Akibat Tak Mampu Menahan Marah

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Qudwah kita, baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam telah mengajarkan bahwa barangsiapa yang berada dalam keadaan marah, maka hendaklah ia berwudhu. Sebab marah itu datangnya dari syaitan. Dan syaitan dibuat dari api, sehingga tiadalah yang dapat memadamkan api kecuali dengan Air.

Redamlah marah dengan berwudhu, karena tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam keadaan marah, mesti tindakannya SALAH.

Di dalam al-Quran, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memberikan beberapa contoh, dan contoh ini terjadi pada orang-orang hebat. Yang dari contoh itu kita dapat mengambil i’tibar bagaimana marah apabila menguasai seseorang, maka orang tersebut tidak dapat mengontrol tindakannya.

Sebagai contoh, KISAH NABI MUSA ‘ALAIHISSALAM berikut ini..

Nabi Musa ‘alaihishsholaatu wassalam ‘berjumpa’ dengan Alloh Ta’ala selama 40 hari. Setelah berjumpa dengan Alloh, beliau membawa “alwah” atau “lauh-lauh” (Taurat / papan berisi Firman Alloh Ta’ala), berisi pesan dari Alloh, dan firman Alloh yang Mulia berada dalam lauh-lauh tersebut.

Ketika turun dari bukit Thursina, baginda amat terkejut ketika mendapati umatnya. Tampak bani Israil telah menyembah patung lembu yang dibuat oleh Samiri. Melihat perilaku bani Israil yang sedang melakukan perkara syirik kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, menjadi murkalah Nabi Musa.

Altar Bani Israel di dekat Jabal Lawz, Arab Saudi. Tempat umat Nabi Musa (Bani Israel) menyembah patung anak lembu buatan Samiri saat ditinggal oleh Nabi Musa pergi bermunajat kepada Alloh selama 40 hari di bukit Thursina.

Nabi Musa dikenal sebagai orang yang memiliki gairah, yakni perasaan cemburu apabila kehormatan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dinodai. Dalam keadaan Nabi Musa sedang marah, dilemparkan Lauh-Lauh itu dari tangannya.

Bukankah dalam al-Lauh itu terdapat ayat-ayat Alloh???

Setelah itu, baginda pun pergi menemui Nabi Harun, kemudian ditarik olehnya baju Nabi Harun dengan kuat seraya berkata, “aku tinggalkan kamu untuk menjaga bani Israil, tapi mengapa kamu biarkan mereka melakukan perkara yang syirik kepada Allohu Subhanahu Wa Ta’ala?!!”

Lalu Nabi Harun memberi tahu, “wahai saudaraku, kalau saja aku larang mereka, niscaya mereka akan membunuhku. Aku tunaikan amanah engkau, tapi mereka mengancam akan membunuhku”

Setelah mendengar keterangan Nabi Harun, menjadi redalah kemarahan Nabi Musa, diambil kembali Lauh-Lauh yang berserakan, dan kemudian berdo’a kepada Alloh, “Ya Alloh, ampunkan dosa saya dan saudara saya ini”

Padahal sebelumnya tadi, apa yang Nabi Musa perbuat saat sedang Marah?

Baginda mencampakkan Lauh-Lauh yang dibawanya, memarahi Nabi Harun, bahkan menarik baju kakak kandungnya sendiri (riwayat lain mengatakan menarik janggut Nabi Harun. Ada pula yang mengatakan; menampar).

Demikianlah keadaan seseorang apabila marah menguasainya.

PESAN MORAL

Bukan perkara yang aib apabila seseorang memiliki sifat marah, justru yang aib adalah apabila seseorang tidak punya sifat marah. Tapi orang yang istimewa adalah orang yang punya sifat marah, namun mampu ‘mengawal’ (menahan) amarahnya.

Suatu peristiwa terjadi saat sayyidina Abu Bakar Shiddiq rodhiyallohu ‘anhu berada di Masjid Nabi. Ketika itu beliau dimaki oleh seseorang di hadapan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Orang Badui tersebut terus mengeluarkan kata-kata yang tidak karuan. Seketika sayyidina Abu Bakar melihat di hadapannya ada Rosululloh maka beliau pun menahan amarahnya.

Semakin sayyidina Abu Bakar diam, maka semakin tak berhenti pula orang itu memakinya. Lama-lama sayyidina Abu Bakar pun tak tahan, sehingga beliau bangkit dari duduknya dan marah juga pada orang tersebut.

Melihat hal demikian, baginda Nabi bangkit dari duduknya lantas pergi. Dikejarlah oleh sayyidina Abu Bakar, “Ya Rosulalloh, mohon maaf kalau saya tadi telah mengganggu kenyamanan duduk Tuan”

Kata baginda Nabi, “Kamu tadi, saat orang itu memaki, dan kamu tidak melayani marahnya orang itu, aku lihat banyak para malaikat datang mengelilingi kamu. Tapi ketika kamu bangkit dan marah juga, malaikat pergi, syaithon datang, dan aku tidak duduk di tempat yang ada syaithon.”

ShodaqAllohul ‘Adziim, wa Shodaqo Rosuuluhul Kariim, wa Nahnu ‘ala dzalika minas Syaahidiin was Syaakiriin, walhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin. 🙂 <3

Wallohu a’lam bishshowaab.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress and MasterTemplate