Islam itu Agama yang Adil

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Ketika Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam berhasil menaklukkan pasukan Yahudi Khaibar. Pemimpin Yahudi Khaibar mengirimkan utusan untuk berdamai. Saat ditawarkan berdamai, baginda Nabi malah menerima perdamaian itu.

Kalau konsep masalah jihad adalah membunuh semua, kenapa Nabi menerima perdamaian dengan Yahudi Khaibar? Padahal saat itu Nabi dalam kondisi ‘di atas angin’ (sedang menang), bukan dalam keadaan terjepit atau kalah.

Tak cukup hanya menerima perdamaian saja, apa yang diusulkan oleh pihak Yahudi pun diterima oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Yahudi Khaibar memiliki kekayaan yang banyak dari hasil kebun kurma. Maka mereka menawarkan kepada baginda Nabi bahwa hasil dari kebun Kurma tersebut dibagi dua, yakni sebagian untuk kaum Muslimin dan sebagiannya lagi untuk bangsa Yahudi.


Benteng Yahudi di kota Khaibar (terletak 150 km dari barat laut Madinah). Khaibar memiliki delapan lapis benteng pertahanan yang besar dan beberapa benteng yang kecil.

Foto (bagian kanan bawah) adalah pintu benteng Na’im yang dibobol oleh Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ta’ala ‘anhu. Selain jatuhnya benteng tersebut ke pihak kaum Muslimin, Harits bin Abu Zainab (komandan Yahudi) pun tewas di tangannya

Bagaimanakah sikap baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam atas tawaran tersebut? Baginda Nabi setuju!

Bukankah “ghonimah” (harta rampasan perang) itu semestinya kalau dimenangi oleh kaum Muslimin adalah menjadi hak kaum Muslimin?

Ya! Tapi baginda Nabi setuju untuk memberikan haknya kepada kaum Yahudi, bukan maksud menolak atau menunjukkan kerendahan, bukan pula menunjukkan kelemahan, tapi ingin menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang toleran terhadap agama lain.

Baginda hendak menunjukkan bahwa agama ini adalah berdamai dengan siapa saja yang mau mengusung perdamaian. Islam bukanlah agama yang kejam, dan bukan pula agama pertumpahan darah.

Maka baginda Nabi menyepakati usul tersebut dengan memberikan sebagian hasil kebun Kurma untuk kaum Yahudi. Hal itu dilakukan oleh baginda yang Mulia agar kaum Yahudi tetap mendapatkan sumber penghasilan hidup. Kalau seandainya diambil semua oleh pihak Muslimin, bagaimana kaum Yahudi bisa bertahan hidup?

Bahkan begitu besarnya perhatian baginda atas kesepakatan itu, setiap tahunnya baginda Nabi menugaskan Sayyidina Abdulloh bin Rowahah rodhiyallohu ta’ala ‘anhu untuk menakar hasil kebun Kurma tersebut guna dibagikan dengan tepat dan adil, mana yang menjadi hak Yahudi dan mana yang menjadi hak kaum Muslimin.

Masih belum yakin kalau Islam benar-benar agama yang adil? Baiklah kita lanjutkan, suatu peristiwa terjadi, sebuah dialog antara seorang ketua Yahudi dengan Sayyidina Abdulloh bin Rowahah.

Kata ketua Yahudi, “Wahai Abdulloh, kamu ini memiliki perhitungan yang amat tepat. Hitunglah ini dan laporkan pada Muhammad perhitungan yang kurang dari ini.” Demikian ketua Yahudi mengajarkan Sayyidina Abdulloh bin Rowahah untuk menipu baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Tidak tahukah Yahudi ini siapakah yang diajak berkhianat? Murid baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, yang keimanannya itu tidak bisa dinilai dengan emas ataupun uang.

Lantas apa jawaban Sayyidina Abdulloh bin Rowahah, “wAllohi (Demi Alloh)! Aku ini datang diperintah oleh seseorang yang paling aku sayang dan aku sanjungi (maksudnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam), datang kepada orang yang paling aku benci diatas muka bumi ini (maksudnya Yahudi).

Tapi dengan rasa sayangnya aku terhadap orang yang memerintahku, tidak memaksa aku untuk dzholim kepadamu. Dan juga tidak menjadikan bencinya aku kepadamu, memaksa aku untuk mengurangi timbangan yang mesti engkau terima daripada bagian tersebut.”

Lihatlah bagaimana adilnya Islam terhadap agama lain. Sudah tidak diperangi oleh Nabi, diterima tawaran berdamai, diberikan bagian harta rampasan perang yang sepatutnya menjadi hak kaum Muslimin, dan Nabi memberikan bagian itu tepat sesuai dengan kadar yang disepakati, masih mengajak pula untuk berkhianat? Allohu Alloh.. 🙂

Semoga Alloh memberi hidayah padaku, padamu, dan pada kita semua. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin

Wallohu a’lam

Disarikan oleh RiseTAFDI team dari berbagai sumber diantaranya Mau’idzhoh Hasanah oleh Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid pengasuh Majlis Ta’lim Darul Murtadza (Semoga Alloh melindungi beliau serta memberikan manfaat untuk kita)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate