[KISAH NYATA]: RAHASIA DEBU DI MAKAM NABI MUHAMMAD ﷺ

Kisah ini pertama kali dimuat dalam harian Alarabiyah.net (pada kamis,1 Robi’ul Awwal 1427 H atau 30 Maret 2006 M), yang mana wartawan Omar al-Midwahy melakukan wawancara langsung dengan dua orang saksi hidup yang pernah mendapat tugas mengganti kain penutup makam Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam pada tahun 1971 Masehi.

Syaikh Abdur Rahim Amin Bukhari Rohimahulloh, merupakan seorang penulis kaligrafi terkenal untuk kiswah (kain penutup) Ka’bah, beliau adalah satu diantara 13 orang yang beruntung dan berbahagia mendapat pengalaman langka memasuki dan mengganti kain penutup makam Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam

Kutipan kisahnya dalam bahasa Indonesia pernah dimuat dalam Fanpage “Foto Foto Habaib”. Sedangkan dalam bahasa Inggris ditulis ulang oleh kontributor Nuruddin Zangi pada situs ilmgate.org.

Berikut ini akan kami sadur kembali kisahnya dengan sedikit penambahan dan penyelarasan.


Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Aku (Omar al-Midwahy) masih ingat pada percakapan dengan seorang sepuh di Makkah sambil melihat tenunan mereka. Saat aku berada di Makkah, aku berkesempatan mengunjungi pabrik pembuat kain penutup ka’bah (kiswah). Dari situ aku mengetahui bahwa ternyata pabrik tersebut juga mendapat kehormatan untuk membuat kain penutup ruang makam Nabi.

Aku bertemu pada waktu itu (beberapa tahun yang lalu), dengan seorang pria yang pernah ambil bagian dalam produksi dan instalasi (pemasangan) kain penutup makam Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam . Dan aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, sebab aku khawatir beliau akan meninggalkan dunia sebelum aku sempat mewawancarainya.

Aku merekam setiap percakapan dengan mereka yang dicampur dengan rasa takjub dan tangis air mata. Terkadang aku jumpai mereka menceritakannya dengan penuh emosional seakan-akan pengalaman berharga itu terjadi kemarin, bukan seperempat abad yang lalu.

Syaikh Muhammad Ali Madani, kepala divisi pabrik tenun otomatis pada waktu itu bermurah hati padaku. Aku mengetahui darinya bahwa beliau adalah salah satu dari beberapa pekerja yang ikut ambil bagian dalam menenun dan memasang kain penutup makam Nabi. Aku berkata padanya, ceritakan tentang tudung makam dan ruang makam Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam .

Beliau menjelaskannya. Penglihatannya mengembara jauh, seolah-olah beliau membawa kenangan berharga di depannya. Kemudian beliau menjawab:

“Pada hari itu, perasaan takjub begitu lengkap mengambil alih semua perhatianku, ini adalah tempat teragung di muka bumi, aku tidak tahu persis berapa panjang garis lingkarnya, tetapi menurut taksiran kami, RUANG MAKAM itu memiliki garis lingkar sekitar 48 meter.

Kekaguman terhadap tempat itu sangat menarik perhatianku, aku begitu terpesona melihat lampu-lampu antik menggantung di langit-langit ruang, peninggalan dari zaman kuno, kami diberitahu bahwa ada beberapa peninggalan Nabi yang disimpan di tempat lain – aku tidak tahu dimana – tapi aku tahu bahwa beberapa benda bersejarah ada yang disimpan pada ruang Sayyidah Fatimah az-Zahra – di tempat yang sama, dimana beliau tinggal.”

Syaikh Muhammad Ali Madani menambahkan,

“Ruang itu sebagian besar tertutup kain tenunan yang terbuat dari sutra murni, berwarna hijau lembut dengan kain katun yang kuat, dan dimahkotai oleh sabuk yang mirip dengan penutup Ka’bah, tetapi ini berwarna merah. Seperempat bagian dari kain dibordir bertuliskan ayat Al-Qur’an yang mulia dari suroh al-Fath, terbuat dari garis kapas dan benang emas dan perak..”

*Reporter Omar al-Midwahy menyebutkan bahwa penutup ruangan makam Nabi tidak seperti penutup Ka’bah yang saban tahun harus diganti, hal ini karena penutup makam Nabi terletak di dalam ruangan tertutup dan tak pernah tersentuh oleh siapapun. Penggantian hanya dilakukan apabila diperlukan.

Setelah itu aku (Omar al-Midwahy) bertemu dengan Syaikh Ahmad Sahirty. Beliau adalah kepala divisi bordir di pabrik kain penutup Ka’bah dan Makam Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Terlihat jelas usianya yang sudah sepuh dan penglihatannya yang lemah. Beliau mengambil inisiatif untuk bercerita:

“Bagaimana aku bisa mengungkapkan perasaanku pada saat aku memasuki ruang makam Nabi … aku tidak mampu .. Karena itu sudah di luar batas kemampuan aku berbicara, dan aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari aku akan ditanyakan tentang pengalaman ini. Dan aku jamin bahwa aku tidak akan dapat melakukan atau melalui pengalaman itu lagi”.

Kemudian Syaikh Ahmad Sahirty mendekat kepadaku dan menambahkan,

“Lihatlah lensa kacamata ini (Syaikh Ahmad Sahirty menunjukkan ketebalan kacamatanya –red) dan lihatlah berapa banyak rambut putih, itu semua menunjukkan berapa berat tahun kehidupan yang ku bawa. Usiaku, meski tidak ku hitung, tapi aku pernah mendengar mereka mengatakan bahwa aku lahir pada tahun 1333 H (1917 M). Dan seumur hidupku, aku tidak memiliki kegemaran selain kecintaaan pada aroma indah dan parfum. Aku telah menghabiskan jangka waktu yang panjang di tahun-tahun tersisa, berusaha untuk memuaskan nafsu mencium segala keharuman yang ada. Aku belajar banyak, dan aku memberitahu Anda dengan keyakinan: bahwa aku memiliki keahlian khusus bagaimana mencampur minyak wangi dan menghasilkan wewangian terbaik, dan tidak ada orang lain yang bisa membuat wewangian seperti racikanku.

Aku katakan ini karena aku menemukan ketidakmampuan untuk menjelaskan apa yang terjadi pada malam yang diberkati itu, ketika pintu dibuka untuk kami, dan kami memasuki ruang pemakaman baginda Nabi, aku menghirup keharuman dan aroma yang tidak pernah ku ketahui atau mencium sebelumnya maupun sesudahnya, dan tidak pernah dikenal seumur hidupku. Aku tidak pernah tahu rahasia komposisinya: itu adalah keharuman di atas keharuman, aroma diatas aroma – sesuatu yang lain daripada yang lain, bahkan akan membuat takjub seorang ahli sekalipun, atau pedagang parfum manapun juga tidak akan pernah mencium seperti itu sebelum atau sesudahnya.”

Ketika aku memintanya menggambarkan bagaimana ruang makam Nabi, Syaikh Ahmad Sahirty tampak bergetar hebat, Dan beliau berkata dengan suara samar:

“Aku yakin bahwa tinggi ruangan itu 11 meter. Di bawah kubah hijau ada kubah kecil lainnya dan tertulis di situ :

Makam Nabi صلى الله عليه وآله وسلم,

Makam Abu Bakar ash-Shiddiq,

dan Makam Umar ibn al-Khoththob.

Dan aku juga melihat bahwa ada makam lain yang kosong (mungkin tempat kosong ini kelak untuk makam Nabi ‘Isa ‘alihissalam, wAllohu a’lam –red), dan di samping empat makam adalah ruang Sayyidah Fatimah az-Zahra yang merupakan rumah dimana beliau dan keluarganya tinggal.

Dari saking kagumnya, kami sampai tidak tahu bagaimana membersihkan potongan-potongan khusus yang dibuat untuk menempelkan kain pada kubah, (jari-jari kami bergetar) dan napas kami memburu. Kami tinggal selama 14 malam penuh, bekerja dari setelah sholat Isya sampai adzan pertama waktu Fajr untuk menyelesaikan tugas ini. Kami terus membersihkan potongan-potongan lama, melepas simpul dari penutup lama, dan membersihkan semua debu dan bulu merpati yang terjebak di tempat suci tersebut. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1971 Masehi, dan penutup lama yang kami ganti telah berusia 75 tahun sesuai dengan tanggal yang tertulis di atasnya.

Aku adalah orang pertama yang masuk, bersama Sayyid Habib tokoh-tokoh Madinah al-Munawwaroh, dan (Syaikh) As’ad Syiroh yang merupakan direktur wakaf keagamaan Madinah pada saat itu, dan Habib Maghribi dari manajemen pabrik, dan Abdul Karim Falimbani, Nasir Qori, Abdur Rahim Bukhari dan lain-lain. Kami berjumlah 13 orang, aku tidak ingat sebagian besar dari mereka, karena saat ini mereka telah meninggal dunia kembali kepada rahmat Alloh.

Kami didampingi kepala Suku Aghwaat (juru kunci dan penjaga makam Nabi turun-temurun). Kami menggunakan bahasa isyarat dan kalau terpaksa berbicara akan kami lakukan dengan berbisik-bisik. Aku, yang pada waktu itu mataku sudah lemah dan kacamata ini tidak pernah meninggalkan mataku sejak bertahun-tahun sebelumnya, tapi di ruang itu aku berubah menjadi orang lain, sungguh aku merasakan hal itu, dan perbedaan itu sangat jelas bagiku.”

Syaikh Ahmad Sahirty bersumpah, kemudian meneruskan:

“Di situ aku sanggup memasukkan benang ke lubang jarum tanpa kacamata ku, meskipun cahaya di tempat kami bekerja sangat redup. Bagaimana Anda bisa menjelaskan secara ilmiah tentang hal ini? Dan bagaimana Anda bisa menjelaskan fakta bahwa aku tidak merasa alergi (aku adalah penderita alergi akut), aku akan batuk parah jika sedikit terkena debu. Tapi pada waktu itu, aku sama sekali tidak terpengaruh oleh debu ruangan, atau pasir yang terbang ke udara. Seakan pasir tidak lagi pasir, dan seolah-olah debu menjadi obat untuk penyakitku, aku merasa bersemangat dan berjiwa muda seperti ketika usiaku belasan tahun (padahal waktu itu usiaku sudah lebih dari setengah abad).

Satu lagi hal aneh yang terjadi padaku, yang rahasia-nya belum aku mengerti hingga saat ini. Kami harus membawa keluar kain bordir (penutup lama) sepanjang 36 meter yang masih tersisa (dan tentunya sangat berat apabila diangkat seorang diri –red). Aku katakan pada mereka untuk melipat dan membungkusnya serta meninggalkannya disitu. Lalu aku pergi menuju bungkusan tersebut, dan meskipun tubuh ini sudah tua dan lemah, tapi aku sanggup memanggulnya di atas bahu ini (seorang diri). Aku pergi keluar dari Ruang mulia itu tanpa sedikitpun merasa berat. Setelah itu, datanglah mereka dengan lima orang muda untuk membawanya dari tempat aku meletakkannya, namun (aneh) mereka tidak bisa [membawanya].”

Syaikh Ahmad Sahirty mulai menangis terisak-isak sambil mendesah:

“Mereka bertanya siapa yang membawa karung bungkusan itu keluar? Yang menurut mereka sangat berat hingga 5 orang muda dan kuat pun tak sanggup mengangkatnya. Saat ku jawab, ‘akulah yang mengangkatnya’, mereka tertawa dengan penuh rasa tidak percaya hingga datang Syaikh Abdur Rahim Bukhari, penulis kaligrafi yang terkenal itu bersaksi bahwa benar dia telah melihat aku Syaikh Ahmad Sahirty yang mengangkatnya sendirian!!”

Shollu ‘Ala Rosuulillah!

Allohumma Sholli wa Sallim wa Baarik ‘Alaihi wa ‘ala Aalih.

Wallohu a’lam bishshowaab.

Published by: RiseTAFDI team

Tragisnya Kematian ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, Lebih Memilih Kawan Ketimbang Iman

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Ayahnya bernama Abu Mu’aith bin Abu Amr bin Umayah bin Abdi Syams, seorang tokoh utama kaum Quraisy di Makkah.

Namun, Uqbah bin Abi Mu’aith lebih suka dipanggil Abul Walid merujuk pada nama anaknya al-Walid bin Uqbah. Uqbah adalah seorang Quraisy yang sangat kaya. Dia adalah pengusaha terkenal.

Ternaknya digembalakan di hampir seluruh jazirah. Pada musim panas, ia akan berdagang ke negara-negara di sebelah utara, yaitu di Syam. Sedangkan, pada musim dingin, ia berdagang di negara-negara selatan, yaitu di Yaman.

Sebagai seorang pengusaha, Uqbah menjalin hubungan yang akrab dengan semua kolega dan relasinya. Untuk itu, ia tak segan-segan untuk mengeluarkan biaya dari sakunya sendiri untuk mentraktir makan teman-temannya atau menjamu mereka dalam sebuah pesta.

Dalam acara tersebut, Uqbah biasanya mengundang para tokoh masyarakat, baik dari kalangan pengusaha maupun tokoh berpengaruh lainnya.

Suatu kali, Uqbah mengundang Rosululloh yang bersedia menghadiri undangan tersebut. Bagi Nabi Muhammad, kesempatan ini bisa dimanfaatkan sebagai waktu yang tepat untuk berdakwah.

Ketika hidangan sudah tersedia, Rosululloh pun berkata, “Wahai Uqbah, saya tidak akan makan hidangan Anda sampai Anda bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh, dan saya adalah Rosul-Nya.”

Secara spontan Uqbah menyanggupinya dan tak lama kemudian ia mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan orang banyak. Uqbah telah masuk Islam.

Sebenarnya, Uqbah sudah lama menaruh simpati dan terpanggil hatinya kepada Islam, hanya saja ia masih merahasiakan suara batinnya itu karena pengaruh sahabat dan kaumnya yang rata-rata membenci ajaran Islam, yang menolak penyembahan terhadap berhala-berhala di Ka’bah.

Ketertarikan tersebut muncul sepulang dirinya dan tokoh pemimpin Quraisy Abu Jahal dari sebuah perjalanan jauh. Ketika itu, dia mendengar Rosululloh yang sedang membaca Alquran. Peristiwa tersebut sedikit memengaruhi hatinya yang terbiasa berbuat jahat.

Uqbah meludahi wajah Rosululloh setelah dia menyatakan keluar dari Islam.

Mengetahui keislaman Uqbah, teman-teman bisnisnya banyak yang terkejut. Salah satu di antaranya adalah Ubay bin Kholaf.

Ubay pun menanyakan langsung kebenaran berita itu. “Kamu sudah rusak, hai Uqbah,” kata Ubay.

Maka, Uqbah membuka rahasia mengapa dia masuk Islam. “Demi Alloh, aku tidak rusak. Aku lakukan hal itu karena pada perjamuan makan itu ada seorang tamu. Ia tidak mau menyentuh makananku sebelum aku bersaksi di hadapannya. Aku malu jika ada tamu yang keluar dari rumahku sementara ia belum memakan hidanganku.”

Ubay kemudian mengancam Uqbah. “Aku tidak rela. Aku tidak ingin melanjutkan hubungan perdagangan ini denganmu sampai kamu menyatakan keluar dari agama Muhammad!”

Dia pun menyuruh Uqbah untuk menyatakan hal tersebut di hadapan Nabi Muhammad langsung. Tak sampai di situ saja, Ubay menyuruh Uqbah untuk mencaci maki Rosululloh di hadapan orang banyak dan meludahi wajahnya.

Sahabat dekatnya yang lain, pemimpin Quraisy yang terkenal kejam Abu Jahal, juga terkejut dengan kabar tersebut. Sekembalinya dari perjalanan, Abu Jahal langsung menemui Uqbah dan mengingatkan kepadanya agar tidak sampai meretakkan tali persahabatan yang telah terjalin.

Bahkan, ia juga menyuruhnya untuk menemui Rosululloh dan meludahinya. “Pilihlah bagimu wahai Uqbah, agamamu atau kaummu, Muhammad atau keluargamu!” ancamnya.

Ubay bin Kholaf dan Abu Jahal menginginkan agar sahabat mereka itu murtad dan kembali kafir. Mendengar ancaman-ancaman tersebut Uqbah galau. Dia tidak ingin kehilangan rekan bisnis dan sahabatnya. Dia tidak ingin keuntungnya berkurang.

Uqbah pun merenung sejenak, membandingkan antara keduanya. Tetap dengan keyakinan barunya Islam ataukah kembali pada kekufuran dan tetap bersahabat dengan Abu Jahal serta mendapatkan kembali rekan bisnisnya.

Setelah menghitung untung-ruginya secara matang, atas desakan Ubay dan Jahal, akhirnya ia menemui Rosululloh. Di hadapan Rosululloh, ia menyatakan keluar dari Islam. Ia pun mencaci-maki dan tak lupa meludahi wajah Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Atas perlakuan ini, Rosululloh bersabda. “Kelak engkau akan keluar dari Makkah dari bukit sebelah itu dan aku akan menyambutmu dari bukit sebelah itu. Pada saat itu engkau menyesali perbuatanmu.”

Kuburan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith di ‘Irqu Adzh-Dzhobyah. Dia dipancung setelah tertawan oleh kaum Muslimin dalam perang Badr

Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa ludah Uqbah yang dilontarkan ke wajah Nabi itu kembali ke wajahnya sendiri dan kemudian membakar pipinya. Luka bakar pipinya itu tak pernah sembuh sampai dibawa ke liang kuburnya.

Allah pun menurunkan Surah al-Furqon ayat 28-29. “Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Alquran ketika Alquran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.”

Setelah itu, Uqbah kembali menjadi dirinya yang dulu. Bersama Abu Jahal dan tokoh Quraisy lainnya dia melakukan sejumlah tindakan yang keji kepada Rosululloh.

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa Uqbah bin Abu Mu’aith pernah mencampakkan kotoran unta dan isi perut domba yang baru disembelih ke tubuh Rosululloh yang sedang sujud di Baitulloh. Beliau pun terus sujud hingga putrinya Fatimah datang membuang kotoran itu sambil menangisi nasib yang menimpa bapaknya.

Uqbah bin Abi Mu’aith juga pernah mencekik leher dan menginjak pundak Rosululloh. Perlakuan kasar kaum Quraisy semakin bertambah setelah paman Nabi Abu Tholib dan isterinya Khodijah meninggal dunia pada tahun ke-10 kerosulan.

Keadaan dan penyiksaan terhadap Rosululloh tersebut terjadi beberapa lama hingga Alloh mengabulkan sabda Rosululloh ketika Uqbah memutuskan untuk mengkhianati keislamannya.

Kesempatan itu datang saat Perang Badar yang diikuti oleh Uqbah bin Abu Mu’aith. Dalam peperangan yang dimenangkan kaum Muslimin itu Uqbah tertawan.

Uqbah melupakan harga dirinya dan menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal atas perlakuannya yang lebih memilih kawannya yang musyrik daripada kawan yang sebenarnya. “Jangan bunuh saya, siapa yang akan menjaga anak-anak saya ya Nabi Alloh?” katanya sambil merengek. Dia terus memohon. Dalam kondisi tangan terbelenggu akhirnya leher Uqbah dipancung.

Wallohu a’lam

RiseTAFDI team

Islam itu Agama yang Adil

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Ketika Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam berhasil menaklukkan pasukan Yahudi Khaibar. Pemimpin Yahudi Khaibar mengirimkan utusan untuk berdamai. Saat ditawarkan berdamai, baginda Nabi malah menerima perdamaian itu.

Kalau konsep masalah jihad adalah membunuh semua, kenapa Nabi menerima perdamaian dengan Yahudi Khaibar? Padahal saat itu Nabi dalam kondisi ‘di atas angin’ (sedang menang), bukan dalam keadaan terjepit atau kalah.

Tak cukup hanya menerima perdamaian saja, apa yang diusulkan oleh pihak Yahudi pun diterima oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Yahudi Khaibar memiliki kekayaan yang banyak dari hasil kebun kurma. Maka mereka menawarkan kepada baginda Nabi bahwa hasil dari kebun Kurma tersebut dibagi dua, yakni sebagian untuk kaum Muslimin dan sebagiannya lagi untuk bangsa Yahudi.


Benteng Yahudi di kota Khaibar (terletak 150 km dari barat laut Madinah). Khaibar memiliki delapan lapis benteng pertahanan yang besar dan beberapa benteng yang kecil.

Foto (bagian kanan bawah) adalah pintu benteng Na’im yang dibobol oleh Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ta’ala ‘anhu. Selain jatuhnya benteng tersebut ke pihak kaum Muslimin, Harits bin Abu Zainab (komandan Yahudi) pun tewas di tangannya

Bagaimanakah sikap baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam atas tawaran tersebut? Baginda Nabi setuju!

Bukankah “ghonimah” (harta rampasan perang) itu semestinya kalau dimenangi oleh kaum Muslimin adalah menjadi hak kaum Muslimin?

Ya! Tapi baginda Nabi setuju untuk memberikan haknya kepada kaum Yahudi, bukan maksud menolak atau menunjukkan kerendahan, bukan pula menunjukkan kelemahan, tapi ingin menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang toleran terhadap agama lain.

Baginda hendak menunjukkan bahwa agama ini adalah berdamai dengan siapa saja yang mau mengusung perdamaian. Islam bukanlah agama yang kejam, dan bukan pula agama pertumpahan darah.

Maka baginda Nabi menyepakati usul tersebut dengan memberikan sebagian hasil kebun Kurma untuk kaum Yahudi. Hal itu dilakukan oleh baginda yang Mulia agar kaum Yahudi tetap mendapatkan sumber penghasilan hidup. Kalau seandainya diambil semua oleh pihak Muslimin, bagaimana kaum Yahudi bisa bertahan hidup?

Bahkan begitu besarnya perhatian baginda atas kesepakatan itu, setiap tahunnya baginda Nabi menugaskan Sayyidina Abdulloh bin Rowahah rodhiyallohu ta’ala ‘anhu untuk menakar hasil kebun Kurma tersebut guna dibagikan dengan tepat dan adil, mana yang menjadi hak Yahudi dan mana yang menjadi hak kaum Muslimin.

Masih belum yakin kalau Islam benar-benar agama yang adil? Baiklah kita lanjutkan, suatu peristiwa terjadi, sebuah dialog antara seorang ketua Yahudi dengan Sayyidina Abdulloh bin Rowahah.

Kata ketua Yahudi, “Wahai Abdulloh, kamu ini memiliki perhitungan yang amat tepat. Hitunglah ini dan laporkan pada Muhammad perhitungan yang kurang dari ini.” Demikian ketua Yahudi mengajarkan Sayyidina Abdulloh bin Rowahah untuk menipu baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Tidak tahukah Yahudi ini siapakah yang diajak berkhianat? Murid baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, yang keimanannya itu tidak bisa dinilai dengan emas ataupun uang.

Lantas apa jawaban Sayyidina Abdulloh bin Rowahah, “wAllohi (Demi Alloh)! Aku ini datang diperintah oleh seseorang yang paling aku sayang dan aku sanjungi (maksudnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam), datang kepada orang yang paling aku benci diatas muka bumi ini (maksudnya Yahudi).

Tapi dengan rasa sayangnya aku terhadap orang yang memerintahku, tidak memaksa aku untuk dzholim kepadamu. Dan juga tidak menjadikan bencinya aku kepadamu, memaksa aku untuk mengurangi timbangan yang mesti engkau terima daripada bagian tersebut.”

Lihatlah bagaimana adilnya Islam terhadap agama lain. Sudah tidak diperangi oleh Nabi, diterima tawaran berdamai, diberikan bagian harta rampasan perang yang sepatutnya menjadi hak kaum Muslimin, dan Nabi memberikan bagian itu tepat sesuai dengan kadar yang disepakati, masih mengajak pula untuk berkhianat? Allohu Alloh.. 🙂

Semoga Alloh memberi hidayah padaku, padamu, dan pada kita semua. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin

Wallohu a’lam

Disarikan oleh RiseTAFDI team dari berbagai sumber diantaranya Mau’idzhoh Hasanah oleh Habibana Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid pengasuh Majlis Ta’lim Darul Murtadza (Semoga Alloh melindungi beliau serta memberikan manfaat untuk kita)

Hikmah Puasa ‘Arofah

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz berkata, yang beliau nukilkan daripada kalam ulama-ulama Tarim;

Diantara hikmah atau rahasia bagi siapa saja yang Alloh berikan taufiq untuk puasa pada hari ‘arofah, maka baginya akan dipanjangkan umurnya. Karena puasa ‘arofah itu menghapus dosa setahun yang akan datang, sehingga ia akan hidup setahun lagi agar Alloh ampunkan dosanya.

Adapun do’a yang terbaik dibaca pada hari ‘Arofah, sebagaimana disebutkan oleh baginda Nabi SAW dalam sabdanya (yang artinya) sbb:

Do’a yang paling baik adalah pada hari ‘Arofah, dan sebaik-baik yang aku ucapkan dan juga diucapkan oleh para nabi sebelum aku adalah ucapan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Laa iLaaha iLLa Alloh wahdahu Laa Syariika Lah, Lahul Mulku wa Lahul Hamdu, wa huwa ‘Alaa Kulli Syai-in Qodiir”

(Tidak ada Tuhan kecuali Alloh yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nyalah segala kekuasaan dan pujian. Dan DIA Maha Berkuasa atas segala sesuatu) –(HR. Tirmidzi)–

Saran: dibaca 1000x pada hari ‘arofah

Wallohu a’lam

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

MAKAM KELUARGA “THOBA-THOBA” YANG TENGGELAM

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Kompleks makam “Keluarga Thoba-Thoba” hanya berjarak 500 meter dari makam al-Imam Syafi’i, dan juga sangat berdekatan dengan danau ‘Ain al-Shiroh, Mesir.

Makam keluarga Thoba-Thoba yang tenggelam hanya terlihat kubahnya. Tampak danau ‘ain al-Shiroh di belakang tim Sarkub Mesir

Konon dahulu orang-orang ‘alim ketika mengaji di Kairo sering melalui danau ‘ain al-Shiroh ini. Salah satu ulama tersebut ialah al-Imam Syafi’i. Wallohu a’lam..

Sebenarnya ada sembilan kubah yang menaungi komplek makam keluarga thoba-thoba, namun setelah terjadinya ‘kebocoran’ pada danau ‘ain al-Shiroh, maka air danau merendam dan meruntuhkan bangunan-bangunan tersebut, hingga kini yang masih tersisa dan terlihat adalah dua buah kubah di ujung bagian selatan dan utara.

Denah lokasi makam keluarga Thoba-thoba melalui Satelit Google

Lalu, siapa itu THOBA-THOBA ?

Thoba-Thoba adalah salah satu dari Ahlu Bait (Keturunan) Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Hanya saja beliau berasal dari jalur sayyidina HASAN ra (kakak Sayyidina Husein), cucu Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Nama sebenarnya adalah asy-Syarif Abu Ishaq Ibrohim ibn Ismail ad-Dibaj ibn Ibrohim al-Ghomri (as-Syahid al-Maqtul) ibn Abdillah ibn Hasan al-Mutsanna ibn HASAN as-Sibth ibn Ali ibn Abi Tholib (suami Fathimah al-Batul bintu Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)


Sketsa kompleks pemakaman keluarga Thoba-Thoba.
Dibangun pada sekitar 400 H atau 600 Masehi

Kenapa disebut THOBA-THOBA ??? bagaimana asal muasalnya?

Dijuluki “Thoba-thoba” sebab gaya tuturnya yang kurang jelas (gagap; terbata-bata; sering mengulang lafal). Beliau melafalkan Qof menjadi Tho’.

Al-Khothib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdadi-nya berkisah:

“Saat Thoba-thoba datang ke Baghdad di masa pemerintahan Kholifah Harun ar-Rasyid, Sang Raja mengetahuinya.

Kemudian, utusan istana datang menemui Thoba-thoba bermaksud mengantarnya ke hadapan Harun ar-Rasyid. Namun Thoba-thoba malah kalang kabut. Beliau menyangka ada seseorang yang memfitnahnya di hadapan raja.

Lalu sampailah beliau di hadapan Harun ar-Rasyid. Sang Raja berdiri dan menyuruh Thoba-thoba duduk di sampingnya. Obrolan belum berlangsung lama namun Sang kholifah menangkap ada rasa ketakutan pada tamunya ini.

“Kamu kenapa, Aba Ishaq?” tanya Harun ar-Rasyid.

“Rowwa’ani Shohibut Thoba — Yang memakai jubah (Harun ar-Rasyid, red) membuatku takut.” jawab Abu Ishaq.

Maksudnya Abu Ishaq adalah Shohibul QOBA (Yang memakai Qoba / jubah). Namun karena lisan Abu Ishaq yang gagap dan tidak fasih, jadilah ia menyebut QOba menjadi THOba. Dari kisah gagap inilah Abu Ishaq dijuluki THOBA-THOBA.

Satu dari sembilan kubah yang masih tersisa di makam keluarga Thoba-thoba

Thoba-Thoba sendiri tidak wafat di Mesir. Jadi yang ada di makam ini hanyalah keturunan-keturunannya. Banyak versi menyebutkan jumlah dari makam yang ada di kompleks ini, ada yang menyebutkan 6 buah, ada juga 9 buah, bahkan ada yang mengatakan lebih dari 9 makam. Wallohu a’lam. Namun yang jelas, keluarga Thoba-Thoba ini dikenal sangat DERMAWAN oleh masyarakat Mesir.

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

Kontributor: Tim Sarkub Mesir
Published by: RiseTAFDI team

Dari Penjaga Villa Sampai Menjadi Murid Guru Mulia

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

almarhum Habib Munzir al-Musawa (kiri) dan Guru beliau al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz (kanan)

Spesial Haul Ke-6 al-Maghfurlah Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa, berikut ini kami ketengahkan kisah yang pernah ditulis oleh beliau dalam sebuah forum di majelisrasulullah.org tanggal 6 September 2010.

Almarhum memenuhi permintaan seorang jama’ah yang ingin mendengarkan beliau berkisah mengenai perjalanan hidupnya.

Berikut adalah kisah selengkapnya:

Saya adalah seorang anak yang sangat dimanja oleh ayah saya, ayah saya selalu memanjakan saya lebih dari anaknya yang lain. Namun dimasa baligh, justru saya yang putus sekolah, semua kakak saya wisuda, ayah bunda saya bangga pada mereka, dan kecewa pada saya, karena saya malas sekolah.

Saya lebih senang hadir majelis maulid almarhum al-‘Arif billah al-Habib Umar bin Hud al-Attas, dan majelis taklim kamis sore di Empang Bogor, masa itu yang mengajar adalah almarhum al-‘Allamah al-Habib Husein bin Abdullah bin Muhsin Alattas dengan kajian Fathul Baari.

Sisa hari-hari saya adalah bersholawat 1000 siang 1000 malam, dzikir beribu kali, puasa Nabi Daud as, dan sholat malam berjam-jam, saya pengangguran, dan sangat membuat ayah bunda malu.

Ayah saya 10 tahun belajar dan tinggal di Makkah, guru beliau adalah almarhum al-‘Allamah al-Habib Alwi al-Malikiy, ayah dari almarhum al-‘Allamah Assayyid Muhammad bin Alwi al-Malikiy, ayah saya juga sekolah di Amerika Serikat, dan mengambil gelar sarjana di New York University.

Almarhum ayah sangat malu, beliau mumpuni dalam agama dan mumpuni dalam kesuksesan dunia, beliau berkata pada saya:

“kau ini mau jadi apa? Jika mau agama maka belajarlah dan tuntutlah ilmu sampai keluar negeri, jika ingin mendalami ilmu dunia maka tuntutlah sampai keluar negeri, namun saranku tuntutlah ilmu agama, aku sudah mendalami keduanya, dan aku tak menemukan keberuntungan apa-apa dari kebanggaan orang yang sangat menyanjung negeri barat, walau aku sudah lulusan New York University, tetap aku tidak bisa sukses di dunia kecuali dengan kelicikan, saling sikut dalam kerakusan jabatan, dan aku menghindari itu.”

Maka ayahanda almarhum hidup dalam kesederhanaan di Cipanas, Cianjur, Puncak Jawa barat, beliau lebih senang menyendiri dari ibukota, membesarkan anak-anaknya, mengajari anak-anaknya mengaji, ratib, dan sholat berjamaah.

Namun saya sangat mengecewakan ayah bunda karena boleh dikatakan: dunia tidak akhirat pun tidak.

Tapi saya sangat mencintai Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam menangis merindukan Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, dan sering dikunjungi Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Dalam mimpi, Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam selalu menghibur saya jika saya sedih, suatu waktu saya mimpi bersimpuh dan memeluk lutut beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan berkata wahai Rosululloh, aku rindu padamu, jangan tinggalkan aku lagi, butakan mataku ini asal bisa jumpa denganmu, atau matikan aku sekarang, aku tersiksa di dunia ini.

Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam menepuk bahu saya dan berkata: “Munzir, tenanglah, sebelum usiamu mencapai 40 tahun kau sudah jumpa denganku, maka saya terbangun.”

Akhirnya karena ayah pensiun, maka ibunda membangun losmen kecil di depan rumah berupa 5 kamar saja, disewakan pada orang yang baik-baik, untuk biaya nafkah, dan saya adalah pelayan losmen ibunda saya.

Villa / Losmen yang pernah dijaga oleh almarhum Habibana Munzir bin Fuad al-Musawa. Persis di belakang deretan kamar-kamar ini, adalah rumah orangtua beliau almarhum Habib Fuad bin Abdurrahman al-Musawa

Setiap malam saya jarang tidur, duduk termenung di kursi penerimaan tamu yang cuma meja dan kursi kecil mirip pos satpam, sambil menanti tamu, sambil tafakkur, merenung, melamun, berdzikir, menangis dan sholat malam, demikian malam-malam saya lewati.

Siang hari saya puasa Nabi Daud as, dan terus dilanda sakit asma yang parah, maka itu semakin membuat ayah bunda kecewa, berkata ibunda saya: “kalau kata orang, jika banyak anak, mesti ada satu yang gagal, ibu tak mau percaya pada ucapan itu, tapi apakah ucapan itu kebenaran?”

Saya terus menjadi pelayan di losmen itu, menerima tamu, memasang seprei, menyapu kamar, membersihkan toilet, membawakan makanan dan minuman pesanan tamu, berupa teh, kopi, air putih, atau nasi goreng buatan ibunda jika dipesan tamu.

Sampai semua kakak saya lulus sarjana, saya kemudian tergugah untuk mondok, maka saya pesantren di Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, namun hanya dua bulan saja, saya tidak betah dan sakit-sakitan karena asma terus kambuh, maka saya pulang.

Ayah makin malu, bunda makin sedih, lalu saya privat bahasa arab di kursus bahasa arab Assalafi, pimpinan almarhum Habib Bagir Alattas, ayahanda dari Habib Hud alattas yang kini sering hadir di majelis kita di Almunawar.

Saya harus pulang-pergi Jakarta Cipanas yang saat itu ditempuh dalam 2-3 jam, dengan ongkos sendiri, demikian setiap dua kali seminggu, ongkos itu ya dari losmen tersebut.

Kamar almaghfurlah Habibana Munzir bin Fuad al-Musawa (di rumah orangtua beliau), Cipanas. Di kamar sederhana berukuran sekitar 5 meter persegi ini, besar kemungkinan Habibana menghabiskan waktu-waktu malamnya dengan bertafakkur

Saya selalu hadir maulid di almarhum al-‘Arif Billah al-Habib Umar bin Hud alattas yang saat itu di Cipayung, jika tak ada ongkos maka saya numpang truk dan sering hujan-hujanan pula.

Sering saya datang ke maulid beliau malam jum’at dalam keadaan basah kuyup, dan saya diusir oleh pembantu di rumah beliau, karena karpet tebal dan mahal itu sangat bersih, tak pantas saya yang kotor dan basah menginjaknya, saya terpaksa berdiri saja berteduh di bawah pohon sampai hujan berhenti dan tamu-tamu berdatangan, maka saya duduk di luar teras saja karena baju basah dan takut dihardik sang penjaga.

Saya sering pula ziarah ke Luar Batang, makam al-Habib Husein bin Abubakar Alaydrus, suatu kali saya datang lupa membawa peci, karena datang langsung dari Cipanas, maka saya berkata dalam hati, wahai Alloh, aku datang sebagai tamu seorang wali-Mu, tak beradab jika aku masuk ziarah tanpa peci, tapi uangku pas-pasan, dan aku lapar, kalau aku beli peci maka aku tak makan dan ongkos pulangku kurang.

Maka saya memutuskan beli peci berwarna hijau, karena itu yang termurah saat itu di emperan penjual peci, saya membelinya dan masuk berziarah, sambil membaca yasin untuk dihadiahkan pada almarhum, saya menangisi kehidupan saya yang penuh ketidak-tentuan, mengecewakan orang tua, dan selalu lari dari sanak kerabat, karena selalu dicemooh, mereka berkata: kakak-kakakmu semua sukses, ayahmu lulusan Makkah dan pula New York University, kok anaknya centeng losmen.

Maka saya mulai menghindari kerabat, saat lebaran pun saya jarang berani datang, karena akan terus diteror dan dicemooh.

Walhasil dalam tangis itu saya juga berkata dalam hati, wahai wali Alloh, aku tamumu, aku membeli peci untuk beradab padamu, hamba yang sholih di sisi Alloh, pastilah kau dermawan dan memuliakan tamu, aku lapar dan tak cukup ongkos pulang,

lalu dalam saya merenung, datanglah rombongan teman-teman saya yang pesantren di Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf dengan satu mobil, mereka senang jumpa saya, saya pun ditraktir makan, saya langsung teringat ini berkah saya beradab di makam wali Alloh.

Saya ditanya dengan siapa dan mau kemana? Saya katakan saya sendiri dan mau pulang ke kerabat ibu saya saja di Pasar Sawo, Kebon Nanas Jaksel, mereka berkata: ayo bareng saja, kita antar sampai Kebon Nanas, maka saya pun semakin bersyukur pada Alloh, karena memang ongkos saya tak akan cukup jika pulang ke Cipanas, saya sampai larut malam di kediaman bibi dari Ibu saya, di Pasar Sawo Kebon Nanas, lalu esoknya saya diberi uang cukup untuk pulang, saya pun pulang ke Cipanas.

Tak lama saya berdoa, wahai Alloh, pertemukan saya dengan guru dari orang yang paling dicintai Rosul saw, maka tak lama saya masuk pesantren al-Habib Hamid Nagib bin Syeikh Abubakar di Bekasi Timur, dan setiap kali mahal qiyam maulid saya menangis dan berdoa pada Alloh untuk rindu pada Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, dan dipertemukan dengan guru yang paling dicintai Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, dalam beberapa bulan saja datanglah Guru Mulia al-Musnid al-‘Allamah al-Habib Umar bin Hafidz ke pondok itu, kunjungan pertama beliau yaitu pada tahun 1994.

almarhum Habib Anis bin Alwi al-Habsyi Solo [kiri] bersama al-Habib Umar bin Hafidz [kanan] pada kunjungan pertama beliau ke Indonesia tahun 1994

Selepas beliau menyampaikan ceramah, beliau melirik saya dengan tajam, saya hanya menangis memandangi wajah sejuk itu, lalu saat beliau sudah naik ke mobil bersama almarhum al-Habib Umar Maulakhela, maka Guru Mulia memanggil Habib Nagib bin Syeikh Abubakar, Guru mulia berkata bahwa beliau ingin saya dikirim ke Tarim Hadramaut Yaman untuk belajar dan menjadi murid beliau.

Guru saya Habib Nagib bin Syeikh Abubakar mengatakan saya sangat belum siap, belum bisa bahasa arab, murid baru dan belum tahu apa-apa, mungkin beliau salah pilih? Maka Guru Mulia menunjuk saya, itu.. anak muda yang pakai peci hijau itu! Itu yang saya inginkan, maka Guru saya Habib Nagib memanggil saya untuk jumpa beliau, lalu Guru Mulia bertanya dari dalam mobil yang pintunya masih terbuka: siapa namamu? Dalam bahasa arab tentunya, saya tak bisa menjawab karena tak faham, maka guru saya Habib Nagib menjawab: kau ditanya siapa namamu! Maka saya jawab nama saya, lalu Guru Mulia tersenyum.

Keesokan harinya saya jumpa lagi dengan Guru Mulia di kediaman almarhum Habib Bagir Alattas, saat itu banyak para habaib dan ulama mengajukan anaknya dan muridnya untuk bisa menjadi murid Guru Mulia, maka Guru Mulia mengangguk-angguk sambil kebingungan menghadapi serbuan mereka, lalu Guru Mulia melihat saya di kejauhan, lalu beliau berkata pada almarhum Habib Umar Maulakhela: itu.. anak itu.. jangan lupa dicatat, ia yang pakai peci hijau itu!

Guru Mulia kembali ke Yaman, saya pun langsung ditegur guru saya Habib Nagib bin Syekh Abubakar, seraya berkata: wahai Munzir, kau harus siap-siap dan bersungguh-sungguh, kau sudah diminta berangkat, dan kau tak akan berangkat sebelum siap.

Dua bulan kemudian datanglah almarhum al-Habib Umar Maulakhela ke pesantren, dan menanyakan saya, almarhum Habib Umar Maulakhela berkata pada Habib Nagib: mana itu Munzir anaknya Habib Fuad al-Musawa? Dia harus berangkat minggu ini, saya ditugasi untuk memberangkatkannya, maka Habib Nagib berkata saya belum siap, namun almarhum Habib Umar Maulakhela dengan tegas menjawab: saya tidak mau tahu, namanya sudah tercantum untuk harus berangkat, ini permintaan al-Habib Umar bin Hafidz, ia harus berangkat dalam dua minggu ini bersama rombongan pertama.

Saya persiapkan paspor dll, namun ayah saya keberatan, ia berkata: “kau sakit-sakitan, kalau kau ke Mekkah ayah tenang, karena banyak teman disana, namun ke Hadramaut itu ayah tak ada kenalan, disana negeri tandus, bagaimana kalau kau sakit? Siapa yang menjaminmu?”

Saya pun datang mengadu pada almarhum al-‘Arif billah al-Habib Umar bin Hud Alattas, beliau sudah sangat sepuh, dan beliau berkata: katakan pada ayahmu, saya yang menjaminmu, berangkatlah..

Saya katakan pada ayah saya, maka ayah saya diam, namun hatinya tetap berat untuk mengizinkan saya berangkat, saat saya mesti berangkat ke bandara, ayah saya tak mau melihat wajah saya, beliau buang muka dan hanya memberikan tangannya tanpa mau melihat wajah saya, saya kecewa namun saya dengan berat tetap melangkah ke mobil travel yang akan saya naiki,

namun saat saya akan naik, terasa ingin berpaling ke belakang, saya lihat nun jauh disana ayah saya berdiri di pagar rumah degan tangis melihat keberangkatan saya, beliau melambaikan tangan tanda ridho, rupanya bukan beliau tidak ridho, tapi karena saya sangat disayanginya dan dimanjakannya, beliau berat berpisah dengan saya, saya berangkat dengan airmata sedih.

Saya sampai di Tarim Hadramaut Yaman di kediaman Guru Mulia, beliau mengabsen nama kami, ketika sampai ke nama saya, beliau memandang saya dan tersenyum indah.

Tak lama kemudian terjadi perang Yaman Utara dan Yaman Selatan, kami di Yaman Selatan, pasokan makanan berkurang, makanan sulit, listrik mati, kami pun harus berjalan kaki kemana-mana menempuh jalan 3-4 km untuk taklim karena biasanya dengan mobil-mobil milik Guru Mulia, namun dimasa perang pasokan bensin sangat minim.

Suatu hari saya dilirik oleh Guru Mulia dan berkata: Namamu Munzir (منذر = pemberi peringatan), saya mengangguk, lalu beliau berkata lagi: kau akan memberi peringatan pada jama’ahmu kelak!

Maka saya tercenung, dan terngiang-ngiang ucapan beliau: kau akan memberi peringatan pada jama’ahmu kelak? Saya akan punya jama’ah? Saya miskin begini bahkan untuk mencuci baju pun tak punya uang untuk beli sabun cuci.

Saya mau mencucikan baju teman saya dengan upah agar saya kebagian sabun cucinya, malah saya dihardik: cucianmu tidak bersih! Orang lain saja yang mencuci baju ini.

Maka saya terpaksa mencuci dari air bekas mengalirnya mereka mencuci, air sabun cuci yang mengalir itulah yang saya pakai mencuci baju saya.

Hari demi hari Guru Mulia makin sibuk, maka saya mulai berkhidmat pada beliau, dan lebih memilih membantu segala permasalahan santri, makanan mereka, minuman, tempat menginap dan segala masalah rumah tangga santri, saya tinggalkan pelajaran demi bakti pada Guru Mulia membantu beliau, dengan itu saya lebih sering jumpa beliau.

Dua tahun di Yaman, ayah saya sakit dan telepon, beliau berkata: “kapan kau pulang wahai anakku? Aku rindu.”

Saya jawab: “dua tahun lagi insyaAlloh ayah.”

Ayah menjawab dengan sedih di telepon.. duh.. masih lama sekali, telepon ditutup, 3 hari kemudian Ayah saya wafat.

Saya menangis sedih, sungguh kalau saya tahu bahwa saat saya pamitan itu adalah terakhir kali jumpa dengan beliau, dan beliau buang muka saat saya mencium tangan beliau, namun beliau rupanya masih mengikuti saya, keluar dari kamar, keluar dari rumah, dan berdiri di pintu pagar halaman rumah sambil melambaikan tangan dan mengalirkan airmata, duhai kalau saya tahu itulah terakhir kali saya melihat beliau, rohimahulloh.

Tak lama saya kembali ke Indonesia, tepatnya pada 1998, mulai dakwah sendiri di Cipanas, namun kurang berkembang, maka saya mulai dakwah di Jakarta, saya tinggal dan menginap berpindah-pindah dari rumah ke rumah murid sekaligus teman saya,

majelis malam selasa saat itu masih berpindah-pindah dari rumah ke rumah, mereka adalah murid-murid yang (usianya) lebih tua dari saya, dan mereka kebanyakan dari kalangan awam, maka walau saya sudah duduk untuk mengajar, mereka belum datang, saya menanti,

setibanya mereka yang cuma belasan saja, mereka berkata : nyantai dulu ya bib, ngerokok dulu ya, ngopi dulu ya, saya terpaksa menanti sampai mereka puas, baru mulai maulid Dhiyaullaami’, jama’ah makin banyak, mulai tak cukup di rumah-rumah, maka pindah dari musholla ke musholla, jama’ah makin banyak, maka tak cukup pula musholla, mulai berpindah-pindah dari masjid ke masjid.

Lalu saya membuka majelis di hari lainnya, dan malam selasa mulai ditetapkan di masjid Almunawar, saat itu baru seperempat masjid saja, saya berkata: jama’ah akan semakin banyak, nanti akan setengah masjid ini, lalu akan memenuhi masjid ini, lalu akan sampai keluar masjid insyaAlloh, jama’ah mengaminkan.

Mulailah dibutuhkan kop surat, untuk undangan dan lain sebagainya, maka majelis belum diberi nama, dan saya merasa majelis dan dakwah tak butuh nama, mereka sarankan majelis Habib Munzir saja, saya menolak, ya sudah, Majelis Rasulullah SAW saja.

Kini jama’ah Majelis Rasulullah sudah jutaan, di Jabodetabek, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Mataram, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Singapura, Malaysia, bahkan sampai ke Jepang, dan salah satunya kemarin hadir di majelis haul Badr kita di Monas, yaitu Profesor dari Jepang yang menjadi dosen disana, dia datang ke Indonesia dan mempelajari bidang sosial, namun kedatangannya juga karena sangat ingin jumpa dengan saya, karena ia pengunjung setia web Majelis Rasulullah, khususnya yang versi english.

Sungguh agung anugerah Alloh Subhanahu Wa Ta’ala pada orang yang mencintai Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, yang merindukan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Itulah awal mula hamba pendosa ini sampai majelis ini demikian besar, usia saya kini 38 tahun jika dengan perhitungan hijriyah, dan 37 tahun jika dengan perhitungan masehi, saya lahir pada Jum’at pagi 19 Muharram 1393 H, atau 23 februari 1973 M.

Perjanjian Jumpa dengan Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam adalah sebelum usia saya tepat 40 tahun, kini sudah 1431 H,

mungkin sebelum sempurna 19 Muharram 1433 H saya sudah jumpa dengan Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, namun apakah Alloh Subhanahu Wa Ta’ala akan menambah usia pendosa ini?

Wallohu a’lam

——————————————–
*Keterangan: Habibana Munzir wafat pada 15 September 2013 (10 Dzulqo’dah 1434 Hijriyah] dalam usia 40 tahun.

RiseTAFDI team

Misteri Ikan Berusia 2 Abad Di Atas Makam Sidi Ali al-Khowwash

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Seekor Ikan tergantung di atas makam Sidi Ali al-Khowwash

Alkisah, dahulu di negeri Mesir ada sepasang suami-istri yang saat itu terhimpit keterbatasan ekonomi hingga akhirnya sampai pada keputusan untuk menjual cincin perhiasan yang mereka miliki.

Maka pergilah Sang Suami untuk bekerja mencari ikan di Sungai Nil. Cincin yang rencananya akan ia jual di pasar selepas bekerja, pun sudah ia simpan dengan rapi di saku bajunya.

Rutinitas mencari ikan hari itu biasa saja baginya, kecuali sejak ia meraba saku yang tak lagi menyimpan cincin harapannya itu.

“Kemana cincinnya?”, ia mencari dengan gundah di setiap sudut perahu kecilnya. Tatapan matanya terhenti pada air, nampak bayangan wajahnya yang sedih bercampur panik dan bingung.

Sampai di rumah, ia malah disambut kepanikan sang istri yang memberondongnya dengan pertanyaan menyudutkan.

“Dimana?? Bagaimana bisa, mas?? Oh, kenapa ti..”, ia sudah tidak paham apa lagi yang istrinya pertanyakan.

Keesokan harinya, ia pergi berziarah ke makam Syeikh ‘Ali al-Khowwash. Ia bertawassul dalam keluh kesah doanya,

“ya Alloh.. Cincin itu benar-benar sangat berharga bagi kami. Bisakah Engkau kembalikan pada kami? Dengan doaku di makam kekasih-Mu ini, Ya Alloh.. kembalikan cincin satu-satunya milik kami itu. Ya Robb.. :'( “

Setelah berziarah, ia tak langsung pulang. Ia berangkat menjalankan rutinitasnya di sungai mencari ikan.

Tak lama berselang, ia bertemu temannya yang kemudian mengajaknya berbincang,

“Kamu sudah cari? Kamu yakin cincin itu hilang di sungai? Kalau begitu berdoalah, kawan.. Kalaupun kita tidak termasuk orang yang dekat dengan Tuhan, disana itu ada orang yang menjadi kekasih-Nya, beliau yang benar-benar dekat dengan Tuhan. Cobalah bertawassul dengannya…”

“Sudah.” jawabnya.

Harapan satu-satunya kini adalah doanya bisa terkabul, meski jika dicerna secara akal, maka akan terasa berat. Seberapa besar kemungkinannya? Cincin sekecil diameter jari, hilang di sungai sebesar Nil, lantas masih berharap ketemu?

Di penghujung hari, ia pulang membawa hasil tangkapannya. Tak banyak. Sama seperti hari-hari biasanya. Namun, cukuplah untuk membuat dapur mengepul dan pantas disandingkan dengan ‘isy (roti khas Mesir; makanan pokok).

Sampai di rumah, ia menuju dapur memberikan hasil tangkapan itu pada istrinya untuk diolah.

Saat ia beristirahat, istrinya berteriak histeris memanggilnya, “Mas..mas.. bukannya ini cincin kita?? Ini mas!”

Dengan tangan yang masih belepotan hasil mengolah ikan, istrinya menunjukkan cincin itu persis seperti yang hilang, “Ini, mas.. Ini..! Ini cincin kita!”

“Iya?? Yang benar saja? Iya, itu cincinnya! Alhamdulillah.. Alhamdulillah Ya Robb!” Pada muka mereka terpancar kebahagiaan yang beberapa hari sempat surut.

Di tengah kebahagiaan yang masih memancar, Sang Suami menjadi teringat akan doanya di makam waliyulloh Syeikh ‘Ali al-Khowwash.

Mendengar hal itu, istrinya pun menyambut baik inisiatif suaminya untuk tidak memakan seekor ikan yang membawa kembali cincin mereka. Mereka akan membersihkan dan menggantungnya di atas makam Syeikh Ali al-Khowwash.

Bangkai ikan yang tergantung di atas makam Sidi ‘Ali al-Khowwash. Walau telah berusia dua abad lebih, namun ikan itu belum lapuk dan masih terlihat jelas. Padahal ikan itu tidak pernah mengalami pembalseman untuk diawetkan

“Aku akan pasang disana agar para peziarah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memberikan karomah pada Syeikh ‘Ali al-Khowwash meskipun beliau telah wafat.”

Terhitung sudah 200 tahun lebih semenjak kisah ini ramai diperbincangkan oleh warga sekitar dan para peziarah. Tak ada secarik kertas pun yang mengabadikannya dalam tulisan. Cari saja di catatan sejarah manapun, di kitab biografi apapun, tak akan kita temui kisah ini.

Meski demikian, kisah ini tetap abadi dari satu guru ke muridnya, dari satu kakek ke cucunya. Bahkan bukan hanya kisahnya yang abadi, ikan yang ada dalam kisah ini pun masih terlihat jelas dan belum lapuk walau tidak ada orang yang berinisiatif mengawetkannya, misal dengan balsem atau sejenisnya.

Berikut adalah videonya:

Wallohu a’lam bishshowaab

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

Kontributor Kisah: Sarkub Mesir
Kontributor Video: Studio NUR Mesir (PCINU Mesir) & RiseTAFDI team

Kisah Masuk Islamnya Jenderal Paek dari Thailand

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Nama Kolonel Paek di wilayah Thailand Selatan cukup disegani. Bahkan bisa dibilang cukup “sakti”. Siapa sih yang tidak kenal beliau di wilayah tersebut?

Kisah masuk Islam Jenderal bernama lengkap Puan Pan Paek ini tergolong unik, sebab sekitar tahun 2012 yang lalu, beliau bersama anak buahnya ditugaskan menangkap Syekh Mahmud dan mematai-matai gerakan umat Islam di wilayah Pattani, Yala dan Narathiwat.

Suatu hari ketika Jenderal Paek akan menangkap Syekh Mahmud di rumahnya, beliau justru disambut oleh shohibul bait (tuan rumah) sebagai tamu yang sangat dimuliakan.

Pintu ruang tamu dibuka lebar-lebar. Dihamparkan permadani yang indah, diatasnya tersaji aneka hidangan makanan dan buah-buahan segar.

Jenderal Paek menjadi terheran-heran, “Saya ini mau menangkap Tuan Guru Mahmud, Lha kok malah disambut seperti tamu yang sangat istimewa?” Begitu mungkin pikirnya.

Syekh Mahmud termasuk aulia berilmu tinggi sehingga masih tampak karomah kekuasaan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.

Jendral Paek / Muhammad Hassan (kedua dari kiri) berfoto bersama Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz

Perlahan-lahan Jenderal Paek mulai sadar bahwa yang dihadapinya adalah bukan orang sembarangan. Beliau kemudian memerintahkan anak buahnya yang sejak awal mengepung rumah Syekh Mahmud dengan moncong senjata yang siap memuntahkan peluru, untuk segera bubar.

Setelah berbincang-bincang banyak hal dengan Syekh Mahmud, Jenderal Paek berpamitan pulang. Beliau tidak jadi menangkap buruannya itu.

Dalam perjalanan pulang, Jenderal Paek mendapat kabar bahwa anaknya mengalami kecelakaan hebat dan dalam kondisi kritis di rumah sakit Thailand. Dokter pun sudah angkat tangan. Beliau buru-buru menjumpai anak kesayangannya itu. Sebagai ayah dari seorang anak, Jenderal Paek sangat terkejut mendapati anaknya dalam keadaan sekarat.

Jenderal Paek langsung teringat pada Syekh Mahmud kemudian meneleponnya, “Kamu katanya orang pintar, kamu katanya orang sakti, kamu katanya orang yang dekat dengan Tuhan. Kalau itu benar, coba kamu minta kepada Tuhanmu agar anak saya disembuhkan segera,” Begitu tutur Jenderal Paek.

Syekh Mahmud bersama sejumlah santri segera menuruti permintaan tersebut, dan menyusul ke rumah sakit serta berdoa untuk kesembuhan anak kesayangan Jenderal Paek.

Subhanalloh, doa waliyulloh itu dikabulkan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Anak kesayangan Jenderal Paek sembuh dalam seketika. Sebagai ungkapan syukur, Jenderal Paek akhirnya bersyahadat dan menyatakan diri masuk Islam.

Bahkan kini, Jenderal Paek berada di barisan paling depan dalam gerakan dakwah di wilayah Pattani, Yala dan Narathiwat. Sejak Jenderal Paek masuk Islam, banyak tentara yang akhirnya mengikuti jejak komandannya.

Demikianlah ‘suluk kelembutan’ yang diajarkan oleh para Ulama Salafus Sholeh kita. Sebuah ‘pedang cahaya’ yang lebih tajam daripada pedang besi. Kalau pedang besi hanya mampu merobek jantung dan membunuh, tapi pedang cahaya lebih dahsyat dari itu, mampu menembus jiwa dan merubah hati benci menjadi cinta.

Wallohu a’lam bishshowaab.

ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN- NUURIKAS SAARI WA MADADIKAL JAARI WAJMA’NII BIHI FI KULLI ATHWAARI WA ‘ALA ALIHI WA SHOHBIHI YA NUUR.

“Wahai Alloh, limpahkanlah sholawat dan salam kepada junjungan nabi besar Muhammad, sang cahaya-Mu yang selalu bersinar, pemberian-Mu yang tak pernah putus dan kumpulkanlah aku dengan Rosululloh di setiap zaman serta sholawat dan salam juga untuk keluarga dan sahabatnya, Wahai Sang Cahaya.”

RiseTAFDI team

Lokasi Debu Tayammum Nabi

Laporan Dr. Hassan Sheikh Hussein Osman, DVM dari Madinah al-Munawwaroh

Bismillahirrohmaanirrohiim..

Pertama kali mendengar informasi ini adalah beberapa tahun yang lalu. Saat itu kami menyewa taksi untuk membawa kami ke Landmark Islam yang berbeda di Madinah al-Munawwaroh. Aku bertanya pada sang pengemudi mengenai identitas dirinya. Dijawab bahwa ia berasal dari suku Quraisy, keturunan kaum Muhaajiriin, yang 1400 tahun lalu ikut hijrah bersama Nabi dari Makkah ke Madinah.

Ia membawa kami ke semua tujuan yg diinginkan serta beberapa tempat yang tidak kami ketahui sebelumnya. Pada akhir hari itu, dia mengatakan bahwa ada sebuah situs dimana baginda Nabi pernah bertayammum.

Ternyata adalah sebuah perkebunan kurma milik pribadi. Dan pada tahun lalu (1438 H), seorang supir taksi lain, yang juga berasal dari suku Quraisy dan seorang Ulama yang sangat baik menceritakan kisah yang sama kepada kami,

Perkebunan Kurma yang berada di jalan Qurban

Kemudian kami memintanya untuk membawa kami ke perkebunan itu. Yang terletak di “Syaari’ Qurbaan” (شارع قربان) melalui jalan (thoriiq) “Sadd Buth-haan” (طريق سد بطحان)

Di pintu masuk perkebunan kurma, kami pergi ke sekelompok kecil pria yang duduk di halaman depan rumah. Setelah memberi salam, kami meminta izin mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka.

“Kami adalah peziarah dari Somalia-Amerika, dan diberitahu bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam pernah bertayammum dari debu perkebunan ini, apakah hal itu benar?”

Dijawab oleh salah satu dari mereka: “Perkebunan??”

Lalu kami jawab, “Kami tidak tahu apakah situs itu adalah perkebunan pada zaman Rosululloh ataukah bukan, tapi sekarang memang begitu!”

Dijawab lagi olehnya, “Memang benar, tapi Anda harus menempuh jalan tanah ini (sambil menunjuk arah), dan saat Anda sampai di pohon kurma yang tumbang, disitulah Rosululloh mengambil debu untuk bertayammum”

Setelah mengucapkan terima kasih, kami ikuti petunjuk dari mereka. Setelah menyusuri jalan tanah, beloklah ke kanan, dan rumah yang berada di sebelah kanan menjadi ‘patokan’,

karena tidak jauh dari rumah ini, Anda akan menemukan sebuah pohon kurma yang tumbang berada di sebelah kiri Anda.

Disinilah agaknya situs yang dimaksud, debu yang diambil untuk baginda Nabi bertayammum. Wallohu a’lam bishshowaab (hanya Alloh yang lebih mengetahui hakikat sebenarnya).

Kami mengumpulkan debu dari tempat ini dan sekitarnya. Pemandu kami juga mengatakan bahwa umat Islam datang ke perkebunan ini dari segala penjuru dunia serta mengumpulkan debu dari situs ini guna mendapatkan berkah.

Wallohu a’lam

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

Dipublikasikan oleh: RiseTAFDI team

Ngaji di Kuburnya Sendiri

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Seorang Ulama Turki, Sayyidi Maula Hussein Sisemi sedang membaca al-Quran di liang lahat yang beliau persiapkan untuknya kelak.

Apa yang dilakukan oleh Sayyidi Maula Hussein Sisemi mengingatkan kita pada sebuah kisah tentang al-Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdhor shohib al-Quwairoh Hadramaut ‘alaihi rohmatulloh.

Tatkala Habib Ahmad al-Muhdhor mendengar kisah Robiatul ‘Adawiyah, seorang wali dan wanita sholehah yang menggali lubang kuburnya sendiri, lalu mengaji tiap hari di dalamnya hingga khotam sampai 7000x al-Quran,

maka sejak mengetahui hikayat tersebut, Habib Ahmad al-Muhdhor tak mau kalah, beliau pun membaca al-Quran sampai khotam 8000x dalam lubang kuburnya sebelum beliau wafat,

Ketika ditanya, “mengapa kau sampai 8000 ya habib?”

Beliau menjawab, “bagaimana aku mau kalah dengan wanita, kalau wanita saja bisa 7000x, aku mesti lebih, maka ku khotamkan 8000x”

Subhanalloh!

Pesan al-Maghfurlah Habibana Munzir bin Fuad al-Musawa:

“Jangan lewatkan seharipun tanpa membaca Quran, jadikan ia bacaan yang paling disenangi. Berkata Imam Ahmad bin Hanbal; cinta Alloh begitu besar pada pecinta al-Quran, dengan memahami atau tidak memahaminya”

Allohummaj’alnaa min ahlil Quran

(Ya Alloh, jadikanlah kami orang yang senantiasa membaca dan mengamalkan alquran).

Wallohu a’lam

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

RiseTAFDI team

Powered by WordPress and MasterTemplate