Kesaksian Seekor “Kadal Gurun” (Dhabb) atas Kerasulan Nabi Muhammad ﷺ

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Seluruh alam menyambut gembira atas kehadiran Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, tak terkecuali hewan dan juga tumbuhan, mereka mengenal Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, mereka pun tunduk dan hormat pada dakwah Sayyidina Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Termasuk pula diantaranya seekor DHOBB (biawak / kadal padang pasir) yang pernah menyatakan diri beriman kepada Alloh dan taat kepada Rosul-Nya.

Seekor Dhobb yang dalam bahasa ilmiah dikenal dengan nama
Uromastyx aegyptia, tergolong dalam keluarga kadal dan termasuk hewan herbivora. Amat jauh berbeda dengan biawak yang lazim kita kenal di Indonesia. Menurut para Ulama, daging biawak haram dikonsumsi, sedangkan Dhobb, boleh (halal) dimakan
(Image source: Thomas Price)

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibn Katsir dalam kitab al-Bidayatu Wan-Nihayah halaman 934 bahwa Imam Baihaqi menceritakan dari Abu Manshur Ahmad bin Ali Ad-Damghoniy dari daerah Namin di Baihaq, dalam sebuah kisah yang disampaikan oleh Sayyidina Umar bin Khoththob rodhiyallohu ‘anhu:

Suatu hari, Nabi sedang duduk bersama para sahabat. Pada saat itu, lewatlah seorang Arab Badui dari bani Sulaim yang baru pulang dari berburu, di bahunya ada seekor Dhobb (biawak / kadal padang pasir) yang ditangkapnya serta berazam untuk membakar hewan tersebut untuk dimakan.

Maka Badui ini keheranan melihat kerumunan orang. Kemudian ia bertanya, “Siapakah gerangan yang dikerumuni itu?” Maka para Sahabat menjawab, “Itulah Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam”

Ketika ia diberitahu bahwa para Sahabat sedang mengerumuni Nabi Muhammad, maka ia mendekati Nabi, lantas Badui ini berkata sambil menunjuk tangannya ke arah Rosululloh, “Demi tuhan Latta dan Uzza, tiadalah sesuatu yang terdapat di alam ini yang lebih kubenci daripada engkau wahai Muhammad! Kalaulah tidak karena aku khawatir kaumku memanggilku dengan panggilan yang tergesa-gesa, tentulah aku sudah memenggal kepalamu, lalu aku dapat menggembirakan hatiku dan hati semua manusia yang berkulit hitam, putih, merah, dan kaum-kaum selainnya!”

Sayyidina Umar menjadi naik pitam, sangat marah, lalu bangkit dan berkata, “Wahai Nabi! Biarlah Saya mengakhiri hidupnya!”

Lalu Rosululloh berkata kepada sahabatnya, “Wahai ‘Umar, tidakkah engkau tahu bahwa orang yang lemah-lembut itu hampir-hampir diangkat menjadi nabi?”

Rosululloh bertanya kepada Badui ini, “Apa yang menyebabkan engkau berkata demikian? Sepatutnya engkau menghormatiku dalam perhimpunan bersama Sahabatku!”

“Demi tuhan Latta dan Uzza! Aku takkan beriman kepadamu wahai Muhammad hingga biawak ini beriman kepadamu” Kata Arab Badui sambil mengeluarkan Dhobb itu lalu melemparkannya kehadapan Rosululloh.

Kemudian Rosululloh memanggil biawak tersebut, “Wahai Dhobb, kemarilah!”

Maka Dhob itu menuju kepada Rosululloh sambil berjalan dengan penuh sopan dan tunduk.

“Wahai Dhobb, Kepada siapakah engkau beriman?” Tanya Rosululloh.

Terdengar Dhobb itu menjawab dalam Bahasa Arab yang fasih dan difahami oleh semua yang hadir, “Aku beriman kepada Tuhan yang ‘arasy-Nya berada di langit, yang di bumi ada kerajaan-Nya, yang di laut ada anugerah jalan-Nya, yang di syurga ada rahmat dan kasih sayang-Nya, dan di neraka ada siksa dan azab-Nya”

Lalu Rosululloh bertanya lagi, “Man Ana (siapa aku)??”

Dhobb itu menjawab, “Anta Rosululloh (Anda Utusan Alloh), utusan Tuhan yang memiliki seluruh alam dan Khotamin Nabiyyiin (Nabi Terakhir)! Amatlah beruntung orang yang mendukung perjuangan tuan, dan binasalah orang yang mendustakan tuan! Tiada Tuhan selain Alloh, dan engkau Muhammad utusan Alloh”

Mendengar kata-kata biawak tersebut, Arab Badui lantas berkata, “Wahai Muhammad! Sebelum ini engkau merupakan orang yang paling aku benci, tetapi hari ini engkaulah orang yang paling aku kasihi, lebih aku kasihi daripada bapakku dan diriku sendiri, semoga engkau mengasihi dzhohir & batinku.”

Kemudian badui tersebut mengucapkan kalimah syahadat di hadapan semua yang hadir.

Wallohu a’lam bishshowaab

Allohumma Sholli ;ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI Team

Makam Para Wali di Spanyol

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Seorang turis berkebangsaan Spanyol pada suatu hari datang ke Indonesia, lalu menyempatkan diri berziarah ke makam Walisongo yang ada di tanah Jawa serta Proklamator Indonesia, Presiden Soekarno di Blitar – Jawa Timur.

Mr. Yasin Maymir Carlo, pria asal Granada ini adalah seorang Ahli Sejarah Islam Andalusia, beliau juga merupakan pengajar yang aktif pada kegiatan tasawuf, dzikir, sholawat dan qosidah di negara asalnya.

Mr. Yasin saat berziarah ke makam Proklamator Indonesia, Presiden Soekarno di Blitar – Jawa Timur

Ketika mendengar nama Spanyol, mungkin yang terbayang di benak kita adalah sebuah negeri yang pernah menjadi kampiun Sepakbola sejagad pada tahun 2010, atau mungkin juga kita akan familiar dengan sebuah drama el-Classico antara raksasa Ibukota Real Madrid dan Barcelona 🙂

Tapi tahukah Anda, bahwa sesungguhnya Spanyol (dahulu bernama Andalusia) pernah menjadi saksi bisu bagi kejayaan Islam selama 7 abad lamanya. Di negeri itu lahir banyak Ulama besar dunia. Sebut saja Qodhi Abu Bakar ibn al-‘Arobi al-Isybili al-Andalusi al-Maliki yang lahir di kota Isybilia (sekarang Sevilla), Imam Qurthubi yang lahir di Qurthub (Cordoba), Imam Muhammad bin Abdullah bin Malik ath-Tho’i al-Jayyani yang terkenal dengan karyanya “Alfiyah Ibnu Malik” yang lahir di Jaén. Sungguh masih banyak lagi para Ulama dan Wali yang lahir di negeri itu.

Namun kini, dimanakah keberadaan makam mereka sebagai bukti peradaban Islam di Spanyol ??

Seorang pelajar Indonesia di Spanyol saat berkunjung ke daerah Savero Ochoa (salah satu sudut kota Granada) pernah bertanya pada penduduk setempat: “kalau disini, makam Aulia dimana?”

Mereka menjawab: “Semua berada di trotoar di bawah telapak kakimu sampai radius 2-3 km ke arah taman-taman. Area ini adalah makam orang-orang mulia jaman dulu. Jadi kalau kamu mau mengirim al-Fatihah, cukup berhenti sebentar disini..”

Duh, makam wali Alloh tak dapat dibedakan dengan trotoar jalanan? Ya Alloh, amat menyayat hati..

Mungkin perjalanan “wisata rohani” Mr. Yasin ke Indonesia teramat menyenangkan. Beliau dapat berziarah, bertawasul, dan mengirim fatihah dengan tenang dan khusyu’. Karena memang benar-benar di makam Auliya yang terpelihara dengan baik. Bukan seperti di trotoar Granada atau kursi tamannya yang ribut dengan hilir-mudik kendaraan atau lalu-lalang pengguna jalan.

Wallohu a’lam

Semoga dapat menjadi i’tibar bagi kita semua.

“Yaa Ahla Laa iLaaha iLLalloh, bihaqqi Laa iLaaha iLLalloh, ighfir liman qoola Laa iLaaha iLLalloh, wahsyurnaa fii zumroti man qoola Laa iLaaha iLLallohu Muhammadur Rosuululloh”

(Wahai yang tiada Tuhan selain Alloh, dengan kebenaran Laa iLaaha iLLalloh, ampunilah orang yang telah mengucapkan Laa iLaaha iLLalloh, dan himpunkanlah kami dalam golongan orang yang mengucapkan : Tiada Tuhan selain Alloh, Muhammad utusan Alloh)

Wa Shollallohu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI Team

The Lockdown of The Two Holy Harams 2020

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Saudi Arabia imposes 24-hour lockdown until further notice in Makkah, Madinah (Image source: Gulf Business)

William Ewart Gladstone (29 December 1809 – 19 May 1898) was for four times the prime minister of the United Kingdom. He held that position until the end of the nineteen century, during the “Scrumble for Africa” in 1884.

One day, he was speaking on the floor of the UK parliament, and the following was part of his speech on that day:

“We will never be able to defeat and rule over the Arabs unless we place this Book – he was holding in his hand a copy of the Quraan Book – under our feet.”

A member of the parliament got up, came to him, took the Quraan Book from his hand, put it on the floor and stands on it.

Gladstone said: “You fool, I did not mean that! What I meant is that we must erase (Prophet) Muhammad (Sallaa Allaahu ‘Alayhe Wa ‘Alaa Aalehe Wa Sallam) from their heart, and stop them from visiting him! At that point we can defeat the Arabs.” End quote.

The UK government worked to deny Muslems access to the Prophet Sallaa Allaahu ‘Alayhe Wa ‘Alaa Aalehe Wa Sallam in Al Madeenah Al Munawwarah, and to perform ‘Umrah and Hajj in Makkah Al Mukarramah.

In Saudi Arabia there were not many educated citizens who knew how to run a government and to process Visa applications. So they hired UK government immigration personnel from London and put them in charge of the immigration services of Saudi Arabia in Jeddah and Reyaad.

Until the end of the last Gregorian 20th century it was these Britons immigration officers who used to process the applications of Muslems from all over the world for ‘Umrah and Hajj, and Zeyaarah to Prophet Muhammad Sallaa Allaahu ‘Alayhe Wa ‘Alaa Aalehe Wa Sallam in Al Madeenah Al Munawwarah.

Later the USA joined the processing of the Visa for Muslems who applied for a Visa to come to Saudi Arabia.

These Britons and Americans granted and denied Visas at their whim.

The air fares to Saudi Arabia became prohibitive to the majority of the Muslems. Likewise the hotels in Makkah Al Mukarramah and Al Madeenah Al Munawwarah.

Many Muslems were not able to afford to visit the Prophet Sallaa Allaahu ‘Alayhe Wa ‘Alaa Aalehe Wa Sallam or to make Hajj to the Ka’bah.

It is so sad that non Muslem governments decided who visits Prophet Muhammad Sallaa Allaahu ‘Alayhe Wa ‘Alaa Aalehe Wa Sallam and who makes Hajj.

If he was resuscitated today, Gladstone would be very happy to see his program and his instructions put into practice by Aala Sa’ood, who in the year 2020 locked down the Harams of Makkah Al Mukarramah and the House of Allaah, and the Haram of Al Madeenah Al Munawwarah, the residence of Prophet Muhammad Sallaa Allaahu ‘Alayhe Wa ‘Alaa Aalehe Wa Sallam.

Dr. Hassan Sheikh Hussein Osman, DVM
Makkah Al Mukarramah, Friday 06 Shawwaal 1441 Hejree (29 May 2020 Gregorian)

Published by: RiseTAFDI


UJIAN SEKOLAH DARING/ONLINE SMK DKI 2020

ASSALAMU’ALAIKUM, SELAMAT PAGI PESERTA DIDIK, SOAL TRY OUT HANYA LIMA BUAH URAIAN (ESSAY), AKAN KITA MULAI PUKUL 07.00 – 07.15 WIB DAN TIDAK ADA TRY OUT SUSULAN

Maklumat! Sebelum kalian mengerjakan ujian, jangan lupa berdo’a terlebih dahulu, dan bacalah pesan yang disampaikan oleh Bapak Marsyad Algonawi, S.Pd berikut ini:

“Wahai anak-anakku…

Selama ini kalian telah belajar dengan penuh semangat dan tak kenal lelah, dan itu sudah cukup sebagai bekal kamu menghadapi ujian sekolah. Janganlah takut tidak lulus, karena seorang muslim TIDAK WAJIB lulus, TIDAK WAJIB kaya, TIDAK WAJIB sukses mencapai cita-cita dunia, karena semua itu adalah hasil.

Seorang muslim hanya DIWAJIBKAN BERUSAHA sekuat tenaga untuk lulus, untuk kaya, untuk sukses mencapai cita-cita dunia dengan cara yang baik dan benar di jalan yang diridhoi Alloh Ta’ala. Perkara hasil, serahkanlah kepada Alloh…

Mudah-mudahan kalian sukses dan berhasil semuanya… Aamiin”

Mohon Maaf, Ujian Telah Berakhir…

Kontributor Ujian Daring SMK PR 2 : Marsyad Algonawi, S.Pd

RiseTAFDI Team

PUJIAN ALLAH TA’ALA TERHADAP GOLONGAN ASY’ARIYYAH

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Tidaklah al-Qur’an memuji kaum yang salah. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memuji golongan Asy’ariyah dalam sebuah ayat yang mana pada saat ayat tersebut turun, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam memberikan isyaratnya kepada seorang sahabat yaitu Sayyidina Abu Musa al-Asy’ari (kakek dari Imam Abu Hasan al-Asy’ari (pendiri faham Asy’ariyah, aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah) seraya menunjuk kepadanya.

Ayat yang dimaksud terdapat pada (QS. al-Maidah : 54)

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Alloh, yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Alloh Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. al-Maidah : 54)

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang bertugas sebagai mubayyin (penjelas) al-Qur’an telah memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan ”kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya..“, dalam ayat di atas adalah kaum Abu Musa al-Asy’ari berdasarkan hadits shohih berikut…

Dari Iyadh al-Asy’ari r.a dia berkata “Ketika ayat, “Alloh Subhanahu Wa Ta’ala akan mendatangkan satu kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya“, maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Mereka adalah kaummu wahai Abu Musa”. Nabi mengisyaratkan “Mereka adalah kaum ini” dan Nabi mengisyaratkan kepada Abu Musa al-Asy’ari ”

Berkata Imam al-Qusyairi:

“Pengikut madzhab Abu Hasan al-Asy’ari termasuk kaum Abu Musa al-Asy’ari, karena setiap terjadi penisbahan kata kaum terhadap Nabi di dalam al-Qur’an, maka yang dimaksudkan adalah pengikutnya”

Dan telah berkata Imam Baihaqi:

“Demikian itu karena telah nyata ditemukan keutamaan besar dan kedudukan yang sangat mulia pada Imam Abu Hasan al-Asy’ari rodhiyallohu ‘anhu. Beliau adalah dari kaum Abu Musa al-Asy’ari dan termasuk anak turunannya. Mereka-mereka itu telah diberi ilmu rezki kefahaman yang dikhususkan di antara mereka yaitu dengan menguatkan sunnah dan menghancurkan bid’ah dengan menampakan hujjah dan menolak segala syubhat/kekeliruan”

————————-
>> Mengenal lebih dekat sosok Sahabat Abu Musa al-Asy’ari rodhiyallohu ‘anhu <<

Nama asli beliau adalah Abdulloh bin Qois bin Sulaim al-Asy’ari, adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Abu Musa al-Asy’ari berasal dari Yaman (dari kabilah Bani Asy’ari atau Asy’ariyyin), dan masuk Islam di Mekkah sebelum terjadinya Hijrah. Beliau dan dua saudara tuanya Abu Burdah dan Abu Ruhm, beserta 50 orang kaumnya meninggalkan Yaman dan ikut berhijrah ke Habsyah (sekarang Ethiopia) dengan menaiki dua kapal. Abu Musa dan kaum pengikutnya kemudian berhijrah ke Madinah dan menemui Nabi Muhammad setelah Pertempuran Khaibar pada tahun 628 H.

Setelah terlibat dalam Fathu Makkah pada tahun 629, Abu Musa menjadi salah seorang pemimpin pasukan muslim dalam Pertempuran Authos pada tahun 630. Dua tahun kemudian, Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam mengutus Abu Musa dan Mu’adz bin Jabal ke Yaman untuk menjadi pemimpin umat dan menyebarkan ajaran Islam di sana.

Hadits terkenal yang diriwayatkan oleh Abu Burdah, dari ayahnya, dari kakeknya, menyebutkan bahwa Nabi Muhammad berpesan kepada mereka sebelum mereka berangkat: “Hendaklah kalian mudahkan dan jangan persulit, beri kabar gembira dan jangan membuat orang lari, saling patuhlah kalian berdua dan jangan saling bersengketa”.


Masjid al-Asya’ir di kota Zabid, Yaman. Masjid ini pertama kali dibangun oleh salah seorang sahabat Nabi Muhammad yaitu Sayyidina Abu Musa al-Asy’ari ra ketika beliau diutus menyebarkan Islam ke Zabid pada tahun 8 Hijriah. (Sumber: unesco.org)

Abu Musa al-Asy’ari merupakan tipikal sahabat yang lengkap. Seorang yang saleh dan alim, rajin beribadah dan menuntut ilmu ketika sedang mukim (tidak sedang berjihad), dan seorang prajurit yang perkasa, cerdik dan arif ketika sedang terjun dalam berbagai pertempuran, tanpa kehilangan keikhlasannya.

Baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam memberi gambaran tentang mereka, “Kaum Asy’ariyyin ini, bila mereka ditimpa kekurangan makanan dalam pertempuran atau dilanda paceklik, mereka mengumpulkan semua makanan yang tersisa pada selembar kain, lalu mereka membagi rata. Mereka ini termasuk golonganku, dan aku termasuk golongan mereka”

Kaum pengikut Abu Musa (yang dinamakan al-Asy’ariyyin) disebutkan dalam hadits sebagai orang-orang yang senang tolong-menolong dan memiliki kelebihan suara yang merdu dan tajwid dalam membaca al-Qur’an. Abu Musa juga memiliki kelebihan tersebut, sehingga Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam secara khusus pernah memujinya: “Sungguh, engkau telah diberi (suara seperti) seruling dari seruling-seruling keluarga Nabi Daud”.

KESIMPULAN

Kesaksian Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bahwa Alloh Ta’ala mencintai Abu Musa al-Asy’ari dan para pengikutnya, menjelaskan kepada kita bahwa pengikut madzhab al-Asy’ari adalah kaum yang dicintai Alloh dan mereka pun mencintai-Nya. Karena Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan pengikut madzhabnya termasuk kaum atau pengikut Abu Musa al-Asy’ari yang juga merupakan datuk dari Imam Abul Hasan al-Asy’ari.

Dengan demikian, jaminan al-Qur’an dan hadits telah nyata bahwa golongan al-Asy’ariyah adalah golongan Ahlussunnah wal Jama’ah (pengikut al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi), yakni golongan yang selamat (al-Firqoh an-Najiyah). Aamiin fa InsyaAlloh.

Dari Abu Huroiroh r.a ia berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الايمان يمان والحكمة يمانية أتاكم اهل اليمن هم ارق أفئدة والين قلوبا

“Keimanan yang sebenarnya ialah iman penduduk Yaman dan hikmah sebenarnya ialah hikmah penduduk Yaman. Datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka adalah orang-orang yang lembut dan terlebih halus hatinya “ (HR. Bukhori & Muslim)

Wallohu a’lam bishshowaab.

Disarikan oleh RiseTAFDI melalui Asy’ari Research Group

POHON SAHABI, ‘Sahabat’ Nabi yang Masih Hidup Hingga Kini

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Pohon sahabi memiliki tinggi 11 m dan luas rimbun 12×20 m², pohon ini diyakini pernah menjadi saksi ketangguhan seorang remaja dalam berniaga dari Makkah menuju Syam (Syria / Suriah), remaja itu bernama Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam).

Dalam ilmu Taksonomi tumbuhan, maka akan kita ketahui bahwa pohon sahabi ini berjenis Pistachio (Pistacia vera) atau dalam bahasa indonesia disebut kenari hijau.

Pohon ini sendiri terletak di tengah padang pasir bernama Buqo’awiyya di negara Jordan (secara geografis berdekatan dengan kota Bushro di Syria). Disitulah, remaja 12 tahun itu bersandar pada sebuah pohon yang kemudian dikenal dengan “the only living sahabi” (sahabat Nabi yang masih hidup)

Sewaktu baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam berteduh dibawahnya, Buhairo (Arabبحير, Buhairo, Bahiro), seorang pendeta yahudi yang berkediaman tak jauh dari pohon tersebut, mengenali tanda-tanda kenabian beliau ( Shollallohu ‘Alaihi Wasallam ) berdasarkan kitab taurat dan injil yang ia baca.

Kemudian Buhairo berpesan kepada Abu Tholib (paman Nabi) untuk merahasiakan berita tersebut serta menjaga keselamatan baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Ini memang hanya kisah sebuah pohon, namun pohon ini pernah menyentuh kulit Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Sehingga cukuplah, pohon ini sebagai jawaban dan bukti atas mereka yang menafikan keberkahan yang ada pada diri Nabi Muhammad serta mendustakan kerosulan beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Dengan keberkahan baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, THE BLESSED TREE (pohon yang terberkahi) itu masih tetap berdiri tegak di atas hamparan padang pasir yang gersang, malah terkadang pohon ini mengeluarkan air di bawahnya.

Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz saat mengunjungi pohon Sahabi di Syam. Kakak beliau, Mufti Tarim al-Habib Masyhur bin Hafidz berkata: “Pohon ini akan ada di Surga”

Menariknya lagi, selepas melewati kota di bagian barat laut Arab Saudi hingga ke kota Bushro sejauh 500 km, tidak ada satupun pohon yang mampu hidup apalagi bertahan lama sebagaimana pohon sahabi ini.

Allohu Akbar!

Wahai pohon, beruntungnya engkau bisa berjumpa Rosululloh, sang kekasih Alloh. Seorang manusia yang dirindukan umatnya, dicintai sahabat-nya, disegani lawan-nya, dan ditakuti orang yang berkuasa. Sosok manusia Mulia yang dimuliakan oleh Yang Maha Mulia.

Engkau telah menjadi saksi wajah Rosululloh yang bercahaya. Engkaupun menjadi saksi perangai beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang bersahaja. Alangkah indahnya hidup ini andai dapat menatap wajah beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, semoga mengalir keberkahan dalam diri kami dalam menapaki jejak langkahmu, Ya Rosulalloh Ya Habiballoh. 💖

Wallohu a’lam bishshowaab.

Qoshidah Ziyarah, Salamullahi Yaa Saadah

Bismillaahirrohmaanirrohiim….

Qoshidah Salamullohi Yaa Saadah berisi salam penghormatan dan doa yang dibaca saat ziarah kubur, terutama saat datang ke makam para Wali / orang Sholeh sebagai bagian adab atau etika kita terhadap mereka.

Syair qoshidah ini digubah oleh al-Imam al-Habib Abdulloh bin Alwi al-Haddad. Dan masyarakat sering menyebutnya dengan qoshidah “Salamullohi Yaa Saadah” mengikuti penggalan bait pertama qoshidah. Berikut adalah isi qoshidah dan terjemahnya:

سَـــلاَمُ اللهِ يـَا سَــــادَةْ مِنَ الرَّحْمٰنِ يَغْـْشَاكُم

Salaamullohi yaa saadah minar-Rohmaani yaghsyaakum

Wahai Tuanku, semoga salam Alloh tetap tercurah padamu.

عِبَــــادَ اللهِ جِـئْنــــاَكُمْ قَـصَدْنَاكُمْ طَلَبْنَاكُمْ

‘Ibaadallohi ji’naakum qoshadnaakum tholabnaakum

Wahai hamba-hamba Alloh, kami datang kepadamu. Kami bermaksud (bersentuhan dengan rohanimu) dan kami berharap (berkahmu).

تُـعِيـْنُوْنَـــــا تُـغِيْثُوْنَـــا بـهِمَّتِكُمْ وَجَدْوَاكُمْ

Tu’iinuunaa tughiitsuunaa bihimmatikum wa jadwaakum

Untuk menolong kami, menyejukkan kami dengan siraman yang berasal darimu, sesuai dengan tekad dan pencapaianmu (selama ini)

فَأَحْبُـوْنَــا وَأَعْـطُوْنَـــا عَـطَاَياكُمْ هَـدَايَـاكُمْ

Fa ahbuunaa wa a’thuunaa ‘athoyaakum hadaayaakum

Maka cintailah dan berikanlah kepada kami hal-hal yang Alloh berikan dan hadiahkan padamu.

فَــــلاَ خَيّـَبْتُـمُوْ ظَـنِّيْ فَحَاشَاكُمْ وَحَاشَاكُمْ

Falaa khoyyabtumuu dzonnii fahaasyaakum wahaasyaakum

Jangan biarkan pengharapan ini sia-sia, jauhlah engkau semua (dari sifat tega menyia-nyiakan kami).

سَعِدْنَا إِذْ اَتَيْنَاکُمْ ، وَفُزْنَا حِيْنَ زُرْنَاکُمْ

Sa’idnaa idz ataynaakum wa fuznaa hiina zurnaakum

Kami sangat beruntung datang di haribaanmu dan kami amat berbahagia dengan menziarahimu

فَـقـُوْمُوْا وَاشْفَعُوْا فِيْنَا إِلـَى الرَّحْمٰنِ مَـوْلاَكُمْ

Faquumuu wasyfa’uu fiinaa ilar-rohmaani mawlaakum

maka bangkitlah dan syafa’atilah kami bermohon pada Allah yang bersifat Ar-Rohman, Tuanmu

عَسَى نُحْظَى عَسَى نُعْطَى مَـزَايـا مِنْ مَزَايـَاكُمْ

‘Asaa nuhdzo ‘asaa nu’tho mazaayaa min mazaayaakum

Mudah-mudahan kami diberi (Alloh) keberuntungan dan diberi limpahan karunia yang selama ini dianugerahkan kepadamu.

عَسَى نَظْرةْ عَسَى رَحْمَةْ تَـغْشَـانَا وَتـَغْشَاكُمْ

‘Asaa nadzroh ‘asaa rohmah taghsyaanaa wa taghsyaakum

Mudah-mudahan kita dipandang dan dilimpahi rahmat yang akan menyelimuti kami dan engkau.

سَــــلاَمُ اللهِ حَيـــــَاكُـم وَعـَيْنُ اللهِ تـَرْعَاكُمْ

Salaamullohi hayyaakum wa ‘ainullohi tar’aakum

Semoga engkau semakin dihidupkan dengan keselamatan (dari) Alloh dan semoga pandangan Alloh senantiasa menuntun engkau.

وَصَلَّى اللهُ مـَوْلاَنـــاَ وَسَلَّمْ مَا أَتَـيْنـاكُمْ

Wa shollallohu mawlaanaa wasallam maa atainaakum

Mudah-mudahan rahmat Alloh dan keselamatan semakin terlimpah kepada tuan kita,

عَلَى الْمُحـْتَارِشَـافِعِنَـا وَمُـنْقـِذِنـَا وَإِيَّاكُمْ

‘Alâl mukhtaari syaafi’iinaa wa munqidzinaa wa iyyaakum

Manusia pilihan yang mensyafa’ati dan menyelamatkan kita

Wallohu a’lam bishowaab

RiseTAFDI team

[KISAH NYATA]: RAHASIA DEBU DI MAKAM NABI MUHAMMAD ﷺ

Kisah ini pertama kali dimuat dalam harian Alarabiyah.net (pada kamis,1 Robi’ul Awwal 1427 H atau 30 Maret 2006 M), yang mana wartawan Omar al-Midwahy melakukan wawancara langsung dengan dua orang saksi hidup yang pernah mendapat tugas mengganti kain penutup makam Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam pada tahun 1971 Masehi.

Syaikh Abdur Rahim Amin Bukhari Rohimahulloh, merupakan seorang penulis kaligrafi terkenal untuk kiswah (kain penutup) Ka’bah, beliau adalah satu diantara 13 orang yang beruntung dan berbahagia mendapat pengalaman langka memasuki dan mengganti kain penutup makam Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam

Kutipan kisahnya dalam bahasa Indonesia pernah dimuat dalam Fanpage “Foto Foto Habaib”. Sedangkan dalam bahasa Inggris ditulis ulang oleh kontributor Nuruddin Zangi pada situs ilmgate.org.

Berikut ini akan kami sadur kembali kisahnya dengan sedikit penambahan dan penyelarasan.


Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Aku (Omar al-Midwahy) masih ingat pada percakapan dengan seorang sepuh di Makkah sambil melihat tenunan mereka. Saat aku berada di Makkah, aku berkesempatan mengunjungi pabrik pembuat kain penutup ka’bah (kiswah). Dari situ aku mengetahui bahwa ternyata pabrik tersebut juga mendapat kehormatan untuk membuat kain penutup ruang makam Nabi.

Aku bertemu pada waktu itu (beberapa tahun yang lalu), dengan seorang pria yang pernah ambil bagian dalam produksi dan instalasi (pemasangan) kain penutup makam Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam . Dan aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, sebab aku khawatir beliau akan meninggalkan dunia sebelum aku sempat mewawancarainya.

Aku merekam setiap percakapan dengan mereka yang dicampur dengan rasa takjub dan tangis air mata. Terkadang aku jumpai mereka menceritakannya dengan penuh emosional seakan-akan pengalaman berharga itu terjadi kemarin, bukan seperempat abad yang lalu.

Syaikh Muhammad Ali Madani, kepala divisi pabrik tenun otomatis pada waktu itu bermurah hati padaku. Aku mengetahui darinya bahwa beliau adalah salah satu dari beberapa pekerja yang ikut ambil bagian dalam menenun dan memasang kain penutup makam Nabi. Aku berkata padanya, ceritakan tentang tudung makam dan ruang makam Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Beliau menjelaskannya. Penglihatannya mengembara jauh, seolah-olah beliau membawa kenangan berharga di depannya. Kemudian beliau menjawab:

“Pada hari itu, perasaan takjub begitu lengkap mengambil alih semua perhatianku, ini adalah tempat teragung di muka bumi, aku tidak tahu persis berapa panjang garis lingkarnya, tetapi menurut taksiran kami, RUANG MAKAM itu memiliki garis lingkar sekitar 48 meter.

Kekaguman terhadap tempat itu sangat menarik perhatianku, aku begitu terpesona melihat lampu-lampu antik menggantung di langit-langit ruang, peninggalan dari zaman kuno, kami diberitahu bahwa ada beberapa peninggalan Nabi yang disimpan di tempat lain – aku tidak tahu dimana – tapi aku tahu bahwa beberapa benda bersejarah ada yang disimpan pada ruang Sayyidah Fatimah az-Zahra – di tempat yang sama, dimana beliau tinggal.”

Syaikh Muhammad Ali Madani menambahkan,

“Ruang itu sebagian besar tertutup kain tenunan yang terbuat dari sutra murni, berwarna hijau lembut dengan kain katun yang kuat, dan dimahkotai oleh sabuk yang mirip dengan penutup Ka’bah, tetapi ini berwarna merah. Seperempat bagian dari kain dibordir bertuliskan ayat Al-Qur’an yang mulia dari suroh al-Fath, terbuat dari garis kapas dan benang emas dan perak..”

*Reporter Omar al-Midwahy menyebutkan bahwa penutup ruangan makam Nabi tidak seperti penutup Ka’bah yang saban tahun harus diganti, hal ini karena penutup makam Nabi terletak di dalam ruangan tertutup dan tak pernah tersentuh oleh siapapun. Penggantian hanya dilakukan apabila diperlukan.

Setelah itu aku (Omar al-Midwahy) bertemu dengan Syaikh Ahmad Sahirty. Beliau adalah kepala divisi bordir di pabrik kain penutup Ka’bah dan Makam Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Terlihat jelas usianya yang sudah sepuh dan penglihatannya yang lemah. Beliau mengambil inisiatif untuk bercerita:

“Bagaimana aku bisa mengungkapkan perasaanku pada saat aku memasuki ruang makam Nabi … aku tidak mampu .. Karena itu sudah di luar batas kemampuan aku berbicara, dan aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari aku akan ditanyakan tentang pengalaman ini. Dan aku jamin bahwa aku tidak akan dapat melakukan atau melalui pengalaman itu lagi”.

Kemudian Syaikh Ahmad Sahirty mendekat kepadaku dan menambahkan,

“Lihatlah lensa kacamata ini (Syaikh Ahmad Sahirty menunjukkan ketebalan kacamatanya –red) dan lihatlah berapa banyak rambut putih, itu semua menunjukkan berapa berat tahun kehidupan yang ku bawa. Usiaku, meski tidak ku hitung, tapi aku pernah mendengar mereka mengatakan bahwa aku lahir pada tahun 1333 H (1917 M). Dan seumur hidupku, aku tidak memiliki kegemaran selain kecintaaan pada aroma indah dan parfum. Aku telah menghabiskan jangka waktu yang panjang di tahun-tahun tersisa, berusaha untuk memuaskan nafsu mencium segala keharuman yang ada. Aku belajar banyak, dan aku memberitahu Anda dengan keyakinan: bahwa aku memiliki keahlian khusus bagaimana mencampur minyak wangi dan menghasilkan wewangian terbaik, dan tidak ada orang lain yang bisa membuat wewangian seperti racikanku.

Aku katakan ini karena aku menemukan ketidakmampuan untuk menjelaskan apa yang terjadi pada malam yang diberkati itu, ketika pintu dibuka untuk kami, dan kami memasuki ruang pemakaman baginda Nabi, aku menghirup keharuman dan aroma yang tidak pernah ku ketahui atau mencium sebelumnya maupun sesudahnya, dan tidak pernah dikenal seumur hidupku. Aku tidak pernah tahu rahasia komposisinya: itu adalah keharuman di atas keharuman, aroma diatas aroma – sesuatu yang lain daripada yang lain, bahkan akan membuat takjub seorang ahli sekalipun, atau pedagang parfum manapun juga tidak akan pernah mencium seperti itu sebelum atau sesudahnya.”

Ketika aku memintanya menggambarkan bagaimana ruang makam Nabi, Syaikh Ahmad Sahirty tampak bergetar hebat, Dan beliau berkata dengan suara samar:

“Aku yakin bahwa tinggi ruangan itu 11 meter. Di bawah kubah hijau ada kubah kecil lainnya dan tertulis di situ :

Makam Nabi صلى الله عليه وآله وسلم,

Makam Abu Bakar ash-Shiddiq,

dan Makam Umar ibn al-Khoththob.

Dan aku juga melihat bahwa ada makam lain yang kosong (mungkin tempat kosong ini kelak untuk makam Nabi ‘Isa ‘alihissalam, wAllohu a’lam –red), dan di samping empat makam adalah ruang Sayyidah Fatimah az-Zahra yang merupakan rumah dimana beliau dan keluarganya tinggal.

Dari saking kagumnya, kami sampai tidak tahu bagaimana membersihkan potongan-potongan khusus yang dibuat untuk menempelkan kain pada kubah, (jari-jari kami bergetar) dan napas kami memburu. Kami tinggal selama 14 malam penuh, bekerja dari setelah sholat Isya sampai adzan pertama waktu Fajr untuk menyelesaikan tugas ini. Kami terus membersihkan potongan-potongan lama, melepas simpul dari penutup lama, dan membersihkan semua debu dan bulu merpati yang terjebak di tempat suci tersebut. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1971 Masehi, dan penutup lama yang kami ganti telah berusia 75 tahun sesuai dengan tanggal yang tertulis di atasnya.

Aku adalah orang pertama yang masuk, bersama Sayyid Habib tokoh-tokoh Madinah al-Munawwaroh, dan (Syaikh) As’ad Syiroh yang merupakan direktur wakaf keagamaan Madinah pada saat itu, dan Habib Maghribi dari manajemen pabrik, dan Abdul Karim Falimbani, Nasir Qori, Abdur Rahim Bukhari dan lain-lain. Kami berjumlah 13 orang, aku tidak ingat sebagian besar dari mereka, karena saat ini mereka telah meninggal dunia kembali kepada rahmat Alloh.

Kami didampingi kepala Suku Aghwaat (juru kunci dan penjaga makam Nabi turun-temurun). Kami menggunakan bahasa isyarat dan kalau terpaksa berbicara akan kami lakukan dengan berbisik-bisik. Aku, yang pada waktu itu mataku sudah lemah dan kacamata ini tidak pernah meninggalkan mataku sejak bertahun-tahun sebelumnya, tapi di ruang itu aku berubah menjadi orang lain, sungguh aku merasakan hal itu, dan perbedaan itu sangat jelas bagiku.”

Syaikh Ahmad Sahirty bersumpah, kemudian meneruskan:

“Di situ aku sanggup memasukkan benang ke lubang jarum tanpa kacamata ku, meskipun cahaya di tempat kami bekerja sangat redup. Bagaimana Anda bisa menjelaskan secara ilmiah tentang hal ini? Dan bagaimana Anda bisa menjelaskan fakta bahwa aku tidak merasa alergi (aku adalah penderita alergi akut), aku akan batuk parah jika sedikit terkena debu. Tapi pada waktu itu, aku sama sekali tidak terpengaruh oleh debu ruangan, atau pasir yang terbang ke udara. Seakan pasir tidak lagi pasir, dan seolah-olah debu menjadi obat untuk penyakitku, aku merasa bersemangat dan berjiwa muda seperti ketika usiaku belasan tahun (padahal waktu itu usiaku sudah lebih dari setengah abad).

Satu lagi hal aneh yang terjadi padaku, yang rahasia-nya belum aku mengerti hingga saat ini. Kami harus membawa keluar kain bordir (penutup lama) sepanjang 36 meter yang masih tersisa (dan tentunya sangat berat apabila diangkat seorang diri –red). Aku katakan pada mereka untuk melipat dan membungkusnya serta meninggalkannya disitu. Lalu aku pergi menuju bungkusan tersebut, dan meskipun tubuh ini sudah tua dan lemah, tapi aku sanggup memanggulnya di atas bahu ini (seorang diri). Aku pergi keluar dari Ruang mulia itu tanpa sedikitpun merasa berat. Setelah itu, datanglah mereka dengan lima orang muda untuk membawanya dari tempat aku meletakkannya, namun (aneh) mereka tidak bisa [membawanya].”

Syaikh Ahmad Sahirty mulai menangis terisak-isak sambil mendesah:

“Mereka bertanya siapa yang membawa karung bungkusan itu keluar? Yang menurut mereka sangat berat hingga 5 orang muda dan kuat pun tak sanggup mengangkatnya. Saat ku jawab, ‘akulah yang mengangkatnya’, mereka tertawa dengan penuh rasa tidak percaya hingga datang Syaikh Abdur Rahim Bukhari, penulis kaligrafi yang terkenal itu bersaksi bahwa benar dia telah melihat aku Syaikh Ahmad Sahirty yang mengangkatnya sendirian!!”

Shollu ‘Ala Rosuulillah!

Allohumma Sholli wa Sallim wa Baarik ‘Alaihi wa ‘ala Aalih.

Wallohu a’lam bishshowaab.

Published by: RiseTAFDI team

Tragisnya Kematian ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, Lebih Memilih Kawan Ketimbang Iman

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Ayahnya bernama Abu Mu’aith bin Abu Amr bin Umayah bin Abdi Syams, seorang tokoh utama kaum Quraisy di Makkah.

Namun, Uqbah bin Abi Mu’aith lebih suka dipanggil Abul Walid merujuk pada nama anaknya al-Walid bin Uqbah. Uqbah adalah seorang Quraisy yang sangat kaya. Dia adalah pengusaha terkenal.

Ternaknya digembalakan di hampir seluruh jazirah. Pada musim panas, ia akan berdagang ke negara-negara di sebelah utara, yaitu di Syam. Sedangkan, pada musim dingin, ia berdagang di negara-negara selatan, yaitu di Yaman.

Sebagai seorang pengusaha, Uqbah menjalin hubungan yang akrab dengan semua kolega dan relasinya. Untuk itu, ia tak segan-segan untuk mengeluarkan biaya dari sakunya sendiri untuk mentraktir makan teman-temannya atau menjamu mereka dalam sebuah pesta.

Dalam acara tersebut, Uqbah biasanya mengundang para tokoh masyarakat, baik dari kalangan pengusaha maupun tokoh berpengaruh lainnya.

Suatu kali, Uqbah mengundang Rosululloh yang bersedia menghadiri undangan tersebut. Bagi Nabi Muhammad, kesempatan ini bisa dimanfaatkan sebagai waktu yang tepat untuk berdakwah.

Ketika hidangan sudah tersedia, Rosululloh pun berkata, “Wahai Uqbah, saya tidak akan makan hidangan Anda sampai Anda bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh, dan saya adalah Rosul-Nya.”

Secara spontan Uqbah menyanggupinya dan tak lama kemudian ia mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan orang banyak. Uqbah telah masuk Islam.

Sebenarnya, Uqbah sudah lama menaruh simpati dan terpanggil hatinya kepada Islam, hanya saja ia masih merahasiakan suara batinnya itu karena pengaruh sahabat dan kaumnya yang rata-rata membenci ajaran Islam, yang menolak penyembahan terhadap berhala-berhala di Ka’bah.

Ketertarikan tersebut muncul sepulang dirinya dan tokoh pemimpin Quraisy Abu Jahal dari sebuah perjalanan jauh. Ketika itu, dia mendengar Rosululloh yang sedang membaca Alquran. Peristiwa tersebut sedikit memengaruhi hatinya yang terbiasa berbuat jahat.

Uqbah meludahi wajah Rosululloh setelah dia menyatakan keluar dari Islam.

Mengetahui keislaman Uqbah, teman-teman bisnisnya banyak yang terkejut. Salah satu di antaranya adalah Ubay bin Kholaf.

Ubay pun menanyakan langsung kebenaran berita itu. “Kamu sudah rusak, hai Uqbah,” kata Ubay.

Maka, Uqbah membuka rahasia mengapa dia masuk Islam. “Demi Alloh, aku tidak rusak. Aku lakukan hal itu karena pada perjamuan makan itu ada seorang tamu. Ia tidak mau menyentuh makananku sebelum aku bersaksi di hadapannya. Aku malu jika ada tamu yang keluar dari rumahku sementara ia belum memakan hidanganku.”

Ubay kemudian mengancam Uqbah. “Aku tidak rela. Aku tidak ingin melanjutkan hubungan perdagangan ini denganmu sampai kamu menyatakan keluar dari agama Muhammad!”

Dia pun menyuruh Uqbah untuk menyatakan hal tersebut di hadapan Nabi Muhammad langsung. Tak sampai di situ saja, Ubay menyuruh Uqbah untuk mencaci maki Rosululloh di hadapan orang banyak dan meludahi wajahnya.

Sahabat dekatnya yang lain, pemimpin Quraisy yang terkenal kejam Abu Jahal, juga terkejut dengan kabar tersebut. Sekembalinya dari perjalanan, Abu Jahal langsung menemui Uqbah dan mengingatkan kepadanya agar tidak sampai meretakkan tali persahabatan yang telah terjalin.

Bahkan, ia juga menyuruhnya untuk menemui Rosululloh dan meludahinya. “Pilihlah bagimu wahai Uqbah, agamamu atau kaummu, Muhammad atau keluargamu!” ancamnya.

Ubay bin Kholaf dan Abu Jahal menginginkan agar sahabat mereka itu murtad dan kembali kafir. Mendengar ancaman-ancaman tersebut Uqbah galau. Dia tidak ingin kehilangan rekan bisnis dan sahabatnya. Dia tidak ingin keuntungnya berkurang.

Uqbah pun merenung sejenak, membandingkan antara keduanya. Tetap dengan keyakinan barunya Islam ataukah kembali pada kekufuran dan tetap bersahabat dengan Abu Jahal serta mendapatkan kembali rekan bisnisnya.

Setelah menghitung untung-ruginya secara matang, atas desakan Ubay dan Jahal, akhirnya ia menemui Rosululloh. Di hadapan Rosululloh, ia menyatakan keluar dari Islam. Ia pun mencaci-maki dan tak lupa meludahi wajah Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Atas perlakuan ini, Rosululloh bersabda. “Kelak engkau akan keluar dari Makkah dari bukit sebelah itu dan aku akan menyambutmu dari bukit sebelah itu. Pada saat itu engkau menyesali perbuatanmu.”

Kuburan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith di ‘Irqu Adzh-Dzhobyah. Dia dipancung setelah tertawan oleh kaum Muslimin dalam perang Badr

Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa ludah Uqbah yang dilontarkan ke wajah Nabi itu kembali ke wajahnya sendiri dan kemudian membakar pipinya. Luka bakar pipinya itu tak pernah sembuh sampai dibawa ke liang kuburnya.

Allah pun menurunkan Surah al-Furqon ayat 28-29. “Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Alquran ketika Alquran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.”

Setelah itu, Uqbah kembali menjadi dirinya yang dulu. Bersama Abu Jahal dan tokoh Quraisy lainnya dia melakukan sejumlah tindakan yang keji kepada Rosululloh.

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa Uqbah bin Abu Mu’aith pernah mencampakkan kotoran unta dan isi perut domba yang baru disembelih ke tubuh Rosululloh yang sedang sujud di Baitulloh. Beliau pun terus sujud hingga putrinya Fatimah datang membuang kotoran itu sambil menangisi nasib yang menimpa bapaknya.

Uqbah bin Abi Mu’aith juga pernah mencekik leher dan menginjak pundak Rosululloh. Perlakuan kasar kaum Quraisy semakin bertambah setelah paman Nabi Abu Tholib dan isterinya Khodijah meninggal dunia pada tahun ke-10 kerosulan.

Keadaan dan penyiksaan terhadap Rosululloh tersebut terjadi beberapa lama hingga Alloh mengabulkan sabda Rosululloh ketika Uqbah memutuskan untuk mengkhianati keislamannya.

Kesempatan itu datang saat Perang Badar yang diikuti oleh Uqbah bin Abu Mu’aith. Dalam peperangan yang dimenangkan kaum Muslimin itu Uqbah tertawan.

Uqbah melupakan harga dirinya dan menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal atas perlakuannya yang lebih memilih kawannya yang musyrik daripada kawan yang sebenarnya. “Jangan bunuh saya, siapa yang akan menjaga anak-anak saya ya Nabi Alloh?” katanya sambil merengek. Dia terus memohon. Dalam kondisi tangan terbelenggu akhirnya leher Uqbah dipancung.

Wallohu a’lam

RiseTAFDI team

Islam itu Agama yang Adil

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Ketika Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam berhasil menaklukkan pasukan Yahudi Khaibar. Pemimpin Yahudi Khaibar mengirimkan utusan untuk berdamai. Saat ditawarkan berdamai, baginda Nabi malah menerima perdamaian itu.

Kalau konsep masalah jihad adalah membunuh semua, kenapa Nabi menerima perdamaian dengan Yahudi Khaibar? Padahal saat itu Nabi dalam kondisi ‘di atas angin’ (sedang menang), bukan dalam keadaan terjepit atau kalah.

Tak cukup hanya menerima perdamaian saja, apa yang diusulkan oleh pihak Yahudi pun diterima oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Yahudi Khaibar memiliki kekayaan yang banyak dari hasil kebun kurma. Maka mereka menawarkan kepada baginda Nabi bahwa hasil dari kebun Kurma tersebut dibagi dua, yakni sebagian untuk kaum Muslimin dan sebagiannya lagi untuk bangsa Yahudi.


Benteng Yahudi di kota Khaibar (terletak 150 km dari barat laut Madinah). Khaibar memiliki delapan lapis benteng pertahanan yang besar dan beberapa benteng yang kecil.

Foto (bagian kanan bawah) adalah pintu benteng Na’im yang dibobol oleh Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ta’ala ‘anhu. Selain jatuhnya benteng tersebut ke pihak kaum Muslimin, Harits bin Abu Zainab (komandan Yahudi) pun tewas di tangannya

Bagaimanakah sikap baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam atas tawaran tersebut? Baginda Nabi setuju!

Bukankah “ghonimah” (harta rampasan perang) itu semestinya kalau dimenangi oleh kaum Muslimin adalah menjadi hak kaum Muslimin?

Ya! Tapi baginda Nabi setuju untuk memberikan haknya kepada kaum Yahudi, bukan maksud menolak atau menunjukkan kerendahan, bukan pula menunjukkan kelemahan, tapi ingin menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang toleran terhadap agama lain.

Baginda hendak menunjukkan bahwa agama ini adalah berdamai dengan siapa saja yang mau mengusung perdamaian. Islam bukanlah agama yang kejam, dan bukan pula agama pertumpahan darah.

Maka baginda Nabi menyepakati usul tersebut dengan memberikan sebagian hasil kebun Kurma untuk kaum Yahudi. Hal itu dilakukan oleh baginda yang Mulia agar kaum Yahudi tetap mendapatkan sumber penghasilan hidup. Kalau seandainya diambil semua oleh pihak Muslimin, bagaimana kaum Yahudi bisa bertahan hidup?

Bahkan begitu besarnya perhatian baginda atas kesepakatan itu, setiap tahunnya baginda Nabi menugaskan Sayyidina Abdulloh bin Rowahah rodhiyallohu ta’ala ‘anhu untuk menakar hasil kebun Kurma tersebut guna dibagikan dengan tepat dan adil, mana yang menjadi hak Yahudi dan mana yang menjadi hak kaum Muslimin.

Masih belum yakin kalau Islam benar-benar agama yang adil? Baiklah kita lanjutkan, suatu peristiwa terjadi, sebuah dialog antara seorang ketua Yahudi dengan Sayyidina Abdulloh bin Rowahah.

Kata ketua Yahudi, “Wahai Abdulloh, kamu ini memiliki perhitungan yang amat tepat. Hitunglah ini dan laporkan pada Muhammad perhitungan yang kurang dari ini.” Demikian ketua Yahudi mengajarkan Sayyidina Abdulloh bin Rowahah untuk menipu baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Tidak tahukah Yahudi ini siapakah yang diajak berkhianat? Murid baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, yang keimanannya itu tidak bisa dinilai dengan emas ataupun uang.

Lantas apa jawaban Sayyidina Abdulloh bin Rowahah, “wAllohi (Demi Alloh)! Aku ini datang diperintah oleh seseorang yang paling aku sayang dan aku sanjungi (maksudnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam), datang kepada orang yang paling aku benci diatas muka bumi ini (maksudnya Yahudi).

Tapi dengan rasa sayangnya aku terhadap orang yang memerintahku, tidak memaksa aku untuk dzholim kepadamu. Dan juga tidak menjadikan bencinya aku kepadamu, memaksa aku untuk mengurangi timbangan yang mesti engkau terima daripada bagian tersebut.”

Lihatlah bagaimana adilnya Islam terhadap agama lain. Sudah tidak diperangi oleh Nabi, diterima tawaran berdamai, diberikan bagian harta rampasan perang yang sepatutnya menjadi hak kaum Muslimin, dan Nabi memberikan bagian itu tepat sesuai dengan kadar yang disepakati, masih mengajak pula untuk berkhianat? Allohu Alloh.. 🙂

Semoga Alloh memberi hidayah padaku, padamu, dan pada kita semua. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin

Wallohu a’lam

Disarikan oleh RiseTAFDI team dari berbagai sumber diantaranya Mau’idzhoh Hasanah oleh Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid pengasuh Majlis Ta’lim Darul Murtadza (Semoga Alloh melindungi beliau serta memberikan manfaat untuk kita)

Powered by WordPress and MasterTemplate