Misteri Ikan Berusia 2 Abad Di Atas Makam Sidi Ali al-Khowwash

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Seekor Ikan tergantung di atas makam Sidi Ali al-Khowwash

Alkisah, dahulu di negeri Mesir ada sepasang suami-istri yang saat itu terhimpit keterbatasan ekonomi hingga akhirnya sampai pada keputusan untuk menjual cincin perhiasan yang mereka miliki.

Maka pergilah Sang Suami untuk bekerja mencari ikan di Sungai Nil. Cincin yang rencananya akan ia jual di pasar selepas bekerja, pun sudah ia simpan dengan rapi di saku bajunya.

Rutinitas mencari ikan hari itu biasa saja baginya, kecuali sejak ia meraba saku yang tak lagi menyimpan cincin harapannya itu.

“Kemana cincinnya?”, ia mencari dengan gundah di setiap sudut perahu kecilnya. Tatapan matanya terhenti pada air, nampak bayangan wajahnya yang sedih bercampur panik dan bingung.

Sampai di rumah, ia malah disambut kepanikan sang istri yang memberondongnya dengan pertanyaan menyudutkan.

“Dimana?? Bagaimana bisa, mas?? Oh, kenapa ti..”, ia sudah tidak paham apa lagi yang istrinya pertanyakan.

Keesokan harinya, ia pergi berziarah ke makam Syeikh ‘Ali al-Khowwash. Ia bertawassul dalam keluh kesah doanya,

“ya Alloh.. Cincin itu benar-benar sangat berharga bagi kami. Bisakah Engkau kembalikan pada kami? Dengan doaku di makam kekasih-Mu ini, Ya Alloh.. kembalikan cincin satu-satunya milik kami itu. Ya Robb.. :'( “

Setelah berziarah, ia tak langsung pulang. Ia berangkat menjalankan rutinitasnya di sungai mencari ikan.

Tak lama berselang, ia bertemu temannya yang kemudian mengajaknya berbincang,

“Kamu sudah cari? Kamu yakin cincin itu hilang di sungai? Kalau begitu berdoalah, kawan.. Kalaupun kita tidak termasuk orang yang dekat dengan Tuhan, disana itu ada orang yang menjadi kekasih-Nya, beliau yang benar-benar dekat dengan Tuhan. Cobalah bertawassul dengannya…”

“Sudah.” jawabnya.

Harapan satu-satunya kini adalah doanya bisa terkabul, meski jika dicerna secara akal, maka akan terasa berat. Seberapa besar kemungkinannya? Cincin sekecil diameter jari, hilang di sungai sebesar Nil, lantas masih berharap ketemu?

Di penghujung hari, ia pulang membawa hasil tangkapannya. Tak banyak. Sama seperti hari-hari biasanya. Namun, cukuplah untuk membuat dapur mengepul dan pantas disandingkan dengan ‘isy (roti khas Mesir; makanan pokok).

Sampai di rumah, ia menuju dapur memberikan hasil tangkapan itu pada istrinya untuk diolah.

Saat ia beristirahat, istrinya berteriak histeris memanggilnya, “Mas..mas.. bukannya ini cincin kita?? Ini mas!”

Dengan tangan yang masih belepotan hasil mengolah ikan, istrinya menunjukkan cincin itu persis seperti yang hilang, “Ini, mas.. Ini..! Ini cincin kita!”

“Iya?? Yang benar saja? Iya, itu cincinnya! Alhamdulillah.. Alhamdulillah Ya Robb!” Pada muka mereka terpancar kebahagiaan yang beberapa hari sempat surut.

Di tengah kebahagiaan yang masih memancar, Sang Suami menjadi teringat akan doanya di makam waliyulloh Syeikh ‘Ali al-Khowwash.

Mendengar hal itu, istrinya pun menyambut baik inisiatif suaminya untuk tidak memakan seekor ikan yang membawa kembali cincin mereka. Mereka akan membersihkan dan menggantungnya di atas makam Syeikh Ali al-Khowwash.

Bangkai ikan yang tergantung di atas makam Sidi ‘Ali al-Khowwash. Walau telah berusia dua abad lebih, namun ikan itu belum lapuk dan masih terlihat jelas. Padahal ikan itu tidak pernah mengalami pembalseman untuk diawetkan

“Aku akan pasang disana agar para peziarah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memberikan karomah pada Syeikh ‘Ali al-Khowwash meskipun beliau telah wafat.”

Terhitung sudah 200 tahun lebih semenjak kisah ini ramai diperbincangkan oleh warga sekitar dan para peziarah. Tak ada secarik kertas pun yang mengabadikannya dalam tulisan. Cari saja di catatan sejarah manapun, di kitab biografi apapun, tak akan kita temui kisah ini.

Meski demikian, kisah ini tetap abadi dari satu guru ke muridnya, dari satu kakek ke cucunya. Bahkan bukan hanya kisahnya yang abadi, ikan yang ada dalam kisah ini pun masih terlihat jelas dan belum lapuk walau tidak ada orang yang berinisiatif mengawetkannya, misal dengan balsem atau sejenisnya.

Berikut adalah videonya:

Wallohu a’lam bishshowaab

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

Kontributor Kisah: Sarkub Mesir
Kontributor Video: Studio NUR Mesir (PCINU Mesir) & RiseTAFDI team

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate