingga tidak mau minta kepada orang lain, kendati terbuka peluang tersebut untuk meminta. Meski sebagian mereka memerlukan, namun demi menjaga ‘iffahnya, mereka lebih baik diberi tanpa meminta. Selain itu, orang yang selalu menjaga ‘iffahnya, mereka juga tidak mau ‘mengangkat matanya’ untuk mempunyai atau memiliki apapun yang dimiliki oleh orang lain (dalam hal keduniawian).

Ketika baginda Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam ditanya oleh Sahabat, “Ya Rosulalloh, apakah amalan yang apabila saya lakukan, Alloh sayang kepada saya, dan manusia pun akan sayang kepada saya?”

Maka baginda Nabi bersabda, “Izhad fiddun-ya yuhibbukalloh. Wazhad fiimaa ‘indan-naas yuhibbukan-naas”

(Zuhudlah kamu di dunia — yakni merasa cukup dengan apa yang Alloh berikan — maka Alloh akan sayang kepada kamu. Dan zuhudlah kamu dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, — yakni tak merasa dirinya ingin mempunyai apa yang dimiliki orang lain, tidak dengki terhadap kelebihan yang ada pada orang lain, serta tidak ada kepentingan apa-apa (menghendaki sesuatu) ketika bersahabat dengan orang yang lebih Kaya hartanya –, maka manusia pun akan sayang kepadamu).

Wallohu a’lam bishshowab. Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Amiin

Disarikan oleh RiseTAFDI team melalui kalam Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid [RBBT, 06 Februari 2016 | 00:15 UTC+7]

Powered by WordPress and MasterTemplate