Ketika Langit Cemburu kepada Bumi

Hikmah Isro dan Mi’roj

[FOTO]: Habib Ali Zainal Abidin al-Jufri sedang menunaikan sholat di bawah batu (shokhroh) tempat Nabi Muhammad SAW “take off” untuk Mi’roj meninggalkan orbit bumi

Kisah berikut ini termasuk dalam kategori Israiliyat (sejenis “legenda”) yang disadur dari Kitab Durrotun Nashihin (karya Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir al-Hubawiy, seorang ulama asal Konstantinopel) halaman 117 dengan sedikit penyesuaian. Kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Namun, cukup bisa dijadikan sebatas pengetahuan dengan tetap tidak menjadikannya sebagai dalil.

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Alkisah, bumi pernah membanggakan dirinya kepada langit, “Aku lebih baik daripada dirimu, karena Alloh menghiasi aku dengan berbagai negeri, lautan, sungai-sungai, pohon-pohon, gunung-gunung dan lain-lainnya.”

Langit berkata kepada bumi, “Justru aku yang lebih baik dari dirimu, Alloh telah menghiasi diriku dengan matahari, bintang-bintang, bulan, cakrawala, planet-planet dan lain sebagainya.”

Bumi berkata lagi, “Padaku terdapat Baitulloh (Ka’bah) yang selalu dikunjungi oleh para Nabi, para Rosul, para wali dan orang-orang mukmin secara umum, dan mereka selalu berthowaf kepadanya!”

Langit tidak mau kalah, ia berkata, “Padaku ada Baitul Makmur, dimana para malaikat selalu berthowaf kepadanya. Padaku juga terdapat surga, yang merupakan tempat ruh para Nabi, ruh para Rosul, ruh para wali dan semua ruh orang-orang yang sholeh!”

Jadi, hakikat sebenarnya dari ‘batu melayang’ adalah shokhroh tersebut. Bukan gambar palsu sebagaimana yang banyak beredar di internet. Apabila kita perhatikan, ternyata di bawahnya tidak mampat, melainkan terdapat ruang kosong yang besarnya seukuran musholla. Sehingga dapat dikatakan seolah-olah batu (shokhroh) tersebut ‘melayang’. Wallohu a’lam

Bumi berkata lagi, “Sesungguhnya pimpinan para rosul dan penutup para nabi, Kekasih Allohu Robbul ‘Aalamiin, seorang rosul yang paling mulia dari segala yang ada, Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, yang semoga salam dan penghormatan selalu terlimpah kepadanya, ia tinggal dan menetap pada diriku, dan ia menjalankan syariatnya di atas punggungku!”

Mendengar perkataan bumi yang membanggakan akan keberadaan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam pada dirinya, langit tidak bisa memberikan argumentasi tandingan yang sepadan.

Langit pun tahu bahwa Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam adalah makhluk termulia dan yang paling dicintai Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, dan faktanya memang tidak pernah sekalipun Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam menjejakkan kaki pada dirinya, apalagi membuat aktivitas-aktivitas yang membekas dan memberi kesan tersendiri pada beliau. Langit hanya terdiam, merasa kalah dan terpojok dengan posisi yang dibandingkan oleh bumi.

Tetapi kemudian langit menghadapkan diri kepada Alloh dan berdo’a, “Ya Alloh, Engkau selalu mengabulkan segala permintaan hamba-hamba-Mu yang dalam keadaan terdesak atau terjepit. Ya Alloh, saat ini aku adalah hamba-Mu yang dalam keadaan terdesak dan tidak dapat memberikan jawaban yang sepadan kepada bumi!”

Alloh Ta’ala memperkenankan doa langit tersebut. Saat itu adalah tanggal 27 Rojab, Alloh berfirman, “Wahai Jibril, hentikan dahulu tasbihmu pada malam ini! Wahai Izroil, pada malam ini janganlah engkau mencabut ruh terlebih dahulu!”

Tampak atas Shokhroh (batu tempat berpijak Nabi saat Mi’roj ke Sidrotul Muntaha). Batu Shokhroh ini berada di Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock), Yerusalem – Palestina

Malaikat Jibril berkata, “Ya Alloh, apakah kiamat telah tiba masanya??”

Memang, Jibril dan malaikat-malaikat lainnya tidak akan pernah berhenti melantunkan tasbih kepada Alloh, apapun keadaannya, kecuali jika hari kiamat telah tiba. Alloh berfirman lagi, “Tidak wahai Jibril, tetapi pergilah engkau ke surga, bawalah salah satu buroq disana dan bawalah Muhammad datang menghadap-Ku malam ini!”

Malaikat Jibril segera memenuhi perintah Alloh, ia datang ke surga dan melihat 40.000 buroq sedang merumput di padang rumput surga, pada kening buroq-buroq itu tertulis nama Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam . Tampak satu buroq menunduk dan air matanya terus mengalir, tidak merumput seperti yang lainnya. Jibril menghampirinya dan berkata, “Apa yang terjadi dengan dirimu, wahai buroq??”

Buroq itu berkata, “Wahai Jibril, sejak 40.000 tahun yang lalu aku mendengar nama Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, dan hatiku terbakar rindu untuk bisa bertemu dengannya. Kerinduan itu begitu meliputiku sehingga aku tidak bisa lagi makan dan minum, kecuali apabila aku telah bertemu dengan beliau (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)”

Malaikat Jibril tersenyum dan berkata, “Aku akan menyampaikan dirimu kepada orang yang selama ini kamu rindukan. Malam ini juga engkau akan bertemu dengan Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam”

Kemudian Jibril memasang pelana dan tali pengikat dari sutera surga pada buroq itu dan membawanya turun ke bumi. Setelah selesainya peristiwa Isro Mi’roj Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, langit pun bisa memberikan argumentasi kepada bumi dan ia merasa bahwa kedudukannya cukup sejajar dengan bumi.

Wallohu a’lam bishshowaab

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shihbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate