Inilah Contoh Murid yang Menjadi Kebanggaan Gurunya

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Syeikh (Guru) itu ada yang benar, dan ada juga yang palsu, begitu juga para murid, ada murid yang benar-benar murid, ada juga murid yang palsu, maka tanyakan kepada diri kita, benarkah kita seorang Tholabul ‘Ilmi? pantaskah kita menyandang sebutan sebagai seorang murid?

Berikut adalah mau’idzhoh hasanah yang disampaikan oleh al-Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan (pengasuh Pondok Pesantren al-Fachriyah Tangerang), semoga bisa menjadi bahan renungan dan teladan bagi kita semua.


FOTO [Atas]: Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid saat bertemu guru beliau, al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz pada acara “Maulid Istimewa” di Majlis Ta’lim Darul Murtadza.
FOTO [Bawah]: Alm. Habibana Munzir bin Fuad al-Musawa ketika bersua dengan guru beliau, al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz saat acara di Majelis Rasulullah SAW.

1). Al-Habib Muhammad al-Haddar

Beliau merupakan guru dari al-Habib Umar bin Hafidz, juga guru dari al-Habib Zain bin Sumaith. Ketika masih menuntut ilmu di Rubath Tarim, beliau selalu menghabiskan setiap malamnya begadang menuntut ilmu, jika kantuk datang maka beliau membasahkan dirinya dengan air hingga hilang kantuknya, bahkan sekali waktu beliau naik ke atap rumahnya untuk menghilangkan kantuknya dan berkata kepada dirinya; “Kalau aku jatuh, maka aku mati”.

Beliau pun tidak mau ada hal yang mengganggunya dalam menuntut ilmu, diceritakan bahwa ketika datang surat dari keluarganya, maka beliau tidak membukanya dan disimpan terus seperti itu hingga selesai masa belajarnya, ketika surat-surat tersebut dibuka, diterangkan si fulan wafat, si fulan lahir, si fulan menikah dan lain sebagainya, beliau berbuat seperti itu karena saking takdzim (hormat)-nya dalam menuntut ilmu.

2). Al-Habib Abdullah bin Abdurrahman bin Syaikh Abubakar bin Salim

Ketika beliau sampai di Tarim, hari pertama langsung sibuk belajar. Zaman dahulu, apabila seseorang pergi belajar maka membawa kasurnya sendiri, beliau tidak pernah sempat membuka kasurnya, beliau selalu tertidur dalam posisi duduk lalu bangun shubuh dan lanjut lagi esok malamnya dengan keadaan yang sama, hal ini selalu dilakukannya terus-menerus hingga 4 tahun, hingga beliau tidak tahu siapa teman di sebelah kamarnya.

3). Al-Habib Abdullah Umar As-Syatiri

Beliau adalah guru dari semua ulama terkenal di zamannya, yang berkata; “Tidak pantas menyebut diri sebagai penuntut ilmu kalau tidak sholat tahajud”, bahkan belum bisa dikatakan belajar Fiqih jika belum hafal Zubad, Nahwu, dan Alfiah. Perbedaan kita dengan mereka bukan lagi seperti langit dengan bumi, tetapi seperti langit dengan sumur.

Diceritakan, bahwa seorang pernah datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal ingin menjadi murid mempelajari ilmu Hadist, maka malamnya disiapkan ember oleh Imam Ahmad, barangkali si calon murid ingin sholat tahajjud.

Esok subuh, Imam Ahmad menghampirinya dan mendapatkan calon murid tersebut baru bangun, sementara air di ember masih penuh, “Kenapa embermu masih penuh? engkau tidak sholat Tahajjud?” calon murid berkata tidak, maka berkata Imam Ahmad; “Jika belum tahajjud belum pantes belajar hadist”.

Harus diperbaiki dulu mental orang tersebut, tuntut ilmu untuk diamalkan bukan sekadar diriwayatkan.

4). Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa

Lihat… Begitu besar cinta Habib Munzir kepada gurunya yaitu al-Habib Umar bin Hafidz, sehingga kalau disuruh lompat terjun pun beliau akan lompat. Bagi Habib Munzir, kalau Habib Umar menyuruh melakukan A ya harus A, bukan a kecil tapi A besar.

Saya buka sedikit, dulu ketika Habib Munzir sering memajang foto Habib Umar beserta dirinya di jalan-jalan, Habib Umar berkata kepada saya untuk menyampaikannya; agar pada kedatangan beliau berikutnya, jangan tempel foto di jalan umum, sekedar pengumuman saja (tanpa foto), biarkan itu milik para orang politik.

Dan hal itu berlaku hingga sekarang. Ini penyerahan seratus persen terhadap gurunya, seperti mayat di hadapan gurunya.

Dulu di awal perjalanan dakwah, Habib Munzir sering keluar kota berhari-hari hingga banyak problem berupa sakit, tumpukan hutang, dll.

Maka datang surat dari Habib Umar melarang keluar kota dan perintah rinci lainnya tidak boleh begini, harus begini, dan lain sebagainya, serta tidak boleh pinjem sama siapapun. Banyak perintah berat dengan adanya surat tersebut, saya tahu isi surat itu karena bacanya bareng di kamar saya. Habib Munzir syok dengan keadaan tersebut, sampai berkata “Kalau ane tahu hati Habib Umar akan seperti ini, ane gak mau jadi ulama mending jadi tukang sate!”.

Sayyidina Umar bin Khoththob pernah berkata, “Andaikata aku tidak pernah dilahirkan ke dunia, andaikata ibuku mandul, andaikata aku dilahirkan sebagai seekor kambing, maka akan lebih ringan. Hanya makan, minum, gemuk, disembelih, dan selesai, tidak harus memikul tanggung jawab besar di hadapan Alloh”.

Saya bilang, “Ya Munzir… mau bagaimanapun berat dan ringannya, Habib Umar adalah guru kita… kita gak faham saat ini, tetapi ke depan bakal faham”

Ternyata betul!… urusan jadi beres, hutang selesai, dakwah hingga jadi seperti sekarang, dan lain sebagainya,

Jikalau bukan karena surat Habib Umar, gak bakal seperti ini. Dan semua itu pun perlu pengorbanan, mau makan pun susah karena sudah gak boleh pinjam, terkadang ke majelis naik taksi, kadang saya yang jemput,

Berkat taat dan kepatuhan, (hasilnya) bukan terlihat dengan banyaknya massa, akan tetapi dengan ridhonya Habib Umar terhadap beliau, simaklah bait-bait syairnya, beliau Habib munzir lakukan dengan penuh pengorbanan.

Intinya, JANGAN pernah melepaskan diri dari syaikh dalam keadaan apapun.

Semoga kita menjadi murid yang membanggakan guru, dan juga menjadi kebanggaan guru kita… Aamiin.

Wallohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate