Dari Penjaga Villa Sampai Menjadi Murid Guru Mulia

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

almarhum Habib Munzir al-Musawa (kiri) dan Guru beliau al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz (kanan)

Spesial Haul Ke-6 al-Maghfurlah Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa, berikut ini kami ketengahkan kisah yang pernah ditulis oleh beliau dalam sebuah forum di majelisrasulullah.org tanggal 6 September 2010.

Almarhum memenuhi permintaan seorang jama’ah yang ingin mendengarkan beliau berkisah mengenai perjalanan hidupnya.

Berikut adalah kisah selengkapnya:

Saya adalah seorang anak yang sangat dimanja oleh ayah saya, ayah saya selalu memanjakan saya lebih dari anaknya yang lain. Namun dimasa baligh, justru saya yang putus sekolah, semua kakak saya wisuda, ayah bunda saya bangga pada mereka, dan kecewa pada saya, karena saya malas sekolah.

Saya lebih senang hadir majelis maulid almarhum al-‘Arif billah al-Habib Umar bin Hud al-Attas, dan majelis taklim kamis sore di Empang Bogor, masa itu yang mengajar adalah almarhum al-‘Allamah al-Habib Husein bin Abdullah bin Muhsin Alattas dengan kajian Fathul Baari.

Sisa hari-hari saya adalah bersholawat 1000 siang 1000 malam, dzikir beribu kali, puasa Nabi Daud as, dan sholat malam berjam-jam, saya pengangguran, dan sangat membuat ayah bunda malu.

Ayah saya 10 tahun belajar dan tinggal di Makkah, guru beliau adalah almarhum al-‘Allamah al-Habib Alwi al-Malikiy, ayah dari almarhum al-‘Allamah Assayyid Muhammad bin Alwi al-Malikiy, ayah saya juga sekolah di Amerika Serikat, dan mengambil gelar sarjana di New York University.

Almarhum ayah sangat malu, beliau mumpuni dalam agama dan mumpuni dalam kesuksesan dunia, beliau berkata pada saya:

“kau ini mau jadi apa? Jika mau agama maka belajarlah dan tuntutlah ilmu sampai keluar negeri, jika ingin mendalami ilmu dunia maka tuntutlah sampai keluar negeri, namun saranku tuntutlah ilmu agama, aku sudah mendalami keduanya, dan aku tak menemukan keberuntungan apa-apa dari kebanggaan orang yang sangat menyanjung negeri barat, walau aku sudah lulusan New York University, tetap aku tidak bisa sukses di dunia kecuali dengan kelicikan, saling sikut dalam kerakusan jabatan, dan aku menghindari itu.”

Maka ayahanda almarhum hidup dalam kesederhanaan di Cipanas, Cianjur, Puncak Jawa barat, beliau lebih senang menyendiri dari ibukota, membesarkan anak-anaknya, mengajari anak-anaknya mengaji, ratib, dan sholat berjamaah.

Namun saya sangat mengecewakan ayah bunda karena boleh dikatakan: dunia tidak akhirat pun tidak.

Tapi saya sangat mencintai Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam menangis merindukan Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, dan sering dikunjungi Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Dalam mimpi, Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam selalu menghibur saya jika saya sedih, suatu waktu saya mimpi bersimpuh dan memeluk lutut beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan berkata wahai Rosululloh, aku rindu padamu, jangan tinggalkan aku lagi, butakan mataku ini asal bisa jumpa denganmu, atau matikan aku sekarang, aku tersiksa di dunia ini.

Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam menepuk bahu saya dan berkata: “Munzir, tenanglah, sebelum usiamu mencapai 40 tahun kau sudah jumpa denganku, maka saya terbangun.”

Akhirnya karena ayah pensiun, maka ibunda membangun losmen kecil di depan rumah berupa 5 kamar saja, disewakan pada orang yang baik-baik, untuk biaya nafkah, dan saya adalah pelayan losmen ibunda saya.

Villa / Losmen yang pernah dijaga oleh almarhum Habibana Munzir bin Fuad al-Musawa. Persis di belakang deretan kamar-kamar ini, adalah rumah orangtua beliau almarhum Habib Fuad bin Abdurrahman al-Musawa

Setiap malam saya jarang tidur, duduk termenung di kursi penerimaan tamu yang cuma meja dan kursi kecil mirip pos satpam, sambil menanti tamu, sambil tafakkur, merenung, melamun, berdzikir, menangis dan sholat malam, demikian malam-malam saya lewati.

Siang hari saya puasa Nabi Daud as, dan terus dilanda sakit asma yang parah, maka itu semakin membuat ayah bunda kecewa, berkata ibunda saya: “kalau kata orang, jika banyak anak, mesti ada satu yang gagal, ibu tak mau percaya pada ucapan itu, tapi apakah ucapan itu kebenaran?”

Saya terus menjadi pelayan di losmen itu, menerima tamu, memasang seprei, menyapu kamar, membersihkan toilet, membawakan makanan dan minuman pesanan tamu, berupa teh, kopi, air putih, atau nasi goreng buatan ibunda jika dipesan tamu.

Sampai semua kakak saya lulus sarjana, saya kemudian tergugah untuk mondok, maka saya pesantren di Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, namun hanya dua bulan saja, saya tidak betah dan sakit-sakitan karena asma terus kambuh, maka saya pulang.

Ayah makin malu, bunda makin sedih, lalu saya privat bahasa arab di kursus bahasa arab Assalafi, pimpinan almarhum Habib Bagir Alattas, ayahanda dari Habib Hud alattas yang kini sering hadir di majelis kita di Almunawar.

Saya harus pulang-pergi Jakarta Cipanas yang saat itu ditempuh dalam 2-3 jam, dengan ongkos sendiri, demikian setiap dua kali seminggu, ongkos itu ya dari losmen tersebut.

Kamar almaghfurlah Habibana Munzir bin Fuad al-Musawa (di rumah orangtua beliau), Cipanas. Di kamar sederhana berukuran sekitar 5 meter persegi ini, besar kemungkinan Habibana menghabiskan waktu-waktu malamnya dengan bertafakkur

Saya selalu hadir maulid di almarhum al-‘Arif Billah al-Habib Umar bin Hud alattas yang saat itu di Cipayung, jika tak ada ongkos maka saya numpang truk dan sering hujan-hujanan pula.

Sering saya datang ke maulid beliau malam jum’at dalam keadaan basah kuyup, dan saya diusir oleh pembantu di rumah beliau, karena karpet tebal dan mahal itu sangat bersih, tak pantas saya yang kotor dan basah menginjaknya, saya terpaksa berdiri saja berteduh di bawah pohon sampai hujan berhenti dan tamu-tamu berdatangan, maka saya duduk di luar teras saja karena baju basah dan takut dihardik sang penjaga.

Saya sering pula ziarah ke Luar Batang, makam al-Habib Husein bin Abubakar Alaydrus, suatu kali saya datang lupa membawa peci, karena datang langsung dari Cipanas, maka saya berkata dalam hati, wahai Alloh, aku datang sebagai tamu seorang wali-Mu, tak beradab jika aku masuk ziarah tanpa peci, tapi uangku pas-pasan, dan aku lapar, kalau aku beli peci maka aku tak makan dan ongkos pulangku kurang.

Maka saya memutuskan beli peci berwarna hijau, karena itu yang termurah saat itu di emperan penjual peci, saya membelinya dan masuk berziarah, sambil membaca yasin untuk dihadiahkan pada almarhum, saya menangisi kehidupan saya yang penuh ketidak-tentuan, mengecewakan orang tua, dan selalu lari dari sanak kerabat, karena selalu dicemooh, mereka berkata: kakak-kakakmu semua sukses, ayahmu lulusan Makkah dan pula New York University, kok anaknya centeng losmen.

Maka saya mulai menghindari kerabat, saat lebaran pun saya jarang berani datang, karena akan terus diteror dan dicemooh.

Walhasil dalam tangis itu saya juga berkata dalam hati, wahai wali Alloh, aku tamumu, aku membeli peci untuk beradab padamu, hamba yang sholih di sisi Alloh, pastilah kau dermawan dan memuliakan tamu, aku lapar dan tak cukup ongkos pulang,

lalu dalam saya merenung, datanglah rombongan teman-teman saya yang pesantren di Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf dengan satu mobil, mereka senang jumpa saya, saya pun ditraktir makan, saya langsung teringat ini berkah saya beradab di makam wali Alloh.

Saya ditanya dengan siapa dan mau kemana? Saya katakan saya sendiri dan mau pulang ke kerabat ibu saya saja di Pasar Sawo, Kebon Nanas Jaksel, mereka berkata: ayo bareng saja, kita antar sampai Kebon Nanas, maka saya pun semakin bersyukur pada Alloh, karena memang ongkos saya tak akan cukup jika pulang ke Cipanas, saya sampai larut malam di kediaman bibi dari Ibu saya, di Pasar Sawo Kebon Nanas, lalu esoknya saya diberi uang cukup untuk pulang, saya pun pulang ke Cipanas.

Tak lama saya berdoa, wahai Alloh, pertemukan saya dengan guru dari orang yang paling dicintai Rosul saw, maka tak lama saya masuk pesantren al-Habib Hamid Nagib bin Syeikh Abubakar di Bekasi Timur, dan setiap kali mahal qiyam maulid saya menangis dan berdoa pada Alloh untuk rindu pada Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, dan dipertemukan dengan guru yang paling dicintai Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, dalam beberapa bulan saja datanglah Guru Mulia al-Musnid al-‘Allamah al-Habib Umar bin Hafidz ke pondok itu, kunjungan pertama beliau yaitu pada tahun 1994.

almarhum Habib Anis bin Alwi al-Habsyi Solo [kiri] bersama al-Habib Umar bin Hafidz [kanan] pada kunjungan pertama beliau ke Indonesia tahun 1994

Selepas beliau menyampaikan ceramah, beliau melirik saya dengan tajam, saya hanya menangis memandangi wajah sejuk itu, lalu saat beliau sudah naik ke mobil bersama almarhum al-Habib Umar Maulakhela, maka Guru Mulia memanggil Habib Nagib bin Syeikh Abubakar, Guru mulia berkata bahwa beliau ingin saya dikirim ke Tarim Hadramaut Yaman untuk belajar dan menjadi murid beliau.

Guru saya Habib Nagib bin Syeikh Abubakar mengatakan saya sangat belum siap, belum bisa bahasa arab, murid baru dan belum tahu apa-apa, mungkin beliau salah pilih? Maka Guru Mulia menunjuk saya, itu.. anak muda yang pakai peci hijau itu! Itu yang saya inginkan, maka Guru saya Habib Nagib memanggil saya untuk jumpa beliau, lalu Guru Mulia bertanya dari dalam mobil yang pintunya masih terbuka: siapa namamu? Dalam bahasa arab tentunya, saya tak bisa menjawab karena tak faham, maka guru saya Habib Nagib menjawab: kau ditanya siapa namamu! Maka saya jawab nama saya, lalu Guru Mulia tersenyum.

Keesokan harinya saya jumpa lagi dengan Guru Mulia di kediaman almarhum Habib Bagir Alattas, saat itu banyak para habaib dan ulama mengajukan anaknya dan muridnya untuk bisa menjadi murid Guru Mulia, maka Guru Mulia mengangguk-angguk sambil kebingungan menghadapi serbuan mereka, lalu Guru Mulia melihat saya di kejauhan, lalu beliau berkata pada almarhum Habib Umar Maulakhela: itu.. anak itu.. jangan lupa dicatat, ia yang pakai peci hijau itu!

Guru Mulia kembali ke Yaman, saya pun langsung ditegur guru saya Habib Nagib bin Syekh Abubakar, seraya berkata: wahai Munzir, kau harus siap-siap dan bersungguh-sungguh, kau sudah diminta berangkat, dan kau tak akan berangkat sebelum siap.

Dua bulan kemudian datanglah almarhum al-Habib Umar Maulakhela ke pesantren, dan menanyakan saya, almarhum Habib Umar Maulakhela berkata pada Habib Nagib: mana itu Munzir anaknya Habib Fuad al-Musawa? Dia harus berangkat minggu ini, saya ditugasi untuk memberangkatkannya, maka Habib Nagib berkata saya belum siap, namun almarhum Habib Umar Maulakhela dengan tegas menjawab: saya tidak mau tahu, namanya sudah tercantum untuk harus berangkat, ini permintaan al-Habib Umar bin Hafidz, ia harus berangkat dalam dua minggu ini bersama rombongan pertama.

Saya persiapkan paspor dll, namun ayah saya keberatan, ia berkata: “kau sakit-sakitan, kalau kau ke Mekkah ayah tenang, karena banyak teman disana, namun ke Hadramaut itu ayah tak ada kenalan, disana negeri tandus, bagaimana kalau kau sakit? Siapa yang menjaminmu?”

Saya pun datang mengadu pada almarhum al-‘Arif billah al-Habib Umar bin Hud Alattas, beliau sudah sangat sepuh, dan beliau berkata: katakan pada ayahmu, saya yang menjaminmu, berangkatlah..

Saya katakan pada ayah saya, maka ayah saya diam, namun hatinya tetap berat untuk mengizinkan saya berangkat, saat saya mesti berangkat ke bandara, ayah saya tak mau melihat wajah saya, beliau buang muka dan hanya memberikan tangannya tanpa mau melihat wajah saya, saya kecewa namun saya dengan berat tetap melangkah ke mobil travel yang akan saya naiki,

namun saat saya akan naik, terasa ingin berpaling ke belakang, saya lihat nun jauh disana ayah saya berdiri di pagar rumah degan tangis melihat keberangkatan saya, beliau melambaikan tangan tanda ridho, rupanya bukan beliau tidak ridho, tapi karena saya sangat disayanginya dan dimanjakannya, beliau berat berpisah dengan saya, saya berangkat dengan airmata sedih.

Saya sampai di Tarim Hadramaut Yaman di kediaman Guru Mulia, beliau mengabsen nama kami, ketika sampai ke nama saya, beliau memandang saya dan tersenyum indah.

Tak lama kemudian terjadi perang Yaman Utara dan Yaman Selatan, kami di Yaman Selatan, pasokan makanan berkurang, makanan sulit, listrik mati, kami pun harus berjalan kaki kemana-mana menempuh jalan 3-4 km untuk taklim karena biasanya dengan mobil-mobil milik Guru Mulia, namun dimasa perang pasokan bensin sangat minim.

Suatu hari saya dilirik oleh Guru Mulia dan berkata: Namamu Munzir (منذر = pemberi peringatan), saya mengangguk, lalu beliau berkata lagi: kau akan memberi peringatan pada jama’ahmu kelak!

Maka saya tercenung, dan terngiang-ngiang ucapan beliau: kau akan memberi peringatan pada jama’ahmu kelak? Saya akan punya jama’ah? Saya miskin begini bahkan untuk mencuci baju pun tak punya uang untuk beli sabun cuci.

Saya mau mencucikan baju teman saya dengan upah agar saya kebagian sabun cucinya, malah saya dihardik: cucianmu tidak bersih! Orang lain saja yang mencuci baju ini.

Maka saya terpaksa mencuci dari air bekas mengalirnya mereka mencuci, air sabun cuci yang mengalir itulah yang saya pakai mencuci baju saya.

Hari demi hari Guru Mulia makin sibuk, maka saya mulai berkhidmat pada beliau, dan lebih memilih membantu segala permasalahan santri, makanan mereka, minuman, tempat menginap dan segala masalah rumah tangga santri, saya tinggalkan pelajaran demi bakti pada Guru Mulia membantu beliau, dengan itu saya lebih sering jumpa beliau.

Dua tahun di Yaman, ayah saya sakit dan telepon, beliau berkata: “kapan kau pulang wahai anakku? Aku rindu.”

Saya jawab: “dua tahun lagi insyaAlloh ayah.”

Ayah menjawab dengan sedih di telepon.. duh.. masih lama sekali, telepon ditutup, 3 hari kemudian Ayah saya wafat.

Saya menangis sedih, sungguh kalau saya tahu bahwa saat saya pamitan itu adalah terakhir kali jumpa dengan beliau, dan beliau buang muka saat saya mencium tangan beliau, namun beliau rupanya masih mengikuti saya, keluar dari kamar, keluar dari rumah, dan berdiri di pintu pagar halaman rumah sambil melambaikan tangan dan mengalirkan airmata, duhai kalau saya tahu itulah terakhir kali saya melihat beliau, rohimahulloh.

Tak lama saya kembali ke Indonesia, tepatnya pada 1998, mulai dakwah sendiri di Cipanas, namun kurang berkembang, maka saya mulai dakwah di Jakarta, saya tinggal dan menginap berpindah-pindah dari rumah ke rumah murid sekaligus teman saya,

majelis malam selasa saat itu masih berpindah-pindah dari rumah ke rumah, mereka adalah murid-murid yang (usianya) lebih tua dari saya, dan mereka kebanyakan dari kalangan awam, maka walau saya sudah duduk untuk mengajar, mereka belum datang, saya menanti,

setibanya mereka yang cuma belasan saja, mereka berkata : nyantai dulu ya bib, ngerokok dulu ya, ngopi dulu ya, saya terpaksa menanti sampai mereka puas, baru mulai maulid Dhiyaullaami’, jama’ah makin banyak, mulai tak cukup di rumah-rumah, maka pindah dari musholla ke musholla, jama’ah makin banyak, maka tak cukup pula musholla, mulai berpindah-pindah dari masjid ke masjid.

Lalu saya membuka majelis di hari lainnya, dan malam selasa mulai ditetapkan di masjid Almunawar, saat itu baru seperempat masjid saja, saya berkata: jama’ah akan semakin banyak, nanti akan setengah masjid ini, lalu akan memenuhi masjid ini, lalu akan sampai keluar masjid insyaAlloh, jama’ah mengaminkan.

Mulailah dibutuhkan kop surat, untuk undangan dan lain sebagainya, maka majelis belum diberi nama, dan saya merasa majelis dan dakwah tak butuh nama, mereka sarankan majelis Habib Munzir saja, saya menolak, ya sudah, Majelis Rasulullah SAW saja.

Kini jama’ah Majelis Rasulullah sudah jutaan, di Jabodetabek, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Mataram, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Singapura, Malaysia, bahkan sampai ke Jepang, dan salah satunya kemarin hadir di majelis haul Badr kita di Monas, yaitu Profesor dari Jepang yang menjadi dosen disana, dia datang ke Indonesia dan mempelajari bidang sosial, namun kedatangannya juga karena sangat ingin jumpa dengan saya, karena ia pengunjung setia web Majelis Rasulullah, khususnya yang versi english.

Sungguh agung anugerah Alloh Subhanahu Wa Ta’ala pada orang yang mencintai Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, yang merindukan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Itulah awal mula hamba pendosa ini sampai majelis ini demikian besar, usia saya kini 38 tahun jika dengan perhitungan hijriyah, dan 37 tahun jika dengan perhitungan masehi, saya lahir pada Jum’at pagi 19 Muharram 1393 H, atau 23 februari 1973 M.

Perjanjian Jumpa dengan Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam adalah sebelum usia saya tepat 40 tahun, kini sudah 1431 H,

mungkin sebelum sempurna 19 Muharram 1433 H saya sudah jumpa dengan Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, namun apakah Alloh Subhanahu Wa Ta’ala akan menambah usia pendosa ini?

Wallohu a’lam

——————————————–
*Keterangan: Habibana Munzir wafat pada 15 September 2013 (10 Dzulqo’dah 1434 Hijriyah] dalam usia 40 tahun.

RiseTAFDI team

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate