Nasihat Pre Wedding untuk Para Jomblowers

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Sore semakin habis. Malam mulai menjelang. Zuck dan istrinya sedang menonton TV acara Adzan maghrib untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.

“Mas Zuck, Linn mau nanya dong,,,” tanya Linn.

“Nanya apa, Beb?”

“Teks adzan kalo di layar TV kan Asyhadu An-Laa ilaaha illalloh gitu, ya kan Mas ya? Tapi kok pelafalannya jadi Asyhadu Al-Laa ilaaha illalloh gitu sih? Beda..”

Zuck terdiam cukup lama. Lalu nyengir, “Hehe…”

“Ga tau, ya? Katanya lulusan Aliyah..” sindir Linn.

“Bukan ga tau, Sayang. Cuma sedang mengingat-ingat. Iya gini kalo ilmu jarang diterapkan, jadinya lupa. Bentar, bentar…” Zuck mengetuk-ngetukkan jari ke dengkul, berusaha mengoptimalkan otaknya mengingat ilmu-ilmu agama yang pernah dipelajarinya.

“Gayamu, Mas, Mas,” ledek Linn.

“Aku ingat!” Seru Zuck menghadap istrinya. “Itu karena idghom bilagunnah. Iya idghom bilagunnah. Idghom bilagunnah itu ada dua huruf, ‘lam’ dan ‘ro’. Dua huruf tersebut akan menghilangkan bunyi huruf ‘n’ jika bertemu nun mati, atau semua huruf yang dibaca an, in, un tanwin,” jelas Zuck penuh percaya diri.

“Beneran gitu?” kata Linn dengan tatapan takjub.

“Iya. Contohnya di lafadz adzan tadi, di kalimah syahadat juga. Bunyi huruf ‘nun’ melebur menjadi huruf ‘lam’. Peraturan Idghom bilagunnah adalah 1 harokat pada saat peleburan…”

Linn mesem. “Pinter ya?”

“Ganteng juga…”

Linn memencengin bibir, “Jadi pengen muntah-muntah gini sih, Mas? Padahal belum hamil…”

“Hahaha… Dasar!” Zuck mendekap geram Linn.

Linn meronta. “Jangan kenceng-kenceng gini kenapa sih meluknya. Istrinya kamu jadi ga bisa napas nih. Uff…”

“Tapi aku berharap, hubungan kita bisa seperti idghom bilagunnah itu, Sayang,” bisik Zuck kemudian, perlahan-lahan dan penuh perasaan.

“Maksudnya apa, Mas?” Linn memandang ga ngerti.

Zuck balas memandang Linn. “Idghom Bilagunnah itu selamanya cuma ada lam dan ro’. Begitupun hubungan kita selamanya, cuma aku dan kamu…

“Aduh, Mas…” rintih Linn, mendusel-dusel di dada Zuck.

“Udah ah. Ga usah lebay. Kita maghriban dulu ya?”

“Tapi kan baru wilayah Jakarta, untuk wilayah rumah tangga Zuck Linn belum?”

“Ya kita siap-siap dulu, Sayang. Sholat itu lebih keren kalo dikerjakan tepat waktu,” Zuck berdiri. Siap-siap ke kamar mandi untuk berwudhu.

Linn merentangkan tangan, “Gendong…”

“Ya Alloh. Manja banget sih?” Zuck geleng-geleng.

Linn bales menggeleng-geleng. “Manja sama suami sendiri masa ga boleh? Cuma minta gendong ke kamar mandi ini, bukan minta gendong kemana-mana kayak mbah Surip. Pelit banget…”

“Yaudah, yaudah. Dasar kamu…” Zuck akhirnya ngalah walau rada-rada jengkel.

“Muahaha…” Linn ngakak melihat tampang suaminya yang merengut ikhlas ga ikhlas.

Sampai di kamar mandi, Linn berwudhu duluan. Kemudian menengadahkan tangan membaca doa selesai berwudhu. Zuck hanya memandangi penuh kagum dan bangga wajah istrinya, ketika basah air wudhu begitu, kecantikannya meningkat 15%. Subhanalloh.

“Bangga punya istri kamu, Sayang.” goda Zuck sambil meraba wajah Linn.

“Hah! Kan Linn jadi batal lagi! Sengaja nih pasti. Aaa… Mas jahat!” Linn ngamuk-ngamuk manja. Kakinya menghentak-hentak jalan di tempat ga beraturan.

“Duh, iya, iya. Maap, Sayang, maap. Cepetan wudhu lagi gih.”

“Enggak! Mas aja yang wudhu duluan…”

“Enggak mau. Pasti kamunya nanti mau bales dendam batalin aku kan? Iya kan? Hahaha. Kebaca…”

“Iih… Dasar Masnya mau menang sendiri. Dasar! Dasar!” Linn menciprati Zuck dengan air bertubi-tubi.

Zuck ga terima. Sambil tertawa ia bales menciprati Linn. Akhirnya mereka saling ciprat-cipratan ga penting hingga pakaian keduanya basah. Dan terlanjur basah, yasudah mandi bareng sekalian.

Dan setelah mandi dengan durasi yang ga wajar, adzan maghrib mulai berkumandang dari masjid-masjid di sekitar kediaman mereka. Linn segera mengenakan mukenanya. Zuck menggelar sajadah, satu untuk dirinya, satu istrinya. Lalu tersenyum memandang Linn yang telah lengkap berbusana sholat.

Linn tersipu. “Udah ah, Mas. Ntar ga khusuk lho kita sholatnya?”

Zuck mengucap istighfar dalam hati.

PESAN MORAL

Tarbiyatul Aulaad (Pendidikan Anak-Anak) bukan dimulai saat anak itu lahir. Tetapi pendidikan anak justru bermula dari sebelum kita menikah, sebelum kita memilih calon pendamping hidup, baik laki-laki maupun perempuan. Disitulah awal pendidikan anak itu dimulai.

Foto Akad Nikah Ust. Muhammad Qolby (Munsyid Majelis Rasulullah SAW) oleh Habibana Munzir bin Fuad Al-Musawa

Ulama kharismatik asal Rembang Jawa Tengah, KH. Maimun Zubair (nafa’anallohu bihi wa bi ‘uluumihi fiddaroin, aamiin) memberikan dawuh tentang bagaimana memilih istri yang baik :

“Ketika kamu memilih istri, carilah wanita yang tidak terlalu tahu akan dunia. Karena kesholihan anakmu bergantung pada seberapa sholihah ibunya.

Sahabat Abbas rodhiyallohu ‘anhu mempunyai istri yang tidak suka berhias, sampai membuatnya malu saat keluar dengan istrinya. Tapi beliau mempunyai anak yang sangat alim, yaitu Abdullah ibnu Abbas.

Sayyid Husain cucu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam punya istri dari keturunan Raja Persia. Walaupun berasal dari Putri Raja, setelah menjadi istri Husain menjadi wanita yang tidak mencintai dunia. Maka mempunyai anak Ali Zainal Abidin bin Husain, paling alim dari keturunan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Para Kyai dari Sarang Jawa Tengah bisa menjadi alim seperti itu karena nenek-nenek mereka suka berpuasa.

Syekh Yasin al-Fadani ulama dari Padang yang tinggal di Makkah mempunyai istri yang pandai berdagang, dan punya dua anak. Salah satu anaknya menjadi ahli bangunan dan yang satunya lagi bekerja di bagian transportasi. Kedua anaknya tidak ada yang bisa meneruskan dakwahnya Syekh Yasin.

Di dalam al-Quran disebutkan dalam sebuah ayat:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam.” (QS. Al-Baqoroh: 223)

Istri itu ladang bagi suami. Seberapa bagusnya bibit ketika tanah atau ladangnya tidak bagus, maka tidak bisa menghasilkan padi (panen) yang bagus pula.

Intinya, bisa mempunyai anak yang alim (adalah) ketika istrinya tidak terlalu mengurusi dunia dan sangat taat atau patuh terhadap suaminya.

Ketika kamu lebih memilih istri yang mengurusi dunia, maka kamu yang harus berani riyadhoh (berdoa). Jika tidak berani riyadhoh, maka carilah istri yang suka berdzikir dan kamu yang memikirkan dunia atau kerja.”

Wallohu a’lam

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate