Ini Sarungku, Mana Sarungmu?

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Di Indonesia, sarung adalah pakaian yang paling sopan dan terhormat, pakaian yang biasa dipakai juga untuk ibadah sholat.

Pakaian ini tidak mengenal ras dan golongan, kaya maupun miskin. Tua, muda, sampai anak-anak lazim memakainya, seolah-olah sudah menjadi ciri khas umat Islam tanah air Indonesia.

Memang, sarung identik dengan santri, maka ada istilah ‘kaum sarungan’, maksudnya adalah para santri yang sedang aktif (atau setidaknya pernah) belajar di suatu lembaga pendidikan bercorak pesantren.

Kendati demikian, seluruh lapisan masyarakat sudah familiar dan akrab dengan pakaian yang satu ini.

Sarung juga telah menjadi simbol perlawanan. Sebagai sebuah wilayah yang mayoritas beragama Islam, sarung menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda yang terbiasa menggunakan baju modern seperti jas.

Para santri di zaman kolonial Belanda menggunakan sarung sebagai simbol perlawanan terhadap budaya Barat yang dibawa kaum penjajah. Kaum santri merupakan masyarakat yang paling konsisten menggunakan sarung dimana kaum nasionalis abangan telah hampir meninggalkannya.

Ya, pakaian yang sangat simpel dan mudah dipakai, tidak seperti pakaian yang lain. Orang yang terbiasa pakai sarung, terasa sangat enjoy bahkan kalau memakai celana panjang merasa gerah dan pengap.

Timnas Sepakbola Pantai Majelis-TAFDI saat melakukan laga eksebisi di pantai Kidul (03 Juli 2012)

Santri dulu (atau mungkin sampai sekarang) seolah tidak suka pakaian lain, kemana-mana pakai sarung; ke masjid, ke sekolah, main bola, kerja di sawah, bangun gedung, bahkan ke mall sekalipun pakai sarung, tidak ada rasa minder sama sekali. ^_^

Ada juga yang mengatakan bahwa ketika KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada hari-hari pertama pasca pelantikan Presiden RI, saat akan ngantor di Istana Negara pakai sarung. Luar biasa! Tampaknya sarung sudah menyatu dengan hati Gus Dur.

Dr. KH. Manarul Hidayat, pengasuh pondok pesantren Al-Mahbubiyyah pernah berkata bahwa, “Orang yang pakai sarung adalah orang yang sangat demokratis, bisa ke kanan dan bisa juga ke kiri.”

Lain halnya dengan mas Setiawan Budhi. Sebagai pecinta sarung, ia meneliti dengan bertanya kepada 10 orang cowok, “Apakah kalian punya sarung?”

Dan ternyata 10/10 (10 orang dari 10 yang ditanya) menjawab “Ya”. Ini berarti hasilnya mutlak sempurna. Gak seperti di iklan-iklan kosmetik yang cuma 7/10, 8/10, atau 9/10.

Tambahnya lagi, Sarung mempunyai fungsi yang lumayan banyak. Seperti:

1). Perlengkapan Sholat, emang lebih afdhol kalo sholat pake sarung. Hehehe.

2). Pengganti selimut saat tidur. Kalo pake selimut terlalu gerah, maka gunakanlah sarung, niscaya tidur akan terasa lebih pulas (halah).

3). Untuk FASHION. Yup, siapa bilang pake sarung itu gak G403L?? Pake sarung tetap terlihat keren kok. Buktinya presiden Jokowi biar pake jas, tetap sarungan 🙂

4). Sahabat setia para Ronda Rangers. Selain menggunakan kupluk dan membawa senter, yang lagi ngeronda biasanya juga membawa sarung sebagai sahabat setianya.

5). Properti wajib bagi para maling. Biasanya kalo di TV, para maling menggunakan sarung sebagai media penyamaran mereka dalam beraksi (yang ini jangan di tiru yaa..wkwk)

Serta masih banyak lagi manfaat dan fungsi lainnya. Itulah sebabnya mengapa sarung menjadi barang FAVORITE yang wajib dimiliki setiap orang. Dan satu lagi hal yang paling unik dari sarung,

“Bisa bikin adem saat suasana panas, dan bisa bikin anget saat suasana dingin.”

Demikian sekelumit tentang sarung. So, ini sarungku, mana sarungmu? 🙂

Wallohu a’lam bishshowaab

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate