Celah Darial (Darial Gorge), Lokasi Tembok Yakjuj Makjuj

Kajian Akhir Zaman – Bagian #4

Darial Gorge, adalah “ngarai” atau celah sempit yang terbentang sejauh 12 km dengan diapit dua tebing batu granit setinggi 1000-3000 meter (yang merupakan deretan pegunungan Kaukasus). Celah Darial berada di sebelah utara Georgia berbatasan dengan wilayah Rusia bagian selatan. Pada celah (yang berada di ujung jalan) dimungkinkan dahulunya pernah berdiri kokoh tembok besi berlapis tembaga yang dibangun oleh Dzulqornain.

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Penelusuran lokasi (apabila kita berangkat dari ibu kota Georgia, Tbilisi menuju utara ke perbatasan Rusia) menunjukkan bahwa di ujung utara celah tidak ditemui lagi tembok besi berlapis tembaga. Apakah identifikasi lokasinya salah? Ataukah memang tembok tersebut telah hilang alias sudah hancur?

Pintu perbatasan Georgia dengan Rusia. Foto diambil di negara Georgia. Tidak jauh dari pintu perbatasan ini terdapat celah sempit tempat dibangunnya tembok penghalang Yakjuj Makjuj oleh Dzulqornain

Kemungkinan terjadinya salah identifikasi lokasi sangat kecil, karena memang celah Darial (Darial Gorge) adalah satu-satunya jalur penghubung antara wilayah sebelah utara dan selatan yang menembus deretan pegunungan Kaukasus.

Catatan sejarah menunjukkan celah ini sering dilalui oleh suku barbar kuno, yaitu suku Cimmeria & Scythia yang tinggal di sebelah utara Kaukasus. Dua suku kuno inilah yang merupakan keturunan dari Yakjuj Makjuj. Dua suku ini juga yang berkoalisi dengan Babylonia dan ikut serta menghancurkan Jerusalem pada tahun 587 SM.

Lalu, dimanakah tembok besi itu sekarang?

Kita tidak bisa menemukannya masih berdiri kokoh di celah ini karena memang tembok tersebut telah hancur, mungkin telah runtuh sejak 14 abad silam.

Di belakang Dr. Hassan Sheikh Hussein Osman adalah celah sempit Darial Gorge tempat Dzulqornain membangun tembok Yakjuj Makjuj. Celah Darial juga dilalui oleh sungai Terek sepanjang 623 km.

Ini statement logis yang dibuat karena memang tembok tersebut sudah tidak ada lagi di situ. Tapi Anda juga jangan langsung percaya dengan statement ini. Kita uji terlebih dahulu apakah statement hancurnya tembok Yakjuj Makjuj ini logis sesuai fakta dan hujjah, ataukah hanya klaim kosong tanpa dalil?

Untuk membongkar misteri tembok Yakjuj Makjuj, mari kita cermati dulu berbagai kata kunci yang disebutkan dalam lanjutan ayat yang menceritakan Dzulqornain berkomunikasi dengan kaum yang tinggal diantara dua gunung.

——————
(Al-Kahfi:93) Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.

(Al-Kahfi:94) Mereka berkata: “Hai Dzulqornain, sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”

(Al-Kahfi:95) Dzulqornain berkata: “Apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik (daripada imbalanmu), maka bantulah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka,

(Al-Kahfi:96) berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqornain: “Tiuplah (api itu).” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu.”

(Al-Kahfi:97) Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.

(Al-Kahfi:99) Dzulqornain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.”

Dalam ayat ke 93 suroh al-Kahfi disebutkan bahwa Dzulqornain mendapati suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.

Dan kenyataannya memang bahasa yang digunakan oleh kaum tersebut sangat berbeda dengan rumpun bahasa Asia Tengah pada umumnya sebagaimana yang digunakan oleh Dzulqornain.

Jika kita lihat literatur tentang negara Georgia (khususnya tempat dimana terdapatnya celah Darial Gorge), maka dapat kita ketahui bahwa masyarakatnya menggunakan bahasa yang secara total berbeda dengan rumpun bahasa Asia Tengah pada umumnya, yakni bahasa pre-Indo-European yang tidak terhubung ke bahasa lain di sekitarnya, dan telah digunakan paling tidak selama 5000 tahun. wAllohu a’lam.

Tidak jauh dari pintu perbatasan Rusia-Georgia, terdapat papan petunjuk Gereja yang dibangun dekat celah Darial (Darial Gorge), ditulis dalam bahasa dan aksara setempat.

Selanjutnya, ayat 94-99 secara jelas menyebutkan kaum ini bernegosiasi dengan Dzulqornain, mereka menawarkan pembayaran kepadanya untuk membuatkan dinding (sadd) yang membatasi mereka dengan bangsa Yakjuj Makjuj.

Dzulqornain menolak pembayaran itu dan dengan penuh bijaksana meminta agar kaum tersebut memberikan support berupa tenaga kerja untuk mewujudkan mega-proyek fenomenal yang disebut sebagai “rodm”.

Kaum ini meminta tolong untuk dibuatkan sebuah “sadd”, namun Dzulqornain menjanjikan konstruksi yang lebih kuat yang disebut “rodm”.

Sadd adalah konstruksi menggunakan bebatuan, atau di masa modern kita kenal dengan sebutan konstruksi “concrete” atau “cor” menggunakan campuran batu, pasir dan semen.

Sementara “rodm” adalah konstruksi yang lebih kokoh menggunakan logam berlapis anti karat, yaitu besi yang dipanaskan dan dilapisi cairan tembaga.

Dalam ayat Quran tembok tersebut diistilahkan sebagai “sadd” dan “rodm” yang secara harfiyah artinya “dam” atau tembok yang berfungsi untuk membendung air.

Apakah “rodm” yang dibangun Dzulqornain, selain didesain sebagai pembatas antara kaum yang bermukim disini dengan bangsa Yakjuj Makjuj, juga berfungsi sebagai dam untuk membendung air?

Di celah Darial ini mengalir sungai Terek dari utara ke selatan. Sungai ini lumayan besar, dan apabila ujung utara celah ini ditutup, maka akses dari wilayah utara ke selatan mutlak tertutup, sehingga wilayah sebelah utara akan membentuk bendungan air.

Sungai Terek yang melewati celah Darial dari Utara ke Selatan. Apabila kita datang dari arah Selatan (Tbilisi), maka celah sempit tempat Dzulqornain membangun tembok Yakjuj Makjuj terlihat seperti dalam foto

Bukti geologi berupa perbandingan sampel tanah yang diambil dari dinding tebing sebelah utara celah yang diperkirakan tempat dibangunnya dam, dan juga sampel tanah di tebing sebelah selatannya benar-benar membuktikan bahwa di tempat ini pernah dibangun sebuah dam yang membendung aliran sungai Terek.

Tanah di tebing sebelah utara dam memiliki kandungan air yang sangat tinggi, sementara tanah di sebelah selatan dam memiliki kandungan air yang sangat rendah. Perbedaan mencolok kandungan air pada kedua sampel tanah ini hanya terjadi jika tanah di sebelah utara dam terendam air dalam jangka waktu yang sangat lama.

Konstruksi “rodm” yang kokoh ini tidak memungkinkan untuk dilobangi ataupun dirusak menggunakan peralatan manual. Pendapat yang menyatakan bahwa Yakjuj Makjuj melobangi tembok tersebut perlu dikaji lebih jauh kebenarannya, karena bertentangan dengan informasi yang disebutkan dalam Quran.

(Al-Kahfi:97) “Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.”

Konstruksi tembok besi berlapis tembaga ini bukanlah sekedar lempengan besi tipis, melainkan konstruksi balok-balok besi yang didesain sedemikian rupa dan mampu menahan bendungan air di utara tembok. Ini adalah konstruksi sebuah dam yang tebal, kokoh, dan lumayan tinggi.

Menurut perkiraan, tinggi tembok ini tidaklah setinggi puncak gunung yang sekitar 1000 meter (1 km) dari dasar celah, melainkan cukup tinggi untuk menutup celah tersebut.

Ayat 96 dari suroh al-Kahfi menyebutkan bahwa, “hattaa idzaa saawaa baina ash-shodafain” secara harfiyah berarti, “hingga ketika dia telah meratakan di antara ash-shodafain”.

Ash-shodafain artinya “dua buah kerang”, atau dua cangkang kerang yang berhadapan. Bentuk tebing-tebing di Darial Gorge ini memang seperti dua cangkang kerang berhadapan apabila dilihat dari atas ataupun dari kejauhan.

Dengan konstruksi dam yang kokoh semacam ini, mustahil bagi siapapun untuk melobanginya atau bahkan merusaknya menggunakan peralatan manual. Begitu juga dengan generasi Yakjuj Makjuj suku Scythia dan Cimmeria pada masa itu. Mereka jelas-jelas tidak mampu melobangi ataupun merusaknya.

Lantas mengapa Dzulqornain memutuskan penggunaan besi dan tembaga sebagai materialnya? Kenapa tidak menggunakan bebatuan seperti konstruksi dam pada umumnya sebagaimana yang diminta?

Jika mustahil bagi siapapun (termasuk Yakjuj Makjuj) melobangi / merusak tembok besi berlapis tembaga, lalu kemanakah raibnya tembok fenomenal tersebut?

Temukan jawabannya insyaAlloh pada bagian #5… (bersambung)

wAllohu a’lam bishshowaab.

RiseTAFDI team

Tautan Terkait:

  1. Kajian Akhir Zaman – Bagian #1 : Tembok Yakjuj Makjuj Telah Hancur. Benarkah?
  2. Kajian Akhir Zaman – Bagian #2 : Dzulqornain Dalam Mimpi Nabi Danial
  3. Kajian Akhir Zaman – Bagian #3 : Benarkah Dzulqornain yang dimaksud adalah Raja Cyrus dari Persia?
You can leave a response, or trackback from your own site.

11 Responses to “Celah Darial (Darial Gorge), Lokasi Tembok Yakjuj Makjuj”

  1. Nursyarifah berkata:

    Salam,

    Artikelnya bagus.Ana hingga sekarang masih mendapatkan info tentang dinding Yajuj Makjuj itu.Dan bagaimana pula dengan Dome of Gog Magog?

    • admin berkata:

      Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokaatuh.. Mungkin maksudnya Dam of Gog Magog yang berada di Uzbekistan ya kak? Bagi peneliti ataupun pengkaji yang berpendapat temboknya disitu, insyaAlloh kami hargai. Namun kami tetap memegang pendapat di pegunungan Kaukasus lah tembok itu didirikan oleh Dzulqornain. Wallohu a’lam.

  2. Yoko berkata:

    Assalamualaikum
    Penjelasan yang sangat luar biasa

    • admin berkata:

      Wa’alaikumussalam Warohmatullohi wabarokaatuh. Terima kasih atas kesediaan waktunya membaca kajian akhir zaman. Semoga menjadi berkah dan manfaat bagi kita semua (khususnya umat Islam), aamiin

  3. dhody marliyanto berkata:

    ini info yang saya cari akhirnya dapat juga…

  4. NN berkata:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Jazakallah khairan katsiran atas penjelasan nya
    ditunggu part nomor 5 nya

  5. embi ahmad berkata:

    mungkin karena besi dan tembaga akan habis dimakana waktu, itulah yng menjadi tanda pula akhir jaman dan atas ijin allah waktunya telah tiba……..
    penjelasan artikelnya sangat bagus dengan berlandaskan pada dalil-dalil yang tercantum di dalam al-qur’an….

  6. Ihsan berkata:

    Kalau dikatakan tembok yajuj majuj itu telah hancur menurut teori yg anda buat itu tidak benar karena menururt Alquran tembok yajuj majuj baru bisa hancur apabila telah datang janji Allah swt.. sesuai dengan surah alkahfi 98.. dan yg menghancurkannya yajuj majuj sendiri dengan izin Allah sebagai tanda sebelum datang qiamat.. lalu kemanakah tembok dzulqarnain dan suku yajuj majuj itu berada? Hanya Allah yg tahu..

  7. Nurul Hakim berkata:

    Assalamualaikum, mohon maaf saya ingin bertanya terkait statement yang antum sebutkan bahwa sungai terek mengalir dari utara ke selatan. Setelah saya cek melalui google maps, muara sungai terek ini berakhir di laut kaspia, yg berada di sebelah utara dari celah darial. Itu berarti aliran air sungai terek berawal dari sebelah selatan celah darial menuju arah utara yang berakhir di laut kaspia. Mohon maaf jika pendapat saya kurang tepat.

  8. Mustaqim berkata:

    Penjelasan logis dan berdasar..
    Jawaban atas pertanyaan” dari masa kecil saya..
    Semoga berkah dan tetap semangat membuat artikel barunya

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate