Merasa Sumpek? Bacalah Quran!

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Al-Habib Alwi bin Abdulloh bin Syihabuddin pernah ditanya; wahai habib, Anda tidak pernah keluar Tarim. Selalu di dalam kota Tarim. Apa tidak sumpek di rumah? Tidak kemana-mana, tidak ada hiburan, apa tidak sumpek?

Lalu dijawab oleh beliau: “Dari mana saya bisa kena stress, sumpek, dan beban fikiran? Kan saya punya al-Quran”

Yang selalu merasa sumpek itu adalah orang yang tidak pernah baca al-Quran. Silahkan cari orang yang baru sumpek, stress, dan tidak tentram batinnya. Bagaimana sikap orang tersebut dengan al-Quran? Gimana nasib al-Quran dengannya? Pasti hidupnya jauh dari al-Quran.


Al-Quran tulisan tangan Ulama Nusantara Syeikh Daud bin Abdullah bin Idris al-Jawi al-Fathoni. Sampul dibuat dari kain sutera warna hitam. Ragam hias dengan menggunakan keelokan bunga mawar dan mawar segala bunga. Ukuran: 19×24 cm, tebal: 7 cm, tahun penulisan: 1251 Hijriyah

Sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan rodhiyallohu ta’ala ‘anhu berkata: “Kalau hati sudah bersih, maka tidak akan merasa kenyang (bosan) dalam membaca al-Quran”

Merasa bosan, jenuh, sumpek, dan ‘kenyang’ dalam membaca al-Quran, pertanda hati belum bersih.

(Sebagai bahan motivasi), dapat kita lihat bagaimana para Salaf begitu gemar dalam membaca al-Quran, diantaranya:

1). Sayyidina Utsman bin ‘Affan

Beliau menutup akhir sholat malamnya dengan 1 roka’at. Dalam satu roka’atnya itu, beliau baca Quran dari awal sampai khotam. Sehingga tiap malam khotam Quran hanya dalam 1 roka’at.

2). Al-Imam al-Habib Hasan bin Sholeh al-Bahr al-Jufri

Beliau menutup akhir sholat malamnya dengan 2 roka’at. Roka’at pertama, beliau baca al-Quran mulai dari awal sampai khotam. Sedang roka’at keduanya, beliau baca surat al-Ikhlas. Tidak banyak, cuma 90.000 kali 🙂

Sampai-sampai penulis manaqibnya berkata: “Seolah-olah adzan Shubuh menunggu salam-nya al-Habib Hasan bin Sholeh” MasyaAlloh! 🙂

3). Al-Habib Abdulloh bin Husein bin Thohir

Di luar bulan Romadhon, dalam sehari bisa menyelesaikan 20 Juz al-Quran. Sholat dhuha membaca al-Quran sebanyak 10 Juz, sholat witir baca al-Quran 10 Juz. Jadi, bisa 2 kali khotam dalam waktu 3 hari. Sehingga tiap bulannya, beliau mengkhotamkan al-Quran sebanyak 20 kali.

4). Al-Imam Syafi’i

Apabila sudah Romadhon, bisa khotam al-Quran sampai dua kali. Siang 1 kali khotam, dan malam 1 kali khotam.

5). Al-Imam al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Assegaf

Bahkan beliau bisa 8 kali khotam al-Quran. Siang sebanyak 4 kali khotam, dan malamnya 4 kali khotam.

MasyaAlloh! Demikian berkahnya waktu-waktu tersebut. Yakni waktu yang hari-harinya selalu diisi dengan membaca al-Quran. Lazimkan baca al-Quran. Rutinkan selalu tadarus quran dengan membaca, mengkaji, merenung, dan mentadabburi isinya.

Lalu kenapa harus al-Quran?

Karena al-Quran adalah samudera (lautan) yang luaaas. Adapun kitab-kitab yang lain, ibaratnya sebuah sungai (pecahannya laut). Segalanya ada di dalam al-Quran, sedangkan ilmu-ilmu yang lain, semuanya mengambil (merujuk) pada al-Quran.

Selain itu, merutinkan tadarus al-Quran adalah “iksiir wa syarha li shodri” (ramuan / obat / vitamin untuk hati, dan membuat hati menjadi lapang dan tenteram). Apabila Alloh Ta’ala memberikan hidayah kepada seseorang, maka akan diberikannya “Syarh Shodr” (ketentraman dan kedamaian di dalam hati).

Dikutip oleh RiseTAFDi team dari kajian kitab “Diwan Imam al-Haddad” oleh al-Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan.

Diwan Imam Al-Haddad adalah kumpulan Syair karya Shohibur ratib, al-Imam al-Habib Abdulloh bin Alwi al-Haddad.

Adapun bait-bait yang dijelaskan oleh al-Habib Jindan diantaranya sebagai berikut:

وَوَاظِبْ عَلَى دَرْسِ الْقُرَآنِ فَإِنَّ فِيْ

تِلاَوَتِهِ الإِكْسِيْرَ وَالشَّرْحَ لِلصَّدْرِ

أَلا إِنَّهُ الْبَحْرُ الْـمُحِيْطُ وَغَيْرُهُ

مِنَ الْكُتْبِ أَنْهَارٌ تُمَدُّ مِنَ الْبَحْرِ

Wallohu a’lam

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate