JANGAN SIA-SIAKAN AIR MATAMU

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Foto hanya sebagai ilustrasi

Ga semua memang, tapi kebanyakan wanita diciptakan lebih sensitif menangis dibanding pria. Mudah meneteskan air mata. Jika pria di saat sudah terpojok jurus terakhirnya adalah ngeles, maka senjata terakhir wanita adalah menangis.

Sebagaimana yang dialami Wulan dalam cerpen Zuck-Linn (karya Arizuna Zuckirama) berikut ini…

#AirMataWulan

Sore tadi Wulan mengadakan kunjungan persahabatan ke rumah Linn.

Glotak! Dengan serampangan, Wulan menghempaskan tasnya yang terbuat dari kulit kadal di atas meja. Lalu duduk di samping Linn sambil menggerutu ga jelas. Sementara Linn, masih asik ngupil sejak dua jam tadi.

“Halo Linn. Gue tamu nih, ga dibikinin minuman apa-apa?” sapa Wulan.

Tapi sapaan Wulan ga dapat respon. Linn masih asik ngupil. Jari telunjuknya mengobok-ngobok lubang hidungnya sambil mendesah-desah keenakan.

“Linna! Stress lo ya?!” merasa dicuekbebekin, Wulan terpaksa menghardiknas.

Linn kaget. Menoleh kepada Wulan. “Hai Wulan. Barusan aku kaget lho.”

“Bodo amat!” sahut Wulan keki.

“Muahaha… Pengantin baru kok jutek gitu sih? Kenapa, kenapa?”

Wulan diam. Matanya mulai berkaca-kaca spion, sedetik kemudian air mata itu muncrat kemana-mana.

“Bocor, bocor. Matamu berair, Wul. Kamu nangis, ya?” Linn panik. Nyodorin tisu untuk Wulan.

“Yaiyalah nangis. Lo pikir gue pipis lewat mata?!” Wulan mengusap-usap airmatanya pake tisu, setelah itu tisunya dikembalikan kepada Linn.

“Nangis kenapa sih?”

Wulan justru makin semangat nangisnya. “Anto Linn, Anto. Suami gue. Hiks.”

“Iya, iya. Suami kamu kenapa? Direbut tetangga? Meninggal? Cerita dong,” Linn kuatir.

“Dia… Dia ternyata orangnya ga romantis, Linn, huhuhuu..”

Linn mendengus. “Ya Alloh… Cuma masalah begituan?”

“Itu nyebelin banget tau ga sih Linn? Nyebelin!”

Linn menatap Wulan penuh tanda tanya. “Jadi ceritanya kamu nyesel nikah sama Anto?”

Wulan terdiam cukup lama, “Gue cuma pengen dia romantis dan perhatian ke gue. Masa pendiam banget gitu, ngomong sama gue kalo pas lagi lapar aja. Gue kesepian, Linn. Rumah kami yang megah itu sepinya udah kayak kuburan tua. Mendingan gue tinggal di gubuk derita deh, tapi punya suami yang romantis, suka becanda dan bisa bikin gue nyaman..” cerocos Wulan sambil menatap Linn penuh tanda seru.

Linn termenung tiga jam. “Gimana kalo kamu aja yang memulai keromantisan itu. Kamu coba godai suami kamu. Kamu gombal-gombalin dia. Kalo diem dibales diem ya diem-dieman gitu jadinya ga selese-selese,” Linn memberi saran.

Mata Wulan tiba-tiba berbinar. Tangisnya terhenti. Kemudian tersenyum lebar sampai ke kuping. “Ga nyangka lo punya usul sebriliant ini, Linn. Ga rugi gue punya sahabat kayak elo. Makasih, yah. Muah!” kisbai Wulan, kemudian bergegas pulang.

HIKMAH dan MUHASABAH dari Kejadian yang Dialami Wulan

Terkadang air mata kita mudah jatuh berderai hanya untuk menangisi sesuatu hal yang tidak penting. Jangan sampai air mata yang keluar ini menjadi sia-sia.

Sebagai perbandingan sekaligus pembelajaran, bolehlah sekali-kali kita lihat bagaimana para Anbiya’ (Nabi-Nabi) dan Sholihiin (orang-orang Sholeh) ketika mereka menangis.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab Minhajus Saawi Thoriqoh ‘Alawiyah karya al-‘Allamah al-Habib Zein bin Ibrohim bin Sumaith (semoga Alloh melindungi beliau serta memberikan manfaat untuk kita) [Silahkan lihat dalam FOTO di bawah ini]

> (Paragraf 1): Tangisan Nabi

Dikisahkan, tatkala Nabi Adam ‘Alaihissalam turun ke bumi, maka beliau tinggal di bumi selama 300 tahun tidak mengangkat kepalanya ke langit lantaran malu kepada Alloh (karena telah memakan buah khuldi). Berkata ibn ‘Abbas, “Adam dan Hawa menangis selama 200 tahun atas hilangnya kenikmatan syurga, tidak makan dan minum selama 40 hari, dan keduanya tidak berjumpa selama 100 tahun”

Riwayat ini sekaligus meluruskan kisah ‘israiliyyat’ yang mengatakan bahwa Nabi Adam dan Hawa menangis karena perpisahan. Tidak! Namun mereka menangis lantaran khouf (takut) kepada Alloh Ta’ala.

>> (Paragraf 2): Tangisan Sholihiin

Diriwayatkan oleh (Imam) al-Ashma’i rohimahulloh. Suatu ketika beliau melihat (Sayyidinal Imam) Ali Zainal Abidin bin Husein Rodhiyallohu ‘Anhuma (cicit Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) menangis oleh karena rasa takutnya yang begitu besar kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, maka ia bertanya:

“Wahai Tuanku, mengapakah engkau beribadah sedemikian susah begini? Sedangkan engkau adalah Ahlul Bait (putra Husein, putra Fatimah, putri Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam), bukankah Alloh telah berfirman dalam (QS. Al-Ahzab ayat 33): Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.. ??”

Berkata Imam Ali Zainal Abidin bin Husein, “Wahai Ashma’i, tidak mungkin! Sesungguhnya syurga diciptakan untuk orang-orang yang taat kepada Alloh Ta’ala meskipun ia adalah seorang hamba sahaya Habsyi (yang hitam). Dan sesungguhnya neraka diciptakan untuk orang-orang yang maksiat kepada Alloh Ta’ala, meskipun ia adalah seorang tuan dari kalangan Quraisy.”

>>> (Paragraf 3): KESIMPULAN dan PESAN dari baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam:

‚ÄĚSetiap mata pada hari kiamat nanti pasti akan menangis, kecuali tiga :
1. Mata yang dipejamkan dari larangan Alloh
2. Mata yang dibuat jaga pada perang fii sabilillah
3. Mata yang menangis karena takut kepada Alloh”

Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala merizqikan kita air mata yang selalu diliputi dengan rasa Khouf (takut) dan Khusyu’ (tunduk) kepada-Nya. Aamiin… wa Shollallohu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. wAlhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin.

Wallohu a’lam bishshowaab.

RiseTAFDI team

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate