INILAH 10 KAROMAH ORANG YANG BERSHOLAWAT

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Imam Muhammad ibn Sulaiman al-Jazuli adalah seorang ulama yang masyhur di kalangan Ahlussunah Wal Jama’ah, beliau juga merupakan seorang Imam besar Sufi yang berasal dari Maroko. Karya beliau yang sangat fenomenal dan populer adalah kitab sholawat “Dala’ilul Khoirot”.

Dikisahkan asal muasal Imam Jazuli menyusun kitab sholawat dala’ilul khoirot, bahwa suatu ketika tengah berjalan-jalan di padang pasir, saat waktu sholat tiba, beliau berusaha mencari sumber air untuk berwudhu dan melepaskan dahaganya.

Setelah beberapa saat menyusuri padang pasir, beliau menemukan sebuah sumur yang sangat dalam. Sumur itu masih menyimpan air, tapi sayang Imam Jazuli tak menemukan alat untuk mengambil air dari sumur.

Gambar latar adalah Endless Source (sumber air yang tidak ada habisnya) di kompleks makam Imam al-Jazuli (Muhammad ibn Sulayman al-Jazuli).

Ketika beliau tengah kebingungan mencari alat untuk mengambil air, tiba-tiba beliau melihat seorang anak perempuan kecil menghampiri beliau dari tempat ketinggian. Anak kecil itu bertanya, “Siapakah anda tuan, mengapa anda berada di tempat yang sesunyi ini?”

Imam Jazuli lantas menjelaskan hal ihwal beliau dan kesulitan yang tengah menimpanya.

“Anda adalah seseorang yang terpuji, yang terkenal karena keshalehan Anda!” seru anak kecil itu.

Anak perempuan kecil itu tampak kebingungan mencarikan alat untuk mengeluarkan air dari dalam sumur. Setelah agak lama mencari namun tak juga menemukan, si anak lalu mendekat ke bibir sumur dan meludah ke dalamnya.

Ajaib, air sumur tiba-tiba meluap sampai ke atas permukaan tanah!

Setelah minum dan merampungkan wudhu’-nya, Imam Jazuli lantas berkata, “Wahai anak kecil, sungguh aku kagum kepadamu! Dengan amal apakah engkau dapat meraih kedudukan setinggi ini?”

Anak perempuan kecil itu menjawab, Dengan memperbanyak membaca sholawat kepada orang yang apabila beliau (Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) berjalan di padang belantara, binatang-binatang buas akan mengibas-ngibaskan ekornya (menjadi jinak).”

Setelah mendengar penuturan anak kecil itu, Imam al-Jazuli lantas bersumpah akan menyusun sebuah kitab yang membahas tentang sholawat untuk Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Kelak, setelah kitab tersebut selesai ditulisnya, kitab itu dinamainya Dala’ilul Khoirot. Sebuah kitab yang masih terus dibaca hingga kini karena keberkahannya yang luar biasa.

Syeikh al-Fasi dalam kitab MATHOLI’UL MASARROT (syarah Dala’ilul Khoirot) menjelaskan tentang 10 karomah orang yang bersholawat kepada baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam (redaksinya dapat dilihat pada FOTO), yaitu sebagai berikut:

1). Mendapat Sholawat dari Malikul Jabbar (Raja Yang Maha Kuat – Alloh Subhanahu Wa Ta’ala)

2). Mendapat Syafa’at dari Nabi al-Mukhtar (Nabi yang terpilih – Sayyidina Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)

3). Menjadi Teladan bagi Malaikat al-Abror (Malaikat yang baik dan mulia)

4). Berbeda (tidak serupa) dengan orang Munafik dan Kuffar

5). Mendapat penghapusan daripada kesalahan dan Auzaar (dosa-dosa)

6). Mendapat pertolongan bagi tersampaikannya segala hajat dan Authoor (keperluan)

7). Bercahaya dan cemerlang Dzhohir (lahiriyah) dan Asror (bathiniyah)-nya

8). Dibebaskan dari huru-hara negeri Darul Bawar (Negeri yang hancur / binasa)

9). Masuk baginya kedalam negeri Darul Qoror (Surga yang terbuat dari emas merah).

10). Mendapat Salam dari Tuhan (Alloh Subhanahu Wa Ta’ala) ar-Rohiim (Maha Penyayang) dan al-Ghoffar (Maha Pengampun).

PESAN MORAL

Ketauhilah! bahwa SAYANG kepada orang yang diSAYANG itu sangat diSAYANGkan bila yang diSAYANGnya itu tidak SAYANG… 🙁

Tapi bayangkan, apa yang akan terjadi apabila kita MENCINTAI dan MENYAYANGI Sayyidina Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam (yang pada hakikatnya sama juga dengan mencintai dan menyayangi ROBB-nya)?

Maka setiap yang mencintai-Nya tidaklah akan sia-sia dan kecewa.. Ketahuilah, bahwa Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya pun akan membalas cintanya. 🙂 <3

Wahai orang-orang yang merindukan (cahaya keindahannya Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)… Bersholawatlah dan berikan salam penghormatan kepadanya (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)…!

“ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMAD, WA AALIHI WA SHOHBIHI WA SALLIM”

Wallohu Ta’ala a’lam.

RiseTAFDI team

Inilah Contoh Murid yang Menjadi Kebanggaan Gurunya

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Syeikh (Guru) itu ada yang benar, dan ada juga yang palsu, begitu juga para murid, ada murid yang benar-benar murid, ada juga murid yang palsu, maka tanyakan kepada diri kita, benarkah kita seorang Tholabul ‘Ilmi? pantaskah kita menyandang sebutan sebagai seorang murid?

Berikut adalah mau’idzhoh hasanah yang disampaikan oleh al-Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan (pengasuh Pondok Pesantren al-Fachriyah Tangerang), semoga bisa menjadi bahan renungan dan teladan bagi kita semua.


FOTO [Atas]: Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid saat bertemu guru beliau, al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz pada acara “Maulid Istimewa” di Majlis Ta’lim Darul Murtadza.
FOTO [Bawah]: Alm. Habibana Munzir bin Fuad al-Musawa ketika bersua dengan guru beliau, al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz saat acara di Majelis Rasulullah SAW.

1). Al-Habib Muhammad al-Haddar

Beliau merupakan guru dari al-Habib Umar bin Hafidz, juga guru dari al-Habib Zain bin Sumaith. Ketika masih menuntut ilmu di Rubath Tarim, beliau selalu menghabiskan setiap malamnya begadang menuntut ilmu, jika kantuk datang maka beliau membasahkan dirinya dengan air hingga hilang kantuknya, bahkan sekali waktu beliau naik ke atap rumahnya untuk menghilangkan kantuknya dan berkata kepada dirinya; “Kalau aku jatuh, maka aku mati”.

Beliau pun tidak mau ada hal yang mengganggunya dalam menuntut ilmu, diceritakan bahwa ketika datang surat dari keluarganya, maka beliau tidak membukanya dan disimpan terus seperti itu hingga selesai masa belajarnya, ketika surat-surat tersebut dibuka, diterangkan si fulan wafat, si fulan lahir, si fulan menikah dan lain sebagainya, beliau berbuat seperti itu karena saking takdzim (hormat)-nya dalam menuntut ilmu.

2). Al-Habib Abdullah bin Abdurrahman bin Syaikh Abubakar bin Salim

Ketika beliau sampai di Tarim, hari pertama langsung sibuk belajar. Zaman dahulu, apabila seseorang pergi belajar maka membawa kasurnya sendiri, beliau tidak pernah sempat membuka kasurnya, beliau selalu tertidur dalam posisi duduk lalu bangun shubuh dan lanjut lagi esok malamnya dengan keadaan yang sama, hal ini selalu dilakukannya terus-menerus hingga 4 tahun, hingga beliau tidak tahu siapa teman di sebelah kamarnya.

3). Al-Habib Abdullah Umar As-Syatiri

Beliau adalah guru dari semua ulama terkenal di zamannya, yang berkata; “Tidak pantas menyebut diri sebagai penuntut ilmu kalau tidak sholat tahajud”, bahkan belum bisa dikatakan belajar Fiqih jika belum hafal Zubad, Nahwu, dan Alfiah. Perbedaan kita dengan mereka bukan lagi seperti langit dengan bumi, tetapi seperti langit dengan sumur.

Diceritakan, bahwa seorang pernah datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal ingin menjadi murid mempelajari ilmu Hadist, maka malamnya disiapkan ember oleh Imam Ahmad, barangkali si calon murid ingin sholat tahajjud.

Esok subuh, Imam Ahmad menghampirinya dan mendapatkan calon murid tersebut baru bangun, sementara air di ember masih penuh, “Kenapa embermu masih penuh? engkau tidak sholat Tahajjud?” calon murid berkata tidak, maka berkata Imam Ahmad; “Jika belum tahajjud belum pantes belajar hadist”.

Harus diperbaiki dulu mental orang tersebut, tuntut ilmu untuk diamalkan bukan sekadar diriwayatkan.

4). Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa

Lihat… Begitu besar cinta Habib Munzir kepada gurunya yaitu al-Habib Umar bin Hafidz, sehingga kalau disuruh lompat terjun pun beliau akan lompat. Bagi Habib Munzir, kalau Habib Umar menyuruh melakukan A ya harus A, bukan a kecil tapi A besar.

Saya buka sedikit, dulu ketika Habib Munzir sering memajang foto Habib Umar beserta dirinya di jalan-jalan, Habib Umar berkata kepada saya untuk menyampaikannya; agar pada kedatangan beliau berikutnya, jangan tempel foto di jalan umum, sekedar pengumuman saja (tanpa foto), biarkan itu milik para orang politik.

Dan hal itu berlaku hingga sekarang. Ini penyerahan seratus persen terhadap gurunya, seperti mayat di hadapan gurunya.

Dulu di awal perjalanan dakwah, Habib Munzir sering keluar kota berhari-hari hingga banyak problem berupa sakit, tumpukan hutang, dll.

Maka datang surat dari Habib Umar melarang keluar kota dan perintah rinci lainnya tidak boleh begini, harus begini, dan lain sebagainya, serta tidak boleh pinjem sama siapapun. Banyak perintah berat dengan adanya surat tersebut, saya tahu isi surat itu karena bacanya bareng di kamar saya. Habib Munzir syok dengan keadaan tersebut, sampai berkata “Kalau ane tahu hati Habib Umar akan seperti ini, ane gak mau jadi ulama mending jadi tukang sate!”.

Sayyidina Umar bin Khoththob pernah berkata, “Andaikata aku tidak pernah dilahirkan ke dunia, andaikata ibuku mandul, andaikata aku dilahirkan sebagai seekor kambing, maka akan lebih ringan. Hanya makan, minum, gemuk, disembelih, dan selesai, tidak harus memikul tanggung jawab besar di hadapan Alloh”.

Saya bilang, “Ya Munzir… mau bagaimanapun berat dan ringannya, Habib Umar adalah guru kita… kita gak faham saat ini, tetapi ke depan bakal faham”

Ternyata betul!… urusan jadi beres, hutang selesai, dakwah hingga jadi seperti sekarang, dan lain sebagainya,

Jikalau bukan karena surat Habib Umar, gak bakal seperti ini. Dan semua itu pun perlu pengorbanan, mau makan pun susah karena sudah gak boleh pinjam, terkadang ke majelis naik taksi, kadang saya yang jemput,

Berkat taat dan kepatuhan, (hasilnya) bukan terlihat dengan banyaknya massa, akan tetapi dengan ridhonya Habib Umar terhadap beliau, simaklah bait-bait syairnya, beliau Habib munzir lakukan dengan penuh pengorbanan.

Intinya, JANGAN pernah melepaskan diri dari syaikh dalam keadaan apapun.

Semoga kita menjadi murid yang membanggakan guru, dan juga menjadi kebanggaan guru kita… Aamiin.

Wallohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Pengalaman saat Mendapat “Lirikan” dari Rasulullah ﷺ

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Sayyidina ‘Amru bin ‘Ash rodhiyallohu ‘anhu adalah salah seorang sahabat Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang pernah hadir dalam majelisnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Ketua Jam’iyyah Ulama Singapura (MUI Singapura), al-Fadhil Dr. Muhammad Hasbi saat memberikan hadiah berupa silsilah nasab Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz sampai kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam

Pada saat Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam sedang menyampaikan sebagaimana biasa baginda menyampaikan, ‘Amru bin ‘Ash selalu saja dilintasi atau dilihat atau dilirik oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dengan tatapan mata baginda.

Ekspresi wajah dan pandangan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam kepada ‘Amru bin ‘Ash difahami oleh ‘Amru bin ‘Ash sebagai pandangan yang begitu indah dan positif akan dirinya.

‘Amru bin ‘Ash dalam memahami reaksi pandangan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bergumam dalam hati, “Aku sepertinya orang yang paling dicintai oleh Nabi. Aku sepertinya orang yang paling disayangi oleh Nabi. Lihat dari pandangan Nabi, beliau pandang aku dengan senyuman”

Demikian penafsiran ‘Amru bin ‘Ash dalam memahami pandangan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam terhadap dirinya. Ia merasa bahwa dirinyalah yang paling disayangi dan dicintai oleh sang Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Khawatir penafsirannya salah, maka ‘Amru bin ‘Ash bertanya pada Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam (padahal kalau hal seperti itu tak ditanyakan, maka akan jauh lebih baik).

Selesai majelis, ‘Amru bin ‘Ash datang kepada Nabi dan bertanya, “Ya Rosulalloh, manakah yang lebih engkau sukai, aku atau Abu Bakar?”

“Abu Bakar”, Jawab baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Lalu ditanya lagi oleh ‘Amru bin ‘Ash, “Kalau aku dengan Umar?”

kata Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam , “Umar”

Belum puas, ditanya lagi dan lagi oleh ‘Amru bin ‘Ash, “Kalau aku dengan Utsman??”

Jawab beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam , “Utsman”

Yang keempat, ‘Amru bin ‘Ash tak berani tanya lagi kepada baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam 🙂

(Sebab bagi ‘Amru bin ‘Ash sekurang-kurangnya berada pada posisi empat sudahlah cukup. Andai awalnya tadi ia tidak bertanya pada Nabi maka akan lebih baik, karena akan senantiasa merasa dirinya disukai dan disayangi oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam).

Dari kejadian diatas, dapat kita lihat bagaimana Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam saat memberikan nadzroh (lirikan / pandangan mata)-nya kepada segenap yang hadir, maka berbagai macam persepsi positif muncul (didapat) oleh mereka yang dilihat oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Hal tersebut juga merupakan sifat baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang apabila berada di dalam majelis,

يُعْطِي كُلَّ جُلَسَائِهِ بِنَصِيبِهِ

“Yu’thiy kulla julasaa-ihi binashiibihi”

masing-masing orang yang duduk dengannya (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam ), maka akan mendapat bagian yang diinginkan dari baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

*Bagaimana dengan “perasaan” anda wahai saudaraku apabila mendapat pandangan khusus dari sang kekasih pujaan hati? Terlebih lagi kekasih itu adalah kekasih yang dikasihi oleh Yang Maha Pengasih yaitu sayyidina Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam ? 🙂

Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala kelak mengumpulkan kita bersama dengan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam. Allohumma Sholli wa Sallim wa baarik ‘alaihi wa ‘ala aalih. <3

Wallohu a’lam bishshowaab.

Disarikan oleh RiseTAFDI team dari kalam Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid

Yang Tinggal di Istana, Belum Tentu Bisa Merasakan Nikmat Seperti ini

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Dalam sebuah kesempatan, Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid, pengasuh Majlis Ta’lim Darul Murtadza, Kuala Lumpur pernah berkisah.

Bahwa suatu hari di zaman dahulu, ada seorang Raja memperhatikan dengan seksama, tingkah laku dari seorang pemuda yang sedang berbaring di bawah pohon rindang hanya dengan berbantalkan tangan.

Sang Raja memperhatikan pemuda itu bangkit, lalu mengambil sesuatu dari alas tidurnya, yang ternyata adalah sepotong roti kering.

Di depannya mengalir air sungai yang jernih. Oleh si pemuda, roti kering itu dibasahi dengan air sungai, kemudian dimakannya. Selesai makan, air sungai pun diminumnya.

“Alhamdulillaaaaaaaaaaaah 😀 ” begitulah ekspresi penuh ceria sang pemuda.

Raja merasa aneh setelah melihat ekspresi pemuda itu yang begitu puas dengan makanan roti kering dicampur air sungai.

Raja bergumam dalam hati, “nikmat apa yang dia dapat? Sampai-sampai dia punya ekspresi begitu luar biasa seperti itu…”

Lalu sang Raja menitahkan para pengawal untuk memanggil pemuda tersebut ke istana guna mengusir rasa penasarannya itu,

Ketika si pemuda datang menghadap,

Bertanyalah sang raja; “Kamu tak punya rumah, roti kering kamu makan, air minum pun kamu ambil dari sungai, lalu kamu ungkapkan perasaanmu seperti itu. Apa yang ada di fikiranmu sehingga kamu bisa mengekspresikan syukur dalam bentuk seperti itu?.. ”

Pemuda itu berkata; “wahai tuan Raja, kalau tuan Raja makan suatu makanan, dan makanan itu tidak bisa masuk – menyangkut di tenggorokan, kecuali dengan air. Dan air itu tidak bisa didapat kecuali dengan separuh kerajaan yang tuan punya. Apakah tuan Raja akan beli air itu dengan separuh kerajaan tuan? “

“Ya tentu saja, takkan ku biarkan makanan menyangkut disini (*sambil menunjuk tenggorokan)” timpal sang Raja.

Berkata orang itu: “wahai tuan Raja, kalau air yang sudah diminum itu tidak bisa keluar, kecuali dibeli dengan separuh lagi kekayaan kerajaan tuan raja. Adakah tuan raja akan membelinya?”

“Ya tentu saja, siapa yang mampu menahan rasa sakit tidak bisa buang air kecil?” demikian sahut sang Raja.

Jawab pemuda; “Nah, kalau begitu kekayaan tuan raja tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan segelas air dan nikmatnya “buang air”….. Saya mendapatkan tempat berteduh secara cuma-cuma, air pun didapat secara cuma-cuma, punya roti, bukankah itu sebesar-besarnya nikmat yang Alloh berikan?” 🙂

MasyaAlloh! Yang di istana, tidak merasakan betapa nikmat seorang yang hanya makan, minum, dan tidur di bawah pohon.

Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

“Laisal ghina bi-katsrotil ‘arodh, wa lakinnal ghina ghinan-nafs”

(Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kekayaan hati).

(Shohih, di dalam kitab Takhrijul Misykah (16). (Bukhori, 81- Kitab Ar-Riqoqu, 15- Bab Al Ghina Ghinan-nafsi. Muslim, 12- Kitab Az-Zakat, 40- Laisal Ghina ‘an katsrotil ‘arodhi, hadits 120).

CATATAN:

Ini merupakan sifat “bathiniyah”, BUKAN sifat “lahiriyah”. Jadi, jangan menjastifikasi (menghakimi) seseorang yang memiliki banyak kekayaan harta sebagai “kufur” nikmat. Tidak!

Sebab belum tentu demikian. Banyak juga orang kaya dengan harta berlimpah, akan tetapi hati-nya tetap kaya. Sebaliknya, ada juga orang miskin, sudah miskin harta, miskin pula hatinya.

Oleh sebab itu, sifat “dalaman” ini TIDAK BOLEH diukur dengan sesuatu yang dzohir (terlihat).

HIKMAH dan MUHASABAH:

Maksud dari ilustrasi diatas bukanlah menyuruh kita untuk hidup miskin-melarat. Bukan pula memaksa kita agar berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan harta berlimpah. Walaupun ada benarnya juga bahwa umat Islam harus kaya guna menolong ummat, guna membangun madrasah, masjid, dan lain sebagainya.

Namun dari ilustrasi diatas, sesungguhnya ada pelajaran yang lebih penting. Yakni kita dituntut agar senantiasa memiliki “kekayaan hati”, bagaimanapun situasinya.

Sebab, orang miskin apabila ia memiliki “kekayaan hati”, maka sekalipun tinggal di ‘lubang semut’, hidupnya akan terasa lapang, tidak diliputi dengan kedengkian kepada si Kaya, serta senantiasa tidak berputus asa dari rahmat Alloh.

Adapun bagi si-Hartawan, apabila ia memiliki “kekayaan hati”, maka hidupnya akan jauh dari ketamakan, senantiasa berjiwa sosial, kalaupun harta miliknya lenyap dalam seketika, maka tak akan merubah “kekayaan hati”-nya kepada Alloh.

Demikianlah yang dimaksud dengan ghinan-nafs <3

Wallohu a’lam bishshowaab

Allohumma Sholli wa Sallim wa Baarik ‘Alaihi wa ‘Ala Aalih 🙂

RiseTAFDI team

KIAT-KIAT SUKSES dalam Menghadapi Ujian Sekolah dan Ujian Hidup

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Dewan Guru Majelis Rasulullah SAW, al-Habib Muhammad Bagir bin Alwy bin Yahya di hadapan Civitas Akademika SMK Perguruan Rakyat 2 (12 Jumadil Akhir 1438 H / 11 Maret 2017 M), menyampaikan beberapa kiat sukses dalam menghadapi ujian sekolah maupun ujian hidup. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1). Selain giat belajar, juga harus menjauhi perbuatan DOSA dan MAKSIAT.

Al-Imam al-Habib Abdulloh bin ‘Alwi al-Haddad berkata, “Dosa itu bagaikan racun. Bahkan lebih (bahaya) dari racun. Karena racun hanya menghancurkan fisik, sedangkan dosa dapat mengancurkan hati. Padahal hati adalah tempat Alloh memandang”

Dawuh Baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam;

إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

“Sesungguhnya Alloh tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Alloh melihat kepada hati dan amal kalian”

2). Jangan lepas dari berdzikir kepada Alloh.

Hiasi lisan dengan selalu berdzikir kepada Alloh Ta’ala. Orang yang berdzikir kepada Alloh, senantiasa diliputi dengan ketenangan dan ketentraman. Sebagaimana Firman-Nya dalam Quran Suroh ar-Ro’du ayat 28:

ألا بذكر الله تطمئن القلوب

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh hati menjadi tenteram”

3). Jauhi makanan yang haram.

Selain menjauhkan diri dari makanan yang harom, sebagai kalangan terpelajar patut juga memiliki sifat malu, yakni dengan menutup AURAT. Ciri wanita yang sholehah adalah malu apabila ia membuka auratnya, dan menangis apabila sampai terlihat auratnya kepada yang bukan muhrim.

4). Jauhi perkumpulan yang buruk.

Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.

Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya.

Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.

Oleh sebab itu, maka perhatikanlah dengan siapa kita bergaul!

Demikian intisari Nasihat yang dapat kami himpun. Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Akibat Tak Mampu Menahan Marah

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Qudwah kita, baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam telah mengajarkan bahwa barangsiapa yang berada dalam keadaan marah, maka hendaklah ia berwudhu. Sebab marah itu datangnya dari syaitan. Dan syaitan dibuat dari api, sehingga tiadalah yang dapat memadamkan api kecuali dengan Air.

Redamlah marah dengan berwudhu, karena tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam keadaan marah, mesti tindakannya SALAH.

Di dalam al-Quran, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memberikan beberapa contoh, dan contoh ini terjadi pada orang-orang hebat. Yang dari contoh itu kita dapat mengambil i’tibar bagaimana marah apabila menguasai seseorang, maka orang tersebut tidak dapat mengontrol tindakannya.

Sebagai contoh, KISAH NABI MUSA ‘ALAIHISSALAM berikut ini..

Nabi Musa ‘alaihishsholaatu wassalam ‘berjumpa’ dengan Alloh Ta’ala selama 40 hari. Setelah berjumpa dengan Alloh, beliau membawa “alwah” atau “lauh-lauh” (Taurat / papan berisi Firman Alloh Ta’ala), berisi pesan dari Alloh, dan firman Alloh yang Mulia berada dalam lauh-lauh tersebut.

Ketika turun dari bukit Thursina, baginda amat terkejut ketika mendapati umatnya. Tampak bani Israil telah menyembah patung lembu yang dibuat oleh Samiri. Melihat perilaku bani Israil yang sedang melakukan perkara syirik kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, menjadi murkalah Nabi Musa.

Altar Bani Israel di dekat Jabal Lawz, Arab Saudi. Tempat umat Nabi Musa (Bani Israel) menyembah patung anak lembu buatan Samiri saat ditinggal oleh Nabi Musa pergi bermunajat kepada Alloh selama 40 hari di bukit Thursina.

Nabi Musa dikenal sebagai orang yang memiliki gairah, yakni perasaan cemburu apabila kehormatan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dinodai. Dalam keadaan Nabi Musa sedang marah, dilemparkan Lauh-Lauh itu dari tangannya.

Bukankah dalam al-Lauh itu terdapat ayat-ayat Alloh???

Setelah itu, baginda pun pergi menemui Nabi Harun, kemudian ditarik olehnya baju Nabi Harun dengan kuat seraya berkata, “aku tinggalkan kamu untuk menjaga bani Israil, tapi mengapa kamu biarkan mereka melakukan perkara yang syirik kepada Allohu Subhanahu Wa Ta’ala?!!”

Lalu Nabi Harun memberi tahu, “wahai saudaraku, kalau saja aku larang mereka, niscaya mereka akan membunuhku. Aku tunaikan amanah engkau, tapi mereka mengancam akan membunuhku”

Setelah mendengar keterangan Nabi Harun, menjadi redalah kemarahan Nabi Musa, diambil kembali Lauh-Lauh yang berserakan, dan kemudian berdo’a kepada Alloh, “Ya Alloh, ampunkan dosa saya dan saudara saya ini”

Padahal sebelumnya tadi, apa yang Nabi Musa perbuat saat sedang Marah?

Baginda mencampakkan Lauh-Lauh yang dibawanya, memarahi Nabi Harun, bahkan menarik baju kakak kandungnya sendiri (riwayat lain mengatakan menarik janggut Nabi Harun. Ada pula yang mengatakan; menampar).

Demikianlah keadaan seseorang apabila marah menguasainya.

PESAN MORAL

Bukan perkara yang aib apabila seseorang memiliki sifat marah, justru yang aib adalah apabila seseorang tidak punya sifat marah. Tapi orang yang istimewa adalah orang yang punya sifat marah, namun mampu ‘mengawal’ (menahan) amarahnya.

Suatu peristiwa terjadi saat sayyidina Abu Bakar Shiddiq rodhiyallohu ‘anhu berada di Masjid Nabi. Ketika itu beliau dimaki oleh seseorang di hadapan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Orang Badui tersebut terus mengeluarkan kata-kata yang tidak karuan. Seketika sayyidina Abu Bakar melihat di hadapannya ada Rosululloh maka beliau pun menahan amarahnya.

Semakin sayyidina Abu Bakar diam, maka semakin tak berhenti pula orang itu memakinya. Lama-lama sayyidina Abu Bakar pun tak tahan, sehingga beliau bangkit dari duduknya dan marah juga pada orang tersebut.

Melihat hal demikian, baginda Nabi bangkit dari duduknya lantas pergi. Dikejarlah oleh sayyidina Abu Bakar, “Ya Rosulalloh, mohon maaf kalau saya tadi telah mengganggu kenyamanan duduk Tuan”

Kata baginda Nabi, “Kamu tadi, saat orang itu memaki, dan kamu tidak melayani marahnya orang itu, aku lihat banyak para malaikat datang mengelilingi kamu. Tapi ketika kamu bangkit dan marah juga, malaikat pergi, syaithon datang, dan aku tidak duduk di tempat yang ada syaithon.”

ShodaqAllohul ‘Adziim, wa Shodaqo Rosuuluhul Kariim, wa Nahnu ‘ala dzalika minas Syaahidiin was Syaakiriin, walhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin. 🙂 <3

Wallohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin

Amalan Agar Tidak Didekati Syaithon

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Sebelum membahas amalan yang dapat dibaca agar tidak didekati syaithon, mari terlebih dahulu baca kisah Poltax berikut ini :

Suatu malam Poltax pulang lembur, di jalan ia bertemu wanita (wn) cantik.

Poltax: “Neng, pulang lembur juga ya?”

Wn: “Enggak. Sok tau deh”

Poltax: “Kalo Neng bukan karyawan, berarti bidadari dong? Abang rela lembur tanpa dibayar asalkan bisa ketemu Neng tiap malam”

Wn: “…..???…..”

Poltax: “Baju kamu putih bersih ya, sama seperti hatiku..”

Wn: “Masa?”

Poltax: “Iya, tidak ada noda satupun yg bisa mengotori hatiku kecuali senyummu..”

Wn: “Gombal aja, pulang sana, kalo rumah Abang kebakaran gimana?”

Poltax: “Gak apa-apa, soalnya kalo ada kamu apinya jadi api asmara, hehe. Abang boleh kenalan ga?”

Wn: “Yakin mau kenalan?”

Poltax: “Yayakinlah. Kalo kamu ga punya nama berarti bener dong kamu bidadari?”

Wn: “ihh lebay deh dari tadi bidadari bidadari mulu, sekali-kali kamu bangga dong bisa kenalan sama KUNTILANAKK hihihihihih… *ngikik horror*

Poltax: “ALAMAKK!” *kabur*

Siapa nih yang “selfie” di belakang?

Besok malamnya Poltax yang baru pulang lembur bertemu wanita cantik lagi. “Wah ada cewek malam-malam begini sendirian! Hmm pasti perempuan tidak bener ini, dasar jablay, aku maki-maki ah.”

Poltax: “Kok disini? Kupu-kupu malam ya?”

Wn: “Jangan sembarangan ngomong kamu!”

Poltax: “Malam-malam sendirian, ngapain lagi kalo bukan nunggu pelanggan?!”

Wn: “Woey jaga mulut lo!”

Poltax: “Udah ngaku aja! Malam-malam pakai daster putih, pasti biar gampang bukanya kan?”

Wn: “Heh Denger ya…! Gue biar kuntilanak juga masih punya harga diri taukk!!!”

Poltax: “Ja.. Ja.. Jadi.. Ayamku.. *mundur merangkak*

——

Besok malamnya lagi, Poltax ketemu wanita cantik lagi dan lagi. Beruntung banget dia. 😀

Poltax: “Adek kok sendirian aja, Abang temenin ya?”

Wn: “Jangan ganggu aku dong Bang!”

Poltax: “Kenapa emang?”

Wn: “Pacar aku galak lho!”

Poltax: “Halah keciil.. Mana pacarmu itu, biar abang kasih pelajaran!”

Wn: “Emang berani?!”

Poltax: “Siapa takut?! Jangankan cuma pacarmu, pocong aja abang libas!”

Wn: “Lho kok tahu sih nama cowokku?”

Poltax: “Cowokmu?! Kayak kuntilanak aja sih pacaran sama pocong?”

Wn: “ih Abang pinter deh, tau namaku juga! Hihihihihi…”

Poltax: *sambil grogi* “Neng, kalo mau lari ke arah mana ya?”

——

Besok malamnya lagi, Poltax baru pulang kantor, di jalan ketemu wanita cantik lagi dan lagi. “Ada cewek malam-malam, jangan-jangan kuntilanak lagi! Hii serem trauma gua!” Batin Poltax.

Wn: “Mau kemana, Bang?”

Poltax: “Hii… Kamu kuntilanak ya?”

Wn: “Enak aja!”

Poltax: “Hufft… Untung ternyata bukan, jadi kamu cewek beneran?”

Wn: “Makanya lihat-lihat dulu jangan main tuduh aja!”

Poltax: “Sorry deh, sorry, hehe..”

Wn: “Lain kali sebelum nuduh perhatiin baek-baek dulu, kuntilanak apa bukan!”

Poltax: “Iya deh, Saya juga ragu masa cewek secantik Neng Kuntilanak. Namanya siapa sih Neng?”

Wn: “ihh malah ngajak kenalan. Serius? Emang udah perhatiin aku baik-baik?”

Poltax: “Ahh bikin penasaran aja si Eneng. Emang kenapa sih Neng?”

Wn: “Lihat nih punggung gue, bolong kan? Itu artinya gue Sundel Bolong! Bukan kuntilanak!”

Poltax: *muntah kembang tujuh rupa*

Malam besoknya, Poltax terpaksa pulang kerja lewat jalan lain. Sayangnya di jalan itu terdapat sebuah Pemakaman Umum. Malam itu pas dia lewat, ada wanita cantik sedang serius melihat-lihat sebuah batu nisan.

Poltax: “Neng papa kamu dukun ya?” *mau ngegombal ceritanya*

Wn: “Ga tau Bang, saya orang baru di sini”

Poltax: “Haduh, harusnya tuh jawab ‘kok tau’ gitu!”

Wn: “Kenapa harus kok tau?”

Poltax: “Soalnya kamu pemberani banget di kuburan sendirian. Emang ga takut hantu?”

Wn: “Enggaklah”

Poltax: “Kalo aku sih takut sama hantu. Tapi aku lebih takut kalo kehilangan kamu..”

Wn: “Eeaa..” *cabut-cabut batu nisan*

Poltax: “Nisannya kenapa dicabutin Neng?! Lebih baik neng nyabutin hatiku aja..”

Wn: “Aku marah Bang! Tanggal matiku salah tulis, padahal baru tadi pagi aku dikubur!” *banting nisan*

Poltax: *lari tanpa permisi*

——

Poltax terus berlari berusaha meninggalkan lokasi pemakaman, tapi tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu, akhirnya sukses tersungkur di tanah. Saat itulah dia melihat seorang perempuan duduk rileks di batu nisan sambil mainin hape.

Poltax: “Neng pinjem hapenya bentar, buat nelpon temen suruh jemput?”

Wn: “ih jangan dong, orang lagi dipake fesbukan. Lagi baca Status Lucu nih!”

Poltax: “Fesbukan kok di atas kuburan. Kamu gila ya?!”

Wn: “Kan sekalian nyari sinyal, Bang. Di dalam sinyalnya lemah, hihihihihiH

Poltax: “Tuluuung..!” *lari lagi*

——-

Di gerbang pemakaman, Poltax berjumpa wanita lagi. Sambil ngos-ngosan senin kamis, Poltax mendekati wanita tsb…

Poltax: “Eh Neng, numpang tanya..”

Wn: “Mau nanya apa, Bang?”

Poltax: “Masak udah dua kali saya ketemu hantu! Emang kuburan ini angker ya?”

Wn: “Kayaknya enggak deh bang, sudah 5 tahun saya dikubur di sini ga pernah ada kejadian apa-apa kok”

Poltax: *pingsan sepingsan pingsannya*


Maaf ya Sobat, kisah di atas hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Adapun kisah riil (nyata), adalah sebagaimana yang dialami oleh Sahabat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, yaitu Sayyidina Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu saat beliau ditugaskan menjaga “baitul maal” oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Pada malam ia berjaga, bertemulah Abu Huroiroh dengan seorang yang mencuri, maka ditangkaplah oleh Abu Huroiroh.

Kata Abu Huroiroh kepada pencuri tersebut, “Aku laporkan kamu kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam “

Orang itu berkata, “Aku miskin, aku tak makan, aku lapar, bla, bla…dst”

Mendengar alasan si Pencuri, menjadi tak tegalah Abu Huroiroh sehingga melepaskannya.

Kemudian pada keesokan harinya Abu Huroiroh berjumpa dengan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan menceritakan hal yang terjadi.

“Ya Aba Huroiroh, apa yang kau perbuat dengan orang yang kau tangkap semalam?”, tanya baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Kata Abu Huroiroh, “Ya Rosulalloh, dia mengaku kelaparan sehingga aku tak tega dan melepaskannya”

Kata baginda Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam , “Malam ini dia akan balik, dan kembali mencuri”

Mendengar dari baginda Nabi bahwa pencuri tersebut akan datang kembali, maka Abu Huroiroh standby (siap siaga) pada malam berikutnya.

Benar saja, untuk kali yang kedua Abu Huroiroh menangkap pencuri yang sama dengan malam sebelumnya.

Ditangkap oleh Abu Huroiroh, “Kali ini benar-benar aku akan laporkan engkau kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam “, demikian ancam Abu Huroiroh.

Si-pencuri mengatakan, “Mohon kasihanilah, aku lapar, keluarga saya tidak makan, bla, bla, (berbagai macam alasan dia kemukakan)”

Abu Huroiroh ini orang miskin, hatinya lembut, dan mudah kasihan pada seseorang. Sehingga untuk kedua kalinya pun akhirnya ia lepaskan pencuri tersebut.

Keesokan harinya berjumpa lagi dengan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan Abu Huroiroh beritahukan pada baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam . Lalu tanya Nabi, “Apa yang engkau perbuat dengan orang yang kau tangkap itu?”

Maka Abu Huroiroh menjelaskan panjang lebar kronologis-nya yang membuat ia tak tega dan terpaksa melepaskan si pencuri.

Kata Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam , “Dia akan kembali malam ini juga untuk mencuri”

Setelah mengetahui bahwa pencuri tak jera, dan dia akan balik untuk yang ketiga kalinya. Maka Abu Huroiroh makin bertambah siap dan siaga. 🙂

Malam itu, datanglah si pencuri dan ditangkap oleh Abu Huroiroh, “Kali ini tidak ada ampun lagi bagimu!” demikian ancam Abu Huroiroh tidak main-main.

Lantas orang itu berkata, “Ya Aba Huroiroh, maukah engkau aku berikan suatu amalan yang apabila engkau amalkan, engkau tidak akan dihampiri (didekati) oleh Syaithon? Tapi dengan syarat, lepaskan aku setelah aku beri tahu.”

Pandangan Abu Huroiroh, selagi ini membawa manfaat dalam hal agama dan akhirat, kenapa tidak? Maka diterima usul dari pencuri tersebut.

Lalu kata orang tersebut, “Kalau kamu mau tidur bacalah AYAT KURSI, maka kamu tidak akan dihampiri oleh Syaithon.”

Esok hari Abu Huroiroh pergi berjumpa dengan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan menceritakan kejadian semalam.

Kata Abu Huroiroh, “Yaa Rosulalloh, dia memberitahukan kepadaku sebuah amalan yang apabila aku lakukan maka tidak akan dihampiri Syaithon. Dan dia juga memberi tahu kalau mau tidur hendaklah membaca AYAT KURSI

Sabda baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam , “Shodaqoka wahuwa kadzuub” (Dalam hal ini apa yang dia sampaikan benar, walaupun dia adalah pendusta).

“Yaa Aba Huroiroh, kamu tahu siapa yang kau tangkap tiga kali ini?” tanya Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Jawab Abu Huroiroh, “Allohu wa Rosuluhu A’lam” (Alloh dan Rosul-NYA yang lebih mengetahui).

Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam memberi tahu, “itu adalah SYAITHON

PESAN MORAL

AYAT KURSI berkhasiat untuk mencegah kita dihampiri oleh syaithon. Selain waktu akan tidur, Ayat Kursi dapat juga dibaca setiap waktu. Baik di pagi hari, maupun di malam hari. Baik sebelum Sholat, maupun sesudah Sholat. Baik saat keluar rumah, maupun masuk rumah. Biasakan membaca Ayat Kursi secara istiqomah, niscaya Alloh akan menjauhkan kita dari Syaithon yang terkutuk.

Wallohu a’lam

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

JANGAN SIA-SIAKAN AIR MATAMU

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Foto hanya sebagai ilustrasi

Ga semua memang, tapi kebanyakan wanita diciptakan lebih sensitif menangis dibanding pria. Mudah meneteskan air mata. Jika pria di saat sudah terpojok jurus terakhirnya adalah ngeles, maka senjata terakhir wanita adalah menangis.

Sebagaimana yang dialami Wulan dalam cerpen Zuck-Linn (karya Arizuna Zuckirama) berikut ini…

#AirMataWulan

Sore tadi Wulan mengadakan kunjungan persahabatan ke rumah Linn.

Glotak! Dengan serampangan, Wulan menghempaskan tasnya yang terbuat dari kulit kadal di atas meja. Lalu duduk di samping Linn sambil menggerutu ga jelas. Sementara Linn, masih asik ngupil sejak dua jam tadi.

“Halo Linn. Gue tamu nih, ga dibikinin minuman apa-apa?” sapa Wulan.

Tapi sapaan Wulan ga dapat respon. Linn masih asik ngupil. Jari telunjuknya mengobok-ngobok lubang hidungnya sambil mendesah-desah keenakan.

“Linna! Stress lo ya?!” merasa dicuekbebekin, Wulan terpaksa menghardiknas.

Linn kaget. Menoleh kepada Wulan. “Hai Wulan. Barusan aku kaget lho.”

“Bodo amat!” sahut Wulan keki.

“Muahaha… Pengantin baru kok jutek gitu sih? Kenapa, kenapa?”

Wulan diam. Matanya mulai berkaca-kaca spion, sedetik kemudian air mata itu muncrat kemana-mana.

“Bocor, bocor. Matamu berair, Wul. Kamu nangis, ya?” Linn panik. Nyodorin tisu untuk Wulan.

“Yaiyalah nangis. Lo pikir gue pipis lewat mata?!” Wulan mengusap-usap airmatanya pake tisu, setelah itu tisunya dikembalikan kepada Linn.

“Nangis kenapa sih?”

Wulan justru makin semangat nangisnya. “Anto Linn, Anto. Suami gue. Hiks.”

“Iya, iya. Suami kamu kenapa? Direbut tetangga? Meninggal? Cerita dong,” Linn kuatir.

“Dia… Dia ternyata orangnya ga romantis, Linn, huhuhuu..”

Linn mendengus. “Ya Alloh… Cuma masalah begituan?”

“Itu nyebelin banget tau ga sih Linn? Nyebelin!”

Linn menatap Wulan penuh tanda tanya. “Jadi ceritanya kamu nyesel nikah sama Anto?”

Wulan terdiam cukup lama, “Gue cuma pengen dia romantis dan perhatian ke gue. Masa pendiam banget gitu, ngomong sama gue kalo pas lagi lapar aja. Gue kesepian, Linn. Rumah kami yang megah itu sepinya udah kayak kuburan tua. Mendingan gue tinggal di gubuk derita deh, tapi punya suami yang romantis, suka becanda dan bisa bikin gue nyaman..” cerocos Wulan sambil menatap Linn penuh tanda seru.

Linn termenung tiga jam. “Gimana kalo kamu aja yang memulai keromantisan itu. Kamu coba godai suami kamu. Kamu gombal-gombalin dia. Kalo diem dibales diem ya diem-dieman gitu jadinya ga selese-selese,” Linn memberi saran.

Mata Wulan tiba-tiba berbinar. Tangisnya terhenti. Kemudian tersenyum lebar sampai ke kuping. “Ga nyangka lo punya usul sebriliant ini, Linn. Ga rugi gue punya sahabat kayak elo. Makasih, yah. Muah!” kisbai Wulan, kemudian bergegas pulang.

HIKMAH dan MUHASABAH dari Kejadian yang Dialami Wulan

Terkadang air mata kita mudah jatuh berderai hanya untuk menangisi sesuatu hal yang tidak penting. Jangan sampai air mata yang keluar ini menjadi sia-sia.

Sebagai perbandingan sekaligus pembelajaran, bolehlah sekali-kali kita lihat bagaimana para Anbiya’ (Nabi-Nabi) dan Sholihiin (orang-orang Sholeh) ketika mereka menangis.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab Minhajus Saawi Thoriqoh ‘Alawiyah karya al-‘Allamah al-Habib Zein bin Ibrohim bin Sumaith (semoga Alloh melindungi beliau serta memberikan manfaat untuk kita) [Silahkan lihat dalam FOTO di bawah ini]

> (Paragraf 1): Tangisan Nabi

Dikisahkan, tatkala Nabi Adam ‘Alaihissalam turun ke bumi, maka beliau tinggal di bumi selama 300 tahun tidak mengangkat kepalanya ke langit lantaran malu kepada Alloh (karena telah memakan buah khuldi). Berkata ibn ‘Abbas, “Adam dan Hawa menangis selama 200 tahun atas hilangnya kenikmatan syurga, tidak makan dan minum selama 40 hari, dan keduanya tidak berjumpa selama 100 tahun”

Riwayat ini sekaligus meluruskan kisah ‘israiliyyat’ yang mengatakan bahwa Nabi Adam dan Hawa menangis karena perpisahan. Tidak! Namun mereka menangis lantaran khouf (takut) kepada Alloh Ta’ala.

>> (Paragraf 2): Tangisan Sholihiin

Diriwayatkan oleh (Imam) al-Ashma’i rohimahulloh. Suatu ketika beliau melihat (Sayyidinal Imam) Ali Zainal Abidin bin Husein Rodhiyallohu ‘Anhuma (cicit Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) menangis oleh karena rasa takutnya yang begitu besar kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, maka ia bertanya:

“Wahai Tuanku, mengapakah engkau beribadah sedemikian susah begini? Sedangkan engkau adalah Ahlul Bait (putra Husein, putra Fatimah, putri Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam), bukankah Alloh telah berfirman dalam (QS. Al-Ahzab ayat 33): Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.. ??”

Berkata Imam Ali Zainal Abidin bin Husein, “Wahai Ashma’i, tidak mungkin! Sesungguhnya syurga diciptakan untuk orang-orang yang taat kepada Alloh Ta’ala meskipun ia adalah seorang hamba sahaya Habsyi (yang hitam). Dan sesungguhnya neraka diciptakan untuk orang-orang yang maksiat kepada Alloh Ta’ala, meskipun ia adalah seorang tuan dari kalangan Quraisy.”

>>> (Paragraf 3): KESIMPULAN dan PESAN dari baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam:

”Setiap mata pada hari kiamat nanti pasti akan menangis, kecuali tiga :
1. Mata yang dipejamkan dari larangan Alloh
2. Mata yang dibuat jaga pada perang fii sabilillah
3. Mata yang menangis karena takut kepada Alloh”

Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala merizqikan kita air mata yang selalu diliputi dengan rasa Khouf (takut) dan Khusyu’ (tunduk) kepada-Nya. Aamiin… wa Shollallohu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. wAlhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin.

Wallohu a’lam bishshowaab.

RiseTAFDI team

Ketika Langit Cemburu kepada Bumi

Hikmah Isro dan Mi’roj

[FOTO]: Habib Ali Zainal Abidin al-Jufri sedang menunaikan sholat di bawah batu (shokhroh) tempat Nabi Muhammad SAW “take off” untuk Mi’roj meninggalkan orbit bumi

Kisah berikut ini termasuk dalam kategori Israiliyat (sejenis “legenda”) yang disadur dari Kitab Durrotun Nashihin (karya Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir al-Hubawiy, seorang ulama asal Konstantinopel) halaman 117 dengan sedikit penyesuaian. Kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Namun, cukup bisa dijadikan sebatas pengetahuan dengan tetap tidak menjadikannya sebagai dalil.

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Alkisah, bumi pernah membanggakan dirinya kepada langit, “Aku lebih baik daripada dirimu, karena Alloh menghiasi aku dengan berbagai negeri, lautan, sungai-sungai, pohon-pohon, gunung-gunung dan lain-lainnya.”

Langit berkata kepada bumi, “Justru aku yang lebih baik dari dirimu, Alloh telah menghiasi diriku dengan matahari, bintang-bintang, bulan, cakrawala, planet-planet dan lain sebagainya.”

Bumi berkata lagi, “Padaku terdapat Baitulloh (Ka’bah) yang selalu dikunjungi oleh para Nabi, para Rosul, para wali dan orang-orang mukmin secara umum, dan mereka selalu berthowaf kepadanya!”

Langit tidak mau kalah, ia berkata, “Padaku ada Baitul Makmur, dimana para malaikat selalu berthowaf kepadanya. Padaku juga terdapat surga, yang merupakan tempat ruh para Nabi, ruh para Rosul, ruh para wali dan semua ruh orang-orang yang sholeh!”

Jadi, hakikat sebenarnya dari ‘batu melayang’ adalah shokhroh tersebut. Bukan gambar palsu sebagaimana yang banyak beredar di internet. Apabila kita perhatikan, ternyata di bawahnya tidak mampat, melainkan terdapat ruang kosong yang besarnya seukuran musholla. Sehingga dapat dikatakan seolah-olah batu (shokhroh) tersebut ‘melayang’. Wallohu a’lam

Bumi berkata lagi, “Sesungguhnya pimpinan para rosul dan penutup para nabi, Kekasih Allohu Robbul ‘Aalamiin, seorang rosul yang paling mulia dari segala yang ada, Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, yang semoga salam dan penghormatan selalu terlimpah kepadanya, ia tinggal dan menetap pada diriku, dan ia menjalankan syariatnya di atas punggungku!”

Mendengar perkataan bumi yang membanggakan akan keberadaan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam pada dirinya, langit tidak bisa memberikan argumentasi tandingan yang sepadan.

Langit pun tahu bahwa Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam adalah makhluk termulia dan yang paling dicintai Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, dan faktanya memang tidak pernah sekalipun Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam menjejakkan kaki pada dirinya, apalagi membuat aktivitas-aktivitas yang membekas dan memberi kesan tersendiri pada beliau. Langit hanya terdiam, merasa kalah dan terpojok dengan posisi yang dibandingkan oleh bumi.

Tetapi kemudian langit menghadapkan diri kepada Alloh dan berdo’a, “Ya Alloh, Engkau selalu mengabulkan segala permintaan hamba-hamba-Mu yang dalam keadaan terdesak atau terjepit. Ya Alloh, saat ini aku adalah hamba-Mu yang dalam keadaan terdesak dan tidak dapat memberikan jawaban yang sepadan kepada bumi!”

Alloh Ta’ala memperkenankan doa langit tersebut. Saat itu adalah tanggal 27 Rojab, Alloh berfirman, “Wahai Jibril, hentikan dahulu tasbihmu pada malam ini! Wahai Izroil, pada malam ini janganlah engkau mencabut ruh terlebih dahulu!”

Tampak atas Shokhroh (batu tempat berpijak Nabi saat Mi’roj ke Sidrotul Muntaha). Batu Shokhroh ini berada di Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock), Yerusalem – Palestina

Malaikat Jibril berkata, “Ya Alloh, apakah kiamat telah tiba masanya??”

Memang, Jibril dan malaikat-malaikat lainnya tidak akan pernah berhenti melantunkan tasbih kepada Alloh, apapun keadaannya, kecuali jika hari kiamat telah tiba. Alloh berfirman lagi, “Tidak wahai Jibril, tetapi pergilah engkau ke surga, bawalah salah satu buroq disana dan bawalah Muhammad datang menghadap-Ku malam ini!”

Malaikat Jibril segera memenuhi perintah Alloh, ia datang ke surga dan melihat 40.000 buroq sedang merumput di padang rumput surga, pada kening buroq-buroq itu tertulis nama Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam . Tampak satu buroq menunduk dan air matanya terus mengalir, tidak merumput seperti yang lainnya. Jibril menghampirinya dan berkata, “Apa yang terjadi dengan dirimu, wahai buroq??”

Buroq itu berkata, “Wahai Jibril, sejak 40.000 tahun yang lalu aku mendengar nama Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, dan hatiku terbakar rindu untuk bisa bertemu dengannya. Kerinduan itu begitu meliputiku sehingga aku tidak bisa lagi makan dan minum, kecuali apabila aku telah bertemu dengan beliau (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)”

Malaikat Jibril tersenyum dan berkata, “Aku akan menyampaikan dirimu kepada orang yang selama ini kamu rindukan. Malam ini juga engkau akan bertemu dengan Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam”

Kemudian Jibril memasang pelana dan tali pengikat dari sutera surga pada buroq itu dan membawanya turun ke bumi. Setelah selesainya peristiwa Isro Mi’roj Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, langit pun bisa memberikan argumentasi kepada bumi dan ia merasa bahwa kedudukannya cukup sejajar dengan bumi.

Wallohu a’lam bishshowaab

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shihbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Mau Sedekah Tapi Nggak Punya Uang? Begini Caranya

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Suatu hari orang miskin (kaum dhuafa) datang berbondong-bondong melakukan demonstrasi yang terbilang ‘aneh’ kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Mereka berunjuk-rasa bukan lantaran didorong kekurangan sandang dan pangan. Bukan pula karena tidak kebagian jatah zakat fitrah atau seanting daging qurban. Melainkan khawatir akan kehidupan akhiratnya kelak.

“Ya Rosulalloh.. Menjadi orang kaya itu rasanya senaaang sekali, mereka banyak mendapatkan pahala.

Mereka sholat sebagaimana kami sholat, dan mereka pun berpuasa sebagaimana kami berpuasa.

Akan tetapi, kelebihan orang Kaya adalah mampu bersedekah dengan harta yang mereka miliki, sedangkan kami tak memiliki harta yang dapat disedekahkan 🙁 ”

Demikian keluhan orang miskin mengekspresikan isi hati mereka kepada baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Foto hanya sebagai ilustrasi

Mereka takut bagaimana jadinya apabila kehidupan kelak di ‘seberang’ makam tidak memperoleh pahala sebanding dengan ganjaran yang diterima oleh kaum berada.

Inilah “ghibthoh” (kecemburuan positif), yakni keinginan bersaing dalam hal kebaikan.

Maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam memberi tahu mereka dengan sabdanya, “Laisa qod ja’alallohu lakum ma tashoddaquuna bih?”

Bukankah Alloh telah menganugerahkan kepadamu wahai orang Miskin, yang dengannya kamu diganjar sama dengan bersedekah seperti orang kaya?

Tanya mereka, “Apa itu Ya Rosulalloh??”

Baginda menjawab, “Sesungguhnya setiap kalian mengucapkan tasbih “Subhanalloh” adalah sedekah.

Setiap melafalkan takbir “Allohu Akbar” adalah sedekah juga bagimu.

Sehingga apabila kamu tidak mampu bersedekah dengan harta, maka bersedekahlah dengan DZIKIR! Subhanalloh wal-hamdulillah wa Laa iLaaha iLLaLLohu Allohu Akbar..”

Ketika mendengar hal itu, menjadi giranglah perasaan orang-orang miskin, berbunga-bungalah hati mereka 🙂 <3

Namun disaat yang sama, orang Kaya mengetahui perihal orang miskin yang bisa bersedekah dengan dzikir.

Maka mereka pun tak mau ketinggalan sehingga melakukan hal yang sama, yakni ikut berdzikir juga! 😀

Menanggapi kondisi demikian, lantas orang miskin kembali lapor dan mengajukan ‘protes’ kepada baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Lalu dijawab oleh baginda Nabi dengan sangat bijaksana, “Ini adalah satu bagian nasib yang Alloh sudah tentukan kepada segolongan manusia yang tidak ada pada yang lain”

Kalau semua orang hidup Kaya Raya bergelimang harta, siapa yang mau bekerja??

Kalau semua orang hidup Miskin, lalu siapa yang akan memberi gaji??

Dan kalau tak ada orang Miskin, bagaimana pula orang-orang Kaya bisa memberi sedekah??

Jadi, mestilah ada kelebihan pada segolongan orang, dan kekurangan pada golongan yang lain. Karena hidup ini adalah saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Setuju?

Wallohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Powered by WordPress and MasterTemplate